Friday, June 6, 2008

BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG BERDUKACITA

BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG BERDUKACITA



Ada Banyak Sengsara di Dunia


Kehidupan tiap-tiap manusia penuh dengan penderitaan. Dan tidak ada penghiburan yang tersedia untuk semua penderitaan. Seorang suami, yang berdiri di kubur istrinya, mungkin pernah (atau sedang) memberontak terhadap Tuhan; dan dalam kepahitan-Nya, ia mengutuki Bapa yang Mahakuasa, sebab Ia telah mengambil satu-satunya yang dicintainya, lalu ia pun merasa tak akan mendapat penghiburan. Ia tak terhibur karena menentang kehendak Tuhan dan sedikit pun tak mau tahu tentang penyerahan dan kepercayaan.


“Berbahagialah orang-orang yang berdukacita,” demikian sabda Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Kalau kegelapan dukacita meliputi jiwa mereka, maka Yesus mengedangkan tangan-Nya. Lebih-lebih, di saat lain Ia pun hendak menjadi Pemimpin mereka. Siapa yang memegang tangan Kristus, ia dibimbing oleh-Nya di jalan yang terang ke negeri penghiburan, dalam penyertaan-Nya yang mahadahsyat dan tak terselami.


Dengan terang rahmat-Nya Kristus mengajar umat-Nya, untuk apa sengsara kita itu. Rahmat ini dikirim oleh Bapa untuk melepaskan manusia dari kefanaan dan mengarahkan pandang serta usahanya pada yang kekal. Di tengah kesakitan badan, penghinaan, rintangan dan kecurigaan orang, mengertilah kita bahwa kesementaraan itu tak dapat memberi kita kebahagiaan yang dicari-cari oleh hati kita. Maka mata kita diarahkan ke atas, kepada Tuhan. Mungkin pada saat pertama kita ingat akan Dia sebagai Hakim yang menghukum. Tetapi kita membiarkan diri kita dipimpin oleh Kristus, maka segera kita mengakui cinta-kasih Tuhan. Maka, hati kita melimpah dengan syukur atas rahmat di atas kesengsaraan itu; kita menikmati penghiburan serta sabda-sabda-Nya di tengah-tengah dukacita. Apa sebabnya? Karena kita tahu, bahwa kita bersatu dengan Bapa, yang mengatur segala sesuatu bagi keselamatan kita.




Dukacita karena Dosa-dosa yang Dibuat


Masih ingatkah Anda akan suatu peristiwa yang membuat Anda benar-benar menyesal, dan berdukacita? Dukacita yang besar, yang disebabkan oleh kesalahan Anda! Ada sesuatu antara Anda dan Bapa yang di surga. Anda telah menghina-Nya dan berbuat sekehendak hati. Dengan penuh penyesalan kepada Bapa, Anda mengakui segenap dosa Anda. Lalu Anda pulang dengan sukacita! Dan itu pun tak terjadi hanya sekali. Anda merasakan kelepasan yang Allah sudah berikan kepada Anda, sehingga Anda pun ingin bersorak-sorai kegirangan. Anda begitu bahagia olehnya.


“Berbahagialah mereka yang berdukacita, sebab mereka akan dihibur.” Biasanya, para biarawan mempunyai kebiasaan untuk mengaku, “Aku telah sangat menghina nama Tuhan.” Tetapi bagi kita, tidak ada dasar dan alasan untuk berputus asa. Asal saja, ada dukacita dan penyesalan, karena seorang Bapa yang mahabaik telah kita hina, dan kita patut mendapat ganjaran atas tindakan kita itu; namun Allah memberikan pengampunan ketika kita datang dengan penyesalan dan dukacita yang mendalam. Maka lihatlah, dukacita itu akan berubah menjadi sukacita dan kedamaian. Tiada sesuatu pun yang diingini Bapa selain kembalinya si anak hilang. Sang Putra telah menumpahkan darah-Nya untuk dia; Roh Kudus mengharapkan agar kita dapat memiliki jiwa seperti itu.


Berbahagialah orang yang berdukacita, yang berlutut di hadapan Bapa, yang percaya kepada kerahiman Allah serta yang mendambakan cinta-kasih-Nya yang tak terhingga itu, “Aku bebaskan engkau dari dosa!” Kepercayaan terhadap ucapan inilah yang mengubah dukacita menjadi sukacita dan yang membahagiakan hati, seperti yang telah dijanjikan oleh Kristus.




Dukacita dalam Persatuan dengan Kristus


Kristus yang termulia itu kini tinggal bersama Bapa dalam kebahagiaan yang kekal. Tiada sesuatu pun dan tiada seorang pun yang dapat mengurangi kebahagiaan itu. Akan tetapi dalam suatu masa, dan sekali saja terjadi, ketika Ia berjalan di atas bumi, Kristus telah menderita sengsara. Segala dosa manusia dari segala masa dan segala negeri dipikul-Nya untuk memberi pemulihan kehormatan kepada Bapa serta membuka kedamaian antara Bapa dan umat manusia.


Kristus juga mempersatukan ke dalam diri-Nya segala dukacita umat-Nya yang mengalami sengsara oleh karena nama Tuhan-Nya. Kristu menyatukan dukacita ini dengan Hati Kudus-Nya sendiri. Hal ini pun merupakan undangan bagi umat-Nya untuk menerbitkan belas kasihan Hati Sang Allah-Manusia sejati itu, yaitu bila kita berdukacita dan sengsara bila menanggung kehinaan oleh karena nama Tuhan, bila kita berdukacita karena kebutaan dan malapetaka yang sedemikian besar, dukacita oleh karena sedemikian banyaknya daya, kuasa yang akan merintangi kita untuk memerangi dosa dan kejahatan serta kebatilan dari muka bumi. Yesus kelak akan memuji kita sebagai orang-orang berbahagia! Dan kita pun akan dihibur! Sekali kelak, akan tiba masanya, bahwa Tuhan akan diakui dan dipermuliakan oleh segala manusia Kristus akan meraja dan seluruh umat-Nya akan bersukacita dan mengalami keselamatan bersama-sama dengan Dia.


Percikan Permenungan: “Berbahagialah orang-orang yang berdukacita, sebab mereka akan dihibur.”


Doa: Ungkapkanlah isi hati Anda kepada Allah Bapa di surga. Berbicaralah kepada Kristus tentang dukacita Anda, tentang penghiburan yang Anda dambakan dan yang Anda perlukan.


Si Tolol dan Kendi (Sufi)

Si Tolol dan Kendi


Seseorang yang tolol adalah seseorang yang tidak memiliki indera atau penilaian yang bagus. Ia terus menerus salah menafsirkan apa yang terjadi pada dirinya sendiri, atau apa yang dilakukan oleh orang lain. Bagi mereka sendiri dan bagi orang lain, pemikiran mereka tampak logis dan benar.

Suatu hari, di depan desa yang sangat jauh, seorang bodoh bernama Bharat, dengan membawa sebuah kendi disuruh untuk mengambil jus apel segar, dari seorang bijak bernama Prasad. Ketika dia berjalan, tiba-tiba mendengar suara yang keras dan karena kebodohannya, Bharat menubrukkan kendi itu pada sebuah batu.

Ketika dia tiba di rumah Prasad, ia menghadap dengan membawa gagang kendi itu dan berkata, "Surajan dari desa sebelah mengirimkan kendi ini kepadaku, tetapi sebuah batu yang mengerikan mencurinya dariku."

Karena rasa ingin tahu untuk mengujinya, Prasad bertanya, "Karena kendi itu telah dicuri mengapa kamu menawarkan gagang kendi ini kepadaku?"

"Aku tidaklah sebodoh yang dikatakan orang," jawab Bharat, "dan karenanya, aku membawa gagang kendi ini untuk membuktikan ceritaku."

BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG LEMAH LEMBUT


BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG LEMAH LEMBUT


“Karena Mereka akan Memiliki Bumi”

Yesus Kristus menjanjikan, yang akan memiliki bumi bukanlah tuan-tuan tanah. Tetapi para pengikut-Nya yang berhati lemah lembut. Kristus pernah bersabda kepada murid-murid-Nya, “Belajarlah dari-Ku, karena Aku ini lemah lembut dan rendah hati.” Dalam Perjanjian Lama, ada tersurat tentang Dia, “Lihatlah, Rajamu datang kepadamu dengan lembut hati, sambil mengendarai seekor keledai betina.” “Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkan-Nya, sumbu yang masih berasap tidak akan dipadamkan-Nya.”

Karena sifat-Nya yang lemah lembut itu, maka semua hati tertarik kepada Yesus. Juga oleh karena janji-Nya, maka jiwa-jiwa yang mengasihi-Nya akan memperoleh bumi. Yesus memberikan teladan, ketika Ia memeluk anak-anak, Ia mengasihi orang-orang yang berhati suci dan sederhana. Ia selalu cepat kaki ringan tangan untuk membantu kaum lemah. Terhadap kaum pendosa, Ia menaruh belas kasihan. Terhadap kekasaran dan kebimbangan para murid-Nya, Ia bersikap murah hati. Selalu, jika mengenai Pribadi-Nya sendiri, Ia tahu mengampuni dan melupakan. Sebelum mengucapkan kecaman bagi orang yang menghujat Roh Kudus, bahwa mereka tidak akan diampuni, Tuhan Yesus bersabda, “Dosa-dosa terhadap Anak Manusia akan diampuni.”

Namun demikian, Ia pun dapat menjadi murka. Dijiwai oleh amarah suci, diusir-Nya orang-orang yang berjual beli dari Bait Allah. Dengan mata yang bersinar-sinar serta perkataan yang berapi-api, ditentang-Nya kaum Farisi yang tidak percaya itu, dan lagi yang tegar hati. Akan tetapi, kekesalan dan kemarahan-Nya tertuju kepada kejahatan, dan bukan dendam pribadi. Tidak pernah Yesus membenci orang yang melakukan kejahatan itu. Tak pernah Yesus bersikap bengis untuk menghukum kekerasan orang lain ataupun untuk membalaskan sakit hati pribadi, yang merupakan tindakan orang lain atas diri-Nya.

Ia tetap berusaha untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Ketika rasul-rasul meminta supaya api jatuh dari langit untuk membasmi orang-orang yang tidak mau menerima pertobatan dari-Nya, Kristus menegur mereka, “Tidak tahukah kamu, roh apa yang sedang merasukimu?”

Kalau kita berlaku menurut Roh Kristus, dengan bersikap lemah lembut dan dalam naungan kemurahan-Nya, maka kita akan memperoleh hati orang lain, dan memiliki hatinya yang terdalam, bahkan kita akan memperoleh bumi ini.


Sifat Lemah Lembut Menyelamatkan Jiwa-jiwa

Sesungguhnya, ada dua keutamaan yang tak terpisahkan: lemah lembut dan semangat berkobar-kobar. Yang kedua dapat subur hanya oleh karena yang pertama. Jika kita dapat memeluk hati orang lain, jika kita tahu kita ini dikasihi, barulah kita akan mampu mempengaruhi orang-orang lain.

Apabila Anda memasuki sebuah rumah sakit, cobalah perhatikan perawat mana yang paling disukai oleh orang yang sakit atau keluarga orang sakit itu. Apakah perawat yang selalu tampil sebagai seorang ahli perawatan yang melaksanakan tugasnya sampai detail-detail, dengan disiplin dan penuh tanggung jawab? Ataukah perawat yang membolehkan pasien makan-minum sesuka hati mereka sendiri, dan membiarkan mereka berlaku sesuka hati mereka? Saya yakin bukan itu. Perawat yang disukai adalah perawat yang peduli, yang lembut bila melayani, dan ia mendekati pasien dengan senyuman serta kasih sayang. Pasien akan menjadi tenang dan hatinya damai.

Tuhan Yesus mengajar para murid untuk menyangkal diri sendiri, dan penyangkalan diri hanya dimungkinkan dari kita belajar kepada Hati Sang Kristus yang lemah lembut. Dari-Nya, kita bertekad untuk melaksanakan cinta-kasih yang penuh komitmen dalam pekerjaan. Orang-orang lain akan mengalami belas-kasihan Yesus sendiri, kesabaran serta kerelaan-Nya untuk memberikan pengampunan dosa. Jika orang menemukan hati Sang Gembala yang Baik itu ada di dalam diri kita, maka mereka pun akan sudi mendengarkan teguran; dan mereka pun akan mengikuti apa yang kita katakan. Kita dapat menarik mereka dari jalan yang sesat dan membawa mereka kepada Yesus Kristus. Jika ini terjadi, maka kita sedang menjiwa-ragakan cita-cita kristiani dan dengan keramahtamahan serta kelemah-lembutan hati kita, disertai dengan semangat yang berkobar-kobar, orang lain pun akan turut belajar untuk mewujudkan cita-cita itu dalam hatinya.


“Berbahagialah Orang-orang yang Lemah Lembut”

Suatu komunitas dapat disebut berbahagia apabila di situ dijumpai anggota-anggota yang lembut hati. Maka, kedamaian tak mudah terganggu dan masing-masing menunaikan tugas kewajibannya dengan tenang. Akan tetapi, lembut hati itu adalah suatu keutamaan dari mereka yang sudah lebih maju di dalam iman, yang sudah tahu bagaimana menguasai diri sendiri, yang dapat mengendalikan kecenderungan hati serta nafsu-nafsunya.

Oleh sebab itu, sesekali terjadi, bahwa bila tidak berhati-hati, seseorang dapat mengucapkan kata-kata pedas. Orang lain mejadi terluka oleh perkataan; dan cinta-kasih pun terlukai, serta ada orang yang menderita. Seseorang yang sungguh-sungguh lembut hatinya, tanpa berlaku sombong dan pamer, akan bertindak sebagai pembawa damai; ia akan mencoba memulihkan keadaan yang kacau balau, serta luka-luka yang terjadi pada anggota komunitas. Bukankah orang yang lemah lembut itu mempunyai semangat yang diterangi oleh cinta-kasih yang bijaksana serta penyangkalan diri nan rendah hati? Dengan ini maka komunitas itu akan diantar kepada kehidupan keramah-tamahan dan keutamaan yang sejati.

Percik Permenungan: Berbahagialah orang-orang yang lemah lembut

Doa: Ya Yesus, Tuhanku yang lemah lembut, tolonglah aku untuk menguasai diriku sendiri, agar aku pun menjadi seorang yang lemah lembut dan rendah hati. Amin.

Thursday, June 5, 2008

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG BERJIWAKAN KEMISKINAN


BERBAHAGIALAH MEREKA YANG BERJIWAKAN KEMISKINAN


Demikianlah kata orang-orang dunia, “Berbahagialah mereka yang kaya, yang berkelimpahan uang dan harta, yang dihormati, yang dapat menikmati segala macam kesenangan dan sukacita duniawi.”

Namun para murid Kristus akan menjawab, “Tidak! Harta-benda duniawi hanya berharga bagiku sekadar perlu untukku hidup sebagai manusia dan sekadar membantu aku dalam mencapai maksud dan tujuanku yang kekal itu.”

Itulah kosakata mereka yang berjiwasemangatkan kemiskinan. Yang bergelorakan kepapaan. Sesungguhnya, mereka menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap harta-benda yang fana ini. Sikap tak acuh ini didapatkan dari Tuhan Yesus sendiri.

Allah kita adalah Roh. Segala sesuatu yang duniawi, tak ada nilainya di hadapan-Nya. Pribadi-Nya sendiri sudah cukup. Dialah satu-satunya yang berharga. Segala sesuatu yang berasal dari Dia saja, yang membawa kita kepada-Nya, yang mempersatukan kita dengan Dia, itulah yang layak dikejar. Kehendak Tuhan, kesukaan-Nya, cinta-kasih-Nya, karunia-karunia rahmat-Nya, itulah yang disebut kekayaan.

Memahami kebenaran ini, dan mengalami kebenaran ini, itulah yang disebut sebagai semangat kepapaan, atau jiwa kemiskinan. Tak lekat akan harta-benda duniawi; tak ingin mempunyainya lebih daripada yang seperlunya untuk kehidupan insani; dengan sekuat tenaga mengejar yang kekal; bagi kita, cukuplah Tuhan saja; sudah cukup bila kita dapat bersatu dengan Tuhan; inilah yang membuat jiwa kita sungguh-sungguh bahagia.

“Berbahagialah mereka yang berjiwakan kemiskinan!”


Teladan Kristus

Kristus ingin membawa manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan menuju kebahagiaan, yang tak lain adalah jalan menuju Bapa-Nya di surga. Pandanglah Yesus bagaimana permulaan kehidupan-Nya di dunia. Ia terbaring di dalam sebuah palungan. Serta perhatikanlah pula akhir hidup-Nya. Tanpa berpakaian Ia tergantung pada kayu salib yang hina itu. Di antara kedua ujung-pangkal itu terbentang suatu kehidupan yang berjiwakan kemiskinan yang sempurna.

Di Betlehem, di Nazaret, selama hidup-Nya di hadapan umum; selama masa kesengsaraan-Nya, pada penghinaan yang Ia alami begitu mendalam, dengan perbuatan-Nya—dalam semua ini Kristus selalu memancarkan cinta-kasih yang dilambari oleh jiwa kemiskinan

Seorang perawan yang sederhana dipilih-Nya untuk menjadi bunda-Nya. Yusuf, seorang buruh tukang kayu, menjadi bapa angkat-Nya. Mengenai diri-Nya sendiri, Ia pernah berkata, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-aa untuk membaringkan kepala-Nya.” Ketika mengutus para rasul untuk memberitakan Injil, Kristus memberikan nasihat, “Jangan kamu membawa bekal atau kasut. Kota mana pun yang kamu masuki, di mana pun kamu disambut orang, makanlah apa yang disediakan bagimu.” Dan Ia pun memperingatkan mereka, “Hendaklah kamu berhati-hati dan waspada dengan segala macam ketamakan; sebab meskipun seseorang berkelimpahan, oleh karena miliknya itu, hidupnya tidaklah terjamin.” Juga Ia menceritakan sebuah perumpamaan, “Adalah seseorang yang kaya raya, yang membangun gudang-gudang besar. Dikumpulkannyalah di situ gandum, lalu berkatalah ia kepada dirinya sendiri, ‘Hai jiwaku, banyak sudah persediaanmu, cukup untuk bertahun-tahun lamanya. Maka, beristirahatlah engkau, makan-makanlah, minum-minumlah dan berfoya-foyalah!’ Akan tetapi Tuhan berkata kepadanya, ‘ Hai orang bodoh, malam ini juga jiwamu akan dituntut dari padamu dan siapakah yang akan memiliki segala persediaanmu itu?’”

Demikianlah Yesus menilai perihal yang duniawi: sesuatu yang fana, hanya sedikit nilainya.


Ikrar Kemiskinan

Maksud ikrar kemiskinan ialah bagaimana kita bertekad untuk menghasilkan jiwa kemiskinan di dalam diri kita. Ini bukan sikap mental melarat, tetapi sikap hati untuk menjadi miskin. Semangat untuk miskin itu akan menjadikan kita terbebas dari keberpautan terhadap harta dan benda yang tak kekal itu. Harta benda diberikan kepada kita untuk dipergunakan, dan disalurkan kepada orang lain. Segala sesuatu yang diciptakan, baik materi, maupun rohani, baik yang ada di dunia alam ataupun manusia, semuanya itu adalah alat-alat belaka, yang harus kita pergunakan untuk mengerjakan karya-karya demi kemuliaan nama Allah.

Bila harta kita pandang demikian, harta menjadi berharga bagi kita. Kepuasan, sukacita, yang terletak padanya dalam mempergunakan segala sesuatu itu, boleh kita nikmati dengan rasa terima kasih. Namun demikian, sekali-kalipun tidak boleh kita berhenti sampai di situ, ataupun mencari-cari kebahagiaan kita di dalam harta itu. Segala harta boleh kita nikmati hanya dengan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah!

Maka, dalam batin kita, kita harus bebas terhadapnya. Bila keadaan yang menghendaki, relalah untuk melepasnya kapan pun. Dengan kekuatan dan keteguhan hati, hendaknya kita melaksanakan ikrar kemiskinan itu sampai kepada yang paling inti saja, yang dapat membahagiakan kita dengan sukacita yang abadi, yaitu: persatuan dengan Tuhan . . . serta cinta-kasih-Nya . . . serta perkenanan hati-Nya.

Berbahagialah mereka, yang sesungguhnya memilih Kristus sebagai harta dan kekayaan mereka yang sejati, yang dengan sukarela mengejar penghidupan yang bersahaja serta mau belajar untuk mengencangkan ikat pinggang secara ksatria, untuk memakai serta memanfaatkan yang kita butuhkan itu.

Percikan Permenungan: Berbahagialah mereka yang berjiwakan kemiskinan

Doa: Berkata-katalah kepada Kristus. Katakanlah kepada-Nya bahwa Anda ingin mengasihi kemiskinan, memeluk kepapaan, agar semua yang ada dalam diri Anda dapat menjadi milik-Nya.


DELAPAN SABDA BAHAGIA


DELAPAN SABDA BAHAGIA


Hari yang Penuh Makna

Hari baru dimulai. Kristus telah melakukan pekerjaan yang besar. Setelah semalam-malaman Ia mengambil waktu untuk berdoa, Ia kemudian memilih murid-murid, yang disebut para rasul. Mereka serta banyak murid lain, mengelilingi Kristus. Lalu Ia memberi isyarat, "Mari!" Maka turunlah mereka dari bukit itu. Mereka berdiam diri. Masing-masing terbuai asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri. Rasul-rasul itu penuh dengan rasa terpesona akan apa yang baru saja terjadi. Mereka merasa, bahwa peristiwa yang baru saja terjadi merupakan peristiwa nan dahsyat, meskipun jika mau jujur, mereka tak cukup paham, apa arti semuanya itu.

Makin mereka turun, makin kedengaran suara gaduh; makin jelas tampak kerumunan orang banyak di lereng bukit itu. Dari kejauhan bekilau-kilau air danau Galilea yang memantulkan cahaya surya pagi. Berkerumunlah orang-orang yang ingin mengetahui siapa Yesus, mereka memadati jalan-jalan, lorong-lorong yang berliku tak mereka rasakan. Mereka hanya ingin berjumpa dengan Yesus. Ya, Yesus dari Nazaret itu menjadi tokoh yang ternama. Bagaikan fans yang ingin ditatap oleh sorot mata Yesus, orang-orang ini bergerombol di pagi itu. Mereka berusaha dekat, tak jarang mereka berjejal-jejal untuk sekadar menyentuh lipatan jubah-Nya. Mereka semua tahu: ada suatu kuasa yang mengalir keluar dari tubuh Kristus yang dapat menyembuhkan orang sakit, laksana minyak penyembuh bagi hati yang terluka serta putus pengharapan.

Berapa lamakah Yesus sanggup berjalan demikian di antara orang banyak itu? Kita tidak tahu. Kisah berjeda ketika tiba-tiba Yesus menghentikan langkah-Nya pada suatu dataran yang tak terlampau tinggi. Para rasul dengan setia mengelilingi-Nya. Yesus memberikan isyarat agar semua duduk. Para rasul di muka, dan yang lain mengikuti.

Yesus memandang mereka, membuka mulut dan bersabda, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga!" Oh, betapa beda! Dengarkan artinya: Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh! Atau, berbahagialah orang yang bersemangat kemiskinan! Ia melanjutkan, "Berbahagialah orang yang lembut hatinya, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang berdukacita, sebab mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, sebab mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelas kasihan, sebab mereka akan beroleh belas kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, sebab mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah mereka yang dianiaya karena kebenaran, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, apabila karena Aku, orang mengolok-olok kamu: Bersukacita dan bergembiralah, sebab upahmu besar di surga!"

Itulah kata pengantar Khotbah di Bukit yang sangat terkenal itu. Apa yang disampaikan oleh Yesus sedemikian menawan, karena Ia adalah seorang Pengkhotbah yang luar biasa berbakat, dan Ia adalah seorang yang berintegritas; dan tak kurang dari itu, Ia adalah seorang yang penuh kuasa. Mimbar Kristus adalah sebuah bukit, 500 meter di atas permukaan air laut. Orang banyak, yang sedemikian besar bilangannya itu, duduk berjejal rapat di sekeliling-Nya sambil mendengarkan sabda-Nya dengan penuh perhatian.

Ia mengajarkan sesuatu yang baru! Lebih lagi, begitu indah isinya, sehingga setiap hati yang mendengarnya dibuat terharu karenanya. Sinar matahari yang berkilauan di pagi itu serta madah alam semesta di permulaan musim panas masih masih menyisakan pucuk-pucuk hijau segar dan yang berkembang itu menjadi saksi peristiwa agung di sepanjang sejarah manusia, dengan keindahan dan kesemarakannya.


Berbahagialah!: 8 kali Berbahagialah!

Demikianlah Kristus memulai khotbah-Nya di bukit itu. Ia menyebut berbahagia orang-orang yang menjadi murid-Nya. Socrates dan Aristoteles, kedua pemikir besar filsafat itu, pernah berkata, "Sebelum mati, tak seorang pun dapat disebut bahagia." Tetapi Yesus mengulangnya delapan kali berturut-turut: Berbahagialah! Berbahagialah! Jadi, dalam kehidupan yang sekarang pun sudah bahagia! Ajaran seperti ini belum pernah didengar oleh orang di atas bumi ini.

Dalam ajaran ini, tersimpan misteri kebijaksanaan ilahi. Dengan ajaran ini pula, Kristus memulai perjuangan-Nya yang mahaagung itu, menentang paham serta pandangan hidup orang-orang sesat yang sarat dosa. Selama adanya dunia ini, maka ajaran-Nya itu tetaplah menjadi sumber yang tak habis-habisnya, dari kebijaksanaan sejati serta kedamaian hati.

Berbahagialah! Bergembiralah! Bebas dan merdeka dari segala keduniaan, bebas dari kegoyahan, kegelisahan yang mengharubirukan. Walau hidup berada di lembah kedukaan, namun damai dan sukacita itu disediakan sedemikian besarnya, yang di dalamnya terkandung ketentraman dan tiada lagi gangguan. Siapa yang sanggup memberikan ini? Hanya Kristus. Cukup Kristus saja. Cukup dengan delapan Sabda Bahagia ini.

Ini adalah pondasi dari sebuah bangunan agung yang sedang kita bangun, yaitu bangunan kehidupan yang ujungnya belum kita ketahui. Gedung itu dibangun di atas dasar sukacita dan kegembiraan. Kita pun dapat mengatakan, Sabda Bahagia itu adalah Surya, Surya Kebenaran yang menyinari jiwa manusia, dan yang melenyapkan segala kegelapan. Sabda Bahagia itu adalah akord harmoni, yang mengalun dan mencipta sebuah tembang kehidupan yang tiada tara indahnya, yang tak dapat dijumpai oleh manusia di tempat mana pun.

Bagaimana nada-nada itu mengalun? Kiranya kita akan melanjutkan meditasi kita dengan masing-masing Sabda Bahagia itu.

Percikan Permenungan: Berbahagialah! Berbahagialah! Delapan kali: Berbahagialah!

Doa:
O Guru yang Agung, Sang Guru yang ilahi, perkenankanlah aku berlutut bersama-sama dengan para rasul-Mu, untuk mendengarkan sabda-Mu yang memberi hidup itu.

Ajarilah aku memahami makna sabda-sabda-Mu itu; dan hidupku menurut ajaran-Mu, agar dengan demikian di atas bumi ini pun aku dapat tinggal tegak tak terganggu meski badanku penuh kelelahan dan kelemahan. Namun aku dapat berbahagia di dalam Engkau. Amin.

Tuesday, June 3, 2008

Dua Cahaya (Sufi)


DUA CAHAYA

Konon di negeri yang sangat jauh, seorang wanita bernama Neru memulai perjalanannya ke sebuah desa yang bermil-mil jauhnya dari kampung halamannya. Dia sedang bertekad untuk mencari seorang Sufi yang terkenal karena kearifannya.

Setelah sampai ke desa itu, Neru diberitahu bahwa Sufi tersebut hidup di lereng gunung terdekat. Meskipun malam sudah tiba, ia berangkat ke gunung itu menuju sebuah cahaya yang terang, dengan penuh keyakinan bahwa di sana dia akan menemukan Sufi itu.

Ketika sampai ke sumber cahaya tersebut, ia terkejut manakala mendapati tak seorang pun kecuali sebuah lampu minyak dengan ngengat-ngengat yang mengelilinginya. Ketika matanya sudah terbiasa dengan gelap, Neru menyadari kelip kecil cahaya tampak di kejauhan. Ketika berjalan menuju kelip cahaya kecil itu, ia mendapati sang Sufi sedang membaca di bawah cahaya lilin.

Neru menyampaikan salam dan kemudian bertanya, "Mengapa engkau duduk di sini dalam kegelapan sementara ada sebuah cahaya yang lebih terang di sana?"

"Seperti yang kamu lihat, cahaya terang itu untuk para ngengat, sedangkan yang tinggal bersama aku dalam kedamaian di sini adalah sebuah cahaya lilin," jawab sang Sufi.

Refleksi:

Aku teringat kata-kata Henri Nouwen, untuk menjadi pemimpin pada masa kini, ada tantangan yang harus dihadapi--berani untuk menjadi tidak relevan dan berjalan sendiri! Oooh???!!!

Monday, June 2, 2008

Bertumbuh dalam Pengetahuan yang Benar tentang Allah


Bertumbuh dalam Pengetahuan yang Benar tentang Allah
Kolose 1:9-14



Sungguh sangatlah sukar untuk membedakan kebenaran, setengah kebenaran dan kepalsuan. Sebab, yang palsu pun berbungkus kebenaran. Ya, tidaklah perlu mengherankan kita, oleh sebab dari zaman rasul Paulus Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang (2Kor. 11:14)

Namun pertanyaannya tetaplah, bagaimana kita membedakan mana yang palsu, yang setengah benar, dan mana yang benar? Kalau hal ini mustahil untuk dibedakan, maka percumalah iman kita kepada Allah. Tetapi syukur kepada Allah oleh sebab Ia memberikan kepada kita patokan yang jelas, dasar yang terang sekali untuk mencermati mana yang benar dan mana yang tidak benar, yaitu melalui firman Allah! Firman Tuhan itulah kebenaran (Yoh. 17:17).

Tapi di sini muncul masalah baru! Banyak klaim kebenaran yang juga memakai firman Tuhan! Lebih tepatnya: mengutip banyak ayat dari firman Tuhan. Bagaimana kita tahu yang ini benar, dan yang itu salah?

Pertama, kebenaran itu nyata bagi orang-orang yang sudah berada di dalam Allah. Rasul Paulus berdoa untuk jemaat, agar mereka memperoleh segala hikmat dan yang benar. Hanya orang-orang yang sudah menjadi manusia baru (bdk. Kol. 3:10) saja yang dikaruniai kemampuan untuk mendapatkan hikmat dan pengertian dari Allah. Dua kata ini penting sekali untuk memahami manakah yang menjadi kehendak Allah di dalam kehidupan; yaitu kehendak yang berbeda dari kehendak-ku ataupun kehendak dunia!

Kedua, kebenaran itu membangun manusia seutuhnya. Kebenaran itu bukan aspek rohani saja. Rasul menjabarkan:
  • jalan-jalan yang ditempuh memperkenankan Allah; berarti keputusan-keputusan yang diambil pun selaras dengan kehendak-Nya.
  • buah dalam pekerjaan baik, dalam arti menjadi kesaksian yang nyata di mata dunia
  • mengenal Allah lebih dalam, artinya semakin rindu untuk mengenal Allah yang sejati, dan mampu waspada akan segala yang palsu.
  • ketekunan dan ketabahan dalam menghadapi keras-beratnya perjuangan kehidupan.
Ketiga, kebenaran itu adalah tentang Putra Allah yang mengentaskan umat-Nya dari dosa-dosanya. Ialah Penguasa Kerajaan Terang, sebab ia sendiri adalah terang, dan kegelapan tidak pernah dapat menguasai-Nya (Yoh. 1:5). Rasul Paulus adalah seorang pemberita Injil yang setia, dan Injil yang ia beritakan dengan setia adalah mengenai Anak Allah (bdk. Rm. 1:2-4). Kebenaran yang digembar-gemborkan, bila tidak ada Kristus yang mati, bangkit dan ditinggikan adalah percuma (bdk. 1Kor. 15:2-7; Flp. 2:9-11). Sebab hanya di dalam Dialah kita memiliki kepastian keselamatan, yaitu bahwa dosa kita telah diampuni, dan segala kesalahan kita telah ditebus dengan harga yang lunas dibayarkan.

Inilah kebenaran itu! Dan barangsiapa mengetahui kebenaran ini, berbahagialah dia! Karena kebenaran inilah yang akan memerdekakannya (Yoh. 8:32). Dunia banyak berjanji, tetapi semuanya kosong melompong, tiada bukti. Mungkin kenikmatan sementara ditawarkan oleh dunia, selanjutnya adalah sengsara dahsyat dan kekal! Puji Tuhan, Allah yang kita kenal tidaklah demikian. Ia hanya satu kali saja berjanji, tetapi Ia tak pernah ingkari perjanjian itu. Marilah kita hidup dalam kebenaran Allah!