Wednesday, March 19, 2008

Kekudusan Allah, Standar

KEKUDUSAN ALLAH STANDAR KEKUDUSAN MANUSIA

Nats: Imamat 19:2; Matius 5:48; 1 Petrus 1:16

Tujuan : Mengingatkan kaum muda untuk hidup kudus di hadapan Allah, menjauhkan yang jahat dan membuat komitmen untuk hidup kudus.

Pendahuluan

Saudara, Josh McDowell, dalam bukunya yang berjudul Right from Wrong menuliskan bahwa beberapa tahun yang lalu di Amerika Serikat diadakan survai mengenai kehidupan remaja-remaja, dan hasilnya adalah sebagai berikut

Ø 1000 gadis remaja yang belum menikah telah menjadi ibu

Ø 1106 gadis remaja menjalani abortus

Ø 4219 remaja terjangkit penyakit kelamin

Ø 500 anak remaja mulai menggunakan obat terlarang

Ø 1000 anak remaja mulai minum minuman keras

Ø 135.000 anak membawa pistol atau senjata tajam ke sekolah

Ø 3610 anak remaja diserang: 80 diperkosa

Ø 2200 anak remaja drop out

Ø 6 anak remaja bunuh diri

Angka-angka di atas terjadi setiap hari dan jumlahnya terus bertambah. Bagaimana dengan remaja-remaja Kristen? Bukan hanya itu, dari sumber yang sama diperoleh data bahwa ketika para remaja ini menginjak umur 18 tahun, 55 % di antara mereka sudah bermain-main dengan alat reproduksinya bahkan sudah berhubungan seks!

Saudara, moralitas dan kekudusan dianggap enteng oleh masyarakat modern. Yang namanya kebenaran kini telah menjadi persoalan selera dan moralitas telah digantikan oleh pilihan individu. Jika dulu orang tua kita diajar untuk mempertimbangkan sesuatu benar dan yang lain salah, saat ini dunia telah berubah drastis. Masyarakat telah kehilangan kemampuan untuk memutuskan apa yang benar. Ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan bersama berkenaan dengan fenomena ini:

1. Manusia telah kehilangan standar dasar pribadi, komunikasi dan kasih.

Sebenarnya ini adalah masalah universal yang melanda seluruh umat manusia. Manusia telah kehilangan tiga hal yang esensial dalam hidupnya. Dan ketika manusia kehilangan tiga hal ini maka manusia sedang mengalami suatu dilema yang sangat berbahaya.

Yang pertama adalah kenyataan bahwa “Manusia kehilangan dasar pribadinya” (man finds no foundation of his persona). Peradaban manusia membuktikan, pencarian identitas bukanlah hal yang baru. Lima abad sebelum Yesus Kristus lahir, Socrates, filsuf dari Miletus, telah menyerukan,”Kenalilah dirimu!” (Know yourself!). Tetapi “Siapakah aku?” Manusia mencari jawab, merumuskan teori-teori, dan memfilsafatkan keberadaannya, bahwa manusia adalah pengada (being) yang rohani, pengada yang rasional, pengada yang romantis, pengada yang ber-evolusi secara biologis, pengada eksistensial yang naturnya bebas, pengada yang murni dideterminasi oleh materi dalam tubuhnya dan bermacam-macam filsafat tentang manusia.

Tetapi siapakah manusia? Manusia tetap misteri! Socrates seumur hidupnya mencari jati diri manusia, namun sampai mati ia tidak pernah puas dengan kesimpulannya tentang apakah manusia itu pengada yang jahat ataukah pengada yang milik Allah.

Saudara-saudara, kita sering disalah mengerti oleh orang lain, bahwa pemuda dan remaja adalah masa-masa yang sedang dalam pencarian identitas, masa yang sering membuat keonaran. Tetapi sebenarnya, semua manusia sedang mengalami dilema yang sama dengan kita. Semua manusia sedang mencari jati dirinya.

Yang kedua adalah bahwa “Manusia kehilangan dasar komunikasi” (man finds no foundation of communication). Manusia butuh berhubungan dengan sesama manusia, tetapi manusia juga butuh berhubungan dengan sesuatu yang universal, yang meliputi segala sesuatu. Sekalipun manusia menganggap dirinya sempurna, ia tetap terbatas. Jean Paul Sartre pernah berkata,”Sesuatu yang terbatas tidak mempunyai arti jika ia tidak mempunyai suatu acuan yang tidak terbatas.” Manusia tidak mungkin hidup dengan benar, dan menjalin relasi dengan sesama tanpa memiliki Dasar yang melampaui segala sesuatu.

Mengapa banyak keluarga yang hancur? Mengapa banyak anak muda yang mengorbankan masa mudanya dengan hal-hal yang najis di hadapan Tuhan? Karena mereka kehilangan dasar komunikasi; dan mereka sedang mencarinya. Mereka mencari Being yang universal itu, tetapi selalu kandas dalam kehampaan!

Dan yang ketiga adalah bahwa “Manusia kehilangan dasar kasih” (man finds no foundation of love). Manusia dapat mengasihi jika ia mempunyai jaminan bahwa ia pun dikasihi. Tetapi siapa yang memberikan jaminan kasih itu? Inilah yang dicari manusia.

Anak-anak muda merasa asing dalam lingkungannya, tidak puas dengan dirinya, berperilaku bebas, kejam terhadap lingkungan, dan hidup tanpa pengharapan. Mungkin salah satunya sedang duduk di sini. Ketahuilah, Saudara sedang kehilangan dasar kasih dan tidak tahu bagaimana Saudara tahu Saudara sedang mengasihi!

Ilustrasi

Pablo Picasso adalah seorang pelukis aliran abstrak yang dilahirkan pada tahun 1881 di Perancis. Kalau Saudara pernah memperhatikan lukisannya, sampai kapan pun Saudara tidak akan pernah tahu apa yang mau disampaikan lewat lukisannya. Ketika ia melukis sesosok wanita, Saudara tidak akan pernah dapat menentukan apakah wanita itu berambut pirang ataukah hitam. Bahkan wanita itu dapat menjadi apa saja, terserah penilaian Saudara. Ketika ia sedang jatuh cinta kepada seorang wanita bernama Eva, lukisan yang menggambarkan keelokan Eva diberi judul J'aime Eva (Saya cinta Eva). Bukan gambar Eva yang menjelaskan, sebab gambar Eva sendiri tidak keruan, tetapi tulisan J’aime Eva yang tergores di kanvas itu.

Picasso adalah gambaran manusia moderen. Seorang manusia yang ingin mencari jati diri, yang ingin mencintai seseorang melalui sesuatu yang universal. Namun ketika ia merasa mendapatkan yang universal itu, ia tidak dapat mengkomunikasikan kepada orang lain. Sampai akhir hayat, Picasso hidup dalam kegelisahan ini.

Aplikasi

Inilah dunia kita, tempat hidup kita. Manusia tidak lagi tahu darimana ia ada dan untuk apa ia ada. Bagi manusia moderen, manusia ada bukan karena diciptakan oleh Allah yang berpribadi, tetapi oleh suatu kekuatan yang tidak berpribadi plus waktu plus peluang. Inilah yang membuat manusia berpikir bahwa dirinya tidak lebih daripada sebuah mesin, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan moral dan hidup kudus menjadi barang usang. Tak perlu dasar tentang jati diri manusia, komunikasi dan kasih. Tak perlu lagi ada patokan, standar moral yang absolut. Tak perlu lagi ada Tuhan!

Saudara, ketika Saudara hendak berbuat dosa, masihkah hati nuranimu berkata “Jangan!” Masihkah suara Roh Kudus berbisik, “Itu dosa!” Tetapi apa yang Saudara lakukan? Saudara takut dianggap kuno atau kolot, lalu ikut menceburkan dirimu dalam perbuatan maksiat. Saudara tidak sedang menjadi jagoan, tetapi di hadapan Allah Saudara sedang mengalami dilema yang amat besar! Saudara hendak menggeser posisi Allah, dan menobatkan dirimu sebagai Allah.

Ketika Tuhan disingkirkan, bahkan dianggap mati, maka manusia akan berada dalam keadaan yang amat memprihatinkan; Sir Julian Huxley, seorang filsuf humanisme mengatakan, “Man functions better if he acts as though God is there” (manusia berfungsi lebih baik jika ia bertindak seolah-oleh Allah ada). Secara tidak langsung diakui, bahwa Allah harus ada agar hidup manusia lebih baik.

Namun dari sekian filsafat dan agama yang lahir di dunia ini, tidak satu pun yang memberikan jawaban atas dilema manusia. Hanya iman Kristen yang memberikan jawabannya! Dalam bukunya, Institutes of Christian Religion, John Calvin menyatakan bahwa pengenalan terhadap Allah yang benar dan pengenalan terhadap manusia saling terkait, sehingga kita tidak dapat mempelajari yang satu tanpa yang lain.

2. Kekudusan Allah menjadi standar dasar kekudusan manusia.

Pemikiran di atas membawa kita pada pemikiran tentang siapakah Allah? Allah, dalam ke-Tritunggalan-Nya adalah Allah yang kudus. Kekudusan Allah berarti bahwa Allah secara kekal berkehendak untuk menjadi diri-Nya jauh dari dosa; dan menuntut kemurnian hidup atas ciptaan-Nya yang bermoral. Di sini kita bertemu dengan dua aspek kekudusan Allah: pertama negatif, bahwa Allah tidak terikat (self existent, self sufficient), tidak ada ilah lain di sampingnya sebab ilah adalah buatan manusia; kedua positif, Allah menjadi Kurios, Tuan yang mutlak atas umat-Nya. Tuhan yang kudus ini menghendaki umat-Nya juga kudus. Kekudusan Allah menjadi standar kekudusan manusia. Di dalam Alkitab sendiri kekudusan Allah dan kekudusan manusia menjadi tema utama. Karena Allah kudus, maka Allah tidak dapat berhubungan dengan dosa. Allah menghendaki manusia yang mengenal Dia berada dalam keadaan yang sama seperti Dia. Mengapa Allah menghendaki umat-Nya hidup kudus?

Pertama, status sebagai umat Allah (the state as God’s people). Dalam PL, Israel dipilih dan dipanggil Allah keluar dari Mesir untuk menduduki tanah Perjanjian. Mereka harus hidup di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, bangsa-bangsa asing, yang tidak mengenal Yahweh, Allah Perjanjian, Allah yang kudus. Sekalipun bangsa-bangsa itu berkebudayaan tinggi, praktik hidup dan cara penyembahan mereka membahayakan kemurnian iman kepada Yahweh. Itulah sebabnya Allah mengharuskan umat-Nya hidup kudus, sama seperti Allah adalah kudus (Im 19:2). Allah menjadi standar kekudusan. Dan Allah memberikan jaminan yang memampukan umat-Nya untuk hidup kudus.

Kedua, status sebagai umat tebusan (the state as redeemed people). Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, segala upaya dan jerih lelah untuk mencapai kekudusan adalah mustahil. Tetapi ketika Yesus datang, melalui kematian-Nya Yesus menebus dosa-dosa manusia, serta melalui kebangkitan-Nya Ia menjamin keselamatan manusia. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Yesus menjanjikan Penolong yang lain, yang setara dengan Dia, yaitu Roh Kudus yang menguduskan dan yang terus-menerus membersihkan manusia tebusan dan noda dan kecemaran. Karya Roh Kudus tidak sekadar pengubahan status menjadi orang yang diselamatkan, tetapi juga pengubahan karakter orang berdosa menjadi kudus, sama seperti Allah adalah kudus. Tetapi mungkinkah kita yang mempunyai Roh Kudus berdosa? Mungkin! Kita masih mungkin mencuri dengan segala manifestasinya (mencuri waktu, mencuri kemuliaan Tuhan, dan sebagainya). Kita masih dapat berpikiran kotor, kita masih dapat membenci orang lain. Namun karakteristik orang yang mengenal Allah yang kudus ialah pada waktu ia berdosa, Roh Kudus berduka dan mendesaknya untuk bertobat dan hidup kudus sama seperti Allah adalah kudus.

Ketiga, status sebagai ciptaan baru (the state as new creation). Ketika Allah menciptakan manusia, manusia dijadikan mahkota seluruh ciptaan. Sebab, manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah (man was created in the image of God), dalam citra ilahi. “Gambar” dan “rupa” adalah dua kata yang bersinonim yang hanya diatributkan kepada manusia sebagai pembeda kualitatif dari makhluk-makhluk lain. Manusia dapat berpikir, merancang masa depan, mempunyai pertimbangan moral, tahu yang baik dan yang jahat, dan menjadi makhluk spiritual. Inilah citra ilahi dalam pengertian yang luas.

Namun manusia juga dianugerahi citra ilahi dalam pengertian yang khusus, yaitu manusia diciptakan Allah dengan the original righteousness (kebenaran asali), yaitu pengetahuan, kebenaran dan kekudusan yang benar (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Dengan original righteousness manusia mempunyai persekutuan yang erat dengan Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, maka the original righteousness rusak! Tetapi bukan berarti manusia kini tidak lagi membawa citra ilahi. Manusia masih dapat mengasihi, manusia masih dapat memutuskan keputusan moral, manusia masih dapat merancang masa depannya, tetapi manusia tidak mengerti tujuan tindakannya itu! Inilah total depravity (kebobrokan total) itu. Alkitab berkata manusia “mati karena pelanggaran dan dosa mereka, dan hidup di dalam kematian itu” (Ef 2:1).

Tetapi manusia baru, manusia yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk percaya kepada Yesus, dibenarkan dan diangkat menjadi anak Allah, menerima anugerah pengampunan dosa oleh darah Kristus dan the original righteousness diberikan Allah kepadanya, memiliki dasar tentang siapa dia dan untuk apa dia ada. Manusia baru tahu bahwa keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari “Ada” yang di atas. “Ada” yang di atas sejak semula adalah “Ada” yang kudus dan yang terus menjaga Diri-Nya kudus, “Ada” yang self sufficient, tidak memerlukan pengada-pengada yang lain. “Ada” yang di atas itu tak terbatas namun Ia berpribadi. Bukan seperti panteisme yang percaya “Ada” yang di atas itu tidak terbatas dan juga tidak berpribadi; tetapi bukan pula seperti mitologi Yunani, dewa-dewi yang berpribadi namun tak bermoral.

Tetapi pertanyaannya, siapakah “Ada” yang self sufficient itu dan mengapa Ia menciptakan “ada-ada”? “Ada” yang di atas itu ialah the eternal God in the high order of the Holy Trinity, Trinitas yang Agung, kudus dan kekal; Allah yang ada dalam pribadi Bapa, Anak dan Roh Kudus, di dalam kasih mereka telah mempunyai komunikasi antara satu Pribadi dengan yang lain. Hubungan kasih ini membuat Allah cukup dengan Diri-Nya, Allah tidak memerlukan sesuatu di luar Diri-Nya. Tetapi ketika Allah menciptakan alam semesta dan manusia, itu semua karena kerelaan hati-Nya!

Siapakah Saudara dan saya sehingga Tuhan mengasihi kita? Mengapa engkau sia-siakan hidupmu, wahai pemuda? Ketahuilah Allah sangat mengasihimu sekalipun sebenarnya Allah tidak membutuhkan kita! Betapa berharganya manusia yang mengenal Tuhan di mata Allah. Ia memiliki dasar jati dirinya, sebab ia dicipta menurut gambar dan rupa Allah dalam pengetahuan, kebenaran dan kekudusan yang benar. Ia mempunyai dasar komunikasi dan kasih di dalam Diri Allah sendiri. Jika ia tahu bahwa ia telah dikasihi Allah, maka ia pun akan dapat mengasihi dirinya dan orang lain.

Jadi jelaslah bawha kekudusan hidup memiliki dasar dari dan di dalam Allah sendiri, bahwa Allah adalah Allah yang kudus, dan Allah menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus. Kekudusan Allah adalah standar kekudusan manusia.

Ilustrasi

Saudara, di Amerika Serikat, ada sekelompok masyarakat yang hidup jauh dari kemajuan zaman. Masyarakat Amish namanya. Bahkan listrik pun mereka tidak mau pakai. Kecanggihan teknologi mereka yakini akan meretakkan tali persaudaraan di antara mereka dan merusak moral anak cucu mereka. Semula seluruh dunia mencela tindakan komunitas ini. Tetapi masyarakat Amish ini kini menjadi sorotan alternatif kehidupan di tengah globalisasi dan perubahan zaman.

Aplikasi

Saudara, jangan pernah menyangka jika Saudara berkompromi dengan cara hidup dunia, maka dunia akan menjadi sahabatmu. Mungkin, tetapi sekejap mata, lalu dunia akan meninggalkanmu dalam keadaan yang mengenaskan. Namun dunia jauh lebih menghormati orang-orang yang teguh memegang prinsip hidupnya daripada orang-orang yang berkompromi dengannya! Dunia sedang mencari orang-orang yang berani hidup kudus di tengah-tengah kebobrokan yang mengglobal. Mungkin pada awalnya Saudara akan dianggap makhluk aneh. Tetapi di kemudian hari dunia pasti mengangkat topi melihatmu.

Saudara, standar hidup kudus kita bukan filsafat, bukan nilai-nilai masyarakat modern, tetapi Allah sendiri. Saudara telah mendengar firman Tuhan. Tuhan memanggil Saudara untuk hidup “kudus, sama seperti Tuhan adalah kudus”, Tuhan, melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan Saudara untuk hidup kudus. Maukah Saudara, saat ini, mengambil komitmen untuk hidup kudus, menjauhkan diri dari kecemaran? Maukah Saudara juga memohon pengampunan dari Allah jika selama ini hidupmu tidak kudus sekalipun Saudara telah mengenal Tuhan atau melayani Tuhan sekian waktu lamanya? Saudara yang dikasihi Tuhan, standar hidup kudus kita bersumber dari Allah sendiri, yang mengasihi kita sejak kekekalan, memilih, memanggil dan menguduskan kita.

AMIN

Khotbah ini dibuat untuk tugas Ilmu Berkhotbah di seminari, pernah diterbitkan oleh situs www.5roti2ikan.net (deceased)

Monday, March 17, 2008

Renungan Paskah di Rutan Kudus 19 Maret 2008 (4)


Saudara-saudaraku,

Agama kita adalah agama yang menyediakan pengampunan yang luas. Para Pemimpin kita meneladankan pengampunan dan bukan permusuhan; kelemahlembutan dan bukan kekejaman, kerendahan hati dan bukan congkak-kesombongan.

Inilah arti Paskah bagi kami. Dan saya yakin ini pula arti Maulud Nabi Muhammad bagi Saudara-saudaraku kaum muslimin. Paskah berarti merekahnya fajar era baru, yaitu era pengampunan yang Allah sediakan sedemikian luasnya bagi dunia, era kehidupan yang tak lagi ditundukkan oleh kuasa maut. Maulud Nabi juga menjadi penanda zaman baru yang dibawa oleh Rasulullah, sehingga segenap umat manusia dapat hidup dalam perdamaian, saling mendukung, menguatkan dan mengampuni.

Maka, Saudara-saudaraku,

Pada hari ini, di gerbang peringatan dua peristiwa bersejarah dalam agama samawi, saya menyerukan agar kita bangkit dan bergerak dalam semangat baru, dalam suatu jiwa yang baru!

Saudara-saudara yang saat ini menjadi warga binaan di tempat ini, tetap milikilah hari esok. Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan. Tidak ada kejayaan tanpa pergumulan. Tidak ada makanan tanpa kerja keras. Hendaklah mulai sekarang, Saudara-saudaraku mulai menyadari betapa pentingnya daya juang yang tinggi, perilaku yang diubah, tabiat yang diperbarui. Oleh sebab apa? Oleh sebab pengampunan itu telah disediakan oleh Allah Yang Mahakuasa.

Saudara-saudara yang menjadi staf rumah binaan, kiranya Saudara pun menjadi pendamping yang menyadari bahwa tugas dan panggilan Saudara adalah penting di mata negara, tetapi juga di mata Tuhan. Negara menghendaki, lembaga ini dapat memberikan pemulihan bagi para warga binaan di masyarakat, dan saudara adalah orang-orang yang dipercayai oleh negara untuk menguatkan, memberdayakan, dan mendorong para warga binaan. Di mata Allah, saudara dipercaya sebagai wakil-Nya untuk menjadi teladan kerohanian dan moral para warga binaan, sehingga mereka menjadi insan-insan yang bermartabat. Maka, di dalam ketegasan Anda, perlu ada cinta-kasih. Dan di dalam cinta kasih, perlu ada ketegasan dan disiplin.

Saudara-saudara yang menjadi warga masyarakat, termasuk saudara-saudaraku sekandung di dalam Kristus, sama seperti yang diteladankan oleh Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi yang memberi pengampunan; dan yang—setelah Ia bangkit dari kematian—memberikan perintah untuk mengampuni orang lain, hendaklah kita berani menjadi pelopor-pelopor di masyarakat yang peduli terhadap mereka yang saat ini tengah menjadi warga binaan. Saya ajak saudara memandang bahwa mereka pun insan yang berharga di mata Allah, bahkan tak kurang dari insan yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Saya ajak Saudara untuk berani memberdayakan mereka, menguatkan mereka, memperlengkapi mereka, sehingga mereka tidak perlu dibina kembali di tempat ini, tetapi dapat diterima di masyarakat dan menjadi warga masyarakat.

Kalau PR ini kita kerjakan bersama-sama dalam semangat kerukunan dan kedamaian, maka niscaya tak perlu ada pertumpahan darah antarsesama warga masyarakat yang dipicu oleh isu yang berbau SARA. Bukankah kita merindukan perdamaian yang abadi? Mari kita menjadi orang-orang yang memerdekakan, mempromosikan kedamaian dan hidup dalam kepatuhan kepada Allah dan akidah agama. Syukur kepada Allah!

Renungan Paskah di Rutan Kudus 19 Maret 2008 (3)


Sedangkan tentang Yesus Sang Mesias dan Juruselamat, Injil Lukas 23 mencatat kisah demikian.

Yesus dituduh hendak melakukan pemberontakan melawan kuasa pemerintahan Yahudi bahkan kuasa tertinggi yakni kaisar Roma. Beliau ditangkap. Beliau digelandang ke pengadilan mahkamah agama Yahudi yang dipimpin oleh Imam Besar Kayafas, dilempar ke pengadilan Pontius Pilatus, pejabat gubernur di Yudea, yang menjadi wakil pemerintahan Romawi, dilempar lagi ke pengadilan Herodes, si raja boneka orang Yahudi, dan di-pingpong lagi ke pengadilan Pontius Pilatus. Namun semua pengadilan itu tak dapat menemukan kesalahan yang Beliau telah lakukan.

Namun, oleh karena kedengkian para musuh yang memang hendak memfitnah Beliau, Orang yang tidak bersalah ini tetap dituntut hukuman mati dengan jalan disalibkan. Melihat tak ada jalan lain, akhirnya Pontius Pilatus memutuskan supaya tuntutan orang-orang itu dikabulkan. Ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan, yang bernama Barabas, sesuai tuntutan mereka. Tetapi Yesus diserahkannya kepada kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

Benar, Yesus atau Isa ini disesah, dicambuki, diberi mahkota dari anyaman tumbuhan berduri tajam yang menancap di kepala-Nya, diludahi, ditendang dan diperlakukan tidak manusiawi. Darah mengalir dengan deras dari kepala, punggung dan sekujur tubuh Beliau. Dan betapa ironis! Beliau digiring ke kayu salib bersama dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Beliau.

Ketika sampai di Bukit yang disebut Tengkorak, dan di situ Beliau disalibkan bersama dua penjahat itu. Para pemimpin mengejek dan menghujat Beliau. Mereka berkata, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Para prajurit mengolok-olok Beliau, dan berkata, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Seorang penjahat di samping Beliau pun menghujat, katanya, “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

Yesus atau nabi Isa bahkan tidak memiliki seorang teman dan sahabat pun yang menguatkan Beliau. Semua yang dulu dekat dengan Beliau, para sahabat-Nya, para murid-Nya, meninggalkan Beliau. Beliau menderita . . . seorang diri!

Dalam derita yang begitu mengenaskan, kesendirian yang mencekam dan bayang-bayang kematian yang telah terbentang di depan mata, Yesus Kristus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Renungan Paskah di Rutan Kudus 19 Maret 2008 (2)


Saudara-saudaraku,

Mungkin Anda akan terkejut dengan kisah yang begitu mirip yang dialami oleh rasulullah Muhammad dan nabi Isa As., yang akan saya tuturkan berikut ini. Dalam Hadits al Bukhari, bagian “Hirak Har” seperti yang dikisahkan oleh Ibnu Hisyam, tersebutlah kisah ini.

Penduduk Mekah tidak dapat melupakan kekalahan mereka atas kaum muslimin saat perang Badar. Kekalahan itu serasa menikam jantung, laksana racun yang membakar mereka dengan nafsu dendam.

Berkobarlah api dendam yang selama ini terpendam. Tiga ribu prajurit pilihan di bawah pimpinan Abu Sufyan bergerak menuju Madinah. Sejumlah srikandi Arab, di bawah komando Hindun ikut pula dalam barisan. Mereka menyanyikan lagu-lagu peperangan, meneriakkan yel-yel dan mengancam akan mengusir kaum muslimin dari rumah-rumah mereka. Ekspedisi ini merupakan ancaman yang besar bagi Islam yang masih berada pada masa-masa awal. Karena kekalahan yang telak bisa menyebabkan bencana dan bahkan melenyapkan sama sekali komunitas muslimin yang masih sedikit itu.

Rasulullah membahas ancaman ini dalam suatu majelis bersama para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin hanya sedikit, tetapi mereka diilhami oleh semangat keimanan yang tak tergoyahkan akan kebenaran agama Islam. Karenanya, mereka memutuskan untuk menghunus pedang guna membela keyakinan mereka. Rasulullah bersama seribu tentaranya keluar Madinah menyambut kedatangan pasukan Quraisy.

Belum lama mereka melakukan perjalanan, ‘Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik, bersama sekitar riga ratus pasukan melakukan pengunduran diri dan membelot dari pasukan muslim. Sehingga, hanya dengan tujuh ratus orang tentara Rasulullah menghadapi musuh di dekat Jabal Uhud.

Pertempuran sengit pun terjadi, dengan kemenangan awal di tangan kaum muslimin. Pada mulanya, tentara muslim meraih kemenangan. Mereka berhasil memukul mundur pasukan lawan. Barisan pasukan musuh dapat ditembus. Pasukan lawan berhasil mereka paksa mundur. Bahkan beberapa orang di antara mereka melarikan diri dari medan pertempuran. Gejolak kemenangan awal ini membuat sebagian pasukan muslim melupakan tugas mereka, mereka meninggalkan pos-pos yang sudah ditentukan dan bergerak maju mendekati lawan, hingga membuat sebagian yang lain bingung.

Melihat kebingungan itu, pasukan musuh tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan cepat mereka mengonsolidasikan kekuatan dan kembali menyerang pasukan muslim dari kaki bukit dengan kekuatan baru. Pasukan muslim bertempur dengan keberanian luar biasa. Namun keberanian semata, tidak segera menghilangkan kekacauan yang telah ditimbulkan oleh pasukan yang tidak disiplin. Sejumlah tokoh muslim gugur di medan perang. Jumlah pasukan yang terluka lebih besar lagi.

Rasulullah sendiri menderita luka parah, dahinya terluka, memar dan robek terkena lemparan batu, giginya retak, topi bajanya terbenam dalam ke kepalanya. Beliau tergeletak tak berdaya di sebuah parit pelindungan. Ali mengangkat tubuh beliau.

Segera setelah Rasulullah terjaga dari pingsan, beliau menyeka darah yang membasahi muka dan dengan menengadah ke langit beliau memanjatkan doa, “Ya Allah, tunjukkanlah kaumku ke jalan yang benar, karena mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan.”

Renungan Paskah di Rutan Kudus 19 Maret 2008 (1)


Saudara-saudaraku,


Pagi ini saya sungguh merasa terhormat. Terhormat karena diperkenankan untuk berdiri di hadapan saudara-saudara semua. Namun, saya juga merasa terhormat karena hari ini saya berdiri di pintu gerbang yang istimewa bagi 2 peringatan akbar agama samawi: Maulud Nabi Besar Muhammad SAW atau kelahiran rasulullah dan Wafat Isa Almasih, atau yang kami kenal sebagai Yesus Kristus, dan menyusul kemudian Kebangkitan Beliau dari antara orang mati.

Dua peringatan ini sesungguhnya menunjukkan betapa dekatnya kaitan antara dua agama ini. Kita sama-sama mengaku sebagai agama samawi, atau agama surgawi artinya agama yang diwahyukan, yang dibukakan, yang kita terima langsung dari Allah. Seorang sarjana besar bernama Afif Tabbara dalam bukunya The Spirit of Islamic Religion (Semangat Agama Islam), menyatakan bahwa kata Al-Islam berasal dari kata salima yang berarti:
  1. Pembebasan dan pemerdekaan dari kesalahan-kesalahan baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
  2. Perdamaian dan keamanan.
  3. Ketaatan dan ketertundukan.

Sedangkan agama Kristen atau agama Nasrani sesungguhnya diambil dari kata “Kristus” dan “Nasaren.” Kristen berarti “orang-orang yang mengikuti Kristus—Sang Mesias, Ia yang diurapi, Ia yang menjadi penebus dosa umat-Nya.” Sedangkan kata yang berpadanan dengan itu, “Nasaren” merujuk pada tempat asal Yesus Kristus atau Isa Almasih, yaitu sebuah kampung bernama Nazaret.

Beliau pun kami kenal sebagai pembebas, pejuang yang memerdekakan umat Beliau dari belenggu dosa, dan jalan yang Beliau pakai untuk mencapai perjuangan Beliau itu adalah jalan damai. Beliau memberitakan damai dan rasa aman bagi umat, meskipun di tengah-tengah perjuangan hidup yang tidak mudah dan begitu beratnya. Beliau bahkan menjadi pendamaian bagi hubungan yang sudah putus dari Allah dan manusia. Beliau menguatkan dan memberdayakan umat untuk taat dan tunduk kepada Allah.

Saturday, March 15, 2008

Pada Saat Gempita itu Berhenti


Saat Gempita itu Berhenti

Matius 21:1-11


Beberapa tahun yang lalu, satu buku ditulis oleh Gene Smith, seorang sejarawan Amerika kenamaan. Judul buku itu adalah When the Cheering Stopped. Buku itu mengisahkan Presiden Woodrow Wilson dan peristiwa-peristiwa yang menyekitari Perang Dunia I, baik pra maupun pasca. Pada saat perang tersebut usai, Wilson adalah seorang pahlawan dunia. Suatu semangat mendunia berkobar di luar Amerika Serikat, dan orang-orang percaya bahwa PD I merupakan perang terakhir, dan dunia kini telah menjadi kondusif bagi hidupnya demokrasi yang sejati.

Pada kunjungan pertamanya ke Paris pascaperang, Wilson disambut dengan gempita ribuan orang yang berkumpul untuk melihatnya. Ia benar-benar lebih populer ketimbang pahlawan-pahlawan Prancis sendiri. Hal yang sama juga terjadi di Inggris dan Italia. Di sebuah rumah sakit Wina, seorang pekerja Palang Merah harus berjuang keras meyakinkan anak-anak mengenai tiadanya hadiah-hadiah Natal oleh sebab perang dan masa-masa yang sukar. Anak-anak tidak percaya kepadanya. Mereka berkata bahwa Presiden Wilson akan datang dan mereka yakin bahwa segala sesuatu akan menjadi baik.

Gegap gempita dan euforia terhadap Wilson itu berlangsung sekitar setahun. Kemudian pelan-pelan mulai berhenti. Malahan kini berbalik kenyataannya. Para pemimpin politik di Eropa lebih tertarik untuk mengurusi agenda-agenda mereka sendiri daripada sebelumnya yaitu memikirkan kedamaian yang berlangsung untuk seterusnya. Di rumah sendiri, Woodrow Wilson mendapat oposisi hebat dari Senat Amerika Serikat dan idenya mengenai Liga Bangsa-bangsa tidak disetujui. Dalam kondisi perlawanan seperti ini, kondisi kesehatan sang Presiden mulai terganggu.

Dalam periode pemilihan selanjutnya, partainya kalah. Maka, adalah Woodrow Wilson, seseorang yang secara terbuka setahun atau dua tahun sebelumnya diberitakan sebagai sang mesias baru dunia, harus mengakhiri hari-hari kehidupannya sebagai seorang lelaki yang bangkrut dan kalah.

Kisah di atas adalah sebuah kisah sedih, tetapi bagi kita, kisah ini tidak terlalu asing. Upah yang diterima oleh seseorang yang ingin menerjemahkan cita-cita dan idealisme ke dalam kenyataan kadang-kadang justru frustrasi dan kekalahan. Ya, ada beberapa pengecualian, tetapi tidak banyak jumlahnya.

Hal yang sama pun terjadi pada Yesus. Ketika Ia tampil di muka publik, dalam kancah umum kultur sosio-politik-religius Yahudi, Ia adalah seoang yang berhasil mendapatkan simpati dan sensasi yang sedemikian hebat. Berkali-kali Ia ingin sendirian, namun orang-orang masih saja berjubel mengikut Dia. Orang banyak berjajar memenuhi jalan masuk ke Yerusalem. Pada Minggu Palmarum yang pertama, ranting-ranting daun palam dilambai-lambaikan di hadapannya dan di sepanjang jalan itu terdengar teriakan “Hosana!” Dengan memekikkan “Hosana!” mereka berkata, “Selamatkanlah kami, ya Yesus!” Orang-orang banyak berdatangan untuk mendengar Dia berkhotbah. Suatu gelombang besar religius melanda seluruh penjuru negeri Israel.

Namun, sorak-sorai itu tidak berlangsung lama. Akan datang waktunya ketika orang banyak itu mulai melawan Dia. O, Anda mungkin tidak terlalu memperhatikannya sebelumnya. Orang-orang berdatangan untuk melihat Dia, tetapi rasa ingin tahu itu mulai surut, dan orang banyak itu satu per satu mulai meninggalkan Yesus. Para pengritiknya kini mulai tampil menyerang Dia. Ada sesuatu yang baru muncul. Semula, mereka takut untuk berbicara secara terbuka, oleh sebab takut dengan sekumpulan besar orang-orang di sekitar Yesus. Tetapi mereka mulai mengamat-amati bahwa khalayak umum mulai mempertanyakan identitas-Nya dan kini berbalik dari-Nya. Maka, oposisi itu sekarang berubah bak bola salju. Ketika musuh-musuh Yesus tak dapat menjatuhkan-Nya lewat kehidupan dan karakter moral-Nya, mereka mulai mencari-cari persoalan untuk dapat menjatuhkan Dia.

Mengapa massa begitu mudahnya berbalik menyerang Dia? Hal-hal berikut ini yang kita temukan:

  1. Yesus mulai berbicara lebih dalam mengenai komitmen.
  2. Yesus berani untuk menantang bahwa setiap orang layak dikasihi.
  3. Yesus mulai berbicara lebih dalam mengenai salib.

Wednesday, March 12, 2008

Menghidupi Peziarahan Kita (4)


Peziarahan yang Penuh Asa

Maka, hiduplah kembali dalam paradoks iman Kristiani! Paradoks peziarahan batin bagi kita merupakan suatu peziarahan pengharapan, bukan pengembaraan tanpa arah dan tujuan. Kita telah hidup dalam ciptaan baru. Oleh sebab itu, kita pun mendapatkan undangan untuk memenuhi suatu mandat yang baru dari Allah. Kita dipanggil untuk membawa pengharapan ini ke ujung-ujung bumi!

Sama seperti umat Allah di zaman nabi Yeremia, kita semua harus dipecahkan dan kemudian dibentuk kembali (Yer. 18.1-17). Tragedi dan kejayaan hidup kita ada di tangan Allah! Memang sungguh benar, kita tak dapat mengetahui dengan tepat ke mana kita akan pergi, tetapi melalui pembacaan ini, kita tahu tujuan akhir kita. Kita harus memenuhkan pencapaian Mesias Yesus dalam karya pertama-Nya yang dimeteraikan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.

Maka, kelana kehidupan kita yang merupakan peziarahan batin ini, marilah kita kerjakan dengan penuh suka cita. Semua kita adalah rekan-rekan peziarah. Marilah kita menanam benih-benih pengharapan di bumi yang telah tua ini, sambil mulut kita dipenuhi dengan pujian kepada Allah Sang Pencipta yang telah menjadikan sesuatu yang baru melalui kuasa Firman-Nya. Allah telah membuka suatu kenyataan baru, yang merupakan kemungkinan yang menyudahi pesimisme dan ketidakmungkinan yang merayap dalam hati kita dan yang selalu menghantui perjalanan hidup kita. Allah membuka kemungkinan baru bagi tiap-tiap individu, bagi komunitas imani, bagi masyarakat dan bagi kosmos seutuhnya.

Oleh karena rahmat Allah, marilah kita berangkat dengan bersuka cita, dan kembali pulang dalam damai; kiranya gunung dan bukit-bukit dan seluruh ciptaan bergembira dan bersorak-sorai, serta pohon-pohon bertepuk tangan dan bersuka cita. Oleh sebab karya Allah telah dinyatakan di hadapan segala makhluk, dan segala makhluk menerima pemerdekaan yang sejati dari Allah.

Lanjutkan hidup kita, teruslah maju, karena Allah selalu memberikan hari esok yang penuh pengharapan. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikian firman Tuhan” (Yes. 55.8).

TERPUJILAH ALLAH!