Tuesday, June 16, 2009

Dosa Ananias dan Safira (Kis. 5:1-11)



Dosa Ananias dan Safira: Pengkhianatan Atas Kemurnian Persekutuan

Kisah Para Rasul 5:1-11





Gereja Tuhan dicirikan oleh kesatuan hati dan jiwa. Kesatuan ini dibuktikan dengan gaya hidup koinonia. Mereka menganggap apa yang mereka miliki sebagai koinos, milik bersama. Hasilnya, tak ada seorang pun di antara anggota Gereja Perdana yang berkekurangan. Mereka hidup dengan adil. Ya, keadilan merupakan tema besar dari dua jilid Lukas-Kisah Para Rasul. Bacalah baik-baik, di Injil Kristus datang untuk menjangkau mereka yang tidak dianggap manusia. Ia hadir untuk yang sekeng dan terpinggirkan. Di dalam Kisah, orang-orang yang mengikuti Yesus mengejawantahkan dengan sejelas-jelasnya. Mereka rela hidup berbagi, demi terciptanya keadilan di dalam komunitas mereka.



Ketika mereka menjual ladang dan tanah, mereka meletakkan hasilnya di depan para rasul. Mengapa? Kita harus mengenal berita teologis di balik keterangan ini. Gereja adalah Israel baru, yaitu umat Allah yang dipimpin oleh Mesias Yesus. Menjelang penyaliban-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya dalam percakapan di Ruang Atas ketika mengadakan Perjamuan Makan Terakhir, “Dan aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Luk. 22:29-30). Di balik kata-kata ini, Yesus sedang mempersiapkan mereka, yaitu pada saat Ia tak lagi hadir di antara mereka, merekalah yang selanjutnya akan memegang wewenang atas umat Allah yang baru, atas nama Kristus sendiri.



Dua teladan mengikuti penjelasan ini. Yang satu teladan positif dan yang lain negatif. Pertama, Barnabas. Ia menjual ladangnya dan membawa uang itu kepada para rasul. Ia mengambil peran bagi terwujudnya pola hidup adil di dalam Gereja Perdana dengan menyerahkan harta miliknya. Siapakah Barnabas yang muncul di bagian ini? Ia adalah seorang Lewi. Hal ini menjadi jalan pembuka bagi berita di 6:7 bahwa banyak imam—yang tentu berasal dari suku Lewi—menjadi percaya kepada Kristus. Barnabas berasal dari Siprus, dan di kemudian hari di Antiokhia ia menjadi seorang misionaris bersama Paulus, dan pertama-tama mereka mengadakan perjalanan misi ke Siprus (13:1-4).



Kedua, adalah Ananias dan Safira. Kisah ini begitu dramatis dan menggambarkan penghukuman Allah yang tak mengenal kompromi ke atas orang yang menyelewengkan dan menodai kemurnian pola kehidupan umat percaya. Apakah Ananias dan Safira sekadar ikut-ikutan karena melihat yang lain menjual tanah? Kita tidak dapat berspekulasi! Lalu, di mana kesalahan Ananias? Perhatikanlah, ia menjual tanah, dan hasilnya sebagian dipakai untuk kepentingan pribadi dan yang lain diserahkan kepada para rasul. Dengan percaya-diri mereka datang kepada Petrus seolah-olah bagian itu adalah totalitas hasil penjualan tanahnya. Catatan yang menarik dari kesaksian firman Tuhan, “dengan setahu istrinya.” Berarti mereka memang sudah bermufakat. Apalagi ketika istrinya ditanya mengenai harga penjualan tanah, Safira berkata, “Betul, sekian.”



Kisah Ananias dan Safira segera mengingatkan kita akan kejadian menjelang masuknya bangsa Israel ke Yerikho (Yos. 7). Upaya mereka terhambat oleh fakta ketidakmurnian di tengah-tengah mereka. Ada yang berkhianat terhadap kekudusan umat. Akhan pelakunya! Diam-diam ia menyembunyikan barang-barang rampasan dari Yerikho. Ia mencuri, ia menginginkan barang-barang itu untuk dirinya sendiri. Padahal seharusnya barang-barang itu dipersembahkan kepada Allah.



Akal bulus Akhan ini membuat Allah menjatuhkan murka kepada Israel dan menyatakan bahwa umat-Nya telah benar-benar berdosa dan harus kembali dimurnikan. Hanya ketika Akhan dibunuh dan barang-barangnya dibakar habis, barulah Israel dapat perjalannya menaklukkan Tanah Perjanjian dan mengenal kembali panggilannya sebagai bangsa yang harus kudus, sebab TUHAN Allah adalah kudus; umat yang harus sempurna, sebab TUHAN Allah adalah sempurna!



Demikian pula, Israel baru telah dinodai dengan penahanan sebagian hasil penjualan yang seharusnya diserahkan untuk menjadi kas bersama. Ananias dan Safira gagal untuk mengenali Gereja sebagai komunitas yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dengan begitu, mecoba untuk menipu gereja berarti mendustai Roh Kudus. Iblis yang merasuki Yudas, yang membuat Yesus diserahkan ke tangan orang-orang jahat (Luk. 22:3-4; Yoh. 13:2, 7), kini merasuki Ananias, seorang beriman kepada Yesus, dan berdusta kepada Roh Kudus (5:3).



Ketidakmurnian itu serta-merta dikonfrontir oleh Petrus, dan fatallah akibatnya! Suami itu tewas seketika. Disusul dalam tempo yang tak berselang lama juga oleh sang istri: Tewas dalam sekejap!



Hendaklah kita waspada terhadap segala bentuk pengkhianatan atas kemurnian Gereja Tuhan. Apa implikasi bagi kehidupan kita di masa kini? Pertama, lihatlah Barnabas: Ia memulai pelayanan di muka publik dengan mempersembahkan harta miliknya. Akhirnya, ia dipanggil untuk mempersembahkan diri secara total kepada Kristus dengan menjadi utusan Injil. Dan pertama-tama, yang ia injili adalah kampung halamannya sendiri di Siprus.



Di manakah kita memulai pelayanan kita? Di mana kita ada. Kita mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Kita menyediakan diri untuk dibentuk Allah sebagai pelayan-pelayan Injilnya. Kita mau mulai mengerjakannya bukan di tempat yang jauh, tetapi mula-mula di kandang sendiri. Maka, mulailah pelayanan itu dari tempat di mana Allah menempatkan Saudara dan saya.



Kedua, jauhilah mentalitas Ananias dan Safira di perikop ini; serta jauhilah mentalitas Akhan. Yesus pernah berkata, jika engkau memberi dengan tangan kanan, biarlah hal itu tidak diketahui oleh tangan kirimu. Tak ada udang di balik batu. Tak ada maksud tersembunyi. Adanya maksud-maksud tersembunyi itulah yang menghancurkan pelayanan dan kehidupan bergereja. Gereja tidak akan menjadi kesaksian yang baik di tengah masyarakat. Jika kita mau memberi, berilah dengan hati yang murni dan tulus bagi pekerjaan Allah. Berikanlah tanpa ada pesan-pesan sponsor. Ingatlah bahwa gereja bukan beranggotakan para pemegang saham, sehingga pemilik modal besar mampu memonopoli gerak perusahaan. Jika tidak menguntungkannya, ia akan tarik kembali dananya.



Ketiga, Gereja milik Kristus adalah gereja yang menjunjung kemurnian. Bukan hanya di dalam ajaran, tetapi juga pranata, etos dan spiritualitasnya. Adanya noda di dalam satu saja anggota tubuh Kristus, akan menitikkan noda dalam bentangan sejarahnya. Noda yang tak disadari akan menghambat laju pertumbuhannya. Gereja menjadi mundur. Gereja menjadi stagnan. Gereja menjadi suam-suam. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mengakui Roh Allah bertakhta dengan berdaulat, dan oleh karena itu hendaklah masing-masing pribadi yang menjadi anggotanya tunduk dan patuh sungguh dan tidak bermain-main dengan Gereja Tuhan.



Kemurnian pribadi sama pentingnya dengan kemurnian korporat. Tujuan hidup bergereja adalah agar tercipta tatanan keadilan di antara anggota tubuh Kristus. Maka, hendaklah segenap pelayanan dan persembahan kita ditujukan bagi terciptanya tatanan itu. Adil itu bukan seperti membagi-bagi sembako kepada orang-orang miskin. Adil itu bukan semua tidak ada kaya dan tidak ada yang miskin. Bukan berarti tidak boleh memiliki harta milik dalam jumlah besar. Yang dicatat di dalam teks ini ialah, supaya “tidak ada yang berkekurangan.” Di dalam persekutuan, hendaklah tidak ada yang masih meminta-minta.



Apalah gunanya kita punya banyak harta bila kita menutup mata bagi orang lain? Apa artinya kita mempunyai perusahaan bila ternyata masih memeras karyawan dan buruh kita dan melupakan hak-hak yang seharusnya mereka terima? Apa artinya adil bila di keluarga kita, ayah masih dianggap sebagai penguasa lalim dan yang lain adalah makhluk sekunder? Apa faedah menumpuk banyak harta jika kita hanya dikenal sebagai orang Kristen yang pelit dan tak peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, dan terutama saudara-saudara kita seiman? Apa maknanya, bila kita mempersembahkan banyak tiap Minggu, tetapi tidak mempunyai damai sejahtera di hati, menyimpan hasrat dan kemauan tersembunyi, memiliki agenda-agenda di balik layar, dan masih banyak lagi? Semuanya itu merupakan pengkhianatan terhadap kemurnian kehidupan jemaat Tuhan. Karena itu, berhati-hatilah atas dosa yang mengintip kita: dosa Ananias dan Safira!



Terpujilah Allah!

No comments:

Post a Comment