Showing posts with label Anabaptist. Show all posts
Showing posts with label Anabaptist. Show all posts

Monday, October 1, 2012

SOLA SCRIPTURA DALAM PERSPEKTIF MENNONIT



SOLA SCRIPTURA DALAM PERSPEKTIF MENNONIT

Dosa Reformasi

Sebagai bagian dari gerakan Reformasi Eropa, maka para pelopor Anabaptis di satu sisi mendukung seruan para reformator gereja seperti Martin Luther di Jerman dan Ulrich Zwingli di Swis.  Para reformator menghendaki gereja untuk ad fontes! (kembali ke dasar), yaitu dasar iman.  Martin Luther dasar iman Kristen dalam panca-sola: sola Scriptura (hanya Alkitab), sola gratia (hanya anugerah), sola fide (hanya iman), solus Christus (satu Kristus), dan soli Deo gloria (kemuliaan hanya bagi Allah).  Para pelopor gerakan Anabaptis sepakat dan berseru “Amin!” untuk semua pokok itu.

Kendati demikian, mereka menemukan sesuatu yang janggal di dalam perjuangan para reformator.  Panca-solayang digelorakan oleh para reformator dipandang tidak cukup dikerjakan secara konsisten.  Gereja Protestan tak ubahnya seperti gereja yang lalu.  Kehidupan tiap-tiap orang Kristen masih belum mengalami perubahan.  “Merk” gereja berubah (dari Katolik Roma ke Protestan Reformatoris), tetapi gaya hidup orang Kristen tidak kunjung berubah.  Para pemimpin gereja sendiri tidak berani bersikap berdasarkan kebenaran yang mereka suarakan, khususnya dalam hubungan dengan negara dan pemerintah.

Sebagai contoh, Zwingli yang latang berkhotbah ekspositoris dari pasal ke pasal dari seluruh Perjanjian Baru, menemukan bahwa baptis anak-anak seharusnya tidak dilakukan.  Alkitab membisu mengenai perintah untuk membaptiskan anak-anak.   Ia berkata, “Tidak ada hal yang lebih mendukakan saya daripada [bilamana] saat ini saya harus membaptis anak-anak, sebab saya tahu hal itu seharusnya tidak dilakukan.”  Namun, Zwingli sadar konsekuensi atas perkataan ini besar.  Risikonya berat.  Zwingli adalah seorang ahli strategi yang andal, sehingga ia berpikir tidak mungkin untuk mendikan suatu gereja orang-orang percaya (believers’ church) namun tetap mempertahankan hubungan harmonis antara gereja dan negara.  Motif di balik sikap ini sangat politis.  Zwingli ingin agar penduduk kota Zurich, di mana ia melayani sebagai imam, memeluk Protestanisme.  Maka, ia harus mempersilakan kuasa sekuler untuk turut campur dalam urusan-urusan kegerejaan.  Reformasi tidak cukup radikal!

Sikap yang ditunjukkan oleh para pemimpin gereja, tak terkecuali para pengikut reformator, juga sama dengan gereja Katolik Roma.  Mereka menindas para pencari kebenaran.  Kaum minor ini terlalu subversif (berbahaya) bagi pembaruan gereja.  Maka baik golongan Katolik maupun golongan Protestan kemudian berusaha menyingkirkan para kaum Anabaptis.  Hal ini membuat para perintis gerakan Anabaptis semakin yakin bahwa para guru Alkitab hanya pintar berkhotbah, tetapi hampa dalam praktik kasih.  Mereka kaya dalam kutipan dari karya-karya klasik para teolog dan filsuf, namun miskin dalam pembimbingan terhadap kaum marjinal.  Mereka luar biasa dalam mengajar jemaat, namun gereja telah jatuh ke ekstrem menciptakan golongan pengajar (ecclesia docens) yang memberikan pembelajaran kepada jemaat “awam” (ecclesia audiens).  

Kian bulatlah dugaan para pelopor Anabaptis bahwa gereja Protestan lebih tidak melakukan apa yang benar menurut Kitab Suci.  David Joris (1501-1556), seorang Anabaptis mula-mula berkata, “Karena itu, saya memperingatkan kalian demi nama Tuhanku mengenai guru-guru ini, sebab mereka menyombongkan diri terhadap Allah.  Mereka tidak memiliki Firman Allah yang hidup, tetapi hanya huruf yang mati.  Jangan dengarkan bualan-bualan mereka, atau mempercayai kata-kata indah mereka, . . .  Mereka berkata ‘berbahagialah kamu, tetapi mereka menipu kamu.” (c. 1538)

Sabda dan Roh

Protes para pelopor gerakan Anabaptis mengarah ke ekstrem yang lain.  Mereka menuntut perubahan hidup yang nyata.  Oleh sebab itu, jika seorang Kristen membaca Alkitab, maka harus terjadi perubahan kehidupan di tiap-tiap diri murid Yesus.  Masalahnya, mereka ini mengambil sikap melepaskan diri dari keterikatan dengan gereja Katolik maupun Protestan.  Tidak ada guru yang mengajar mereka.  Tidak ada patokan yang menjadi fondasi mereka.  Tidak ada kredo (pengakuan iman) yang mengikat mereka.  Maka, kaum Anabaptis perdana membaca Alkitab dalam terang Roh.  Terdapat dua golongan yang dapat disebut di sini: (1) golongan spiritualis dan (2) golongan legalis atau hurufiah.

Golongan pertama, yang disebut golongan spiritualis, sangat mengandalkan penglihatan, wahyu, dan hal-hal yang berhubungan dunia roh.  Mereka didorong oleh antusiasme yang besar oleh kuasa Roh.  Mereka percaya bahwa semua kebenaran, anugerah, sukacita, dan damai dapat dialami hanya melalui perbuatan-perbuatan ajaib Roh.  Kehendak Allah dapat dikenali melalui Roh, yang berarti bahwa Roh tidak diberikan hanya bagi orang-perorangan, atau kenikmatan persekutuan, tetapi juga buah roh yang menjadi nyata dalam hidup sehari-hari.  Roh dipandang sebagai kuasa yang aktif, bukan pasif, yang mengejutkan, mengubah, menjungkirbalikkan dunia mereka, dan membuat semuanya baru.  Mereka mengaku dibaptis dengan Roh Kudus, tetapi tak satu pun catatan mengenai adanya glossolalia (bahasa lidah) dalam pertemuan ibadah.

Namun, antusiasme terhadap Roh ini mendorong kaum Anabaptis lain untuk membentuk golongan lain, yakni golongan literalis, harfiah, dan bahkan dapat disebut kaum legalis.  Mereka memiliki aturan komunal yang ketat sekali, yang didasarkan pada kutipan-kutipan kitab suci.  Kita dapat menilik tulisan-tulisan Dirk Philips dan Menno Simons, tokoh Anabaptis yang ternama, yang memasukkan banyak sekali kutipan ayat kitab suci.  Hans Denck dilaporkan mengutip ayat kitab suci secara tajam dan “di atas pemahaman [rata-rata]” oleh para lawannya di kota Strasbourg, Swis.  Para martir Anabaptis pun tahu benar bagaimana cara mengutip kitab suci dengan baik ketika mereka diinterogasi untuk menentukan hukuman atas penyelewengan mereka.

Dalam ketegangan golongan spiritualis dan literalis di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa kaum Anabaptis percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia bagi mereka, serta Roh Kudus adalah Penolong yang menjadikan gaya hidup seperti Kristus itu mungkin.  Kehidupan baru mustahil terwujud tanpa Roh Kudus.  Lebih-lebih, hanya Roh saja yang memampukan seorang percaya untuk memahami Firman Allah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.  David Joris patut kita simak perkataannya, “Kitab-kitab Suci diembuskan ke dalam para penulisnya melalui Roh [2 Tim. 3:16] dan diberikan bagi pelayanan, yang memberi keyakinan kepada orang-orang miskin.” 

Rohlah yang memimpin ke dalam segala kegenaran, mengaruniakan karunia rohani, menguduskan, menghibur dalam penderitaan, memberi kemerdekaan sejati dan memungkinkan hidup yang berbuah.  Kasih adalah anugerah Roh Kudus kepada murid-murid yang taat.  Menno Simons menulis, “[Kitab Suci] benar-benar ditulis untuk tujuan yang sia-sia, . . . jika Roh Kudus Allah, guru segala kebenaran, tidak menyentuh, menembus, dan membalikkan hati para murid atau pendengar melalui cara yang Allah sudah berikan dan persiapkan, yaitu Firman Allah.”

Andaikan Saja . . .

Kaum Mennonit memandang sola scriptura tidak berujung pada doktrin, tetapi pada perubahan hidup setiap orang percaya.  Karena itu, peran Roh Kudus menonjol dalam tulisan-tulisan para tokoh gerakan Anabaptis-Mennonit.  Sebaliknya, mereka memandang negatif, dan cenderung antipengakuan-iman, antiteologi, antitradisi.  Bagi mereka, kredo adalah buatan manusia dan tidak boleh ditempatkan di atas kitab suci.  Teologi mematikan kuasa Firman Allah yang mengubah kehidupan.  Tradisi membuat gereja hidup dalam kenangan masa lalu.

Sikap yang demikian tentu saja dapat dipahami oleh sebab konteks kekecewaan mereka terhadap para guru, yang tidak dapat lagi digugu dan ditiru.  Mengikut Yesus berarti ketaatan radikal kepada Sabda Kristus dan cara kehidupan-Nya, bahkan rela mempersembahkan diri sebagai korban hidup oleh karena iman.  Namun demikian, tak ayal lagi kita dapat saksikan bahwa ternyata prinsip radikal ini melahirkan ketegangan di dalam tubuh Anabaptis sendiri.  Terdapat kutub-kutub ekstrem dalam internal gerakan ini: ada golongan spiritualis, ada golongan literalis.

Andaikan saja kaum Anabaptis perdana menyadari bahwa Kitab Suci pun merupakan produk dari pengakuan iman.  Kitab Suci adalah hasil dari kredo.  Maksudnya, Kitab Suci tidak jadi begitu saja, sebagai sebuah buku yang jatuh dari langit.  Ribuan tahun bagi kitab-kitab PL untuk terkumpul menjadi 39 kanon.  Tak kurang dari 400 tahun setelah periode kematian Yesus Kristus bagi tulisan-tulisan PB untuk menjadi kanon.  Kitab-kitab itu menjadi kanon sebagai buah pengkajian yang intensif dari pengakuan iman jemaat am (universal) melalui liturgi yang dipakai oleh Gereja Tuhan.

Andaikan saja kaum Anabaptis perdana menyadari pentingnya teologi dan perlunya belajar dari para teolog klasik serta bapa-bapa gereja.  Tentulah akan diwariskan karya-karya tulis yang banyak berdialog dengan bapa gereja, sehingga gerakan ini tidak dituding sebagai gerakan antiintelektual.  Wajah gerakan Anabaptis tidak dicibir sebagai gerakan separatis sehingga tak perlu ada penganiayaan selama 200 tahun di Eropa, dan dapat berkontribusi dalam dialog-dialog teologis di kalangan gereja arus utama.

Andaikan saja kaum Anabaptis menyadari bahwa tradisi itu penting.  Menghayati kehidupan dan pengajaran Yesus juga berarti mendalami ajaran para rasul yang diwariskan oleh gereja dari abad ke abad.  Gereja tidak sempurna.  Gereja mengalami era-era kegelapan.  Namun Roh Kudus tetap memelihara Gereja-Nya selama berabad-abad.  Tentulah akan kaya khasanah warisan tradisi yang bermuara pada praksis gereja Tuhan yang sejati.

“Andaikan saja” adalah pernyataan yang tidak dapat diubah.  Masa lalu adalah sejarah.  Di masa kinilah, kita sebagai pewaris gerakan Anabaptis perlu mengambil langkah.  Roh yang menerangi hati kita untuk membaca kitab suci, pun menuntun kita untuk sadar bahwa gereja Anabaptis-Mennonit merupakan bagian dari arak-arakan gereja Tuhan di sepanjang abad dan tempat.  Yang tidak boleh berubah, membaca Kitab Suci harus sampai kepada perubahan hidup.  Sola Scriptura harus mentransformasi hidup jemaat.

TERPUJILAH ALLAH!

Tuesday, September 11, 2012

(Book Review) THE SACRIFICE OF JESUS: UNDERSTANDING ATONEMENT BIBLICALLY

BOOK REVIEW

THE SACRIFICE OF JESUS: UNDERSTANDING ATONEMENT BIBLICALLY (Fortress, 2011) oleh Christian A. Eberhart (x + 170 hlm.)


Entah berapa banyak di antara kita yang turut menggeluti diskusi akhir-akhir ini mengenai masalah "atonement," doktrin pendamaian, yang dikembangkan oleh Anselmus dari Canterbury, yang menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murka dan menuntut kurban niscaya dari satu pribadi tanpa dosa.

Dalam konteks Indonesia, berita santer melawan doktrin atonement adalah buku Ioanes Rakhmat yang ditanggapi oleh Joas Adiprasetya. Dalam spektrum diskusi lebih luas, dua teolog sistematika AS juga menerbitkan buku melawan pandangan atonement Anselmian. Yang satu dari seorang teolog Anabaptis-Mennonite, J. Denny Weaver dari Bluffton University, Ohio, dengan buku The Nonviolent Atonement (2nd. ed.; Eerdmans, 2011), dan yang lain teolog Baptis, S. Mark Heim, Saved from Sacrifice: A Theology of the Cross (Eerdmans, 2006).


Buku saku yang saya beli pada 25 Januari lalu di Baker Book House, Grand Rapids, MI, memberikan sumbangsih yang menarik. Diterbitkan dalam seri Facets (Augsburg Fortress) yang membahas tema-tema teologis namun ringkas dalam penyajian, buku ini membedah teologi pengurbanan Yesus dari sisi biblis. Penulis adalah guru besar PB di Lutheran Theological Seminary, Saskatoon, Saskatchewan, Canada, dengan gelar doktoral dari Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau telah menulis secara ekstensif mengenai teologi kurban di dalam PL dalam bahasa Jerman dan Inggris.


Alasan Eberhart menulis yaitu menyikapi makin banyak orang Kristen yang sulit menerima konsep kekerasan yang dikenakan pada kurban Kristus. Sang penulis juga mengetengahkan tesis mengenai "non-violent image of atonement", bukan paparan dogmatis, atau filosofis, tetapi menggali kembali kekayaan konsep ritual dan pengurbanan di Kitab Suci. Ia menyimpulkan dalam 5 poin (hlm. 131-134):


1. Penyembelihan hewan tidak memiliki makna penting untuk ritual pengurbanan pada kultus Israel kuno. Di sisi lain, ritual peneraan darah tidak menyiratkan vicarious death (kematian yang menggantikan tempat umat) tetapi penyucian melalui hidup hewan, yaitu darahnya.


2. Ritus kurban muncul sebagai cara untuk mendekati tempat kudus dengan tujuan untuk berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah. Lebih lagi, kurban merupakan sarana pemurnian dan pengudusan dalam peribadahan (expiation).


3. Soteriologi PB tidak berfokus secara eksklusif pada kematian Yesus tetapi juga kehidupan dan misinya. Hal ini diterangkan dengan simbol rahasia kekristenan kuno yaitu ICHTYS yang merupakan akronim gelar Yesus, yang menyiratkan kehidupan dan misinya, bukan sekadar kematiannya.


4. Kematian Yesus bagi kekristenan perdana memang mengandung keselamatan, tetapi gambaran yang dipakai bukan sama dengan perkembangan terkemudian yang diambil dari konteks sekular (diplomasi dan ekonomi).


5. Menurut teologi Kristen perdana, Allah mengambil inisiatif untuk menempatkan Yesus sebagai "tempat pendamaian" (place of atonement) yang dapat dimasuki oleh semua umat manusia, dan Allah adalah Dia yang mendamaikan dunia dengan menyediakan sarana efektif bagi pengampunan. Di dalam Yesus, Allah trinitas memilih untuk berjumpa dengan umat manusia sehingga kasih ilahi dapat dikenali dan dibagikan kepada dunia.

Wednesday, April 11, 2012

Refleksi Paskah: Macapat Pocung 3 Pada

Berikut ini adalah Tembang Macapat Pocung yang dipersiapkan untuk Ibadah Meditatif Sabtu Sunyi, 7 April 2012 di GKMI Kudus Rayon 2.  Tembang ini dilantunkan berbalasan dengan lagu "Jesus Christ, Bread of Life" dari Taize.  Liturgi yang dirancang berpijak pada tradisi Iona dengan "empat gerakan" atau empat babak (Tuhan Hadir, Tuhan Diam, Tuhan Menang, Tuhan Membimbing) memasukkan beragam unsur lagu dari berbagai tradisi: Himnal, Taize, Iona, Ambon, Jawa, Mandarin, Afrika Selatan.


Pada Setunggal
Gusti Yesus kuncara ambeg ngaluhur,
Natangguang mulya,
Ambeg para marta esthi.
Sedanya dadya tuladha mring kawula.

Pada Kalih
Kang sanyata saking seda sampun wungu,
Risang Kristus jaya,
Setan gya manungkul nenggih.
Pepateng larut, nyata unggul ing yuda.

Pada Tiga
Kori swarga kang binuka myang Sang Kristus,
Lenggah jajar Rama,
Kang pranyata natas pati.
Cahya nyunari bawana saisinya.

****

Bait Satu
Tuhan Yesus bercahaya dan berbudi luhur.
Dipercaya oleh orang, mulia.
Rendah hati.
Kematian-Nya jadi teladan bagi umat.

Bait Dua
Sesungguhnya sudah bangkit dari antara orang mati.
Sang Kristus jaya,
Setan segera kalah.
Maut hancur, nyata menang dalam peperangan.

Bait Tiga
Pintu surga terbuka untuk Kristus,
Duduk di sebelah Bapa,
Yang sungguh telah menunggangbalikkan kematian.
Dunia penuh cahaya, tersinarilah seisi bumi.


Kudus, 7 April 2012


Interpretasi:
Jenis tembang Pocung adalah yang paling pendek di genre Tembang Macapat.  Hanya empat baris.  Namun, karakteristik Pocung dicirikan oleh guru wilangan (jumlah suku kata) dan guru lagu (jatuhnya bunyi sajak)
Baris 1: dua belas suku kata, diakhiri dengan bunyi "u"
Baris 2: enam suku kata, diakhiri bunyi "a"
Baris 3: enam suku kata, diakhiri bunyi "i"
Baris 4: dua belas suku kata, diakhiri bunyi "a"
Bait pertama menggunakan sejumlah bahasa Jawa klasik, sementara dua dan tiga lebih modern.

Bait pertama bernada moral influence a la eksemplaris-Abelardian.  Kristus teladan.  Bagi kaum Anabaptis, tradisi keteladanan Kristus sebagai Pemimpin dan Guru Agung adalah yang utama.  Soteriologi dan staurologi (teologi salib) Anabaptis bukan substitutionary atonement.  Orang Anabaptis akan berkata, "Amin" pada perkataan, "My Father was not a butcher!"  ("Babe gue bukan penjagal!").  Allah Bapa bukan sengaja mengorbankan Anak-Nya sesuai rancangan kekal-Nya.  Tetapi, Bapa memberikan teladan agung, teladan kehilangan, teladan kenosis, pengosongan diri.  Yesus menjadi teladan konkret dari ajaran yang Ia sampaikan dalam hidup dan pelayanan-Nya.

Bait kedua dan ketiga berinti ajaran Christus Victor, Kristus Jaya.  Inilah pengajaran yang sangat kuno di dalam tradisi gereja.  Kematian Kristus menyatakan setan dan kuasanya telah ditundukkan.  Sengat maut sudah kalah.  Kristus ditinggikan setelah dia menghancurleburkan kuasa Iblis, yang dalam bahasa teologi patristik disebut the harrowing of hell!, menggaru neraka.  J. Denny Weaver, teolog Anabaptis dari Bluffton University, Ohio, menulis sebuah monograf klasik berjudul Keeping Salvation Ethical (1997), sebelum ia menulis bukunya yang terkenal The Non-violent Atonement (rev. 2011).  Ia menemukan bahwa dalam sejumlah pemikir Anabaptis-Mennonite di abad-abad lalu lebih condong kepada tradisi Christus Victor daripada substitutionary atonement.

Klimaks dari syair ini adalah merekahnya ciptaan baru.  Bumi bersinar karena terang Kristus.  Ini berita mengenai pemulihan tata ciptaan, dan segala yang ada akan dirombak ulang, dan kemuliaan Allah akan menjadi penerangnya.  Allah akan membawa pembaruan itu untuk tempat di mana kita tinggal, di bumi yang kita pijaki.

Χριστός ጀΜέστη! - "Christ is Risen!"
ገληΞῶς ጀΜέστη! - "He Has Risen Indeed!"
Selamat Paskah!

Wednesday, October 19, 2011

DUDUK BERSAMA DI SEKITAR MEJA KEHIDUPAN

Atau,
MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG EGALITER
Matius 8:5-13; 10:34-42

Masyarakat egaliter itu bagaikan keluarga yang diidam-idamkan sepasang kekasih yang tengah memadu asmara.  Seperti apa keluarga yang dirindukan?  Bagaimana peran tiap-tiap anggotanya?  Siapa yang memimpin?  Pasti pasangan itu mendambakan sebuah keluarga yang rukun dan damai, segala konflik dan kesalahpahaman dapat diselesaikan.  Masing-masing dapat berperan aktif, mengambil bagian untuk membangun keluarga.  Tidak ada pembedaan antaranggota keluarga.  Semua pendapat dihargai, meskipun tak selalu diiyakan.  Semua usulan mendapat tempat, kendati tak selalu menjadi acuan.  Semua senang menjadi bagian di dalamnya.

Allah menghendaki dunia egaliter.  Pada waktu penciptaan, perempuan diciptakan sebagai “penolong yang sepadan.”  Perempuan sama dengan laki-laki.  Allah juga menetapkan hari Sabat sebagai hari istirahat bagi seisi dunia.  Seluruh semesta harus berfokus kepada Tuhan pada hari itu.  Namun, dosa telah melumpuhkan sistem tataan nan harmonis ini.  Mulailah manusia merasa punya hak atas orang lain.  Terjadilah pembunuhan manusia.  Mulailah terjadi poligami, yang artinya laki-laki merasa punya hak di atas perempuan.  Bahkan kemudian manusia mulai merasa mempunyai hak untuk menjarah surga, dengan membangun menara yang menjulang ke langit.  Manusia melupakan Tuhan!  Tataan dunia egaliter musnah sudah.

Dalam pada itu, Allah bukan Tuhan yang berhenti berkarya.  Di tengah konteks zaman dan dunia yang diwarnai pembedaan status, maka Allah menciptakan sebuah masyarakat yang egaliter di dalam dan melalui bangsa Israel.  Israel menjadi model atau miniatur dunia yang egaliter.  Komunitas ini dijiwai oleh hidup kekudusan, keadilan dan kebenaran.  Mereka tidak boleh seperti bangsa lain.  Mereka tidak boleh memandang bulu.  Mereka harus mengarahkan hati kepada Tuhan.  Sabat kembali diteguhkan, bukan saja supaya manusia berhenti bekerja, tetapi hewan pun menikmati istirahat.  Jangkauan keadilan di dalam masyarakat yang egaliter sampai kepada keutuhan seluruh ciptaan.  Tujuan Allah ialah supaya bangsa-bangsa melihat, di tengah dunia yang tidak adil, ada sebuah gaya hidup alternatif—sebuah budaya tandingan!

Dalam sejarahnya, Israel pun gagal menciptakan masyarakat yang egaliter!  Mereka memilih mengikuti cara hidup bangsa lain.  Mereka mengikuti dewa-dewi dan ilah bangsa asing, yang serta merta menyeret mereka kepada penyembahan kafir dan pola hidup dosa.  Mereka memperlakukan sesama dengan semena-mena.  Inilah yang ditentang oleh nabi-nabi di Perjanjian Lama.

Yesus Sang Mesias menyerukan kembali gaya hidup alternatif ini.  Dalam peristiwa penyembuhan hamba kepala satuan seratus pasukan (centurion) dari Kapernaum, Yesus berkata, “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga” (Mat. 8:11).  Ini tidak mungkin terjadi di antara orang-orang sezaman Yesus!  Mereka sedang mengupayakan diri mereka sekudus-kudusnya, sebab telah begitu lama mereka dipengaruhi gaya hidup bangsa asing.  Tidak!  Jangan lagi tinggal bersama orang asing!  Bahkan, duduk dan makan pun tidak akan pernah terjadi!

Masalah dengan siapa saya duduk makan juga yang melatari Surat Galatia.  Ada sebagian orang Yahudi telah menjadi pengikut Kristus, tetapi mereka menyangka bahwa mengikut Yesus berarti mengikuti Mesias Yahudi.  Dengan kata lain, harus tampak tanda-tanda keyahudian.  Salah satunya, tidak mau makan dengan orang asing.  Ini tindakan haram.  Najis hukumnya. 

Justru pemahaman inilah yang sedang dijungkirbalikkan oleh Kristus dan Paulus.  Kerajaan Surga bukan kerajaan yang eksklusif: hanya bagiku, bagi kaumku, bagi orang-orang yang sepandangan dengan aku.  Kerajaan Surga penuh dengan kejutan!  Orang-orang yang tidak diharapkan malahan datang dan makan bersama-sama dengan bapa-bapa iman umat Allah: Abraham, Ishak dan Yakub.  Bagaimana hal itu bisa terjadi?  Melalui perbuatan-perbuatan Taurat: Sunat, hukum Sabat, hukum halal-haram?  Tidak!

Dua teks dari Matius inilah kuncinya, yaitu melalui: (1) iman dan (2) komitmen kepada salib.  Para bapa Israel hidup karena iman, bukan karena tanda-tanda.  Mereka percaya kepada Allah.  Maka, kaum yang mewarisi cara hidup mereka dijiwai dengan iman, bukan perbuatan lahiriah.  Yesus juga menekankan satu hal penting: kepatuhan dalam memikul salib, yaitu ketahanan menderita, kesetiaan sampai titik darah penghabisan.  Inilah yang menjadi penanda umat Allah yang sejati.  Sekalipun di dalam diri seseorang tidak mengalir darah Yahudi-Israel, dia tidak perlu menjadi Yahudi dengan tanda-tanda lahiriah untuk diterima sebagai umat Allah.  Artinya, dia boleh saja orang bukan-Yahudi.  Tetapi dia percaya penuh kepada Allah.  Dia juga bertekad untuk hidup taat sampai mati sekalipun hidup ini tidak mudah.  Orang ini termasuk dalam umat Allah yang sejati!

Kaum Anabaptis dijiwai oleh semangat egalitarian, kesetaraan.  Semua orang adalah saudara.  Bahkan yang bukan Kristen pun dianggap sebagai saudara.  Itulah sebabnya, kaum Anabaptis-Mennonit menjadi pelopor dalam pergerakan perdamaian di pelbagai belahan dunia, tanpa memandang latar belakang agama, status dan bangsa.  Saudara kini ada di gereja Mennonit.  Yang paling sederhana: Jika Saudara tiap Minggu datang ke gereja, adakah orang-orang yang belum pernah Saudara sapa dan berikan salam?  Jika kita rajin beribadah, masihkah ada orang yang kita jauhi?  Mohon Tuhan menyelidiki hati kita.  Jika Dia sudah menerima kita apa adanya, bagaimana seharusnya pola hidup kita? Amin.


DIANIAYA OLEH SEBAB KEBENARAN (Matius 5:10-12)

 
Sabda pamungkas Ucapan Bahagia ini relevan bagi para pendengar di zaman Yesus.  Mereka adalah kaum teraniaya di dalam era penjajahan Roma.  Yesus membawa penghiburan besar bagi mereka!  Sabda ini pun relevan pagi penerima Injil Matius.  Bait Suci yang pembangunannya membutuhkan waktu 46 tahun luluh lantak pada tahun 70 M. akibat serangan besar-besaran tentara Roma, mengalahkan pemberontakan Simon bar Giora sejak tahun 66 M.  Sabda yang sama relevan untuk para pendahulu Anabaptis yang tinggal dalam suasana terimpit dan terjepit, dibenci dan dicaci, diburu dan dibunuh, dituduh makar dan dikejar-kejar selama dua ratus tahun, baik oleh gereja Katolik Roma dan Gereja Reformasi.  Semua itu . . .  dulu.

Sekarang?  Apakah kita teraniaya?  Apakah kita menderita?  Pernahkah Saudara dibantai oleh sebab kebenaran?  Kendati menara kembar WTC di kota New York tumbang, dan banyak orang Amerika bertanya, “Mengapa mereka membenci kami?” dan masalah terakhir, bom bunuh diri meledak di GBIS Surakarta, apakah itu berarti kita sudah menggenapi keadaan yang diceritakan Yesus?  Sekarang . . . ya, baik-baik saja.  Lalu apa relevansi undangan Yesus ini bagi kita?  

Pertama, perhatikan bahwa ada frase yang sama di akhir dan awal Ucapan Bahagia ini: “merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (bdk. Ayat 3).  Pokok Ucapan Bahagia adalah bagaimana kita memiliki kerajaan surga.  Ternyata, berbeda dengan tawaran dunia: yang miskin, yang berduka, yang lemah-lembut, yang lapar dan dahaga, yang murah hati, yang suci hati, yang membawa damai, yang dianiaya!  Singkatnya, mendapatkan kerajaan surga bukan dengan cara dunia!  Dunia mengagung-agungkan kekayaan, gegap gempita, kekuatan, pesta-pora, kepentingan diri, penghalalan segala cara, peperangan, tangan besi.  Yesus sedang mengajarkan kepada para murid bagaimana berpola hidup sebagai warga Kerajaan Allah.

Kedua, Yesus berbicara mengenai “kebenaran” atau “jalan kebenaran.”  Kata “Jalan” adalah cara orang Yahudi menyatakan tindakan etis dalam memelihara kehendak Allah.  Langkah praktis apa saja yang seseorang bisa kerjakan untuk tetap membuat Allah bersukacita?  Tetapi, apa yang menyukacitakan hati Allah sangatlah berbeda dengan dunia.  Menapak di jalan kebenaran membuahkan konsekuensi.  Hidup menjadi tidak mudah.  Murid-murid akan teraniaya karena mengikuti jalan kebenaran.  Ya, bagaimana tidak jika mereka dianggap sebagai makhluk aneh?

Ketiga, kata kerja “dianiaya” ini ditulis dalam bentuk perfect.  Baik pendengar Yesus maupun penerima Injil Matius telah akrab dengan penganiayaan.  Tetapi ini pun berarti, mereka tetap berada di jalan kebenaran.  Sebab melakukan kebenaranlah mereka dianiaya.  Seberapa berat pun aniaya, murid Kristus harus tetap melakukan kebenaran.  Dibutuhkan ketekunan dan ketahanan.  Tekun untuk tetap berjalan seturut kehendak Allah.  Tahan untuk menghadapi masa depan yang berat dan tidak menentu.

Relevansi bagi pendengar modern dan kita yang tidak sedang berada di bawah penindasan yang langsung adalah: seberapa tekun dan tahan kita hidup di jalan Tuhan?  Aniaya tidak selalu datang dari orang lain.  Tetapi diri sendiri yang acapkali mencobai kita.  Tidak selalu Iblis dengan para pengikutnya yang hendak menjatuhkan kita, tetapi keinginan diri kitalah yang mau mengalahkan kita.  Seberapa kita tahan menghadapinya?  Jika kita mampu bertahan, Tuhan Yesus katakan bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia!  Amin.

Thursday, June 9, 2011

AKU AKAN MEMBERIKAN HATI YANG BARU (Yehezkiel 36:22-32)


Pengantar

Kehadiran Roh Kudus di Perjanjian Lama erat dengan berita eskatologi.  Alam berpikir PL meyakini bahwa di masa akhir, Allah akan bertindak melalui dua cara: Mesias dan Roh.  Allah akan mengutus Mesias, yaitu pemimpin umat Allah yang bertindak atas nama Allah; serta Roh Allah, yaitu Roh yang menguduskan, yang menyucikan.

Pengutusan Mesias maupun Roh, kalau kita perhatikan, memiliki pola yang kita lihat sama:
·         Inisiatif Allah, bukan manusia
·         Dikerjakan oleh Allah seorang diri, tanpa campur tangan manusia
·         Datang dari Allah, mengubah hati manusia
·         Untuk kemuliaan Allah, bukan keagungan manusia.

Jadi, Roh Allah atau Roh Kudus itu bukan semata-mata untuk kepentingan manusia.  Roh Kudus diberikan untuk mengubah hati manusia.  Manusia yang semula menjauh dari Allah, maka oleh karya Roh Kudus diubah, dan kembali terarah kepada Allah.  Tujuan akhir dari segala karya Allah, termasuk pengubahan batin manusia, adalah demi kemuliaan dan hormat nama-Nya semata-mata.

Penjelasan Teks

Secara struktural, bagian ini dapat dibagi sebagai berikut:
·         Dasar Tindakan Allah (ay. 22-24):
§  Allah bertindak bukan oleh sebab manusia (ay. 22)
§  Allah bertindak demi nama-Nya yang kudus (ay. 22-23a)
§  Allah bertindak dengan menunjukkan kekudusan-Nya (ay. 23b)
·         Inti dan Isi Tindakan Allah (ay. 24-28):
§  Allah mengumpulkan kembali umat-Nya (ay. 24)
§  Allah mencurahkan Roh yang menyucikan hati (ay. 25-27)
§  Allah menjanjikan tempat tinggal bagi umat-Nya (ay. 28a)
§  Allah memperbarui perjanjian dengan umat-Nya (ay. 28b)
·         Akibat Tindakan Allah (ay. 29-31)
§  Umat terlepas dari kenajisan dosa (ay. 29a)
§  Umat mendapatkan hasil tanah (ay. 29b-30)
§  Umat akan mawas diri dengan dosa-dosa masa lampau (ay. 31)
·         Kesimpulan (ay. 32)
§  Allah menegaskan tindakan-Nya itu bukan karena manusia (ay. 32a)
§  Allah ingin agar manusia mawas diri (ay. 32b)

Pendahuluan

Di era modern, agama telah beralih wajah dengan tampilan yang sentimental.  Orang membutuhkan agama untuk menolongnya keluar dari problematika kehidupan yang pelik.  Jikalau agama tak mampu menunaikan tugas ini, maka buat apa beragama.  Maka, orang mau menjadi Kristen, kalau bisa kaya, sembuh, enak, nyaman, tenang dalam batin, dan sebagainya.  Maka, istilah-istilah dosa, ketekunan, kekudusan pun perlu disesuaikan dengan perubahan zaman.  Dosa diganti dengan ketidakpercayaan diri.  Ketekunan diganti dengan motivasi.  Kekudusan diganti dengan ketenangan batin.

Dengan perkataan lain, agama dan Tuhan masih berfungsi, sejauh manusia punya masalah.  Agama dan Tuhan diperlukan untuk memperbaiki masalah yang ada dalam hidup manusia.  Agama akan usang, kalau manusia tidak memiliki (banyak) masalah.  Tuhan akan diabaikan kalau semua kebutuhan telah terpenuhi.   Apa pun itu, yang penting agama dan Tuhan berfungsi sebagai tukang reparasi.  Disadari atau tidak, religiositas yang sedemikian ini telah menempatkan manusia di atas Allah.  Manusia adalah yang dilayani; Allah yang melayani.  Ini adalah agama yang berpusat kepada Allah.

Teks kita sekarang ini menyentak kita untuk sadar, Kekristenan yang diwarisi dari iman Perjanjian Lama tidak menawarkan corak religiositas seperti ini.  Kekristenan menawarkan damai sejahtera yang sejati, bukan karena manusia hidup dalam suasana penuh konflik dan mencari damai sejahtera.  Tetapi, seperti yang dikatakan St. Agustinus, “Engkau menciptakan kami bagi diri-Mu sendiri, dan hati kami tidak akan pernah tenang sebelum beristirahat di dalam-Mu.”  Artinya, manusia adalah ciptaan Allah, yang diciptakan bagi Tuhan, untuk bersekutu dengan Tuhan.  Sebelum manusia memiliki persekutuan dengan Tuhan, manusia tidak akan pernah mendapatkan damai sejahtera itu.  Bukan karena manusia, tetapi karena Allah semata-mata—itulah dasar iman Kristen yang sejati.

Dengan begitu, di tengah tantangan dunia yang semakin egoistis (mengutamakan ke-aku-an) dan egosentris (mencintai diri sendiri), baiklah kita kembali ke dasar iman kita yang sebenarnya.  Iman kita berpusat kepada tindakan Allah.  Bagaimana Allah bertindak?

Dasar Tindakan Allah

Marilah kita cermat.  Tujuan kitab Yehezkiel yang ditulis pada sekitar 593-570 SM, adalah untuk mendorong kaum terbuang tetap setia kepadaTuhan sehingga Ia akan memenuhi janji-Nya.  Tuhan berjanji untuk membawa pulang kaum terbuang ini ke tanah air perjanjian.  Ia berjanji bahwa umat-Nya akan membangun kembali Bait Suci dan kota Yerusalem.

Tetapi di bagian ini, jelas sekali bahwa Allah akan memenuhi perjanjian-Nya itu bukan karena keinginan manusia.  Bahkan, bukan kehendak manusia Allah kemudian bertindak.  Pada zaman Yehezkiel, Israel dibuang oleh Allah ke tanah asing oleh sebab mereka telah menista nama Allah.  Mereka telah menduakan Allah.  Hati mereka telah menjauh dari Allah.

Mengapa?  Adalah kebenaran di dalam Alkitab bahwa manusia berdosa tidak pernah mendambakan Allah.  Tidak ada seorang pun yang mencari Allah (Rm. 3:11).  Rasa takut kepada Allah tidak ada pada manusia (Rm. 3:18).  Hatinya gelap.  Pikirannya licik.  Nabi Yeremia meratap, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu; siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer. 17:9).

Maka, alasan bagi Allah untuk bertindak adalah diri-Nya sendiri: (1) atas nama-Nya, (2) kekudusan-Nya.  “Nama” Allah berarti otoritas Allah.  Contohnya, kalau kita menerima surat dengan lambang Garuda Pancasila dan bertuliskan Presiden Republik Indonesia, maka surat itu istimewa.  Surat itu adalah surat kenegaraan yang hanya boleh dikeluarkan oleh Presiden RI.  Nah, bicara mengenai nama Allah adalah perihal siapa yang bisa melakukan tindakan ilahi.  Tidak ada satu pun yang lain.  Di alam semesta, tidak ada satu pun yang dapat mencipta, menebus, dan menyempurnakan, selain daripada Allah—Tuhan perjanjian!

(2) Kekudusan-Nya, artinya: Allah tidak dapat mengingkari sifat-sifat dan kesempurnaan-Nya.  Allah tidak pernah meleset dengan segala keputusan-Nya.  Ia tidak pernah ingkar.  Ketika bertindak, Allah selalu menunjukkan kekontrasan karya-Nya dengan manusia, bahkan dengan dewa-dewi bangsa lain.  Allah melakukan hal yang tidak mungkin dapat dikerjakan tangan manusia, dan dewa-dewi buatan manusia.  Ketika Ia mengambil keputusan untuk bertindak, apa yang Ia kerjakan pastilah benar dan bebas dari kecemaran dosa.

Kalau begitu, bukan untuk manusia Ia bertindak.  Bukan demi kepentingan manusia Ia berkarya.  Segala tindakan dan karya-Nya, dari awal sampai akhir, adalah bagi kemuliaan nama-Nya.

Inti dan Isi Tindakan Allah

Ketika Allah mengumpulkan umat kembali ke tanah air, sesungguhnya ini mengingatkan kita kepada karya Allah terdahulu—Allah menuntun kaum Yakub dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian.  Berarti, tindakan Allah ini sebenarnya membuktikan bahwa Ia bertindak demi kekuasaan-Nya; Ia tidak mengingkari apa yang Ia telah kerjakan sebelumnya.  Tindakan untuk mengumpulkan umat-Nya kembali hendak mencelikkan mata umat manusia, bahwa Tuhan tidak pernah gagal dengan tindakan-Nya.

Tapi tujuan Allah mengumpulkan kaum-Nya yang terserak juga untuk membuat mereka sebagai umat yang mendengarkan firman-Nya.  “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul. 30:14).  Allah menghendaki hati umat yang terarah selalu kepada sabda-Nya.  Namun, bagaimana itu mungkin?  Umat telah berdosa.  Mereka telah mencemarkan nama Allah.  Bahkan tak satu pun yang mencari Allah!

Syukur kepada Allah, sebelum manusia sadar—dan mustahil manusia sadar—Allah telah mengambil inisiatif.  Allah akan mentahirkan mereka.  Allah memberikan hati baru.  Allah memberikan roh yang baru di dalam batin.  Allah memberikan hati yang lembut.  Allah mengaruniakan hati yang taat.  Jadi, apa yang membuat seseorang berubah arah dari pendosa menjadi patuh?  Allah yang terlebih dahulu mengerjakan perubahan di dalam bagian yang terdalam dari hidup seseorang. 

Rasul Paulus menulis bahwa Roh ini adalah meterai keselamatan karena seseorang percaya, sekaligus jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruh keselamatan kita (Ef. 1:13-14).  Artinya, Roh ini adalah jaminan Allah sendiri supaya kita menapaki jalan keselamatan, hingga kelak kita akan dipermuliakan selama-lamanya.  Langkah-langkah orang percaya akan dijaga oleh Roh Kudus.  Langkah-langkah orang percaya, dalam kuasa Roh Kudus, kian hari kian mantap menuju kepada keserupaan dengan Kristus.

Jika kemudian Allah menjanjikan tempat tinggal di tanah perjanjian, berarti lengkaplah sudah tindakan Allah.  Allah mengingat perjanjian-Nya, Allah memulihkan umat-Nya, dan Allah memperbarui perjanjian-Nya.  “Kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.”  Inilah formulasi yang selalu diulang dalam perjanjian Allah dengan umat-Nya.

Akibat Tindakan Allah

Tindakan Allah membawa pembaruan.  Pembaruan pertama bersifat moral.  Allah yang kudus menghendaki umat-Nya pun kudus.  Maka, Ia berkehendak agar semua kenajisan dihapuskan dari antara umat.  Tanda seseorang menjadi umat perjanjian Allah adalah menjaga kekudusan hidup.  Jika Allah yang disembah dan dimuliakan berlawanan dengan paham dewa-dewi bangsa asing, maka umat Allah pun harus hidup berlawanan dengan gaya hidup bangsa-bangsa kafir.

Dampak lain pun dirasakan secara nyata oleh umat.  Berkat Tuhan melimpah.  Tuhan yang menjanjikan tempat tinggal, adalah Allah yang akan mencukupi kebutuhan umat-Nya.  Damai sejahtera yang Allah janjikan bukan sebuah konsep, tetapi konkret.  Bukan ideologi, tetapi realitas.  Allah yang melakukan tindakan-tindakan yang agung, adalah Allah yang sama, yang akan memenuhi segala kebutuhan hidup umat-Nya.

Tetapi Allah juga mau, agar tak seorang pun yang berani berpongah, menepuk dada dan lupa masa lalu.  Allah tidak mau “kacang lupa kulitnya.”  Apakah seseorang yang telah diampuni dosanya dan menerima Roh Kudus akan sempurna dan bebas dari dosa?  Ya benar, kuasa dosa tidak ada lagi.  Sengat maut telah dikalahkan.  Tetapi orang percaya masih tetap dapat tergoda dan jatuh ke dalam dosa. 

Sebab itu, umat tetap akan mengingat kesalahan di masa lampau.  Tindakan mengingat masa lampau ini akan menghindarkan manusia dari segala perasaan tinggi hati.  Sekaligus, manusia sadar bahwa ia tetap rentan terhadap dosa.  Sama seperti rasul Paulus, sekalipun telah diselamatkan Allah dan menjadi rasul, namun ia tetap bergumul: “Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.  Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm. 7:21-23).

Dengan mengingat bahwa setiap kaum tebusan Allah secara natur adalah kaum pendosa, maka hanyalah “karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

Penerapan

1.       Roh Kudus diberikan oleh Allah sebagai bukti bahwa Allah memerintah hidup kita.  Tekankan kepada remaja, siapa yang sebenarnya memerintah dalam kehidupan kita.  Seharusnya Allah saja.  Leluhur Anabaptis bernama Hans Denck menulis (1526), “Barangsiapa telah menerima perjanjian baru Allah, yaitu, siapa yang telah menerima Taurat tertulis di dalam hatinya oleh Roh Kudus adalah sungguh-sungguh benar.”

2.       Roh Kudus diberikan supaya hidup kita menjadi baru.   Hati kita dirombak total, dan keinginan kita terarah kepada Allah.  Balthasar Hubmaier menulis pada tahun 1527, “[Roh Kudus] menyucikan segala sesuatu dan tanpa Dia tak ada satu pun yang suci.  Di dalam Dia aku menempatkan imanku dan Ia akan mengajariku segala kebenaran, menambah imanku dan mengobarkan api cinta dalam hatiku melalui ilham kudus-Nya, sehingga hatiku akan terbakar dengan kasih Kristen yang sejati dan tak terpadamkan kepada Allah dan sesamaku.”

3.       Roh Kudus akan menuntun kesaksian umat Allah.  Melalui godaan, umat yang sejati akan tetap patuh kepada Allah.  Pilgram Marpeck bersaksi (1547), “Ketika kita sebagai manusia diperbarui, dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, Roh Kudus menjadi meterai dan saksi ketiga keselamatan.  Pelayanan kerasulan gereja secara tepat terlaksana, seturut amanat Kristus, ketika [Roh] mempersiapkan, menumbuhkan, menyuburkan, dan sebagai penolong dari Allah, kembali menghancurkan hai manusia.  Ketika penghancuran ini muncul, benih dan tunas gereja, di dalam hati, sabda kebenaran—yang harus dipercayai—menyirami hati dengan air baptisan.”

Wednesday, June 8, 2011

Revolutionary Subordination (1 Petrus 2:11-25)


Pengantar

Landasan Teori
Dunia di luar kita memainkan dualisme menang dan kalah.  Yang menang menindas yang kalah.  Yang kalah berada dalam posisi lemah.  Seolah-olah, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh pihak lemah kecuali menurut.  Tunduk identik dengan tidak berdaya.  Namun, hal ini tidak selamanya benar!  Sebab ternyata, bertumbuhnya penindasan secara dialektis menghasilkan negasinya sendiri dalam dimensi simbolik dan religius di kehidupan kaum tertindas (James C. Scott, “Protest and Profanation”).

Kaum lemah punya cara sendiri untuk berinteraksi dengan kaum kuat.  Mereka tinggal di bawah rezim represif, dikontrol ketat dan rutin oleh pihak berkuasa.  Tapi kaum lemah belajar untuk menciptakan “kepatuhan” demi tetap melangsungkan kehidupannya.  Di muka publik, mereka lebih banyak patuh dan menurut.  Mereka melakonkan apa yang didiktekan pihak penguasa.  Tetapi di balik “pentas” (offstage), kaum lemah ini saling bertukar pikir dan berbagi perasaan.  Tanpa pengawasan penguasa, mereka kemudian mencitrakan kaum penindas dengan gambaran-gambaran tertentu.  Mereka melawan ideologi yang didiktekan oleh pihak penguasa.

Ideologi penguasa lalim telah menghapus martabat dan nilai keadilan.  Tapi hasil dari dialog kaum tertindas adalah terciptanya wacana tandingan: bagaimana kaum tertindas mendapatkan kembali harkat mereka. Dengan kata lain, inisiatif untuk mendapatkan keadilan itu datang dari hasil percakapan antarkaum tertindas.   Hasil inilah yang dipakai sebagai “senjata melawan” penindas.  Senjata ini sama sekali bukan dalam arti senjata perang.  Tetapi ideologi yang hidup di dalam paguyuban marjinal itu, yang mereka hidupi, yang menjadi norma bagi mereka, yang membangun nilai-nilai kehidupan di dalam komunitas.[1]

Pengantar 1 Petrus
Dari pendasaran teoritis ini, kita dapat melihat bahwa Surat 1 Petrus pun cukup dekat dengan teori “salinan tersembunyi” James C. Scott di atas.  Semua ahli tafsir PB setuju bahwa surat ini ditujukan kepada satu generasi pengikut Kristus yang tengah teraniaya di sekitar tahun 60-68 Masehi.  Mereka disebut sebagai resident aliens, atau “pendatang” dan “perantau.”  Ditulis oleh Petrus—entah dari tangannya sendiri atau orang lain, atau orang yang mengatasnamakan sang rasul—tepatlah dijuluki sebagai “rasul pengharapan” (1:3, 13, 21; 3:5, 15). 

Wacana tandingan yang dikemukakan oleh sang rasul ialah bahwa sekalipun martabat mereka hilang di masyarakat, tetapi mereka telah mendapatkan sukacita dan kemuliaan dari kekayaan kekal mereka (1:3-11; 3:7; 4:13-14; 5:1, 4, 6, 10).  Karena itu, mereka harus menjunjung watak kristiani ketika menghadapi penindasan yang tak seharusnya mereka tanggung (4:12-19), serta tetap berdiri di dalam iman (5:12). 

Sekiranya jemaat telah menerima sukacita dan kemuliaan, maka tidaklah sulit bagi mereka untuk membawa diri dalam kehidupan yang nyata dalam jejaring kemasyarakatan yang konkret: dengan dunia secara umum (ay. 11-12), pemerintah (ay. 13-17), relasi hamba-tuan (ay. 18-20), dan dasar kehidupan Kristiani (ay. 21-15).

Eksposisi

Pertama, bagaimana hubungan orang Kristen dengan dunia?  Mereka adalah “pendatang” dan “perantau.”  Mereka hidup di samping yang lain.  Mereka ini kaum tak berumah.  Mereka berziarah di bumi, dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, yang nyaman.  Di mata kaum penindas, mereka adalah warga kelas bawah.  Mereka tidak memiliki hak yang sama dengan yang lain.  Kendati begitu, mereka disapa “saudara-saudara yang kekasih.”  Mereka mendapatkan keluarga yang baru di tengah beratnya kehidupan!  Mereka adalah anggota keluarga Allah.  Mereka mendapatkan harkat yang terhilang itu dari pihak Allah.  Dan ketika kita menelisik lebih lanjut, tahulah kita bahwa status di dalam keluarga Allah itu mengindikasikan jaminan kekal dan sukacita abadi yang telah diterima oleh jemaat yang teraniaya itu (1:3-11; 3:7; 4:13-14; 5:1, 4, 6, 10).

Menyadari status ini, mereka kemudian diberi dua perintah.  (1)  Menjauhkan diri dari keinginan daging.  Perintah ini sifatnya mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar.  Para pengikut Kristus secara utama menempatkan kasih lebih tinggi daripada keinginan-keinginan pribadi.  Keinginan ini termasuk godaan untuk menggunakan kekerasan ketika difitnah (2:12), penindasan dari tuan yang lalim (2:18) dan kejahatan-kejahatan lain (3:9).  Jika kasih ditempatkan di tataran paling atas, maka karakter Kristiani, relasi sosial dan komunitas akan terjaga.

(2) Memiliki cara hidup yang baik.  Keutamaan Kristen akan tampak pada gerak-gerik pengikut Kristus.  Pengikut Kristus terutama hidup bagi Allah, dan memuliakan Allah.  Martabat itu telah mereka dapatkan, karena itu, norma yang mereka miliki pun ada di tempat atas, yaitu sebagai milik Allah.  Dari status ini, mereka menantikan datangnya hari penghakiman.  Motivasi mereka satu-satunya adalah pengharapan.  Allah akan kembali menjadi Raja, mengendalikan sejarah dunia dan memberkati kaum yang taat kepada-Nya.  

Kedua, bagaimana hubungan orang Kristen dengan pemerintah?  Pemerintah di sini adalah kekaisaran Roma yang bertindak lalim.  Terkadang, hukum kewargaan di satu provinsi tidak berlaku di provinsi yang lain.  Relasi-relasi antara pemerintah-warga di daerah pendudukan Roma dapat menciptakan ketegangan-ketegangan yang serius.  Tidak heran, banyak penduduk yang tidak menghormati para penguasa.  Namun perlu disimak pula bahwa di daerah Asia Kecil, sembah bakti terhadap kaisar juga sangat marak.  Kaisar bukan manusia biasa.  Kaisar setara dengan dewa!  Pemerintah bukan saja lalim.  Mereka menaikkan derajat sampai ke taraf yang ilahi.

Orang Kristen dipaksa untuk bertindak arif dalam situasi seperti ini.  Mereka memandang pemerintah sebagai “lembaga manusia.”  Harfiahnya, “ciptaan” atau “makhluk” (Yunani ktisis).  Maka, di sini pengertiannya “tunduklah kepada setiap makhluk manusia oleh karena Tuhan.”  Tetapi, apakah hupotassō (“tunduk”) di sini artinya patuh membabi buta?  Pokoknya taat tanpa syarat?  Di satu sisi, orang Kristen memang dipaksa untuk mempertahankan hidup di tengah konteks yang sulit.

Tetapi, kita pun tahu bahwa yang terutama bagi orang Kristen adalah tunduk kepada wewenang Kristus sebagai Tuhannya.  Maka dapat dipahami, Petrus di sini mengajar agar jemaat tahu tempatnya secara tepat.  Mereka menempatkan diri secara tepat karena kepatuhan total mereka kepada Tuhan.  Pemerintah sekarang bukan lagi dipandang secara vertikal, tetapi horisontal.  Mereka adalah manusia.  Mereka makhluk biasa.  Mereka tidak boleh disembah sebagai yang ilahi.  Mereka dihormati sebagai mana menghormati orang lain.

Berarti, Petrus secara halus mendesakralisasi kuasa pemerintah.  Termasuk kaisar.  Kaisar juga manusia.  (Di satu sisi, ia membuat hidden transcript.  Di sisi lain, ia menganjurkan jemaat melakukan civil disobedience.)   Kalau mereka patuh kepada kaisar, tidak akan ada lagi tuduhan dan tudingan yang makin menyudutkan kekristenan.  Mereka harus mengerjakan yang benar, dalam konteks seburuk apa pun.  Dengan begitu, jika kita setuju bahwa “raja” yang dimaksud di sini adalah Nero yang berkuasa di sekitar tahun 60 M., maka perintah “hormatilah raja” bukan berarti takutlah dan sembahlah Nero!  Sebaliknya, dengan jitu penulis menerapkan Lukas 6:27: mengasihi musuh, melakukan yang baik bagi yang membenci, memberkati orang yang mengutuk dan mereka yang mencaci.  Bahwa hanya kepada Allah saja seseorang takut dan bersembah sujud, bukan kepada kaisar.

Ketiga, bagaimana hubungan hamba Kristen terhadap tuannya?  Tak jauh beda dengan bagian kedua, di sini terlukis ilustrasi konkret bagaimana mengasihi musuh.  Kata yang dipakai adalah oiketai, “pelayan-pelayan”; dan despotai, “tuan-tuan.”  Kata oiketai menunjuk kepada budak di rumah tangga.  Bagaimana relasi antara tuan dan pelayannya?

Di antara para pelayan itu, ternyata banyak yang telah menjadi Kristen.  Mereka tinggal bersama tuan-tuan.  Ada yang “baik dan peramah,” yang tidak berat sebelah, yang adil.  Tetapi sebagian lagi “bengis.” (2:19).  Para pelayan Kristen ini harus tunduk.  Mengapa demikian?  Hendaklah kita ingat bahwa sebelumnya Petrus telah mengingatkan bahwa semua orang percaya adalah duloi, “budak-budak”).  Mereka adalah “pelayan-pelayan Allah” (2:16).  Allah atau Yesus adalah kurios (“Tuhan”) mereka yang tertinggi (2:13; bdk. 3:12, 15).  Maka rasa takut harus ditujukan kepada Allah saja.  Tuan itu sekadar manusia.  Mereka dihormati sebagai manusia.

Di sini, para budak dilatih untuk menampilkan suatu karakter moral yang berbeda.  Mereka memilih bertindak berbeda sekalipun mereka menderita karena berbuat baik.  Mereka berketetapan hati untuk tetap menjadikan kehidupan mereka sebagai surat terbuka, sarana kesaksian yang hidup.  Mereka menjadi agen-agen moral Kerajaan Allah.  Kalau perilaku ini diketahui khalayak umum, justru yang akan dicela adalah sang tuan yang bertindak bengis terhadap pelayan yang bertindak baik! 

Jika para pelayan itu secara sadar menggunakan haknya untuk hidup bermoral, maka mereka ini “orang merdeka” yang sejati (2:16).  Seandainya telah melakukan kewajiban moral, dan tetap saja menderita, mereka tidak perlu “membalas kejahatan dengan kejahatan . . . tetapi hendaklah kamu memberkati” (3:9).  Dengan begitu, mereka akan memutus spiral kekerasan dan menjunjung pengajaran Yesus di Bukit, Matius 5:38-48 dan Lukas 6:25-35. 

Mengapa tidak boleh membalas?  Karena anugerah Allah.  Mereka tidak sedang terdesak.  Mereka dengan suka hati tidak membalas.  Mereka menjadi orang merdeka, dan mereka menggunakan kemerdekaan itu untuk tidak membalas.  Ketika mereka tidak mau melakukan pembalasan, mereka sesungguhnya menjadi orang yang bermartabat—sebab mereka telah memiliki hubungan yang intim dengan Allah.

Penutup

Mengapa orang Kristen melakukan ini?  Mereka melakukannya demi salib Kristus.  Jemaat meneladani Kristus.  Sebagaimana Kristus juga menderita, bukan tidak wajar jika jemaat pun turut ambil bagian serupa Kristus.  Ini adalah panggilan Allah bagi orang Kristen.  Allah memanggil mereka kepada hidup kudus (1:15), untuk hidup dalam terang (2:9), mengikut Yesus dalam penderitaan yang tidak adil (2:21), dan untuk menerima berkat dari kasih yang tidak membalas (3:9), dan kepada kemuliaan Kristus (5:10).  Jadi, salib Kristus menjadi “ideologi tandingan” bagi para kaum tertindas ini.  Ideologi ini didapatkan dari panggilan anugerah Allah.

Semakin mendalami makna derita Kristus, kita tahu Petrus menyampaikan dua hal.  (1) Kristus menanggung dosa kita dan menebus kita.  (2) Kristus memberikan teladan bagi kita.  Sebagaimana Kristus menolak untuk membalas ketika Ia dihina dan dicela, maka setiap orang Kristen ingin sekali belajar dari Kristus.  Ketika orang Kristen berada di bawah penindasan, mereka ingin seperti Dia, dengan belajar untuk bersabar dan bertekun.  Tidak mau membalas—dengan cacian kata-kata, dengki, menyimpan dendam, perasaan inferior, dan sebagainya.  Orang Kristen memilih bertindak sebagai orang merdeka.  Mereka mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah.  Mereka tidak menyulut pemberontakan.  Mereka berlaku baik kepada sesama.  Mereka menghormati semua orang.  Mereka mengasihi musuh.



[1][R]esistance to ideological domination requires a counter ideology—a negation—that will effectively provide a general normative form to the host of resistant practices invented in self-defense by any subordinate group” (James C. Scott, Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts [New Haven: Yale University Press, 1990] 118).