Monday, January 1, 2007

Apakah Pusat Imanku?

APAKAH PUSAT IMANKU?

Bahan: Keluaran 14.18; 1 Raja-raja 8.43; Mazmur 9.9-10; Yoh. 8.58; Rm. 14.9



Pokok iman yang setia kepada Kitab Suci, yakni iman reformed, juga menekankan ketuhanan Allah perjanjian atas umat-Nya. Konsep perjanjian memang tidak dipakai secara sistematis oleh para reformator, tetapi ide dasar dari kendali, otoritas dan kehadiran sangat jelas dalam tulisan-tulisan mereka.

Mari kita selidiki tiga aspek dalam ketuhanan Allah di dalam iman reformed:

(1) Kendali. Sesungguhnya, iman reformed menekankan Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu. “Ia berkerja menurut keputusan kehendak-Nya di dalam segala sesuatu” (Ef. 1.11). Iman reformed menekankan kedaulatan Allah, dalam pemilihan anugerah (predestinasi), dalam penciptaan dan dalam pemeliharaan. Allah adalah “Penyebab Utama” yang bekerja di dalam dan melalui “penyebab-penyebab kedua” (mis. manusia).

Hendaklah kita camkan selalu hal di atas agar kita tidak terjerembab dalam salah satu ekstrem. Pelagianisme dan Arminianisme menekankan “kehendak bebas” manusia, dan melupakan bahwa Allah yang sesungguhnya bekerja di dalam semua hal. Golongan ini mengabaikan bahwa segala tindakan manusia tak mungkin berada di luar kontrol Allah.

Ekstrem lainnya, yaitu “Hiper-Calvinis,” cenderung fatalistis, yakni bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab dengan tindakannya. Que sera-sera—whatever will be, will be! Namun, kekristenan yang sejati bukan fatalistis, sebab iman Kristen mengajarkan hubungan yang rapi antara Allah sebagai penyebab utama, manusia sebagai penyebab kedua dan hasil akhir dari hubungan kerja sama itu.

Artinya, pada akhirnya rencana Allah pasti akan terjadi! Tetapi rencana tersebut terlaksana sebab Allah menyediakan sarana serta kelengkapan bagi makhluk yang terbatas (manusia) untuk bertindak secara bebas dan bertanggung jawab.

(2) Otoritas. Iman reformed, lebih daripada cabang kekristenan yang lain, selalu menekankan pentingnya hukum Allah, yaitu bahwa manusia tunduk kepada hukum Allah. Beberapa orang berkata bahwa hukum dan anugerah, hukum dan kasih, selalu bertolak belakang, sehingga orang Kristen tidak lagi tunduk di bawah hukum. Namun, iman reformed menjawab, bila Yesus adalah Tuhan, dan kita mengasihi Kristus, maka kita akan menjaga perintah-perintah-Nya (Yoh. 14.15, 21; 15.10; 1Yoh. 2.3 dst.; 3.22dst.; 5.2dst.; 2Yoh. 6; Why. 12.17; 14.12). Memang benar, memelihara hukum tidaklah membawa keselamatan bagi kita. Hukum tidak membenarkan kita di hadapan Allah. Hanya kebenaran Kristus saja yang dapat mewujudkannya. Tetapi ingat, mereka yang diselamatkan akan menjaga perintah-perintah Allah.

Iman reformed juga menekankan bahwa hukum moral PL tetap normatif dan berlaku meskipun kita hidup di era Perjanjian Baru. Hukum-hukum yang bersifat seremonial memang telah selesai, tetapi yang terutama yakni bahwa dalam keyakinan reformed hukum PL adalah firman Allah, sehingga “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3.16).

Hal ini sekali lagi menegaskan bahwa kita percaya tanggung jawab manusia tetap dipandang penting, dan bahwa kita bekerja dalam terang hukum Allah. Itulah sebabnya mengapa kita, yang mempercayai kedaulatan Allah, dengan sendirinya menjadi orang yang suka bekerja keras, yang berkemauan untuk mentransformasi diri sendiri serta masyarakat serupa dengan gambar Allah.

Gairah (passion) yang besar ini bukan bertolak belakang dengan kedaulatan Allah, tetapi merupakan akibat yang sewajarnya. Allahku berdaulat, dan aku dipanggil untuk melayani Dia! Hasil akhir dari pekerjaanku ada di dalam tangan-Nya, namun sesungguhnya aku memiliki hak istimewa untuk melayani Dia dalam karya-karya yang terbaik, dan membawa segala aspek kehidupanku tunduk kepada Kristus.

(3) Kehadiran. Iman reformed disalah mengerti oleh sekelompok orang sebagai corak kekristenan yang suka berdebat, yang kaku dan dogmatis. Luther atau Calvin adalah orang-orang yang brilian dalam bidang doktrin-doktrin. Hal ini keliru! Iman reformed sesungguhnya menekankan devosi (waktu bagi Tuhan) dan penyembahan, serta kesadaran bahwa Allah dekat kepada kita pada segala waktu.

Bagi Calvin, pengenalan akan Allah dan pengenalan diri sendiri seiring sejalan. Ia sadar bahwa oleh sebab kita diciptakan dalam gambar Allah, kita tidak dapat mengenal diri kita dengan benar tanpa mengenal Allah pada saat yang sama. Singkatnya, Allah dapat ditemukan pada tiap-tiap sudut kehidupan, termasuk ruang yang paling dalam di hati kita. Ia juga menekankan bahwa kebenaran firman Allah akan dituliskan di sanubari yang terdalam, ketimbang sekadar mengisi kepala. Coba perhatikan logo Calvin, tangan kanan yang memegang hati, terangkat kepada Allah, dengan tulisan “Hatiku kupersembahkan kepada-Mu, ya Allah, dengan sedia dan tulus.”


Renungkan:

1. Apa jantung hati iman reformed?

2. Apa pentingnya mengenal bahwa Allah berdaulat dalam hidupmu?

3. Coba ringkaskan dengan bahasamu sendiri mengenai kendali, otoritas dan kehadiran Allah!

4. Sepulan dari Kemah Remaja, tekad apa yang akan kamu ambil?

Tuhan Perjanjian

TUHAN PERJANJIAN

Bahan: Keluaran 3.12-15; 6.1-8; Ulangan 6.4; Yesaya 41.4; 43.10-13; 44.6



Apa sih yang kamu pikirkan ketika kamu menyebut Allah sebagai Tuhan? Kata “Tuhan” pertama-tama dipakai untuk menerjemahkan kata YHWH di Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama), yang biasanya juga diucapkan “Yehuwah” atau “Yehova.” Di Perjanjian Baru, kepada Yesus diberikan gelar kurios, satu kata Yunani yang dipakai untuk menerjemahkan YHWH di PL. Berarti, Tuhan Yesus memainkan peran sebagaimana YHWH di PL, sang kepala perjanjian. Setiap kali kita berjumpa dengan kata “Tuhan” bagi Yesus, hendaklah kita ingat bahwa Dia adalah benar-benar Allah kekal, Allah yang Mahatinggi (Yoh. 8.31-59; Rm. 10.9; 1 Kor. 12.3; Flp. 2.11).

Mari kita selidiki tiga aspek dalam ketuhanan Allah di dalam Alkitab:

(1) Kendali. Tuhan adalah satu-satunya pihak yang mengendalikan seisi dunia. Ketika Allah menebus Israel dari Mesir, Ia melakukannya dengan tangan yang kuat lagi perkasa. Ia mengendalikan semua yang ada di dalam ini untuk menjatuhkan kutuk ke atas Mesir dan untuk mengalahkan kekuatan totaliter terbesar pada zaman itu. Lih. Keluaran 3.8, 14, 20; 20.2; 33.19; 34.6; Yes. 48.12dst.

Ingatlah selalu, ketuhanan Allah di dalam Alkitab tidak hanya berhubungan dengan keselamatan dan pemilihan anugerah sebelum dunia dijadikan. Jalannya seisi alam dan sejarah itu di bawah kontrol Allah. Efesus 1.11; Roma 11.36 menyatakan kebenaran ini dengan saksama, dan banyak sekali peristiwa di dalam Alkitab yang terjadi di bawah pengaturan Allah. Bahkan jatuhnya burung pipit dan jumlah rambut yang ada di kepala kita!

(2) Otoritas. Otoritas adalah suatu posisi untuk dipatuhi dan ditaati. Tuhanlah yang memiliki hak tersebut. Ketika Ia berbicara, kata-katanya harus dituruti. Ikatan perjanjian selalu memakai kata-kata. Tuhan perjanjian berbicara kepada umat perjanjian-Nya mengenai nama-Nya yang kudus, berkat-berkat-Nya kepada mereka, tuntutan-tuntutan-Nya terhadap tindakan mereka, janji-janji serta penghukuman-Nya. Kata-kata itu dituliskan dalam sebuah dokumen; dan mengabaikan kata-kata Allah dalam dokumen tersebut berarti memberontak terhadap perjanjian yang telah diikatkan kepada Allah.

Otoritas Allah bersifat absolut atau mutlak dalam tiga pengertian: (i) Ia tidak dapat diragu-ragukan (Rm. 4.14-20; Ibr. 11; Ayb. 40.1dst.; Rm. 9.20). (ii) Perjanjian-Nya melampaui segala kepatuhan manusia terhadap apa pun (Kel. 20.3; Ul. 6.4dst.; Mat. 8.19-22; 10.34-38; Flp. 3.8). (iii) Otoritas perjanjian-Nya meliputi segala area kehidupan manusia (Rm. 14.23; 1Kor. 10.31; 2 Kor. 10.5; Kol. 3.17, 23).

(3) Kehadiran. Tuhan adalah satu-satunya yang mengangkat sekelompok umat untuk menjadi milik-Nya. Ia menjadi Allah mereka, dan mereka menjadi umat-Nya. Ia berjanji akan beserta mereka (Kel. 3.12). Kehadiran Tuhan inilah yang merupakan tema yang teramat menakjubkan, yang memenuhi seluruh Kitab Suci: Lih. Kej. 26.3; 28.15; 31.3; 46.4; Kel. 3.12; 33.14; Ul. 31.6, 8, 23; Hak. 6.16; Yer. 31.33; Yes. 7.14; Mat. 28.20; Yoh. 17.25; 1Kor. 3.16dst.; Why. 21.22).

Jadi, YHWH sungguh-sungguh dekat dengan umat-Nya. Tidak seperti ilah-ilah bangsa lain. Ia benar-benar dekat kepada Israel dengan adanya Kemah Suci dan Bait Suci. Kemudian Ia mendekatkan diri-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus, dan di dalam Roh Kudus. Dalam kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya, Ia tak pernah jauh dari siapa pun (Kis. 17.27-28).

Kehadiran Allah berarti berkat bagi umat-Nya, tetapi dapat pula berarti kutuk dan penghukuman, yaitu ketika umat memberontak kepada perjanjian-Nya.


Renungkan:

1. Apa yang kamu pelajari tentang Allah sebagai Kepala Perjanjian?

2. Iman Kristen tidak hanya bicara tentang jaminan masuk surga. Apa pentingnya pemahaman Allah sebagai Tuhan perjanjian bagi hidupmu?

The Blazing Grace!

THE BLAZING GRACE!


“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel” (Matius 2.6)



Anugerah Bagi Kaum Narsis

Begitu mendengar kata “anugerah,” apa yang segera terbayang di dalam pikiranmu? Saya yakin: pemberian gratis, atau hadiah yang cuma-cuma. Itulah yang dipikirkan banyak orang mengenai iman Kristen. Cobalah bertanya kepada beberapa orang Kristen yang kamu kenal, mengapa mereka menjadi Kristen, kamu akan mendapat jawaban yang kurang lebih seperti ini: “Ya karena dalam agama Kristen, masuk surga itu pasti.” Atau, “Saya takut neraka, dan agama Kristen menjanjikan kepastian untuk masuk ke dalam surga dan bukan neraka,” dsb., dsb.

Jadi, agama Kristen itu kurang lebih hanya sekadar masalah “kado rohani.” Surga adalah hadiah gratis. Yesus Kristus adalah pemberi kado itu. Kehadiran-Nya di dunia—lahir untuk mati—adalah demi menyediakan kado yang kekal itu. Nah, karena itu tidak mengherankan, Natal memang jadinya sama artinya dengan menerima banyak kado dan Kado!

Tahukah kamu, pada akhirnya agama yang seperti itu tak ubahnya merupakan sebuah agama yang narsistis! Motivasi kamu untuk beriman kepada Kristus yakni karena kamu takut. Takut mati! Takut ke neraka! Takut tidak hidup sejahtera dan melimpah! Takut untuk sakit! Takut hidup berat! Tujuan beragama yaitu supaya terhindar dari segala “takut” itu, kamu undang Tuhan Yesus untuk menjadi Juru Penenang, atau seorang pengawal pribadi yang selalu stand by, atau semacam OB—office boy yang siap untuk mengantar minuman bagi pejabat di kantor yang memanggilnya.

Makin yakin saya akan hal ini, ketika melakukan survei kecil-kecilan terhadap lagu-lagu rohani kontemporer. Begitu sedikit yang berbicara mengenai dosa. Kian sulit menemukan lirik lagu seperti ini:

Meski tak layak diriku, tetapi kar’na darah-Mu,
Dan kar’na Kau memanggilku, kudatang Yesus pada-Mu.

Sebaliknya, makin melimpah lagu seperti berikut:

Bila hati terasa berat, tak seorang pun mengerti bebanku
Kutanya Yesus, apa yang harus kubuat?
Dia berfirman, “Mari datanglah!,” Dia selalu pedulikan aku
Kudatang Yesus, Dia pikul s’gala bebanku.

Lho, maaf!, Yesus kan seperti keledai yang mengangkut beban sang tuan! Di mana dalam Alkitab Yesus memikul segala beban kita? Yesus memikul salib-Nya sendiri. Salib itu bicara mengenai penebusan dosa manusia. Salib itu mengenai Kristus yang menggantikan posisi orang berdosa menerima penghukuman dari Allah. Dan, salib itu adalah kehendak Bapa. Yohanes 17.4, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”

Coba pikirkan dengan kritis implikasi pemahaman yang tercermin seperti lagu di atas! Kamu yang menjadi siswa tidak belajar dengan disiplin, menghabiskan waktu dengan sia-sia. Akhirnya, di penghujung tahun ajaran kamu tidak naik kelas. Akibat yang kamu tanggung, malu dengan teman-teman. Kamu katakan: Itulah beban yang kupikul sekarang ini. Nggak ada yang peduli. Lalu kamu datang kepada Yesus, satu-satunya yang peduli, dan breegggg, semua beban kamu pindah ke pundaknya Yesus.

Baru-baru ini saya membaca satu buku yang menyentak pikiran saya, judulnya A Generous Orthodoxy (“Ortodoksi yang Berbaik Hati”) karangan Pdt. Brian D. McLaren. Ditulis di sana suatu sindiran,

Jika Yesus yang sejati mengetuk pintu rumah kita sebagai Raja/Tuan/Guru yang Revolusioner, saya pikir kita mengintip di lubang pintu dan menilai-Nya [Yesus yang] palsu, sebab “Kawan Yesus” kita sebagai Juruselamat sudah duduk di sofa dalam rumah, menonton TV bersama kita, mengacungkan jempol dan bergirang, “memenuhi segala kebutuhan kita” dengan baik, syukur tak terhingga. (Hal. 97)

Benar demikian, bukan? Ya, itulah Yesus yang kita kenal, paling tidak Yesus yang kita harapkan. Yesus yang jinak, romantis dan spirituil, kita anggap sebagai Yesus yang sejati, yang benar! Kalau begitu, kita tidak akan pernah siap untuk menerima Yesus sebagai Yesus yang tegas, Yesus yang berdiri “melawan” kita, Yesus yang membongkar borok-borok kita.



Anugerah yang Berbahaya!

Iman Reformed berbeda dengan agama narsis di atas. Etos Reformed dilandasi oleh pemahaman: bagi kemuliaan Allah semata (gloria soli Deo). Bukan karena takut ke neraka, tetapi bertanya, sesungguhnya tujuan utama hidup ini apa sih? Dan jawabannya adalah, “Memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.” Dan kalau ditanya, apakah satu-satunya penghiburanmu baik pada waktu hidup maupun mati? Kita menjawab:

Bahwa saya, tubuh dan jiwa, baik pada waktu hidup ataupun mati, bukanlah milikku sendiri, tetapi milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia, yang dengan darah-Nya yang mahal telah menggenapkan segala tuntutan bagi dosa-dosaku, dan membebaskan aku dari segala kuasa Iblis; dan dengan jalan itu Ia memelihara saya sehingga tanpa kehendak Bapaku yang di surga, tak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku; sesungguhnya, segala sesuatu pasti disediakan bagi keselamatanku, dan melalui Roh Kudus, Ia meyakinkan saya akan hidup yang kekal, dan oleh karena itulah Ia membuat saya dengan suka rela dan sedia untuk hidup bagi Dia.

Coba perhatikan dengan teliti. Menurut keyakinan yang alktabiah, sebagaimana tercermin dalam iman Reformed, kita menemukan dengan jelas siapa Kristus, apa yang Ia kerjakan atas dosa-dosa kita, pemeliharaan atas hidup, jaminan keselamatan dan dengan jalan itu kita mempersembahkan sepenuh hidup kepada Allah!

Di antara sekian bapa gereja, Yohanes Calvin (1509-1564) adalah pelopor pemikiran bahwa Yesus Kristus adalah “Nabi, Imam dan Raja,” yang dikenal dengan istilah munus triplex. Dengan memahami bahwa Kristus memangku jabatan Nabi, Imam dan Raja, maka kita akan terhindar dari bahaya “agama narsistis” seperti di atas. Dijamin! Lho, kok bisa?

Pertama, Kristus sebagai Nabi, berarti Kristus siap berkonfrontasi dengan kita. Coba perhatikan nabi-nabi di Perjanjian Lama. Biasanya kata-kata pedas dan memerahkan telinga yang keluar dari mulut mereka. Hal itu sebab mereka adalah jurubicara Allah. Para nabi benar-benar membongkar kedok, mengorek borok dan membuka selubung kebusukan umat Allah. Perhatikan Musa sebagai mediator (perantara) ikatan perjanjian dengan Israel. Nah, Tuhan Yesus digambarkan sebagai Musa yang baru, dan Ia adalah mediator ikatan perjanjian yang baru dengan umat pilihan Allah. Hendaklah kita selalu ingat, bahwa Tuhan Yesus takkan segan-segan untuk menjungkirbalikkan segala kebobrokan kita (Lukas 4.18-21; Matius 24.1-28).

Kedua, Kristus sebagai Imam, berarti Kristus bagi kita. Tuhan Yesus digambarkan sebagai Imam PB yang mempersembahkan kurban, bukan lagi kurban sementara berupa hewan yang disembelih, tetapi Dia sendiri yang menyerahkan diri-Nya disembelih sebagai Kurban penebus dosa yang sempurna. Sebab dengan apakah dosa manusia dapat dihapuskan? Tidak mungkin dengan hewan kurban. Tak mungkin dengan nyawa makhluk berkaki empat. Semua itu adalah gambaran dari kurban Kristus di atas Kalvari. Kurban itu dicurahkan di atas kayu salib, namun diterima di hadapan hadirat Allah di surga sebagai pelunasan dosa yang seutuhnya. Dan, Allah kini menyatakan kepada kita, “Sudah dibayar, tunai!” Bukan hanya itu. Karya Kristus sebagai Imam berlanjut ketika Ia naik ke surga, menjadi Jurusyafaat bagi kaum yang telah ditebus oleh darah-Nya (Ibrani 5.5-10).

Ketiga, Kristus sebagai Raja, berarti Kristus di atas kita. Yesus memang Sahabat kita, tetapi bukan seperti pacar kita! Dia adalah Raja di atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Ia naik ke surga dan memerintah di kanan Allah Bapa. Kalau begitu, alam raya ini diperintah bukan secara demokratis, pemerintahan oleh rakyat, tetapi bagaikan sebuah Kerajaan yang mahaluas di bawah kekuasaan Allah. Allah Bapa telah menetapkan Kristus sebagai Raja-Nya. Kita-kita ini adalah warga yang diperintah oleh Sang Raja. Sudah sepatutnya kita menundukkan diri kepada Sang Raja, menyembah Sang Raja, serta membaktikan diri kita untuk melayani Sang Raja (Lukas 1.35, 68, 69; Filipi 2.9-11; Kolose 3.1, 2).

Uraian di atas bukan saya maksudkan untuk menjadi tambahan pengetahuan doktriner. Tetapi lebih dari itu, saya ingin menegaskan arah perjalanan hidup sebagai orang-orang Kristen sejati, anak-anak muda yang reformed, dalam pemahaman yang benar menurut Alkitab. Saya menjamin, hal ini tidak populer di kalangan anak muda zaman sekarang.

Itulah sebabnya, anugerah sejati itu berbahaya! Berbahaya bagi rasa aman yang palsu. Berbahaya bagi ketenanganmu yang tidak mau hidup bagi Allah. Berbahaya bagi bungkusan-bungkusan rapi yang membuat engkau nyaman dari pembongkaran-pembongkaran kebusukan. Semua yang akan dilakukan oleh anugerah sejati ini jelas tidak dikehendaki oleh zaman kita. Orang jauh lebih siap mendengarkan khotbah yang mereka sudah mengerti—apa yang mereka ingin dengarkan, yakni selera-selera mereka—daripada diajar pokok-pokok kebenaran yang menuntut mereka bercermin akan kehidupan ini dengan standar-standar tersebut. Kalau dianalogikan, tiap-tiap orang ingin tinggal di dalam rumah yang dibangunnya, dan tidak menghendaki rumah itu ditiup oleh angin puting beliung. Meski rumah itu terbuat dari bahan yang cepat rapuh.

Saya berharap, sebagai sahabat dan rekan sepelayanan, terhadap semua anggota Komisi Remaja Metanoia, bahkan setiap anak muda yang saya kenal maupun tidak saya kenal: Betapa pun kita tidak menyukai anugerah yang berbahaya itu, tetaplah berpegang kepadanya. Peluklah erat-erat. Camkan dan usahakanlah dirimu untuk terus mengingat bahwa Kristus adalah Nabi yang melawan kesalahanmu, Imam yang mempersembahkan diri-Nya bagi dosamu, Raja yang layak disembah dan dilayani.

Hanya anugerah yang berbahaya itu saja satu-satunya anugerah yang sanggup mengobarkan jiwa pelayananmu. The dangerous grace is the blazing grace! Anugerah yang berbahaya itu sekaligus anugerah yang mengobarkan. Anugerah yang narsistis justru membuat kamu selalu minta dilayani oleh Allah. Sebaliknya, anugerah yang dijauhi oleh banyak orang itu—Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja—adalah anugerah sejati yang membuat kamu tetap di dalam pengharapan, kokoh di dalam iman.

TERPUJILAH ALLAH!

Minggu Persekutuan Dunia 2007

MINGGU PERSEKUTUAN DUNIA 2007
BERSAKSI DENGAN KEBERANIAN
LITURGI IBADAH MINGGU, 21 JANUARI 2007 (atau 28 JANUARI 2007)

PF: Pelayan Firman
L: Liturgos
MJ: Majelis Jemaat
JS: Jemaat Senior
J: Jemaat

Preludium (nyanyian praibadah)

Warta Jemaat


I. BERKUMPUL DI SEKITAR FIRMAN


Votum dan Salam

PF. “Ketahuilah, bahwa TUHAN-lah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.”

J. (Menyambut dengan Gloria Patri)


Penuntun Ibadah

PF. “Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa, dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yesaya 2.4)

J. (Menyambut dengan Amin, Amin, Amin)

(Jemaat duduk)


Kidung Pujian

Dpo. PF atau L
(Berisi puja-puji keagungan Allah. Misalnya: Besar dan Ajaiblah Karya-Mu atau Tuhan Allah, Nama-Mu [KJ 5])


II. GUILT (PENGAKUAN DOSA)

JS. (Memimpin doa pengakuan dosa).


Kidung Pengakuan Dosa

Dpo. PF/L

Tinggal Sertaku (PPR 1:114 [bait 1 & 2])


Kisah Permenungan

(Dpo. Seorang Guru Sekolah Minggu)

Setelah hujan, tampak satu genangan air di halaman. Si Abi, mengenakan jas hujannya yang berwarna kuning dan sepatu boot merah, memandangi genangan air itu. Ia melihat langit yang tercermin dalam air itu. Ia membungkuk untuk melihat lebih dekat lagi. Air hujan pun kian banyak, dan beberapa di antaranya menyatu dengan genangan air itu. Tiap tetesan berhubungan dengan yang lain.

“Mereka berteman!” Abi berteriak dan berlari menuju ke rumah. “Ayo, lihat, titik-titik hujan itu berteman!”

Yesus menghendaki para murid-Nya seperti titik-titik hujan itu. Ia menitahkan mereka untuk pergi ke luar, kepada semua orang dan mengajar mereka mengenai Allah.

Tatkala Yesus menjamah hidup kita, Ia menginginkan kita untuk menjadi seperti titik-titik hujan. Ia menghendaki kita untuk meluap keluar dan membagikan kabar baik. Ketika kita bergembira mengenai Yesus, kita akan membagikan hal itu kepada orang lain. Kita pun mau orang lain mengenal bagaimana ajaibnya memiliki seorang Sahabat seperti Yesus. Sungguh, sangatlah sulit untuk menjadi setitik air hujan yang mengasihi Yesus namun hanya tinggal di satu tempat.

Marilah kita merenung sejenak, bagaimanakah kita dapat menjadi titik hujan bagi Yesus pada masa kini. Maka, mulailah meluap juga.
Doa

(Dpo. seorang remaja / pemuda)

“Tuhan Yesus yang baik, saya mau menjadi setitik air hujan bagi-Mu. Penuhilah saya dengan kasih-Mu, pada saat saya menjangkau orang-orang lain. Amin.”


Kidung Permohonan Ampun Dosa

Anugerah yang Ajaib (PPR 1:143 [bait 1 saja])


III. GRACE (ANUGERAH)


Kabar Baik

PF. “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

Saudara-saudara, hidup kekal itu bagi Saudara semua. Rayakanlah! Dan jangan tahan-tahan kabar baik ini untuk dirimu sendiri. Beritahukan kepada setiap orang!”


Kidung Sambutan Kabar Baik

Anugerah yang Ajaib (PPR 1:143 [bait 2 & 3])


Penetapan Saksi

PF. “Marilah kita berdiri.” (Jemaat berdiri)

“Tuhan Yesus yang bangkit berkata kepada Maria Magdalena, ‘Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.’ Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, ‘Aku telah melihat Tuhan!’ dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya (Yoh. 20.17-18).”

Maria Magdalena adalah “rasul kepada para rasul Kristus.” Kiranya kita pun menjadi “saksi kepada para saksi Kristus.”


Kidung Kesanggupan Saksi Kristus

Pergilah ke Seluruh Dunia (PPR 1:134 [bait 1 & 3])

(Setelah menyanyi, jemaat duduk)


Saksi Bersyafaat bagi Dunia

Dpo. PF atau JS atau MJ atau J yang bertugas

(selain pokok doa untuk gereja lokal, silakan memilih pokok-pokok dari Doa-doa dari seluruh penjuru dunia di atas)


DUDUK DI BAWAH TERANG FIRMAN

Doa epiklesis
Pembacaan Nas Firman (Yeremia 1.4–10)
Khotbah
Doa Tanggapan


Pembaruan Janji Iman

(Jemaat berdiri)

PF. “Marilah kita kembali mengikrarkan iman kita yang kudus, bersama-sama segenap umat percaya di sepanjang zaman dan segala tempat, seturut Pengakuan Iman Rasuli”

(bersama-sama mengucapkan PIR)

(Jemaat duduk)



IV. GRATITUDE (UNGKAPAN SYUKUR)


Persembahan

MJ yang bertugas memimpin pelayanan persembahan jemaat

Pembacaan ayat sebagai landasan persembahan Mazmur 67.6–8

(Nyanyian persembahan dapat dipilih oleh petugas ibadah, sebagai contoh: Ku Beroleh Berkat [NKB. 196] atau Gembala Baik Bersuling Nan Merdu [KJ 415])


Kidung Syukur

Hidup Bagi Yesus (PPR 1:77 [bait 1 & 3]

(Jemaat berdiri)


Pengutusan

PF. “Pergilah dalam kuasa Roh Kudus. Tuhan berkata, ‘Pergilah ke semua orang yang kepada mereka Aku mengutus kamu. Perkatakanlah segala sesuatu yang Aku katakan kepadamu. Janganlah takut. Aku telah meletakkan kata-kata di dalam mulutmu. Aku beserta kamu.’

Anugerah Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan dalam persekutuan Roh Kudus, beserta kita semua.”

J. (Menyambut dengan Doxologia: Kepada Allah B’ri Puji)


Waktu Teduh

Pokok Doa

Doa-doa dari seluruh penjuru dunia


Afrika
· Peperangan antarsuku, perpecahan antarkeluarga besar, kekuarangan makanan dan kelaparan di berbagai tempat di Afrika, misalnya, Darfur (di Sudan), Somalia, Republik Demokrat Kongo, Pantai Gading, dan Liberia. Berdoalah bagi kemurahan Tuhan atas umat-Nya di wilayah-wilayah tersebut.
· Perbedaan suku dan kepribadian menciptakan kelompok-kelompok yang kian menajam di kalangan gereja-gereja yang berlatar belakang Anabaptis. Doakan bagi satu semangat persatuan yang baru, sehingga pemimpin-pemimpin gereja di dalam komunitas Mennonite World Conference mampu mengupayakan cara-cara untuk memperdamaikan kelompok-kelompok tersebut.
· HIV/AIDS makin meningkat di Benua Afrika. Banyak negara menerima bantuan dari pemerintah-pemerintah negara Barat serta LSM-LSM internasional, tetapi korupsi menghalangi bantuan-bantuan itu sampai ke tangan yang paling membutuhkan. Doakan agar Allah mengubah hati pemimpin-pemimpin Afrika untuk bertindak adil kepada para warganya.
· Doakan semua pemimpin yang korup dan tidak demokratis, pemerintah-pemerintah yang arogan di Afrika untuk dapat berdamai serta menunjukkan kasih kepada orang-orang miskin yang menderita di bawah rezim mereka.
· Doakan presiden Muslim Tanzania agar dapat mempertahankan perdamaian dan harmoni yang tengah dinikmati di negeri ini, sehingga ibadah gereja dan penginjilan tidak terhalang.

Asia
· Di tengah-tengah bencana alam, pertikaian sosial, dan pemunduran ekonomi, doakan agar Allah dapat memampukan pemerintah untuk mengatasi masalah yang bertumpuk-tumpuk, memberi para pemimpin hikmat untuk membuat keputusan serta kemampuan untuk membuat perbaikan-perbaikan yang signifikan.
· Berbagai badan misi nasional maupun internasional melakukan penginjilan di antara 85% dari 200 juta orang di Indonesia yang masih belum percaya. Doakan agar Allah akan membuka lebih banyak lagi hati untuk percaya kepada Kristus. Doakan untuk keberanian serta hikmat dari para penginjil untuk memproklamirkan kabar baik, meski begitu banyak tekanan serta perlawanan.
· Iman dan kesaksian Kristen berkembang dengan baik di berbagai negara. Puji Tuhan karena banyak orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan. Doakan orang-orang Kristen ini sehingga lebih banyak lagi yang turut bergabung dalam mengikut Kristus.

Eropa
· Kami terus mengharapkan pertumbuhan gereja di Eropa (Utara maupun Selatan)
· Doakan bagi keterbukaan untuk bersandar kepada kehendak Allah dalam praktik gereja-gereja serta negara-negara kami.
· Doakan sehingga kami tidak melupakan orang-orang miskin, orang-orang asing serta imigran dan agar kami membuka mata kami kepada mereka yang tidak beruntung di dalam masyarakat kami.

Amerika Latin
· Di beberapa bagian Benua ini, orang-orang menjadi korban penculikan, aktivitas teroris dan kejahatan-kejahatan terselubung lainnya. Banyak orang, termasuk Kristen maupun para pemimpin, kehilangan nyawa mereka. Doakan agar kehendak Allah tergenapi di wilayah-wilayah ini.
· Doakan para pemimpin Mennonite di Paraguay yang tengah mempersiapkan Sidang Raya 15 pada tahun 2009. Banyak kelompok-kelompok yang berbeda-beda, termasuk beberapa kelompok pribumi, dilibatkan untuk menjadi tim persiapan. Doakan persatuan dan kesaksian akan hal ini bagi sebanyak mungkin orang di Paraguay.
· Doakan pemerintah-pemerintah yang berada di bawah tekanan dahsyat dari kekuatan-kekuatan dari luar untuk tunduk kepada tuntutan ekonomi serta militer. Tekanan ini seringkali membuahkan aktivitas-aktivitas teroris, yang dapat berakibat bagi gereja-gereja dalam berbagai macam cara.

Amerika Utara
· Komitmen bagi nilai-nilai serta tujuan-tujuan Kerajaan Allah berhadapan dengan tekanan sosial terasa sulit. Orang-orang Kristen diuji untuk turut dalam agenda pemerintah serta untuk mendukung perang-perang tak adil dan takaran-takaran ekstrem untuk memerangi terorisme. Doakan gereja Amerika Utara dan saudara-saudara Mennonite juga Brethren in Christ.
· Kaum miskin, yaitu mereka yang tinggal di jantung-jantung kota serta kelompok-kelompok pribumi sering dilupakan atau diabaikan oleh gereja. Doakan untuk suatu visi serta aksi yang baru dari kaum Mennonite serta Brethren in Christ bagi kelompok-kelompok tersebut.
· Meskipun di tempat lain di dunia gereja berkembang, hal ini adalah pergumulan di Amerika Utara. Doakan bagi pembaruan serta upaya-upaya penanaman gereja yang diperbarui.
· Doakan adanya hati yang tulus, demi kerelaan untuk berbagi kekayaan sehingga gereja dapat bersaksi kepada orang lain, dan agar pemerintah dapat mengalokasikan lebih banyak dana untuk bantuan internasional.

Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus

BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS



Keunikan iman Kristen adalah menyapa Allah sebagai “Bapa.” Kita bukan tidak mengenal Allah. Kita mengenal-Nya sebagai satu Pribadi. Kita bahkan sangat dekat dengan sang Allah, sampai-sampai menyebut-Nya Bapa kita.

Sapaan ini dahsyat maknanya. Allah bukan pribadi yang menakutkan. Allah menjadi pribadi yang dekat dan bergaul karib dengan kita. Bersandingan dengan bapa kita di dunia, maka kasih Allah berkali lipat melampaui kasih bapa kita. Jika bapa kita tak selalu mampu menjaga kita, sebaliknya Bapa akan selalu berjaga-jaga bila si anak sedang dalam bahaya. Terhadap segala kebutuhan, Allah selalu memenuhkan. Allah tak segan-segan memberikan yang terbaik untuk anak yang dikasihi-Nya. Amin?

Apa artinya “yang terbaik”? Sebagian orang Kristen segeran menjawab, “Ya terang, dong: pekerjaan terbaik, gaji terbaik, rumah terbaik, HP terbaik, mobil terbaik, keamanan terbaik, prestasi terbaik, kesehatan terbaik.” Sebab, menurut mereka, Bapa yang baik pasti menggenapi Roma 8:28, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,” ditandai dengan semakin banyaknya “. . . terbaik” di tangan kita. Syukur-syukur bisa semua!

Bagaimana bila saya tidak mendapatkan? Ah, saya tentu harus bertanya balik, apakah saya ini orang yang mengasihi Allah? Jangan-jangan kasih saya pada Allah mulai luntur sehingga tingkap-tingkap langit Allah tutup rapat-rapat. Karena saya tidak bersungguh-sungguh mengasihi Allah, makanya Allah menyumbat berkat-berkat terbaik-Nya. Nah, benarkah demikian?

Rekan-rekan yang dikasihi Tuhan,

Keberagamaan kita seringkali sudah kelewat pascamodern. Kita tidak menakar pengenalan kita terhadap Allah dari sumber-sumber yang objektif, tetapi subjektif-perasaan. Kita menjadi seperti ini oleh sebab para pengajar kita bertutur tentang hukum “tabur-tuai.” Barangsiapa menabur banyak, ia akan mendapat banyak. Barangsiapa menabur sedikit, ia akan menabur sedikit. Barangsiapa menabur kesalehan, ia akan menuai berkat yang melimpah. Barangsiapa menabur kelalaian, ia akan menuai kecelakaan. Pengajaran ini tambah meyakinkan manakala sang pengkhotbah memberikan daftar bukti-bukti kehidupan sehari-hari. Dan kita pun berkata, “Amin!”

Mari kita ambil contoh. Seorang pemuda jatuh dari pohon di siang bolong. Kakinya patah. Ia pingsan. Ia harus berbaring di rumah sakit. Begitu byar siuman, pertanyaannya pertama adalah, “Apa yang aku lupa perbuat untuk Tuhan, ya?” Ah . . . ternyata kelupaan saat teduh! Lalu komentarnya, “Pantas, ini nich hukuman Tuhan untuk ketidaktataanku.”

Sebaliknya. Seorang pemudi menjadi staf kantor di sebuah perusahaan elektronik ternama. Harapannya, dalam lima tahun ia harus menjadi manajer pemasaran. Maka ia pun semakin rajin berdoa, berpuasa, memberi persembahan persepuluhan, mendanai kegiatan-kegiatan gereja. Ah tepat, doanya “didengar” Tuhan. Ia menjadi manajer pemasaran. Hukum tabur-tuai ternyata ya dan amin!

Mendaftar kesaksian orang-orang yang mengalami hukum tabur-tuai sangatlah banyak di sekitar kita. Banyaknya kesaksian itu kemudian kita ukurkan sebagai standar kebenaran. Tetapi tunggu dulu. Dari dua kasus di atas, mari kita menanyakan sesuatu. Seandainya sang pemuda sudah bersaat teduh, apakah ada jaminan kalau ia tidak akan jatuh? Sedangkan, bukankah nasib sang pemudi bisa saja seperti caleg-caleg yang gagal duduk di kursi legislatif kendatipun mereka sudah mempertaruhkan puluhan juta?

OK-lah, banyak orang yang mengalami pengalaman “tabur-tuai” bersama Allah Bapa. Tetapi dengan satu eksepsi. Kesaksian mereka nampaknya tidak berlaku untuk Paulus. Sang rasul tidak mengenal hukum tersebut. Bahkan nampaknya sikapnya begitu negatif. Dalam 2 Korintus 1:3, Paulus cs. memang mengenal Allah sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.” Hebat bukan?

Tetapi tampikannya terhadap hukum “tabur-tuai” adalah di ay. 4, “yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami.” Paulus cs. sudah 20 tahun mengabdikan diri kepada Allah. Ia telah serahkan semua. Logika yang wajar adalah ia tentu dapat satu kursi empuk dong, minimal applause from heaven and earth!

Rekan-rekan, sungguh betapa mengherankan. Keberagamaan yang diwarnai anti-intelektualisme atau anti-logika pada zaman kita ini ternyata menetapkan logikanya sendiri, yaitu melalui hukum “tabur-tuai.” Kebaikan Bapa dikotakkan dalam kerangka hukum itu.

Paulus melepaskan Allah dari belenggu logika ini dengan menyebut Dia sebagai “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Mengapa? Ternyata Paulus menempatkan dirinya “mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus” (ay. 5). Paulus tidak memakai kelimpahan sebagaimana dipikirkan kebanyakan orang masa kini. Paulus adalah rasul Kristus Putra Tunggal Allah Bapa, dan Putra Allah menderita. Maka, layaklah rasul Sang Putra pun turut menderita.

Simak dengan teliti. Allah bukan Bapa dari Paulus. Allah pun bukan bapa kita! Allah adalah Bapa Tuhan Yesus Kristus! Allah menjadi Bapa kita oleh sebab tindakan adopsi melalui Putra-Nya. Jika demikian, apa pun yang akan menimpa kita berada di wilayah kedaulatan Allah. Allah tak mungkin kita kotakkan ke dalam hukum tabur-tuai.

Berapa banyak lagu-lagu Kristen dalam lima tahun terakhir ini yang memakai kata “Bapa” begitu sentimentil dan sensual? Hampir dapat dipastikan identik dengan kasih yang melimpah, keajaiban perlindungan, berkat dan penyertaan Tuhan. Bapa bak kekasih yang bisa kita peluk, dekap dan cium setiap waktu. Sadar atau tidak, lagu-lagu ini menampilkan posisi manusia yang cukup baik dan cukup layak—seorang manusia saleh yang dekat di hati Bapa. Tetapi, adakah lirik lagu kontemporer yang bermuara pada pemujaan terhadap kemuliaan Allah, seperti di bawah ini

Father, we love You,
We worship and adore You
Glorify Thy name in all the earth.

LAUS DEUS PATER!

Bekerja Selama Siang


BEKERJA SELAMA SIANG

Teman, simaklah cerita bijak ini. Seorang bijak ditanya, “Hal-hal apakah yang paling baik bagi seseorang?” Si bijak menjawab, “Akal (nalar) yang karenanya ia hidup.” Ia ditanya lagi, “Bila orang itu tidak punya akal?” Si bijak menjawab, “Para saudara yang menutupi aibnya.” Ia ditanya lagi, “Bila tidak ada?” Si bijak menjawab, “Harta benda yang membuat senang orang lain.” Ia ditanya, “Bila tidak ada?” Si bijak menjawab, “Adab kesopanan dalam mana ia berhias diri dengannya.” Ia ditanya pula, “Bila tidak ada?” Si bijak menjawab, “Diam yang akan menyelamatkannya.” Ia ditanya lagi, “Bila tidak ada?” Si bijak menjawab, “Kematian yang akan membuat tenang orang lain dan seluruh negeri.”

Hidup ini tidak pasif. Setiap orang perlu menemukan jawaban atas pertanyaan, untuk apa dia hidup? Cerita di atas bertutur bahwa kehidupan seseorang memiliki nilai, dan nilai itu tampak dan berdampak bagi orang di sekitarnya. Mustahillah bila seseorang tidak memiliki sesuatu yang berarti. Orang yang tidak memiliki nilai hidup yang menular, baginya kematian jauh lebih baik.

Ketika kita bertanya, mengapa orang Kristen bekerja? Jawabannya satu, kerja orang Kristen adalah kerja yang memberi nilai. Bukan sekadar menumpuk harta. Bukan demi ambisi kejayaan dan ketenaran. Mari kita letakkan pemahaman ini dalam kerangka “amalan” Kristen. Bukan mengatakan bahwa orang Kristen beramal supaya diselamatkan, tetapi orang Kristen yang sudah diselamatkan ia pasti bekerja. Bahkan bekerja dengan keras. Serta beramal. Orang yang berdiam diri mungkin lebih sedikit melakukan dosa. Tapi, hidupnya tidak berdampak apa-apa. Yohanes Pembaptis berseru agar orang percaya menghasilkan buah-buah pertobatan (Luk. 3:8). Tuhan Yesus pun berkata, hidup kita harus menghasilkan buah yang tetap (Yoh. 15:16).

Bekerja adalah sebuah panggilan kristiani. Bapa di surga masih bekerja sampai sekarang. Yesus Kristus berkarya bukan hanya saat di dunia saja. Ia tetap menjadi Juru Syafaat kita. Roh Kudus tetap aktif sampai kesudahan dunia. Maka, apa yang saat ini ada di tanganmu, dan apa yang hendak kau kerjakan?

TERPUJILAH ALLAH!