Saturday, April 12, 2008

KAWAN SEKERJA ALLAH (2)


KENDALA-KENDALA BAGI KAWAN SEKERJA

Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa pelayanan selalu mudah. Paulus, seorang rasul yang aktif, dan perintis jemaat di banyak tempat, menghadapi kendala-kendala dalam pelayanan. Kendala-kendala apa itu? Sedikitnya kita menemukan dua.

Pertama, ketidakdewasaan jemaat.

Paulus menyebut jemaat “manusia duniawi” (ay. 1). Kata Yunani yang dipakai menunjukkan pengertian “manusia daging” (sarkinos dan sarkikos) Sebenarnya kata aslinya berbeda dari 2:14. Di 2.14, kita dapat terjemahkan “manusia alamiah” (psychikos) pengertiannya adalah manusia yang tidak memiliki Roh Kudus sama sekali, alias bukan orang percaya, atau bukan orang yang diselamatkan oleh Allah. Sedangkan “manusia daging” adalah orang Kristen yang masih bayi. Rasul Paulus menerangkan di ayat 1 “belum dewasa di dalam Kristus.” Mereka sudah menerima Kristus, sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, tetapi masih dikendalikan oleh kehendak manusia mereka, dan bukan oleh kehendak Allah. Mereka masih lemah dan hidup dalam tubuh yang berdosa.

Gereja Korintus didirikan pada sekitar bulan Februari/Maret 50 dan tinggal di sana 1,5 tahun sampai September 51. Ia kemudian berangkat ke Efesus untuk memberitakan Injil di sana. Kita dapat membayangkan, kondisi jemaat yang baru 1,5 tahun umurnya. Oh, apakah Paulus tidak punya “kepekaan pastoral”? Mengapa jemaat ditinggal? Saudara ingat, Paulus adalah seorang rasul, yang mendirikan gereja-gereja baru. Dan sebelum ia pergi, biasanya ia telah menetapkan pengganti. Mereka adalah penatua atau penilik jemaat. Coba lihat ketika Paulus membedah kondisi mereka. Mereka adalah orang-orang yang masih hidup dikendalikan oleh diri mereka sendiri, oleh tubuh yang telah dicemarkan oleh dosa.

Jadi, di dalam gereja pun masih banyak orang yang berdosa. Mereka belum sepenuhnya dibebaskan dari nilai-nilai dunia, dan sikap-sikap di luar persekutuan umat Allah. Gereja bukan ajang sulap. Martin Luther, sang pembaru gereja, tetap menyadari kenyataan ini. mengatakan bahwa sekalipun seseorang telah dibenarkan di hadapan Allah, bahwa kuasa dosa tak lagi menguasainya lagi, ia masih tetap seorang pendosa: orang benar sekaligus orang berdosa (simul iustus et peccator).

Sebab itulah, wahai kawan sekerja Allah: apakah Saudara pernah merasa dikecewakan oleh orang lain dalam pelayanan? Itu wajar. Karena Saudara akan selalu berjumpa dengan orang-orang yang tidak dewasa. Mereka tetaplah orang berdosa. Bahkan kami para hamba Tuhan pun, masih orang berdosa dan kadang-kadang tidak dewasa. Di mana pun dan sampai kapan pun, di dalam gereja, kita pasti akan berjumpa dengan orang-orang yang tidak dewasa.

Kedua, iri hati dan perselisihan

Selepas Paulus, jemaat kemudian mendapat gembala baru yaitu Apolos, yang juga baru bertobat. Jika kita perhatikan latar belakang kehidupannya dalam Kisah 18:24, Apolos adalah seorang yang pandai: berasal dari Aleksandria, yaitu sebuah kota pusat kebudayaan dan pendidikan Helenisme. Ia terdidik dan terlatih dalam ilmu retorika. Ia pandai merangkai kata dan menawan pendengarnya. Ia juga pandai dalam Septuaginta, Alkitab PL yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani.

Sangat mungkin, Apolos seorang pengkhotbah yang lebih jago daripada Paulus. Paulus seorang penulis yang andal, tetapi bikin ngantuk pendengar kalau berkhotbah. Satu kasus di Kisah 20.9, ketika Paulus asyik berbicara panjang lebar—penyakit seorang pengkhotbah ialah bila berbicara adrenalinnya naik lalu lupa berhenti—maka terlelaplah Eutikhus yang duduk di ambang jendela, dengan semilir angin sepoi-sepoi, sontak terjatuhlah ia dari tingkat tiga! Sedangkan Apolos adalah seorang yang mahir dan fasih lidah! Ilustrasinya banyak. Menawan gayanya.

Inilah yang kemudian menimbulkan favoritisme. Saya suka yang ini, tidak suka yang itu. Paulus mengatakan, mereka masih hidup dalam “iri hati” dan “perselisihan.” Dua kata ini dipakai pula dalam daftar perbuatan-perbuatan dagung dalam Galatia 5.20. Paling tidak, dua kata ini merupakan bukti bahwa orang-orang di Korintus masih hidup dalam kedagingan. Mereka melancarkan manuver untuk berpihak kepada yang satu dan menyerang yang lain, untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan sekelompok kecil orang dalam gereja di Korintus.

Bandingkan dengan 1 Korintus 1.12, ada golongan-golongan di sana. Apakah masalah perbedaan doktrin? Tidak! Masalahnya adalah saya suka yang ini, dan tidak suka dengan yang itu. Nama Yesus dibawa-bawa di sana, sebagai legitimasi golongan yang punya otoritas yang paling tinggi.

Gereja selalu akan menghadapi banyak masalah bila di dalamnya ada clique dan gap yang didasari oleh suka-tidak suka. Atas nama seseorang atau sekelompok orang, kesimpulan yang sementara kemudian bisa diambil, “Jemaat menghendaki demikian!” Hendaklah tidak ada lagi orang yang mengatasnamakan jemaat bila hal itu memang bukan dari suara jemaat. Pekerjaan Tuhan akan terhambat dengan kehadiran orang-orang yang seperti itu di dalam gereja.

Rasul Paulus dengan tegas menegur jemaat agar jangan sampai pekerjaan Tuhan diambil alih oleh Iblis dan kuasa kedagingan hanya karena orang-orang yang mau memecah belah persekutuan umat Allah. Kawan sekerja yang baik akan mampu mencermati bahaya perselisihan dan iri hati, dan tetap menjaga keutuhan jemaat Allah.

KAWAN SEKERJA ALLAH (1)


NATUR PERSEKUTUAN

Kita mengenal pepatah Jawa, “Mangan, ora mangan angger kumpul. Artinya, baik kita bisa makan, ataupun tidak bisa makan, berkumpul dengan saudara itu jauh lebih baik. Tetapi tahukah Anda di gereja yang modern, pepatah itu belumlah titik, masih koma! Mangan, ora mangan angger kumpul, . . . mengko rak yo mesthi mangan! Atau ada seorang rekan yang bercanda, Mangan, ora mangan angger kumpul, . . . ‘ndi pangananne? Kita bisa tertawa terkekeh-kekeh dengan hal itu. Tapi bukankah demikian kenyataannya? Acara gereja semarak bila ada makanannya. Bandingkan acara-acara gereja yang ada makanannya dan yang tidak! Mana kira-kira yang akan diminati dan dikunjungi lebih banyak? Ya, pastilah yang ada makanannya. Dan, ada juga yang sampai bawa pulang juga untuk orang-orang di rumah, bukan?

Pepatah di atas hendak menekankan satu hal: “kumpul.” Orang Jawa terkenal dengan orang yang suka hidup dalam sebuah kelompok. Ternyata, kumpul tidak hanya kepunyaan orang Jawa. Ribuan tahun yang lalu, dalam Alkitab kita ketahui bahwa Allah memanggil umat-Nya sebagai sebuah perkumpulan, atau persekutuan. Umat Allah beda dengan pasar, yang baru ramai hanya pada waktu pasaran, yang relatif tidak saling kenal, hanya sepintas lalu ketika melakukan transaksi jual-beli. Tetapi Allah memanggil sekumpulan orang-orang yang diikat dalam sebuah ikatan kudus yang disebut sebagai “perjanjian” (kovenan, dari bahasa Inggris covenant). Perhatikan firman Allah:

1. Allah menyatakan tidak baik bila Adam seorang diri saja. Ia menjadikan Hawa. Ia menetapkan sebuah keluarga. Allah memberi mereka mandat untuk mengelola ciptaan Allah, dan Taman Eden yang indah itu.

2. Allah memanggil Abraham sebagai kepala keluarga, memberkatinya dan menjanjikan kepadanya satu “keluarga” yang sangat besar!

3. Allah memanggil keturunan Yakub untuk keluar dari Mesir, dari tanah perbudakan, untuk menjadi umat yang dikasihi-Nya, dan Ia sendiri menjadi Allah bagi mereka.

4. Kita melihat Yesus sendiri hadir lewat sebuah keluarga kecil nan sederhana: Yusuf dan Maria. Jika kita sempat memperhatikan judul-judul lukisan potret keluarga Yesus yang dibuat pada abad-abad ke-14 s.d. ke-16, judulnya adalah “Keluarga Kudus” (The Holy Family).

5. Allah di dalam Yesus Kristus memanggil 12 rasul, yang selama 3,5 tahun bersama-sama melayani, sebagai tanda Israel yang baru telah datang. Setelah dibangkitkan dan sebelum naik ke surga, Ia menetapkan mereka sebagai saksi-saksi-Nya di seluruh dunia.

6. Di dalam PB, umat Allah diumpamakan sebagai satu kesatuan persekutuan meskipun berbeda-beda: tubuh Kristus, keluarga Allah, Bait Roh Kudus, jemaat Tuhan, orang-orang pilihan, orang-orang kudus, kawanan domba milik Allah.

7. Bahkan lebih daripada itu, mengapa kita mengenal Allah kita sebagai Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus? Allah adalah sebuah persekutuan yang sejati, dan persekutuan kita di sini merupakan analog, atau cerminan, dari persekutuan Pribadi-pribadi yang kekal itu.

PELAYAN PERSEKUTUAN SEBAGAI KAWAN SEKERJA

Memang, dalam sepanjang sejarah penebusan, Allah juga memanggil individu-individu. Tetapi marilah kita memperhatikan dengan seksama, bahwa individu-individu itu sebagai pelayan bagi umat Allah.

1. Siapa yang tidak mengenal Musa, pemimpin terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ia dipanggil dari keagungannya untuk memimpin keluar sebuah bangsa eks-budak yang terkenal susah untuk diatur, tegar-tengkuk dan nggugu karepe dhewe.

2. Kita mengenal Daud, jenderal perang teragung yang tidak ada bandingannya. Namun, ia juga adalah abdi Allah untuk memimpin Israel.

3. Kita dapat sebutkan pula barisan para nabi, baik nabi-nabi yang namanya kita kenal, maupun nabi-nabi yang tidak dikenal.

4. Bagi kita jemaat Kristen, kita pun mengenal Saulus, eks-Farisi yang pernah kuliah di bawah Regius Professor of Divinity Gamaliel I, yang kemudian namanya menjadi Paulus, rasul terbesar sepanjang abad. Ia adalah perintis gereja-gereja di luar lingkungan Kekristenan Yahudi.

5. Kita kenal Petrus, juga Yakobus saudara Yesus; nama-nama ini adalah gembala-gembala jemaat yang begitu setia menjaga kawanan domba Kristus.

6. Belum lagi para martir yang memberikan dirinya demi iman mereka kepada Allah, yang jumlahnya takterhitung, demikian yang dikatakan oleh Surat Ibrani, “banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita.”

Mereka adalah orang-orang yang harus melayani umat Allah. Siapakah kami yang berada di jajaran Tim Gembala Jemaat? Kami adalah pelayan Allah dan umat-Nya. Siapakah Majelis Jemaat? Mereka adalah para pelayan Allah dan umat-Nya. Siapakah yang berdiri di atas pentas sebagai Pemimpin Nyanyian Jemaat, atau yang memainkan instrumen, dan siapakah anggota paduan suara yang duduk dengan berseragam, atau yang berdiri di depan sana sebagai penyambut jemaat atau yang mengedarkan kantong persembahan? Mereka adalah para pelayan Allah dan pelayan umat-Nya!

Kita semuanya disapa dengan panggilan yang lebih manis yaitu “kawan sekerja.” Apa artinya? Saudara dan saya bekerja di bawah kuasa dan wewenang Allah, dan kita menerima mandat dari Allah. Apakah mandat itu? Mandat itu adalah Terang Injil. Kita menjadi kawan sekerja yang melayani Injil yang sama, yaitu Injil sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya! Kita melayani Injil kepentingan siapa? Untuk kepentingan umat Allah.

Jika kita benar-benar bekerja di bawah kuasa Allah, masihkah ada di antara kita yang memilih-milih pelayanan berdasarkan selera kita atau pengertian kita sendiri? Mungkin kita diberi talenta sebagai pengkhotbah awam, dan mau melayani hanya jika menjadi pengkhotbah? Atau paduan suara, kita memilih untuk bersemangat menyanyikan lagu-lagu yang mudah, tetapi begitu tidak cocok dengan selera kita atau susah nadanya, memilih untuk tidak menyanyi? Dijadwalkan untuk memimpin doa, tetapi tidak mau! Melayani Tuhan OK, asal bukan ini, asal bukan itu!

Hendaknya kita mengingat bahwa kita harus bekerja di bawah kuasa dan kedaulatan Allah! Para pelayan Allah yang sejati, akan terus mengingat perkataan bijak, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri! Ketika kita melayani Tuhan, hendaknya kita terus mengingat teladan rasul-rasul ketika mereka di hadapan mahkamah agama, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis. 5.29).

Sunday, April 6, 2008

Kemungkinan


Kemungkinan


Ada dua kota: kota dunia yang merupakan cinta diri sendiri bahkan sampai ke pandangan yang meremehkan Tuhan, dan kota surgawi yang merupakan cinta kepada Allah sampai ke pandangan yang meremehkan diri sendiri.

Perhatikan dua kota ini, Yerusalem, impian ketenteraman, dan Babilon, disebut sumber kekacauan: Keduanya dibuat oleh dua cinta: cinta kepada Tuhan dan cinta kepada dunia. Biarlah setiap orang dari kalian bertanya pada diri sendiri, mana cinta itu, dan dia akan mengetahui dirinya termasuk penduduk dari kota yang mana.

Ada dua kelahiran: yang satu dilahirkan untuk dunia, dan yang lain untuk surga, yang satu untuk kematian dan yang lain untuk keabadian, yang satu dari manusia sebagai orangtua, yang lain dari Tuhan dan Gereja.

Siapa yang dilahirkan dari daging? Mereka yang mencintai dunia, kehidupan sekarang ini. Karena akar dari semua dosa berasal dari sikap menolak hal-hal yang berasal dari Tuhan dan mengarah ke hal-hal yang berubah-ubah dan tidak pasti. Siapa yang dilahirkan dari Roh? Para pencinta Kerajaan Surga, mereka yang menginginkan kehidupan kekal.

Dalam kehidupan ini ada dua cinta yang saling berperang dalam setiap pencobaan, dan siapa saja yang menang menarik para pencintanya ke dalam gerombolannya sebagai tahanan.

—St. Augustinus dari Hippo

KEUTUHAN CIPTAAN: KELUARGA, KEINDAHAN DAN PENGHARAPAN (7)


Perutusan Baru

Apa yang kita dapat kerjakan? Panggilan pemuridan di atas menuntut aksi yang nyata bagi kita. Pertama, melalui berbagi. Kekristenan dicirikan oleh berbagi. Yohanes Pembaptis berkhotbah mengenai berbagi (Luk. 3:11), Yesus mengajar mengenai berbagi (Luk. 12:33). Gereja perdana siap untuk berbagi apa pun (Kis. 4:32). Rasul Paulus menganjurkan jemaat melakukannya (2Kor. 8:13-15). Dampak kerusakan alam dan pemanasan global sedemikian mengerikan. Meski dampak tidak kita rasakan saat ini, namun kita sama sedang “menginvestasikan” bahaya untuk anak-cucu, kepada generasi mendatang.

Saya tercenung keheranan! Konon perekonomian global saat ini sedang terpuruk. Tetapi ternyata, di rumah-rumah orang Kristen, begitu garasi dibuka, huiih! Mobilnya dua atau lebih! Masalahnya seringkali bukan mobil untuk menunjang perekonomian keluarga, tetapi mobil berkelas atas. Masalahnya bukanlah iri hati karena kesenjangan sosial. Tetapi penghasilan limbah CO dan CO2 yang tidak adil. Seolah-olah limbah itu adalah dominasi para hartawan dan orang kaya. Orang miskin dilarang membuang gas berbahaya.

Global Commons Institute memberikan imbauan agar negara-negara pun memikirkan distribusi yang adil tentang pembuangan limbah gas. Sehingga antara negara kaya dan miskin tidak terjadi kesenjangan lagi. Nah, sekarang, beranikah orang Kristen di Indonesia belajar berbagi? Berbagi dengan cara mengurangi pembuangan limbah gas berbahaya dari mobil yang jumlahnya berlebihan itu, mengurangi bepergian yang tidak perlu. Atau berbagi tumpangan dengan jemaat lain. Bisa pula menggunakan sepeda dan sedikit olah raga dengan berjalan kaki.

Kedua, melalui pengajaran yang mencerahkan. Sarana-sarana pengajaran yang dapat dipakai adalah mimbar, katekisasi, Kelompok Tumbuh Bersama, persekutuan-persekutuan kategorial. Khotbah Minggu tetap merupakan “senjata ampuh” untuk mencerahkan jemaat mengenai kepedulian lingkungan hidup.

Adalah PR dari para teolog, guru teologi dan rohaniwan untuk merumuskan teologi keutuhan ciptaan, teologi ekologis dan ekologi teologis. Bagi saudara dari kalangan Gereja Katolik Roma, hal ini lebih mudah. Karena ensiklik kepausan akan serta-merta menjadi dasar gerak dan langkah jemaat-jemaat lokal. Kaum Protestan akan jauh lebih susah! Satu orang bicara, yang lain akan berkata, “Siapa sih elo? Tantangan makin besar bagi jemaat gereja bebas dan konggregasionalis di era relativitas kebenaran seperti sekarang ini. Berita Alkitab makin tidak lagi dipahami, dan lagi “yang muda belum boleh bicara” atau “yang muda dipandang sebelah mata.” Hmm, apa mungkin kelak ada iklan baru menyusul, “Yang tua dijadikan berhala”?

Namun biarlah para pemikir Kristen tidak pupus pengharapan. Teologi penciptaan perlu mendapat tempat yang utama dalam pengajaran gereja-gereja kita, dan para pemimpin rohani menolong jemaat untuk memiliki gaya hidup yang ramah lingkungan.

Ketiga, mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan. Belilah barang yang sangat perlu untuk rumah, sehingga tidak terjadi pemborosan dan pembuangan limbah rumah tangga yang berlebihan.

Kepada adik-adik remaja, saya sering mengatakan, bahwa kecelakaan fatal abad ke-20 di bidang lingkungan hidup ada dua: pembuatan nuklir dan plastik. Dua limbah dari barang-barang ini amat sangat susah sekali untuk diurai oleh bumi kita. Dibuang di mana saja, bumi kita tidak cukup kuat untuk mengolahnya secara natural. Plastik (dan gabus sterofoam yang berwarna putih) sebagai contoh, baru dapat diurai setelah 300-400 tahun.

Hampir dapat dipastikan, ketika kita masuk ke toko untuk membeli sesuatu, kita mendapat kantong plastik! Bahkan di mart, di mal dan pasaraya, barang-barang cair atau berbau dipisahkan dengan yang padat. Maka kita menerima lebih dari satu kantong plastik. Malah-malah bisa jadi, sesampai di rumah, kantong plastik itu kita buang! Oh, limbah plastik bertambah begitu mudahnya!

Bagaimana bila di gereja kita mulai mempromosikan hal sederhana berikut ini? Ketimbang diberi kantong plastik, bawalah tas besar dari rumah bila barang yang kita beli tak terlalu banyak. Atau, mintalah kardus yang termasuk bahan organik.

Sebagai penutup, Edmund Burke, seorang anggota parlemen Inggris 200 tahun layak untuk kita dengarkan, “No one made a greater mistake than he who did nothing because he could do so little.” (“Tidak seorang pun membuat satu kesalahan yang lebih besar daripada dia yang tidak melakukan apa-apa sebab ia [merasa] hanya dapat berbuat hal yang sedikit saja.”) Yang penting bukanlah apakah yang kita dapat kerjakan besar atau kecil nilai dan kuantitasnya. Tetapi apa yang kita tahu, dan dapat kerjakan, sekecil apa pun itu, belajarlah untuk mengerjakannya! Amin.

KEUTUHAN CIPTAAN: KELUARGA, KEINDAHAN DAN PENGHARAPAN (6)


Panggilan Pemuridan

Apa yang harus kita kerjakan? Marilah kita kembali kepada kitab pertama, Kejadian. Manusia, yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, diberi mandat untuk menjadi penatalayan bumi dan segenap makhluk (Kej. 1:26, 28; 2:15). Penatalayan itu seperti manajer, yang mengatur, mengelola dan mengembangkan bidang yang menjadi bagian dan tanggung jawabnya. Bila demikian, kita masing-masing mempunyai tanggung jawab untuk mengelola dan melestarikan ciptaan-Nya. Dengan demikian, apa yang menyenangkan hati Allah-lah yang menjadi tujuan dan sasaran kita. Kita juga bertanggung jawab kepada ciptaan yang lain. Mengapa demikian? Sebab di hadapan segenap makhluk, kita menjadi wakil Allah.

Kita hidup di dunia supermodern yang berambisi untuk menjadi kaya raya dan berkuasa. Tujuan ekonomis adalah sasaran utama manusia masa kini. Tanpa sadar, ambisi ini mengembangbiakkan egoisme dan kepongahan. Dalam istilah Tolkien, kita tengah berebut untuk mendapatkan “cincin kekuasaan” itu! Ya, ini bukan masalah yang baru. Bukankah kesombongan itu problem kuno, sejak awal dunia ini ada.

Di Kejadian 3, manusia yang tamak, ingin menjadi berkuasa seperti Allah, independen, tidak mau diatur dan kemudian tidak menghendaki Allah ada di dekat mereka lagi. Adam dan Hawa bersembunyi dari hadirat Tuhan (3:8), Adam secara tak langsung mempersalahkan Allah dengan hadirnya Hawa di sampingnya (3:12). Hubungan yang rusak antara Allah dan manusia menyebabkan putusnya hubungan hubungan yang lainnya. Kerusakan alam pun membeberkan bukti dari rusaknya hubungan tadi (bdk. 3:17-19).

Hendaklah kita juga mengingat, bahwa bumi ini mempunyai masa depan. Mesias Yesus berjanji untuk kembali lagi ke atas bumi--bumi yang telah ditebus dan ditransformasi! Kerajaan Allah akan hadir di atas bumi, sama seperti pada masa sekarang Kerajaan itu ada di surga. Kelak surga dan bumi akan bersatu. Yerusalem surgawi akan hadir di tengah-tengah ciptaan (Why. 21:2-4, 22-27). Pada masa kini, segenap bumi menanti-nantikan datangnya penebusan akhir itu dengan diwarnai kekhawatiran, was-was dan hampir putus asa (Rm. 8.20-22). Tugas kita adalah seperti “pengurus rumah yang setia dan bijaksana” (Luk. 12:41-48). Menjadi pengurus sebuah Keluarga Besar yang baik menuntut kesabaran, ketekunan dan tanggung jawab akan segala sumber daya yang kita pakai.

KEUTUHAN CIPTAAN: KELUARGA, KEINDAHAN DAN PENGHARAPAN (5)


Pengakuan- pengakuan

Permenungan teologis melalui kesusastraan di atas kiranya mengantar kita untuk membuat pengakuan-pengakuan di hadapan Tuhan, akan hal di mana kita hidup dan apa yang telah kita lakukan untuk bumi serta ciptaan.

Bumi kita makin panas. Sir John Houghton FRS dari Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan bahwa perubahan iklim disinyalir oleh masyarakat dunia, baik para ilmuwan maupun politisi sebagai “masalah terbesar yang dihadapi oleh dunia” dan merupakan satu “senjata penghancur massal.” Bumi kita terasa kian panas oleh karena polusi global. Polusi global menuntut solusi global.

Dari mana asal polusi global tersebut? Oleh karena populasi dunia bertambah banyak, dibarengi dengan perkembangan industri yang cepat. Dua hal inilah yang menyebabkan degradasi lingkungan dalam skala yang sangat besar. Celakanya, sejumlah pihak merasa degradasi ini tidak terjadi. Atau, sekelompok orang lain mengatakan bahwa degradasi itu bukan masalah besar.

Houghton mendaftar isu-isu yang pokok mengenai ancaman terhadap keberlangsungan kehidupan dunia.

· Pemanasan Global dan Perubahan Iklim: berkait erat dengan energi, transportasi, kepunahan keragaman makhluk hidup, penebangan hutan.

· Pergeseran Penggunaan Tanah: berkait erat dengan kepunahan keragaman makhluk hidup, penebangan hutan, perubahan iklim, berkurangnya lahan subur, air.

· Konsumsi: berkait erat dengan sampah, ikan, makanan, energi, transportasi, penebangan hutan, air.

· Sampah: berkait erat dengan konsumsi, dan keberlangsungan kehidupan.

Tahukah kita, tiap tahun luas hutan tropis digunduli dan dibakar hampir sama dengan 1/2 s.d. 2/3 pulau Jawa? Penggundulan hutan itu sebagian besar dipakai untuk pengadaan mebel dan perkakas dari kayu, beberapa lagi untuk memelihara ternak di negara-negara yang paling kaya di dunia! Tingkat penggundulan hutan inilah yang kemudian secara signifikan menaikkan gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan methana, yang pada gilirannya menaikkan suhu udara.

Menurut laporan State of the World, CO2 di atmosfer kini mencapai titik tertinggi dibandingkan dengan 420.000 tahun bahkan mungkin 20 juta tahun! Pemanasan ini telah membunuh secara langsung 150.000 orang per tahun di semua belahan dunia. Tahun 2003 dicatat sebagai tahun paling panas. Oleh karena pemanasan ini, 20.000 orang di belahan Eropa meninggal dunia. Di Kanada utara, dekat dengan Zona Antartika, es mulai meleleh dan hal ini menyebabkan tidak hanya kematian banyak binatang tetapi juga menaikkan permukaan air di seluruh dunia. Negara-negara rendah, misalnya Maladewa (Madagaskar) dan Bangladesh terancam tenggelam. Bahkan menurut Houghton, sebelah selatan China dan pulau-pulan di Lautan India dan Pasifik dalam tahun-tahun mendatang tak mungkin dapat mempertahankan pulau mereka dan jutaan orang akan diungsikan. O o . . . !!! Itu berarti termasuk kepulauan Nusantara, dan Pulau Jawa tempat tinggal saya!

Hutan Amazon di Amerika Selatan beberapa dekade terakhir ini menjadi sasaran para tuan tanah utnuk memperkaya diri mereka. Hutan hujan ini dikenal sebagai salah satu “paru-paru dunia.” Setengah dari hutan hujan telah dimusnahkan! Pada tahun 1900, 70% wilayah Filipina adalah hutan yang rimbun. Sekarang hanya tinggal 16% dan dua tahun lagi diperkirakan hanya tinggal 5% atau 9%, tergantung seberapa banyak perusahaan asing diizinkan untuk melanjutkan eksploitasi mereka.

Indonesia yang memiliki 10% dari jumlah hutan hujan yang tersisa, juga merupakan daerah terbesar yang mengalami penebangan hutan! Sekitar 3,8 juta hektar pohon-pohon di hutan Indonesia ditebangi, 80% daripadanya secara ilegal. Kamboja, Vietnam, Nepal, Malaysia serta Myanmar menyusul menjadi negara-negara yang kehilangan hutan mereka. Kebanyakan hutan di daerah Sabah dan Malaysia Timur (belahan utara Pulau Kalimantan) ditebang untuk diolah menjadi mebel yang diekspor ke negara-negara kaya seperti Jepang, China, Hong Kong, Eropa dan Amerika Serikat.

Di antara semua negara, Amerika Serikat merupakan negara penghasil karbon dioksida tertinggi, yang berasal dari asap mobil, sistem pemanas ruangan dan dari pabrik-pabrik. Dari totalitas populasi dunia, negara ini hanya 4% jumlahnya, tetapi bertanggung jawab dengan hampir 25% dari semua gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan dunia. Negara yang terbilang paling kaya di dunia ini bertanggung jawab oleh sebab 20.000 kilo CO2 per tahun. Sedangkan Eropa menyusul kemudian, 6.400 kilo. Bandingkan negara Afrika yang terbilang panas itu, hanya membuang CO2 sebanyak kurang dari 1.000 kilo.

Dari analisis ini, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa sejumlah kecil kelompok manusia telah mengeksploitasi kenyamanan hidup sisa jumlah orang di seluruh dunia. Gaya hidup negara-negara super maju, yang diwarnai oleh pemborosan, konsumeris merupakan ancaman terbesar bagi masa depan planet kita. Celakanya, gaya hidup ini dengan begitu mudahnya diekspor ke negara-negara sedang berkembang di Asia Tenggara dan sejumlah kota di Afrika, yang memang suka berkiblat kepada gaya-gaya negara-negara tersebut.

KEUTUHAN CIPTAAN: KELUARGA, KEINDAHAN DAN PENGHARAPAN (4)


J. R. R. Tolkien (1892 – 1973)

Tokoh ketiga adalah John Ronald Reuel Tolkien. Bersama C. S. Lewis dan Charles Williams (keduanya profesor di Univeritas Oxford), Tolkien membentuk kelompok diskusi mengenai kesusastraan yang diberi nama Inklings. Seumur hidupnya, Tolkien menghabiskan waktu untuk menulis sebuah epos besar yang berjudul Tuan Cincin-cincin (Lord of the Rings selanjutnya LotR). Buku ini terdiri dari 3 volum: Persekutuan Cincin (Fellowship of the Ring), Dua Menara (The Two Towers) dan Kembalinya Sang Raja (The Return of the King). Di abad ke-20, buku ini telah dibaca oleh lebih dari 150.000.000 orang di seluruh dunia dan diterjemahkan ke hampir semua bahasa. Berbagai universitas dan sekolah kenamaan menjulukinya sebagai “Penulis Abad Ini.”

Buku LotR kembali menjadi hit setelah peristiwa New York 9/11. Orang-orang Amerika mencoba memahami kembali apa artinya kejahatan. Banyak orang yang akhirnya tersentak bahwa kebaikan dan kejahatan itu tipis garis batasnya. Gene Edward Veith, seorang profesor bahasa Inggris tertarik untuk membaca ulang trilogi ini meski pada usia 14 tahun ia pernah melalap habis novel itu. Tiga puluh enam tahun berlalu, dan sewaktu ia membaca kembali volum ke-2, Dua Menara (The Two Towers), ia tercenung pada kata-kata, “Dunia berubah, dan segala sesuatu yang dulu kuat kini terbukti tak pasti. Bagaimana mungkin satu menara dapat tetap bertahan di tengah-tengah banyaknya kejahatan yang tak kenal menyerah?”

Inti cerita LotR adalah Sauron, sang pemilik cincin ingin mendapatkan kembali sebuah cincin kekuasaan yang mengikat semua kekuasaan yang pernah diberikan kepada kelompok penyihir, manusia, hobbit (manusia kerdil), elves (seperti malaikat) dan dwarves (kurcaci berbadan kekar). Cincin itu mengingatkan kita kepada buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, bahwa dengan memakannya, kita akan “menjadi seperti Allah,” yakni memiliki kuasa seperti Allah.

Sauron adalah sosok Penguasa Kegelapan dan Kejahatan. Kejahatan diawali oleh sosok yang berpribadi. Oleh karena itulah, kejahatan dapat merajalela dan menggunakan cara-cara yang sistematis untuk meluaskan kekuasannya. Kejahatan Sauron dan antek-anteknya dapat disudahi bila cincin kekuasaan itu dihancurkan di kawah Gunung Mordor, dari mana Sauron berasal.

Dalam volum kedua, Dua Menara, Sang Tuan Kegelapan dari Mordor meluaskan serangannya di dunia yang indah. Ia memakai seorang penyihir bernama Saruman, yang berhasil dibujuknya menjadi seorang yang tamak terhadap kekuasaan. Sama seperti Yudas, Saruman tidak sabar dengan cara kerja kebaikan yang terlampau slow. Ia berambisi untuk mendapatkannya segera! Dan oleh karena kekuasaan kejahatan Sauron begitu meyakinkan untuk memenangkan pertarungan akbar, makan Saruman pun membujuk rekannya Gandalf (penyihir berjubah abu-abu) dan para penyihir lainnya untuk bergabung dengan Sang Tuan Kegelapan. Siapa yang berada dalam posisi terjepit, bila ingin tetap bertahan hidup maka harus bersekutu dengan pihak yang akan menang. Gandalf memilih untuk tidak berlaku seperti Saruman. Ia tetap berpihak di jalan terang. Ia tetap abdi Sang Baik. Akhirnya Gandalf harus menghadapi berbagai konsekuensi dari pilihannya itu.

Kekuatan perpaduan Sauron dan Saruman menjadi berlipat ganda. Barad-Dur, menara kekuasaan Sauron, dan Isengard, menara yang diduduki Saruman menjadi latar cerita (itulah sebabnya disebut Dua Menara). Untuk mencapai kemenangan, maka mereka mempersiapkan sejumlah besar bala tentara Orc, monster yang diciptakan oleh kekuatan jahat. Monster-monster ini tidak berperasaan, kerap kali saling mengkhianati. Ada kebenaran di sini: kejahatan tidak dapat membuat sebuah persekutuan. Tidak ada kekompakan yang abadi dalam kejahatan. Persekutuan itu terwujud hanya dalam perserikatan hamba-hamba Sang Baik.

Isengard disulap menjadi pabrik besar pemroduksi monster Orc. Semula Isengard dipenuhi dengan penghijauan, jalan-jalan rindang dengan pohon-pohon yang selalu berbuah, dialiri oleh arus sungai yang mengalir dari mata air pegunungan hingga ke danau. Tetapi kini ketika Saruman berkuasa, tak ada lagi yang hijau di Isengard. Jalan-jalan dipenuhi dengan batu: gelap dan keras. Pilar-pilar besar berjajar menggantikan pepohonan, beberapa di antaranya dibuat dari marmer, dari besi dan tembaga, diikat satu sama lain dengan rantai-rantai besi.

Kayu-kayu pasti dipakai untuk industri. Rumah-rumah dari kayu dibongkar. Tanah digali untuk diubah menjadi sebuah pabrik bawah tanah yang luar biasa besarnya. Saluran-saluran dibuat dengan tangga-tangga kayu yang melingkar-lingkar. Orc yang sudah jadi diperintahkan untuk mencabuti pohon-pohon besar untuk sarana produksi. Isengard yang semula berada di antara ciptaan yang indah, bila kini datang masa terang bulan, menjadi seperti sebuah kuburan dari orang-orang mati yang tidak tenang. Isengard menjadi panas. Isengard menjadi gersang.

Tolkien bukannya tidak mengerti arti perang. Setelah ia sukses meraih gelar prestisius dari Exeter College, Oxford, ia menjadi opsir angkatan perang Kerajaan Inggris. Ia mengalami sendiri apa itu Perang Dunia I. Ia menjadi anggota 11th Lancashire Fusiliers yang dikirim ke Prancis, salah satu resimen yang dipersenjatai paling lengkap, dan juga satu unit angkatan perang yang menderita kehilangan dan kecelakaan paling besar.

Tolkien pun mengerti benar apa artinya industri. Inggris baru saja mengalami kejayaan akibat Revolusi Industri. Industri memang membuat sebuah negeri makmur. Tetapi dampak ekologis yang dimunculkannya pun besar. Industri makin besar, berarti menyimpan “bom” bagi alam. Jika tidak hati-hati, industri akan memproduksi monster-monster yang tak berperasaan, yang saling caplok dan dapat berkhianat kapan saja.

Salah satu babak akhir di Dua Menara mengisahkan bangkitnya Treebeard, yaitu pohon yang hidup dan bergerak, yang berumur ribuan tahun ketika melihat teman-temannya yang hidup di daerah Isengard telah dimusnahkan oleh para pengikut Saruman. Ia menggerakkan teman-temannya untuk menyerang Isengard, membobol bendungan dan memporakporandakan proyek industri Isengard. Alam memberikan perlawanan kepada kuasa yang merusaknya!

Meski demikian, kekuasaan belum pula berakhir. Di seri ketiga, Kembalinya Sang Raja, makin nyatalah bahwa kekuasaan kejahatan kian besar jumlahnya. Ratusan ribu pasukan Orc siap dikirimkan untuk menyerang Gondor, ibukota manusia, pusat kerajaan dunia yang membawa kedamaian dan pemulihan bagi manusia. Tetapi akhirnya, kemenangan tetap berpihak kepada hamba-hamba Sang Baik. Akhirnya cincin kekuasaan itu dapat dihancurkan tepat di jantung di mana kejahatan itu bertakhta. Dan di babak pamungkas, dapat kita saksikan kembali kehidupan yang damai, tenang, dan hijau!

Dalil Ketiga: Kejahatan akan berlipat ganda dan berusaha merusakkan tata ciptaan yang indah. Akan tetapi Providensia Ilahi akan menang pada akhirnya. Kendati begitu, Sang Ilahi memakai hamba-hamba-Nya untuk menjadi sarana pencapaian tujuan-Nya.