Thursday, September 27, 2007

ROH KUDUS DAN KITAB SUCI 2


II. KESAKSIAN INTERNAL ROH KUDUS

Reformasi Protestan menegaskan doktrin pembenaran hanya melalui iman. Tetapi doktrin ini bertentangan dengan tradisi gereja pada waktu itu, demikian dikatakan. Maka para reformator menyatakan pembelaan secara intensif bukan hanya mengenai pembenaran, tetapi juga mengenai otoritas dan hubungannya dengan tradisi. Amunisi krusial dari para reformator adalah doktrin “kesaksian internal Roh Kudus.” Katolik Roma mengakui otoritas Kitab Suci, tetapi ia menekankan bahwa kita tidak mungkin dapat memahami Kitab Suci sebagai otoritatif kecuali lewat kesaksian gereja. Maka, tradisi gereja, paling tidak dalam poin ini, memiliki suatu otoritas yang lebih mendasar ketimbang Kitab Suci. Tidak, kata Luther dan Calvin. Jaminan pamungkas kita atas otoritas Kitab Suci bukanlah tradisi manusia, tetapi kesaksian Roh di dalam kita.

Calvin mengembangkan doktrin ini lebih detail daripada Luther, dan menjadikannya sentral dari epistemologi Kristen. Dalam Institutio-nya, dengan tajam ia menolak bahwa “kebenaran Allah yang kekal dan tak tergoyahkan berpijak pada keputusan manusia.” Kontras dari itu, gereja sendiri dibangun di atas “tulisan-tulisan para nabi dan pemberitaan-pemberitaan para rasul” (Inst. 1.75). Meskipun “bukti-bukti yang cukup kuat ada di tangan untuk menegakkan kredibilitas kitab suci,” “kita seharusnya mengupayakan untuk meletakkan keyakinan kita di tempat yang lebih tinggi daripada penalaran-penalaran, penilaian dan bukti-bukti manusia, yaitu kesaksian rahasia Roh.” Calvin menolak bahwa doktrin ini mengarah kepada apa yang kita sebut sekarang ini sebagai subjektivisme. Ia menentang kaum “fanatik” yang mengabaikan Kitab Suci alih-alih wahyu-wahyu baru dari Roh Kudus. Firman dan Roh berjalan bersama, sehingga Roh dikenali dalam persetujuannya dengan Kitab Suci (Inst. 1.93-95).

Kemudian dalam Institutio, Calvin mendiskusikan kembali kesaksian Roh, kali ini dalam kaitan dengan iman serta jaminan bagi individu-individu. Dengan menggunakan banyak ayat, Calvin menunjukkan bahwa iman adalah karya Roh Kudus (Inst. 1.541-542). Tanpa Roh, kita tidak memiliki iman (Inst. 1.582-583). Hanya Roh yang dapat memimpin kita kepada Kristus.

Sejak Reformasi, doktrin ini terus mendapat peran penting dalam teologi Protestan—tetapi dengan beragam interpretasi (penafsiran), penerapan dan penekanan yang mengarah kepada perdebatan yang malah memecah belah. Pada masa kini, banyak teolog yang mengatakan bahwa tradisi “ortodoks” yang mengikuti Reformasi (Turretin, Voetius, dll.) telah mengabaikan atau salah mengerti ajaran ini, dan klimaknya terjadi pada mazhab “Princeton Tua” (Hodge, Warfield) yang memberikan pengaruh besar kepada Evangelikalisme modern. Kini, marilah kita arahkan perhatian kita kepada (a) kedaulatan, (b) objek-objek dan (c) rasionalitas kesaksian internal Roh Kudus.

A. KEDAULATAN KESAKSIAN

Satu hal yang mengagumkan dari kesaksian internal itu adalah relasi yang intim, bahkan “langsung” antara diri kita dengan Allah. Mendengarkan Kitab Suci bukan suatu interaksi antara diri kita dengan sebuah buku, bahkan lagi sebuah buku yang luar biasa; lebih dari itu, di dalam Kitab Suci kita berjumpa dengan Allah Sendiri. Bagi kaum Protestan (di luar gerakan Kharismatik), tidak ada pengalaman religius yang menawarkan kedekatan dengan Allah selain ini. Kaum Barthian yang menekankan perjumpaan dengan Allah secara pribadi, berutang ide dari konsep ini. Calvin menegaskan, “Maka, bukti tertinggi Kitab Suci diperoleh dari fakta bahwa Allah sebagai Pribadi bersabda di dalamnya . . . Allah saja adalah saksi yang tepat mengenai diri-Nya sendiri, di dalam Firman-Nya” (Inst. 1.78-79).

Sejumlah penulis modern, lebih berani berkata mengenai kedekatan hubungan kita dengan Allah di dalam kesaksian internal Roh Kudus ini. Helmut Thielicke berkata bahwa kita memiliki “bagian di dalam pengetahuan-diri (Allah) (1Kor. 2.10 dab.; 13.12b). Ada bahaya paham panteisme dalam pernyataan di atas, yang Thielicke sendiri tentang dalam tulisannya. Kendati demikian, setiap bagian Kitab Suci mengetengahkan kesaksian Roh sebagai sesuatu yang luar biasa dan unik, yang kita tak mungkin cukup kata untuk menjabarkannya tanpa menyerempet-menyerempet batas formulasi teologi ortodoks.

Dalam pada itu, bila kesaksian internal Roh Kudus membawa kita berjumpa muka dengan muka dengan Allah, pada waktu yang bersamaan, ia membuat kita berjumpa muka dengan muka dengan kedaulatan dan kemerdekaan-Nya. Doktrin ini harus diformulasikan sebagai peletakan dasar ketuhanan Allah dalam pewahyuan-Nya.

1. Posisi Teologi Modern

Baik para pemikir “ortodoks” maupun “modern” menekankan kedekatan Allah seperti dinyatakan di atas. Tetapi para pemikir modern juga menemukan di dalam konsep itu senjata untuk melawan ortodoksi. Coba perhatikan misalnya pembedaan ortodoks antara pengilhaman (inspirasi) dan kesaksian internal Roh Kudus. Para pemikir ortodoks secara tradisional menegaskan bahwa “inspirasi” dan “kesaksian internal” adalah dua hal yang dapat dibedakan, walaupun keduanya adalah sama-sama karya Roh Kudus.

Dalam pemikiran teolog modern seperti Karl Barth, pembedaan tersebut menjadi kabur. Bagi golongan ini, inspirasi seperti yang dimengerti golongan ortodoks tidak pernah ada; Allah tidak menempatkan Firman-Nya di atas secarik kertas. Bagi Allah, yang disebut menginspirasikan sabda dalam pengertian ini akan mengompromikan kemerdekaan dan kedaulatan-Nya. Allah tentu tidak dapat menarik kata-kata itu sekali Ia mengatakannya. Maka, apa yang dialami oleh para penulis Alkitab bukanlah inspirasi dalam pengertian ortodoks, tetapi serupa pengilhaman yang kita alami pada masa kini oleh kesaksian Roh Kudus. Lebih lanjur, pembedaan antara inspirasi dan iluminasi menjadi sulit untuk dibedakan bagi para teolog yang menekankan kehadiran langsung kesaksian Roh Kudus. Apa bisa disebut “inspirasi” bila bukan kesaksian internal? Apa yang dapat kita minta selain suatu partisipasi intim di dalam pengetahuan Allah akan diri-Nya sendiri?

Namun patutlah diingat implikasi lebih jauh. Jika inspirasi dalam pengertian tradisional ditolak, maka akan terjadi pula pergeseran dalam masalah dasar otoritas. Dalam teologi Protestan ortodoks, inspirasi Kitab Suci menegaskan otoritasnya, dalam pada itu kesaksian internal Roh pun penting apabila kita hendak menangkap dan menerima otoritas Kitab Suci tersebut. Dalam banyak teologi modern, khususnya tradisi Barthian, bukan hanya kesaksian Roh itu yang penting untuk menerima otoritas Alkitab, tetapi hal itu juga yang membuat Kitab Suci otoritatif. Tanpa kesaksian-Nya (dan dengan demikian tanpa respons ketaatan kita), Kitab Suci tidak memiliki otoritas apa-apa ketimbang sekadar sebagai buku hikmat manusia yang terbaik. Dalam pandangan ini, Kitab Suci kehilangan otoritas hingga kita mempercayainya. Tetapi mengapa kita harus percaya suatu buku yang, sebelum kita percaya, tidak memiliki otoritas apa-apa di atas kita?

Dengan demikian, di banyak teologi modern, kesaksian internal menggantikan konsep tradisional mengenai inspirasi. Adalah kesaksian internal, dan bukan inspirasi, yang mendorong penulisan mula-mula Kitab Suci; dan adalah kesaksian internal, dan bukan inspirasi, yang menjadi dasar iman kita kepada Alkitab. Alkitab tidak diinspirasikan, bila yang kita maksud dengan inspirasi adalah tindakan ilahi yang unik pada masa lalu, yang menjadi jaminan kebenaran teks pada segala waktu, bagi semua pembacanya. Jika kata “inspirasi” dipakai, kata ini dimengerti sinonim dengan kesaksian internal, sehingga kita pada masa kini pun “diinspirasikan” sebagaimana halnya dengan para penulis Alkitab, kendati inspirasi kepada kita dalam derajat tertentu bergantung kepada inspirasi kepada mereka.

Pemahaman ini koheren dengan tiga konsep yang umum diterima dalam neoortodoksi. Pertama, Kitab Suci “menjadi” Firman Allah ketika Roh menggunakannya untuk menjamah hati kita. Kedua, respons kita kepada Firman Allah adalah bagian dari pewahyuan, sehingga tidak ada ada pewahyuan tanpa respons (positif) kita. Ketiga, kebenaran atau kesalahan dari teks alkitabiah tidak memiliki relevansi apa-apa bagi iman, sebab Roh dapat menjangkau hati meski dengan isi yang keliru.

Pemahaman-pemahaman di atas memang memiliki keterkaitan erat dengan wacana kemerdekaan dan kedaulatan Allah di dalam kesaksian internal Roh Kudus. Allah merdeka untuk menggunakan, atau tidak menggunakan, teks apa pun di dalam Kitab Suci, baik yang benar ataupun yang salah. Dalam pandangan ortodoks, kaum Barthian berpendapat, Allah dipaksakan untuk menghargai dan menghormati suatu kata yang diucapkan di masa lampau; Ia tidak merdeka untuk berdiri di seberang teks kanonik (teks-teks yang dimasukkan dalam Kitab Suci). Karena itu, kita yang “memiliki” teks kanonik membuat Allah di bawah kendali kita.

Tetapi sesungguhnya ada yang janggal untuk menuduh kita sedang mengendalikan Allah apabila kita memegang teks yang tanpa salah. Oleh sebab satu hal, Kitab Suci tidak pernah memberikan kesimpulan demikian. Di dalam Kitab Suci, Allah membuat perjanjian, dan melaluinya Ia mengikatkan diri-Nya sendiri. Di dalam Kristus, semua janji ini adalah Ya dan Amin (2Kor. 1.20). Allah tidak dapat menipu atau menyangkal diri-Nya (2Tim. 2.13; Tit. 1.2; Ibr. 6.18). Karena itu, Firman-Nya tetap untuk selamanya (Yes. 40.8). Kata-kata ilahi ini membangun suatu bangunan kebenaran, suatu “tradisi ajaran” (2Tes. 2.15; 3.6), iman yang sekali dipercayakan kepada orang-orang kudus, yang di atasnya kita berdiri teguh (Yud. 3). Allah memerintahkan umat-Nya untuk patuh kepada semua sabda-Nya yang tertulis, ketetapan-ketetapan-Nya dan perintah-perintah-Nya, dan untuk meneruskannya kepada anak-anak mereka (Ul. 6.4-9; 8.3; Mzm. 1; 19.8-15; 119; Mat. 5.17-20; 1Kor. 14.3; 2Tes. 2.15; 2Tim. 3.15-17; 2Ptr. 1.19-21; 3.15-16).

Lebih lanjut, para penulis Alkitab tidak menyatakan bahwa janji-janji Allah seperti ini mengompromikan kedaulatan Allah! Sebaliknya, kedaulatan Allah dinyatakan melalui kuasa Firman yang tidak dapat ditahan-tahan. “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia; tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55.11). Firman Allah adalah suatu sarana pemerintahan Allah yang berdaulat. Justru karena itu, kedaulatan-Nya akan direduksi bila Ia tidak mengatakan kebenaran melalui kata-kata yang demikian.

Sesungguhnya, kita harus berhati-hati dalam membuat formulasi mengenai kedaulatan Allah. Ketika kita tidak berhati-hati (dan hanya mengandalkan intuisi, seperti yang sudah-sudah), ambiguitas akan muncul. Menurut teolog yang satu, kedaulatan Allah akan direduksi ketika ia mengutarakan sebuah kalimat yang diinspirasikan dan tanpa salah. Untuk yang lain kedaulatan Allah mensyaratkan adanya kalimat-kalimat tersebut. Penggunaan konsep tersebut memerlukan sejumlah pemikieran yang cukup berhati-hati ketimbang melompat kepada kesimpulan yang nampaknya sesuai dengan intuisi.

Masalahnya, apa yang nampak intuitif bagi teolog yang satu bisa menjadi kontra-intuitif bagi teolog yang lain. Intuisi dapat menjerumuskan kita, sebab intuisi sering tidak membuat analisis dan pemilah-milahan yang baik. Secara intuitif, kita condong untuk memformulasikan kedaulatan Allah dengan mengeluarkan apa pun juga yang menjadi “pembatas” bagi Allah. Akan tetapi, ketika kita merefleksikan inti masalahnya, kita dengan mudah akan menjumpai bahwa kedaulatan tidak dapat dikeluarkan dari segala macam pembatasan tanpa kecuali. Hanya kaum nominalis yang akan berpikir bahwa kedaulatan itu demikian.

Beberapa analisis pembedaan kita perlukan untuk menjelaskan “pembatasan” seperti apa yang tidak tepat bagi kedaulatan Allah, dan “pembatasan-pembatasan” jenis apa yang memang merupakan pembatasan. Kebanyakan buku teologi, bahkan dari kalangan Calvinis, menyatakan bahwa Allah juga “terikat” paling tidak oleh karakter-Nya sendiri—oleh misalnya kebaikan-Nya, rasionalitas-Nya, kebesaran-Nya yang tiada tara; Allah tidak pernah dapat menjadi jahat, bodoh, atau lemah. Allah juga terikat oleh perjanjian-Nya, sebagaimana kita ketahui dari Alkitab. Maka, tidak ada kedaulatan yang carte blanche, kedaulatan tanpa “pembatasan” sama sekali. Pemikir Injili harus mendasarkan argumentasinya bahwa Allah membatasi diri-Nya sendiri untuk bekerja di dalam kerangka perjanjian-Nya.

2. Posisi Ortodoks

a. Berlawanan dengan Neoortodoks, kaum ortodoks percaya adanya teks suci yang diinspirasikan. Allah memanggil umat-Nya, bukan untuk mendengarkan perintah-perintah subjektif atau bisikan hati, tetapi untuk mendengarkan “perintah, ketetapan dan hukum” Allah (Ul. 6.1). Allah menuntut tanggung jawab umat-Nya kepada Firman yang tertulis.

b. Firman dan Roh berjalan bersama-sama. Hal ini sama-sama merupakan penekanan baik Calvin maupun Luther melawan posisi Katolik Roma di satu sisi dan kaum “antusias” di sisi lain. Kesaksian Roh terhadap Firman—bukan melawan, ataupun menambahi, sebagaimana pendapat kaum neoortodoks. Kitab Suci selalu merepresentasikan kesaksian Roh Kudus dalam bentuk sebagai berikut: Roh Kudus memanggil kita untuk mendengar apa yang Allah katakan (lih. Yoh. 14.26; 15.26; 16.13; 1Tes. 1.5; 2.13). Seperti halnya Helmut Thielicke tunjukkan, Roh Kudus dicurahkan sampai kepenuhannya hanya setelah penyaliban dan kebangkitan Kristus (Yoh. 16.7), sebab Ia membawa kesaksian bagi karya Kristus yang telah tuntas (Yoh. 16.14). Karena itulah, Ia menjaga kebenaran berita tersebut. Namun tak cukup sampai di situ, sebagai tambahan atas pendapat Thielicke di atas, Roh Kudus dapat bersaksi mengenai peristiwa-peristiwa objektif itu bagi kita pada masa ini, hanya bila ia meneguhkan kesaksian dan kata-kata para rasul mengenai peristiwa tersebut, yaitu kata-kata yang kita miliki di dalam Kitab Suci.

c. Kata itu meneguhkan dirinya sendiri. Kata tersebut adalah otoritas tertinggi bagi semua orang percaya, dan oleh sebab itu kata itu juga bahkan menjadi dasar mutlak bagi otoritasnya. Kita tidak dapat menguji Kitab Suci dengan apa pun yang kita kira lebih otoritatif daripada Kitab Suci. Firman Allah yang dituliskan, dalam kenyataannya, adalah cara untuk menguji roh-roh (1Kor. 14.37; 1Yoh. 4.1-3). Karena itu, tidak ada seorang ahli yang boleh menempatkan ajaran apa pun mengenai Roh Kudus bila melawan Kitab Suci.

d. Kalau begitu, apa dasar otoritas alkitab? Yaitu pada inspirasi Roh Kudus ataukah pada kesaksian Roh? Di sini terdapat ambiguitas (perihal mendua arti dari satu istilah) dari kata “otoritas.” Istilah ini dapat digunakan baik dalam pengertian yang subjektif ataupun objektif. Secara objektif, sebagai misal, suatu hukum sipil memiliki otoritas di atas saya, baik saya tahu tentang itu ataupun tidak. Namun secara subjektif, hukum tersebut tidak memerintah saya (dalam arti memberikan pengaruh terhadap tindakan saya untuk patuh), jika saya tidak mengetahuinya dan menerimanya dengan rela hati. Sama halnya, Kitab Suci memiliki otoritas objektif di atas kita oleh sebab inspirasi Roh Kudus. Kita mau mematuhinya atau tidak, Roh telah memberikan kesaksian kepada kita. Jika kita tidak taat, kita akan diperhadapkan kepada pengadilan Allah, kecuali bila Allah mengampuni kita melalui Kristus. Dalam pada itu, otoritas subjektif dari Kitab Suci, berasal dari kesaksian Roh, hati kita tidak dapat mematuhinya sampai Roh bersaksi tentangnya di dalam hati kita.

e. Oleh karena itu, kedaulatan dan kemerdekaan Allah di dalam kesaksian Roh terlihat, bukan di dalam kemampuan Allah untuk berkontradiksi atau memodifikasi atau menambah-nambahi Firman-Nya, tetapi di dalam kemampuannya untuk membawanya masuk ke dalam hati kita. Hati yang semula menolak Firman dan beku, dibuka-Nya untuk menerima Firman, sehingga apa pun yang Ia telah katakan, Ia pasti kerjakan. Tidak ada satu pun yang pernah gagal!

Wednesday, September 26, 2007

ROH KUDUS DAN KITAB SUCI 1


PENDAHULUAN

Roh Kudus dan Kitab Suci, seperti dua sisi mata uang. Sebagai Pribadi Ketiga Trinitas, Ia mengambil peran dalam merancang rencana kekal penciptaan dan penebusan, di mana Kitab Suci menjadi satu bagian dari rancangan tersebut (Ef. 1.3, “rohani” berarti mengacu kepada Roh Kudus). Roh Kudus berperan dalam penciptaan langit dan bumi. Bila tanpa Dia, maka Kitab Suci, yaitu Firman Allah kepada ciptaan-Nya, tak akan memiliki peran apa-apa (Kej. 1.2; Mzm. 33.6 [“napas” mengacu “roh” dalam bahasa Ibrani]; 104.30). kemudian, Ia pun sumber dari pewahyuan, yaitu Pribadi yang menyatakan kebenaran Allah keapada nabi-nabi-Nya (Yes. 61.1-4; Kis. 2). Lalu, Ia bertanggung jawab dalam inspirasi, sebagai Pribadi yang mensupervisi penulisan Firman Allah (1Kor. 2.9-10; 2Tim. 3.16 [“roh” secara tersirat dinyatakan dalam kata “diilhamkan” atau “diembuskan”]; 2Ptr. 1.21). Akhirnya, dengan kesaksian internal Roh Kudus, Ia memampukan “para pendengar” Firman Allah untuk menyimpan, menghayati dan menerapkannya (Rm. 8.14-17; 1Kor. 2.10-16; 1Tes. 1.5; 2.13; 1Yoh. 2.27; 5.9). Dalam kesemuanya ini, Roh Kudus meneguhkan Firman—merencanakannya, menciptakan media untuk mengomunikasikannya, menuliskannya, mencatatnya, menuntunnya kembali ke dalam hati manusia.

Bagaimana karya Roh Kudus di dalam pewahyuan, inspirasi dan kesaksian internal?

I. KARYA ROH KUDUS DALAM PEWAHYUAN DAN INSPIRASI

Kitab Suci adalah Firman Allah, yang dicatat dengan bebas dari kesalahan oleh Roh Kudus dalam manuskrip kitab-kitab yang asali. Maka, Roh Kudus adalah Penulis dari Kitab Suci. Kendati demikian, Kitab Suci juga merupakan tulisan dari sejumlah besar orang, dan masalah yang mengemuka di depan kita adalah kaitan antara Penulis Ilahi dengan penulis manusia.

Dalam banyak cara, Kitab Suci nampaknya tidak ditulis oleh satu Penulis Ilahi. Di dalamnya terdapat beragam gaya bahasa dan sastra, yang mencerminkan kepribadian, karunia, pendidikan dan lingkungan yang beragam dari masing-masing penulisnya. Para penulis saling tukar-menukar bahan dan mengumpulkan data serta informasi historis yang dikenal oleh para banyak penulis pada zaman itu. Sesekali, anara satu penulis dengan penulis yang lain nampak terdapat kontradiksi, bahkan kesalahpahaman, misalnya ketika para penulis Perjanjian Baru mengutip Perjanjian Lama. Banyak kalangan Injili yang mencoba mendamaikan yang nampak sebagai kontradiksi-kontradiksi tersebut. Dalam pada itu, yang jauh lebih penting adalah menuntaskan pertanyaan ini: Bagaimanakah Roh mengerjakan semuanya ini? Peran apa yang Ia mainkan? Apa bedanya bila hanya penulis manusia saja yang berperan, tanpa Roh? Tidakkah kita mengharapkan, dalam satu buku yang diinspiraksikan oleh Allah, suatu keseragaman yang lebih besar, sesuatu yang lebih tersusun rapi, sehingga dapat dengan mudah dibedakan dari sekadar literatur manusia?

Ketika pertanyaan-pertanyaan ini muncul, haruslah muncul pertanyaan baru, “Lalu alternatifnya apa?” Kita dapat membayangkan satu kitab yang lebih “seragam”—seperti Al Qur’an. Tetapi apakah dengan begitu Kitab Suci menjadi lebih baik? Kitab Suci ditulis supaya kita percaya kepada Kristus dan menjadi sempurna di dalam dia (Yoh. 20.31; 2Tim. 3.17). Apakah satu kitab suci yang seragam akan membantu kita untuk mencapainya?

Masalah di atas serius, dan tidak dapat dijawab dengan mudah. Kita membutuhkan suatu ilham khusus untuk masuk ke dalam pikiran Allah, ketimbang apa yang Ia sudah nyata perbuat bagi kita. Apakah kita mengetahui lebih dari apa yang Ia lakukan, sama seperti pertanyaan mengapa Ia mau menyelamatkan dan menguduskan Anda? Lebih baik bila kita memasrahkan sepenuhnya masalah ini ke tangan Allah saja. Dalam pada itu, dari apa yang Ia telah nyatakan mengenai tujuan pewahyuan, sejumlah klarifikasi dapat kita kemukakan.

A. KOMUNIKASI

Maksud Allah memberikan Firman-Nya adalah komunikasi. Jelasnya, seni komunikasi adalah berbicara dalam bahasa pendengar. Sebab itu, ketika Allah berkomunikasi, Ia berbicara sungguh-sungguh dalam bahasa manusia—yang akrab dan yang dimengerti oleh manusia. Dalam inkarnasi (Firman menjadi manusia), Allah menjadi manusia sejati, mengalami semua kesengsaraan dan pencobaan yang dialami manusia. Yesus tidak hidup di atas dunia ini dengan memakai halo (lingkaran yang dilukis di kepala orang-orang kudus), dikelilingi oleh sejumlah besar bala malaikat. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Ia adalah Allah yang sejati, yang menjadi manusia. Allah melakukan ini dengan tujuan bersimpati (turut merasakan) pengalaman hidup manusia. Yesus adalah Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita (Ibr. 2.10-18; 4.14-16). Sama halnya, Firman Allah yang tertulis adalah kata-kata manusia yang asli, yaitu tulisan yang menyaring semua nuansa kehidupan manusia serta pola komunikasi manusia.

Malahan berkali-kali terbukti, bahwa pola berbahasa “seragam” menjadi batu sandungan dalam komunikasi. Suatu konstansi (ke-ajeg-an) yang terlalu ketat akan menjadi monoton. Suatu peristiwa sejarah yang dicatat terlalu detail justru mengaburkan poin penuturan sejarah tersebut. Misalnya ketika Anda ditanya kapan dilahirkan, Anda menjawab sampai jam, menit dan detik, orang lain bukannya memuji Anda tetapi menganggap Anda aneh. Cobalah berpikir bila Allah berbicara kepada orang-orang Ibrani dengan bahasa sains abad XX, orang akan terbengong-bengong, karena tidak paham sama sekali. Jika setiap hal yang nampak bertentangan dijelaskan secara terperinci, dampak religius dan emosional dari kata-kata akan kabur sama sekali. Menjemukan!

Pertimbangan-pertimbangan seperti ini kembali meyakinkan kita bahwa cara Allah berkomunikasi adalah yang terbaik! Sisi kemanusiaan dari Alkitab tidak perlu menjadi hal yang memuat kita malu, dan kita anggap sebagai kelemahan. Sebaliknya, sisi kemanusiaan Alkitab seharusnya menjadi kekuatannya. Allah sukses untuk berbicara dalam bahasa kita, dan mengomunikasikan Firman-Nya secara gamblang kepada kita.

B. KEBERAGAMAN

Kebenaran Allah itu multi-faset, memiliki beragam sisi. Di dalamnya termaktub mengenai kekekalan masa lampau, waktu dan kekekalan masa depan. Kebenaran itu pun mengetengahkan beragam bagian dari ciptaan Allah—surga, bumi, bintang dan lautan. Kebenaran itu berbicara kepada laki-laki, perempuan dan anak-anak dari berbagai zaman. Kebenaran itu berbicara mengenai keselamatan sebagai perubahan yang menyeluruh di dalam hati kita, yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan.

Untuk menjelaskan semua hal di atas, pada satu masa diperlukan sentuhan artistik, pada masa lain ketajaman konseptual, masa lain lagi kejelasan analitis. Kita membutuhkan kecakapan Daud dalam bersyair, hikmat Salomo, semangat Amos bagi keadilan sosial, argumentasi brilian Paulus, ketajaman intuitif Yohanes, kesarjanaan historis Lukas. Suatu “teks yang seragam” akan jauh lebih miskin ketimbang Alkitab yang kita miliki, sebab kitab itu tidak akan menampilkan sejelas dan segamblang kekayaan yang takterselami dari keselamatan kita di dalam Yesus Kristus.

C. MISTERI

Lalu, bagaimana Roh bekerja ketika Ia mengilhamkan Kitab Suci? Jawabannya adalah, secara misterius! Dengan rahasia! Inilah kerja Roh, karena Ia adalah Tuhan yang merdeka ketika berkarya (lih. Yoh. 3.8). Secara paradoksal, Ia nyata ilahi ketika Ia berbicara secara insani. Sebab dengan demikian Ia akan menunjukkan akurasi (ketepatan) dari komunikasi yang Ia buat. Kadang-kadang Ia nampaknya “mendikte” penulis kitab, kendati kita menolak teori pendiktean! (lih. Yes. 6.9 dab; Why. 2, 3). Di waktu lain, Ia berkarya melalui penalaran manusia (termasuk memakai riset historis, Luk. 1.1-4). Sesekali Ia memberi seorang penulis kita pengetahuan supranatural tentang informasi historis yang tidak dimengerti secara umum, tetapi hal ini tidak selalu terjadi. Namun dalam setiap kasus, dengan perantaraan penulis manusia, Roh menciptakan satu teks yang merupakan Firman Allah. Dan itu adalah cara terbaik Allah berkomunikasi!

Tuesday, September 25, 2007

Belenggu Hidup: Pengalaman Indah di Masa Lampau


Belenggu Hidup: Pengalaman Indah di Masa Lampau

Ingat juga belenggu lain, yaitu pengalaman-pengalaman yang menyenangkan! Memang, segala hal yang menyenangkan, akan membuat Anda segar dan memiliki kekuatan. Akan tetapi, ada bahayanya. Anda akan mengidap nostalgia sehingga membuat Anda berhenti untuk hidup. Anda melupakan masa sekarang. Kenyataan masa kini terlupakan, digantikan memori-memori manis masa lalu.

Misalnya Anda mengenang masa jalan-jalan di pinggir pantai Bali menikmati matahari tenggelam, berdua dengan sahabat atau pacar Anda. Peristiwa itu sangat mengesankan! Namun suatu kali lain, Anda kembali berjalan bersama dia. Nah, jika kenangan masa lampau Anda bawa dalam sebuah kantong perak, maka pengalaman masa kini tidak lebih mengesankan daripada yang lalu. Secara diam-diam, Anda akan membuka kantong perak tersebut, mengamati isinya dan Anda akan mengatakan, “Yang sekarang nggak lebih bagus dari yang lalu!”

Apakah Anda menyadari apa yang sedang terjadi? Pengalaman masa lampau telah menghancurkan pengalaman masa kini. Paling tidak, yang lalu menutup keindahan yang sekarang. Pengalaman masa lalu telah membelenggu Anda!

Bagaimana membebaskan diri dari masa lampau? Ada latihan kecil yang juga disarankan oleh Anthony de Mello. Tapi bersiap-siaplah, latihan ini menyakitkan! Kendati demikian, latihan ini membantu Anda melahirkan kehidupan baru. Tapi hendaklah diingat, melahirkan adalah pross yang sangat menyakitkan! Tapi yakinlah keberhasilan dari latihan ini.

Pikirkanlah beberapa orang yang pernah Anda cintai di masa lampau dan siapa saja yang sudah tidak bersama Anda lagi karena perpisahan atau kematian. Katakanlah kepada setiap orang tersebut, “Aku sangat beruntung bahwa kau pernah hadir dalam hidupku! Betapa bersyukurnya aku kepadamu! Aku akan selalu mencintaimu! Sekarang, selamat tinggal! Aku harus pergi. Kalau aku terlalu mengikatkan diriku padamu, aku tidak akan belajr untuk mencintai masa sekarang. Aku jadi tidak akan belajar mencintai orang yang ada bersamaku. Selamat tinggal!” Jelas, cara ini menyakitkan!

Ada latihan lain yang lebih menyakitkan. Pikirkanlah beberapa harta milik Anda di masa lalu, sesuatu yang Anda cintai, Anda jaga, Anda bangga-banggakan: masa muda, kekuatan, kecantikan. Tandailah setiap hal tersebut sebagai milik Anda. Kelihatannya memang kekanak-kanakan. Tetapi, jangan takut menjadi seperti anak kecil. Mungkin anda akan menemukan sebuah kerajaan!

Berbicaralah kepada semua hal itu, dan katakan, “Betapa menyenangkan telah memilikimu! Betapa bersyukurnya aku telah mempunyai kalian dalam hidupku! Tetapi, sekarang selamat tinggal! Aku harus pergi!”

Banyak orangtua tidak pernah hidup dan tidak pernah menguji kemanisan, kedalaman, dan kekayaan masa tua mereka karena mereka semua tidak pernah meninggalkan masa muda, kekuatan dan vitalitas mereka. Mereka masih berharap sesuatu yang paling baik masih mungkin untuk tinggal bersama mereka. Kebanyakan orang telah kehilangan masa-masa terindah dari hidup mereka dan masa tua mereka karena mereka terlalu terpaku pada masa lampau dan terbelenggu oleh pengalaman-pengalaman indah di masa lampau.

Ingatlah ini. Seekor burung yang terluka tidak dapat terbang. Demikian pula, seekor burung yang tersangkut pada sebuah dahan pohon tidak mungkin terbang. Lepaskan diri dari masa lampau! Ada sebuah peribahasa Hindu, “Air dimurnikan dengan mengalir, manusia dimurnikan dengan tetap bergerak maju!”

SELAMAT BERLATIH!

Belenggu Hidup: Pengalaman Suram Masa Lampau


Belenggu Hidup: Pengalaman Suram Masa Lampau

Dalam kehidupan, ada berbagai hal yang dapat membelenggu kita. Satu hal yang sangat penting untuk kita sadari adalah pengalaman yang menyakitkan pada masa lalu. Pengalaman yang menimbulkan efek trauma yang mendalam.

Seseorang yang ditinggal oleh ibunya pada usia pertumbuhan, katakanlah usia 6-8 tahun, akan mengalami trauma yang sangat dalam. Banyak di antara mereka di kemudian hari enggan untuk berhubungan dengan orang lain. Atau seorang perempuan korban pelecehan seksual ketika masih kecil, dapat dipastikan menjadi takut dengan laki-laki. Seorang karyawan yang dipecat sepihak, sepanjang hidupnya akan menanggung kepahitan yang tiada terkira!

Belenggu hidup harus dihancurkan. Tetapi bagaimana? Bagaimana menjadi bebas dari belenggu masa lampau? Spiritualis Katolik dari India, Anthony de Mello memberikan kita latihan berikut. Namun ia mengingatkan, kunci keberhasilan dari latihan ini adalah iman dan rasa syukur.

Seandainya Anda menyadari bahwa Anda terpengaruh oleh salah satu dari pengalaman-pengalaman buruk di masa lampau, kembalilah pada pengalaman itu dalam kedamaian, ketenangan dan keheningan.

Jika Anda tidak berhasil, berbicaralah kepada Tuhan dan tetaplah tenang. Bayangkan Anda berada di sisi Tuhan, dan katakan kepada-Nya, “Tuhan, ini memang berat tapi aku percaya dan yakin bahwa Kau membiarkan ini terjadi demi kebaikanku. Mungkin aku tidak melihat di mana unsur baiknya, tetapi aku tahu kebaikan itu ada untuk aku.”

Lakukanlah ini dengan lembut. Jangan kasar. Jangan paksakan diri Anda. Kalau Anda merasa terganggu, tinggalkan, dan lanjutkan pada hari lain. Kendati demikian, penting untuk diingat, sekali latihan ini dimulai, lakukanlah sampai tuntas. Sampai selesai. Jangan berhenti di tengah jalan.

Mungkin Anda akan marah ketika mencoba mengontrol hati Anda sendiri. Tidak apa-apa. Marahlah. Meski demikian, Anda tetaplah untuk berdoa. Tuhan tidak akan marah. Ia bahkan senang, sebab Anda berani jujur di hadapan-Nya. Lupakan dulu latihan itu, dan kemudian ulangilah di hari lain.

Latihan ini memang butuh waktu. Pembebasan tidak begitu cepat terjadi. Ketika Anda merasakan sesuatu di dalam hati Anda, dan mengatakan kepada Tuhan bahwa Anda berani percaya kepada-Nya tentang baiknya rencana Tuhan bagi hidup Anda melalui peristiwa buruk di masa lampau, lanjutkan dengan langkah berikutnya: bersyukurlah kepada Tuhan!

Pada saat Anda dapat bersyukur kepada Tuhan atas kejadian yang menimpa, dan semua itu adalah untuk kebaikan Anda, lihatlah . . . Anda akan mengalami pembebasan. Belenggu itu akan runtuh.

SELAMAT BERLATIH!

Masa Depan Pengharapan?


MASA DEPAN PENGHARAPAN? CATATAN SIDANG MPL II

***

Suasana indah, tempat yang indah. Nampaknya sekarang menjadi pilihan panitia-panitia persidangan sinode. Diawali oleh Sidang Raya 2004 yang diadakan di Hotel berbintang lima, dilanjutkan dengan MPL I di Wisma Kinasih, Caringin Bogor, dan yang terakhir MPL ke II di Dhyana Pura Resort, 28-31 Agustus 2007. Memang, tempat yang dipakai bukanlah yang paling mewah. Tetapi bolehlah dikatakan lux juga untuk persidangan suatu sinode, khususnya yang berdenominasi Mennonite. Hmm, kaum Mennonite pun perlu rekreasi sebagai bagian dari olah spiritualitas. Bolehlah kita pun menanti, di mana sidang MPL III mendatang akan dilaksanakan.

Kendati demikian, patutlah apresiasi serta penghargaan ditujukan bagi panitia pelaksana yang telah bekerja sedemikian hebat demi terlaksananya acara besar ini. GKMI Ekklesia melakukan breakthrough, terobosan. Gereja yang terbilang baru di kalangan GKMI, masih sangat muda, namun berani menawarkan diri menjadi panitia sebuah event besar yang akan dihadiri oleh “semua” GKMI.

Suasana rekreatif juga diciptakan dalam persidangan ini. Tiap hari dibuka dengan suguhan fragmen Keluarga Damai dari tim Akademi Muria, yang sangat menghibur di tengah kepenatan rapat yang alot dan penuh ketegangan. mengundang diskusi hangat di kalangan pendeta dan majelis jemaat. Tema-tema yang diangkat memang “relevan dan signifikan,” menyentuh problematika keluarga modern.

Dalam pada itu, bila sidang MPL ini dapat disebut sebagai sebuah “teks,” maka apa yang berulang-ulang muncul dalam teks itu adalah yang mendapat penekanan. Keluarga Damai muncul tiap hari. Berarti Keluarga Damai ini mendapat penekanan. Hanya saja, interpretasi dari hal ini bisa dua: (1) topik-topik hangat dalam keluarga harus diperhatikan oleh tiap-tiap GKMI, ataukah (2) lembaga Keluarga Damai dan Akademi Muria ada di sinode, dan siap membantu GKMI-GKMI. Tentu bergantung dari tanggapan masing-masing pembaca.

Kejutan besar yaitu di akhir acara, dalam kebaktian penutup ditayangkan jepretan-jepretan klip candid camera, tentang tingkah-tingkah lucu para peserta dari ngibing bersama sebelum sidang seksi, terlelap dalam sidang pleno, sampai ngupil. Sontak meledaklah gelak tawa peserta yang sudah mencapai titik jenuh tertinggi.

***

Di tengah semaraknya acara yang terselenggara di lingkungan ber-hot spot, bukan oleh sebab tersedia fasilitas internet, tapi pinggir pantai Bali yang indah, terbersit satu pertanyaan yang mengganggu, “Di mana GKMI Batam?” Mengapa mereka tidak datang? Pastilah beragam tafsir pun muncul. Apakah GKMI Batam tidak menyambut keceriaan bersama GKMI se-Indonesia? Lalu bagaimana tindakan selanjutnya kepada saudara kita ini?

Bisa jadi inilah problem yang dihadapi oleh sinode kita. Kita menghadapi krisis makna kebersamaan. Gereja yang besar merasa tak membutuhkan gereja yang kecil. Bahkan bisa jadi, gereja yang kuat tak lagi membutuhkan sinode. Demikianlah masalah yang mengemuka dalam diskusi panas di Sidang Seksi A, yang membahas masalah natur PGMW. Ada sebagaian PGMW yang menghendaki kerekatan dan kebersamaan yang lebih, sampai-sampai membuat persidangan PGMW, sementara itu ada yang enggan untuk menerima usulan ini, bahkan ada pula yang menolak.

Mencermati lebih lanjut, kita memang perlu untuk kesekian kalinya memaknai apa itu “konggregasional-sinodal.” Toh kata ini pun sudah multi tafsir. Dari asal kata, tak dapat dipungkiri kata ini merupakan sintesis (invention khas GKMI?) dalam sistem bergereja, konggregasional yang biasanya dianut kalangan Baptis, dan sinodal yang biasanya dipakai oleh gereja Presbiterial. Baiklah kita tak perlu berpanjang konsep, tetapi langsung saja kepada kenyataan di lapangan.

Sebagian gereja memahami sistem tersebut sebagai hubungan langsung antara konggregasi dan sinode, tanpa melalui perantara PGMW. Itulah sebabnya, golongan ini menyatakan adalah janggal semua tugas sinode dilimpahkan kepada PGMW, misalnya peremptoir. Tetapi di sisi lain, kebutuhan dalam hal kebersamaan dan kerekatan pun kian tinggi dari sebagian besar GKMI disebabkan oleh jarak yang jauh dari kantor sinode. Tanpa PGMW yang bertindak seperti “kepanjangan tangan” sinode, mereka akan sangat sulit mengurus banyak hal dalam gereja.

Bila kenyataannya demikian dalam kita bersinode, lalu apa yang bisa diperbuat? Bisa jadi, pada suatu waktu kelak, gereja-gereja merasa tidak membutuhkan sinode lagi. Harapan dari BPH adalah bahwa gereja-gereja mengingat komitmennya kembali, untuk bersatu dan bersinergi. Mungkin itulah pokok “pengharapan” yang diangkat sebagai tema. Tetapi masalah akan terus muncul, bila pada kenyataannya gereja-gereja tidak mau, apa yang dapat diperbuat oleh sinode? Seruan untuk bersatu dan mengingat komitmen mungkin akan menjadi “suara di padang gurun.” Kapankah masalah ini akan tuntas dan menemukan titik solusinya?

***

Ada pula yang menarik. Dalam laporan Panitia Pesan, halaman pertama ditulis begini, “Dalam rangka menegaskan jati diri kita sebagai gereja Mennonit, hendaknya GKMI tidak terjebak dalam wacana dan program yang menekankan ajaran (orthodoxus [sic.]) dan ide-ide abstrak yang kurang begitu dipahami oleh anggota jemaat biasa . . . kita tidak hanya membutuhkan penggalian pemaparan sejarah, teologi, misiologi dan eklesiologi saja, tapi etika. Sebagai gereja . . . Mennonit, hendaknya kita memperhatikan kehidupan yang benar (orthovita [ataukah orthozoa?]).

Kendati demikian, menurut banyak dari antara peserta sidang seksi A, yang menjadi pokok perbincangan adalah ide-ide teologis yang hanya dipahami oleh para teolog. Hal ini dapat dimengerti, karena seksi A mendapat mandat untuk menelurkan konsep-konsep bagi arah perkembangan GKMI. Perlu pula mendapat highlight, dalam rekomendasi sidang seksi A mengenai draft Tata Dasar, khususnya di pasal 3, muncul satu klausula baru yang menarik, “keutuhan ciptaan,” sehingga klausula secara lengkapnya, “Tujuan GKMI adalah melaksanakan misi gereja sebagai komunitas kerajaan Allah yang memberitakan dan mewujudkan Injil Keselamatan dengan berlandaskan Kasih, Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.”

Pertama, konsep “keutuhan ciptaan” adalah konsep yang abstrak. Kait-mengaitnya adalah dengan doktrin penciptaan, dan visio Dei saat menciptakan langit dan bumi. Membicarakan masalah keutuhan ciptaan, dengan demikian, membutuhkan kajian teologis yang mendalam.

Kedua, sepengetahuan saya, institusi-institusi Mennonite tidak menaruh cukup perhatian untuk mengkaji teologi penciptaan dan alam. Pernah diadakan simposium mengenai Anabaptisme dan Lingkungan Hidup, dan diterbitkan dalam sebuah buku akademis Creation and the Environment: An Anabaptist Perspective on a Sustainable World, disunting oleh Calvin Redekop. Thomas Finger, salah seorang dogmatikus Mennonite ternama saat ini mengatakan, “Almost no theological reflection on the doctrine most closely associated with nature, that of creation, has arisen from [Anabaptist-Mennonite] groups” (hal. 154). Hampir-hampir tidak ada refleksi teologis mengenai doktrin yang berkaitan dengan alam dan ciptaan, dari kelompok-kelompok Anabaptis-Mennonit.

Jadi, bila pun ada sejumlah pemikir Mennonit yang menelurkan pemikiran mengenai “keutuhan ciptaan,” pertanyaannya adalah apakah pemikiran itu mewakili pemikiran Mennonit, dan apakah bisa kita adopsi sebagai bagian dari konfesi GKMI.

Wacana keutuhan ciptaan justru menjadi salah satu bahasan penting dalam Dewan Gereja Dunia (atau WCC) maupun Konferensi Gereja-gereja Asia (atau CCA). Denominasi yang banyak membahas mengenai penciptaan adalah Calvinis (lih. tulisan-tulisan mendiang Prof. Colin Gunton yang orientasinya pada teologi penciptaan). Yohanes Calvin menyebut dunia ini sebagai “panggung pentas kemuliaan Allah” (theatrum gloria Dei) dan tafsiran Mazmurnya mengilhami banyak pemikir selanjutnya. Sebagai pembanding, kaum Lutheran selalu mengaitkan doktrin pada “pembenaran oleh iman,” Katolik pada “Inkarnasi Yesus Kristus,” gereja Ortodoks pada “Eskatologi,” Calvinis pada “Penciptaan.” Bagaimana dengan kaum Mennonit? Mennonit memberi tekanan penting kepada kemuridan yang radikal, yaitu bagaimana berlaku benar sama seperti Yesus Kristus, Sang Guru. Maka, etika menjadi poin fokalnya.

Ketiga, tradisi sub-kultural GKMI adalah tradisi Pietisme, yang mengutamakan hidup saleh, perubahan hidup dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Refleksi teologis menjadi prioritas kedua, atau ketiga, sejauh menolong untuk perubahan hidup dan mengalami pengalaman dengan Tuhan. Konsep keutuhan ciptaan tentu saja menjadi konsep yang abstrak bagi kaum Pietis.

***

Yang jelas, pengharapan itu adalah jalan yang panjang. Kata sebuah kidung, “Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh.” Tetapi kiranya kita tetap meyakini, “’Ku dibimbing tangan Tuhan, ke negeri yang tak ku ta’u.” Dan doa kita adalah, “Bapa, ajar aku ikut, apa juga maksudmu; tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh.”

Marilah kita berdoa dan berjuang, agar seperti semangat rasul Paulus untuk terus terang dan tanpa rintangan apa-apa dalam memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus (Kis. 28.31). Pengharapan kita yang kita mohonkan agar Tuhan pulihkan yaitu agar perjalanan gereja kita tidak seperti akhir kisah percakapan antara Rasul Paulus dan para Yahudi di Roma, “Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka” (Kis. 28.27).

TERPUJILAH ALLAH!

Monday, September 24, 2007

Memimpin Acara





MEMIMPIN ACARA

I. ANTARA M. C. DAN LITURGOS

1. M. C. merupakan kependekan dari master of ceremony. Bukan gelar akademis seperti Master of Theology, Master of Science, Master of Management, sehingga tidak pernah dipakai sebagai embel-embel di belakang nama seseorang. M. C. adalah pemimpin suatu acara. Kalau istilah saya, M. C. itu kependekan dari “modalnya cuap-cuap.”

2. M. C. lebih luas pengertiannya daripada liturgos. M. C. memimpin acara-acara yang sifatnya lebih umum, entertainment, dan horisontal, mis. pesta pernikahan, ulang tahun, perayaan-perayaan lain. Untuk acara-acara yang ini, M. C. lebih bebas berimprovisasi. Ia lebih bebas, boleh berjalan-jalan, meminta orang untuk maju, berinteraksi dengan audiens (pendengar), tanya jawab, memberi kuis, dsb.

3. Sedangkan liturgos adalah pemimpin liturgi. Atau, pemimpin ibadah umat. Ya bolehlah dikatakan ia menjadi M. C.-nya ibadah umat. Tetapi, oleh karena ia menjadi pemimpin ibadah, jelas ia tidak bisa sebebas M. C. dalam acara-acara umum. Materi bicara harus ditata, tepat pada tempatnya, pada bagian liturgi yang spesifik. Ia tidak dapat berjalan ke sana ke mari sesuka hati, karena ibadah jemaat bukan entertainment. Ibadah dan liturgi jemaat bersifat vertikal, umat berjumpa dengan Allah, merespons karya Allah dan menaikkan syukur. Liturgos berkewajiban menolong jemaat untuk memiliki pengalaman perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.

4. Anda harus cermat memperhatikan, ketika memimpin suatu acara, Anda sedang menjadi M. C. atau liturgos. Anda sedang memimpin acara umum atau suatu ibadah.

II. KARAKTERISTIK PEMIMPIN ACARA

1. Memiliki Hati yang Berintegritas (Integrity of Heart)

a. Seorang pemimpin acara, khususnya liturgos, adalah seorang pemimpin yang dekat dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Allah secara khusus memilih satu suku dari 12 suku di Israel untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya. Bukan karena mereka lebih baik dari yang lain, tetapi Tuhan sendiri yang menggodok mereka untuk menjadi imam-imam bagi umat Allah yang lain. Bila Anda menjadi pemimpin ibadah, sadarlah bahwa Anda berdiri di antara Allah dan umat-Nya, sebagai imam. Imam adalah seseorang yang ditetapkan Allah untuk menjadi juru bicara umat Allah.

b. Seorang pemimpin acara adalah orang yang kesukaannya adalah firman Tuhan. Bila firman Tuhan menjadi kehidupan seorang pemimpin acara, maka yang keluar dari mulut dan bibirnya adalah kata-kata firman Tuhan yang digeluti dan dihidupinya. Kata-kata yang bukan berasal dari hikmat manusia, tetapi dari firman Allah itulah yang sanggup menguatkan hati jemaat yang lemah, menegakkan kembali pengharapan yang sudah mulai memudar, menghibur mereka yang sedang berdukacita. Karena itu, seorang pemimpin acara yang baik rajin bersaat teduh dengan firman Tuhan.

c. Seorang pemimpin acara adalah orang yang hidup dalam doa. Dia adalah man/woman of prayer. Doa berarti bergantung penuh kepada kuasa Allah. Seorang pemimpin acara yang penuh doa, dia tidak sedang membawa keakuan, kesombongan, kehebatan dan kualitas pribadinya. Otoritas yang ia dapatkan adalah dari Allah semata-mata, dan ia menggantungkan dirinya kepada kekuatan Allah. Sebelum Anda memimpin acara atau ibadah, bila Anda menghendaki acara itu menjadi berkat, pastikan Anda adalah seorang pendoa yang tekun!

d. Seorang pemimpin acara adalah orang yang hidup dalam kekudusan. Reputasi hidupnya di masyarakat dan di antara teman beres. Orang lain melihat keteladanan hidupnya. Orang melihat perubahan-perubahan akal budi dan gaya hidup. Ia tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12.2). Ia menjadi patron (contoh) di antara teman-teman yang lain. Orang yang seperti ini, bila memimpin suatu acara, akan memiliki kuasa yang menular kepada yang lain (contagious), dan orang lain akan diantar ke dalam ibadah yang sesungguhnya.

e. Seorang pemimpin acara adalah orang yang memiliki jiwa dan semangat yang berkobar-kobar untuk melayani Allah. Ia memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan (Rm. 12.11). Ia adalah seseorang yang tidak mudah patah semangat. Pengalaman memimpin acara pertama kali yang gagal, tidak membuat dia jera atau kapok untuk melatih diri. Ia mengerti bahwa pelayanan yang ditujukan bagi nama Tuhan memerlukan persiapan yang matang, dan oleh sebab itu dia akan mengoptimalkan karunia yang Tuhan berikan kepadanya.

2. Memiliki Ketrampilan Diri (Skillfulness of Hands)

a. Seorang pemimpin acara adalah seseorang yang giat berlatih. Tidak ada seorang pun di dunia yang dilahirkan untuk menjadi M. C. atau pemimpin acara. Semua pemimpin acara handal di dunia butuh latihan. Trials and errors, coba-coba dan mengalami kesalahan demi kesalahan. Karunia Allah itu potensial di dalam diri kita, dan masalahnya adalah apakah kita akan menggali potensi itu, melatih serta mengembangkannya sampai kita menjadi seperti yang kita cita-citakan. Pemimpin yang baik, bukanlah pemimpi, tetapi tekun berlatih!

b. Seorang pemimpin acara adalah seseorang yang peka dengan pendengar. Ia harus melakukan analisis terhadap pendengarnya.
· Siapa yang ia sedang pimpin? Jemaat, orang yang tidak percaya, petobat baru?
· Usia berapa? Anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, atau para senior?
· Dari kalangan apa? Terpelajar, menengah ke atas, ningrat, kaum tidak terpelajar, orang biasa?
· Latar belakang mereka? Dari gereja yang tenang atau gereja yang meriah?

c. Seorang pemimpin acara adalah seseorang yang siap dengan materi yang akan dibawakan. Ia harus mempersiapkan kata-kata yang akan diucapkan, melatihnya dengan cermat, dan mampu membayangkan respons pendengar.
· Berikan komentar yang efisien, singkat dan tepat sasaran. Jangan bertele-tele, apalagi bersaksi. Upayakan tak lebih dari 3 kalimat pendek, kira-kira 30 detik, maksimal 1 menit.
· Latihlah untuk berbicara dengan jelas. Vokal (A, E, I, O, U) yang dapat ditangkap oleh hadirin (ini problem remaja).
· Upayakan untuk berimajinasi, waktu Anda latihan dengan kata-kata itu, para hadirin sudah di depan Anda dan siap Anda pimpin ke dalam acara tersebut. Kira-kira bagaimana respons mereka dengan kata-kata Anda?
· Latihlah diri untuk mencatat dalam secarik kertas apa saja kalimat yang akan Anda ucapakan (boleh diketik). Ya, semua kalimat. Hafalkan! Sehingga ketika berada di depan hadirin, Anda tidak lagi perlu menyontek.
· Upayakan untuk memperkecil kemungkinan salah ucap (slip of tongue), supaya hadirin tidak mendapat kesan bahwa Anda tidak siap dengan penampilan Anda.
· Lima detik jeda sangat menentukan kredibilitas Anda sebagai pemimpin acara. Jangan terlalu banyak jeda yang lama. Kehampaan dalam suatu acara akan menurunkan kualitas acara.

d. Seorang pemimpin acara adalah seseorang yang menguasai medan. Seperti pasukan perang, kita akan lebih siap menghadapi peperangan di medan yang sudah kita kenal. Itu berarti seorang pemimpin acara perlu melakukan penguasaan medan. Sebelum acara dimulai, ia harus melakukan cek dan ricek panggung, dekorasi, sound-system dan tata panggung.
· Ia harus dapat membayangkan, ia akan berdiri di mana, bagaimana ia berdiri, kira-kira semua yang hadir dapat melihat dia atau tidak, apakah ada dekorasi yang justru menghalangi pandangan para hadirin (mis. karangan bunga). Kalau ada, ia harus berinisiatif untuk mengubah tata panggung, atau tempat di mana ia akan berdiri.
· Multimedia yang akan dipakai. OHP atau LCD harus dipastikan berfungsi dengan baik dan tidak mengganggu acara.
· Adakah presentasi lain? Di mana tempatnya yang tepat dalam susunan mata acara?

e. Seorang pemimpin acara adalah seseorang yang menguasai komunikasi non-verbal. Komunikasi antarmanusia sesungguhnya tidak hanya terjadi melalui kata-kata, tetapi juga melalui bahasa gerak tubuh. Justru gerak tubuh ini mendominasi sebagian besar komunikasi dalam sebuah acara. Sebagai pemimpin acara, Anda berdiri di tempat yang terlihat. Semua mata memandang ke Anda, dan mengamat-amati gerak tubuh Anda. Hadirin akan tahu apakah Anda sedang grogi, demam panggung, cemas atau tidak siap. Sebaliknya mereka pun tahu bila Anda telah siap untuk memimpin acara tersebut. Dan mereka mengharapkan Anda siap memimpin!
· Latihlah berdiri tegak, dengan dada terbuka dan kepala langsung menghadap kepada hadirin.
· Sapalah mereka dengan kontak mata. Let your eyes speak!
· Latihlah tangan untuk bergerak secara natural dan mendukung kata-kata Anda. Jangan dibuat-buat atau demonstratif (kata anak muda norak).

III. KALIMAT-KALIMAT YANG HARUS DIHINDARI

1. “Maaf, terjadi kesalahan teknis.”
· Teknik tidak pernah salah, yang salah adalah manusia yang pegang alat teknologi itu.

2. “Kok pada nggak semangat, ya? Belum mandi? Belum makan?”
· Salah siapa suasana jadi nggak semangat? Kok yang disalahkan hadirinnya? Cari solusi-solusi kreatif untuk membuat hadirin bersemangat.

3. “Yang di sini semangat, yang di situ kok tidak, kenapa ya?”
· Apa tahu kalau memang yang sedang tidak bersemangat itu sedang memiliki pergumulan hebat dalam hidup? Jadi, jangan sampai menghakimi, dong!

4. “Hari ini kita mau lupakan semua beban kita, mari kita tanggalkan dan kita bersukacita memuji Tuhan saja. Ayo menarilah, melompatlah, jangan ragu-ragu!”
· Emangnya elu nanggung masalah gue? Saya datang ke sini mau minta tolong sama Tuhan, makanya beban hidup saya bawa.

5. “Haleluya Saudara! Tuhan itu baik, buktinya Tuhan mengumpulkan kita di sini.”
· Lha andaikata waktu mau berangkat ke gereja tadi tabrakan, sehingga nggak bisa kumpul di sini, kan Tuhan jadinya nggak baik, to?

6. “Sambil menunggu Saudara-saudara kita yang lain, mari kita bersama-sama menaikkan pujian.”
· Lho, memuji Tuhan kok buat sambilan nunggu yang lain? Kan berarti orang-orang yang ditunggu itu lebih penting kedudukannya daripada memuji Tuhan.

IV. LATIHAN-LATIHAN

1. Cobalah merancang satu bentuk acara kebaktian remaja:
· Pembukaan sampai doa pembukaan.
· Mempersiapkan pemberitaan firman Tuhan.
· Memberikan persembahan.
· Penutup ibadah.

2. Tiap mata acara di atas terdapat unsur kata-kata, nyanyian dan doa.

3. Masing-masing kelompok melakukan presentasi, dan kelompok lain memberikan evaluasi dan masukan.

SELAMAT BERLATIH!

Thursday, September 20, 2007

Musik Ibadah yang Allah Perkenan


MUSIK IBADAH YANG ALLAH PERKENAN

1. Dari sekian “peperangan” yang terjadi seputar ibadah, peperangan mengenai musik adalah yang paling seru. Bahkan emosional! Perubahan dalam gaya musik telah memecahbelah, membingungkan, dan membuat marah para penyembah. Haruskah kita menyanyikan himne-himne tua dan mendengarkan pujian paduan suara? Haruskah musik bercorak klasik, tradisional, kedaerahan, rock, kontemporer, atau apa? Haruskah kita memakai organ dan piano, atau gitar dan drum? Apakah musik itu untuk pujian semata-mata, tidak boleh berfungsi lain? Di banyak kebaktian alokasi waktu untuk nyanyian ditambah. Beberapa ibadah dimulai dengan praise and worship yang lama, seolah-olah bernyanyi itulah ibadah dan selebihnya dalam ibadah urusan lain.

2. Bagaimana kita menyikapi hal ini? Perubahan di dalam musik ibadah—baik ke corak yang lebih kuno atau baru—cukup sulit ditentukan, sebab kebanyakan jemaat bukan musisi dan sekadar menyukai apa yang akrab di telinga mereka. Kebanyakan jemaat tidak tertarik dengan teori estetika, tetapi cenderung memilih musik berdasarkan kecenderungan emosi. Oleh karena musik sangat berpengaruh dalam mengekspresikan emosi kita, tidaklah mengagetkan musik pun dapat menjadi “lahan yang penuh ranjau” atau jebakan yang berbahaya baik secara individu maupun dalam berjemaat.

3. Kita seharusnya mengevaluasi musik secara alkitabiah. Kita harus mundur sejenak dari pengalaman individual kita dan sekali lagi bertanya, “Apa yang Allah perkenan?” Kita harus sadar bahwa tidak semua musik dan pujian menyenangkan hati-Nya. Coba Anda pikirkan ibadah dan pujian yang Israel naikkan kepada Allah di padang belantara Sinai. Mereka membuat anak lembu emas, memanggilnya Tuhan, dan berdansa-dansi di sekelilingnya (Kel. 32.4-6). Pujian yang seperti itu adalah pelecehan terhadap Allah dan mengundang murka-Nya! Kita harus dengan hati-hati menelisik apa yang Alkitab katakan mengenai bagaimana kita seharusnya memuji Tuhan dan menata musik bagi kemuliaan Dia.

4. Ketika kita merenungkan musik dan ibadah bagi Allah, kita sesungguhnya memikirkan tiga isu: (a) orientasi dasar nyanyian ibadah; (b) substansi nyanyian ibadah; (c) alunan dan instrumen-instrumen yang boleh kita pakai untuk nyanyian ibadah.

5. Orientasi dasar nyanyian ibadah. Inilah bagian yang terpenting dalam nyanyian. Kata-kata yang kita letakkan di bibir untuk dinyanyikan bagi Allah harus benar dan menyenangkan hati-Nya. Satu masalah yang kita hadapi dewasa ini yaitu bahwa “para rohaniwan dan tim ibadah sering mengabaikan pastoral dalam bidang ibadah, termasuk isi doktrinal dalam musik.” Tapi, bagaimana kita yakin bahwa kata-kata yang kita nyanyikan menyenangkan hati Allah? Allah telah memberi kita bimbingan, di dalam Alkitab ada satu buku yang secara keseluruhan merupakan model nyanyian yang benar. Kitab Mazmur menyediakan contoh lagu-lagu yang Allah sendiri telah inspirasikan (ilhamkan). Sangat dianjurkan bagi tiap-tiap orang yang melayani ibadah untuk merenungkan dan mempelajari Kitab Mazmur baik-baik.

6. Substansi nyanyian ibadah. Apa yang Mazmur ajarkan tentang nyanyian? Pertama, mengingatkan kita betapa kaya dan beragamnya pujian yang dapat dan/atau harus kita persembahkan kepada Allah. Mazmur berisi pujian sukacita dan ucapan syukur. Mazmur disebut Kitab Puji-pujian sebab tidak hanya berisi, tetapi juga berpuncak pada pujian kepada Allah (lihat ps. 146-150). Tetapi Mazmur berisi lebih daripada pujian saja. Beberapa mazmur merefleksikan penciptaan (ps. 2, 22, 24, 110); yang lain merenungkan kesempurnaan Firman Allah yang diwahyukan (ps. 119). Ada pula mazmur ratapan dan pertobatan (ps. 32, 51, 137) juga yang berisi kebingungan dan frustrasi yang dialami umat Allah ketika hidup di dunia yang cemar (ps. 44, 73). Yohanes Calvin benar ketika mengomentari Nyanyian Mazmur, “Tidak ada satu emosi pun yang secara sadar dialami oleh siapa saja yang tidak terpantulkan di sini bak dalam sebuah cermin.”

7. Di beberapa gereja dewasa ini, nampaknya hanya lagu-lagu sukacita dan kegirangan saja yang banyak dinyanyikan. Tapi sukacita bukan satu-satunya emosi yang orang Kristen alami. Ibadah Kristen harus menyediakan waktu di mana kesedihan atau emosi reflektif diungkapkan di samping yang sukacita. Alangkah indahnya bila kita membiasakan Nyanyian Mazmur untuk dapat sampai kepada tujuan tersebut.

8. Kedua, Mazmur juga memberi model mengenai substansi nyanyian. Beberapa Mazmur cukup pendek dan ada kata-kata yang diulang-ulang, tapi kebanyakan merupakan respons yang penuh, kaya dan saksama terhadap Allah dan karya-karya-Nya. Menyanyikan pujian kepada Allah, sang pemazmur mengingatkan kita, bukan sekadar ungkapan emosi, tetapi juga benar-benar urusan pikiran. Nyanyian yang cuma diulang-ulang atau dangkal atau sentimental tidak setia kepada teladan Mazmur. Pikiran dan perasaan yang seiring-sejalan merupakan contoh pujian dalam Mazmur, dan gereja modern harus berusaha untuk memulihkan kesatuan yang telah hilang ini.

9. Sekali kita menangkap kembali pengertian yang tepat mengenai isi teks yang harus kita nyanyikan, maka dua isu yang mengikutinya cukup mudah diselesaikan. Alunan nada seperti apa yang seharusnya kita nyanyikan? Kita dapat saja memakai alunan apa saja yang bisa dinyanyikan bagi jemaat yang mendukung isi lagu tersebut. Alunan juga harus mencerminkan mood dan substansi nyanyian dalam terang sukacita dan penghormatan yang tepat untuk ibadah. Dengan tuntunan ini (sambil menyadari sulitnya bagi jemaat bagi perubahan), maka masalah alunan seharusnya dapat diselesaikan secara halus.

10. Alunan dan instrumen seperti apa? Gaya musik apa yang alkitabiah? Di PL, beragam alat musik dipakai di dalam Bait Allah. Namun dalam ibadah Gereja seribu tahun pertama tak ada alat musik sama sekali. Dewasa ini kebanyakan gereja memakai lebih dari satu instrumen. Tapi di mana instrumen dipakai, alat itu harus menolong nyanyian jemaat, bukan mengacaukannya. Intrumen haruslah menambahkan semangat untuk memperdalam perasaan hormat dan sukacita, bukan menguranginya.

11. Tak satu pun PB memberi indikasi jelas tentang instrumen ibadah. Instrumen bukan pusat ibadah. Alat musik mendukung pujian yang dinaikkan jemaat, sebagaimana dititahkan oleh Tuhan. Jika ini tujuannya, maka musik rock tidak tepat untuk ibadah Kristen, meski organ atau gitar dapat dipakai.

12. Musik adalah elemen yang berpengaruh lagi vital dalam kehidupan ibadah jemaat. Namun karena pentingnya ini, kita perlu berhati-hati! Kita harus yakin bahwa kita sedang menyenangkan hati Allah dan bukan mencari hiburan untuk diri sendiri. Cobaan untuk membelokkan ibadah kepada tontonan yang menghibur demikian besarnya, karena sebagai orang-orang berdosa kita cenderung berpusatkan diri sendiri, “egosentris,” daripada berpusatkan Allah, “theosentris.” Kita condong untuk membuat nyaman diri sendiri ketimbang melayani Allah dengan segera dan tulus.

TERPUJILAH ALLAH!

Delapan Norma Dasar Ibadah Kristen


DELAPAN NORMA DASAR IBADAH KRISTEN


1. Ibadah Kristen haruslah alkitabiah. Alkitab adalah sumber pengetahuan kita akan Allah dan akan penebusan dunia di dalam Kristus. Pembacaan Alkitab merupakan bagian yang utama dalam ibadah. Ibadah haruslah mengetengahkan keberadaan, kesempurnaan dan tindakan-tindakan Allah yang bersesuaian dengan yang diberitakan Alkitab. Ibadah haruslah mematuhi amanat-amanat Alkitab mengenai praktik-praktik kebaktian, dan ibadah harus mewaspadai gaya yang salah dan tidak semestinya. Ibadah haruslah memfokuskan perhatiannya tepat seperti yang diwartakan Kitab Suci: pada pribadi dan karya Yesus Kristus sebagai Penebus segala ciptaan, Sang Pendiri dan Penahbis Kerajaan Allah melalui karya Roh Kudus.


2. Ibadah Kristen haruslah dialogis. Dalam ibadah, Allah berbicara dan Allah mendengarkan. Oleh kuasa Roh Kudus, Allah menantang kita, menghibur kita, dan membangkitkan kita. Dengan karya efektif Roh Kudus, kita mendengarkan dan kemudian berespons dengan pujian, pengakuan dosa, permohonan, kesaksian dan persembahan diri. Alkitab terus-menerus memotret Allah sebagai inisiator, tetapi Allah juga aktif berpartisipasi dalam persekutuan bersama umat. Suatu kehidupan yang sehat dengan Allah ditandai memelihara suatu keseimbangan antara mendengarkan dengan penuh perhatian serta perkataan yang tulus. Demikian pula dengan ibadah. Inilah sebabnya kata-kata kita penting di dalam ibadah: Kata-kata itu dipakai oleh Allah untuk berkata-kata kepada kita, dan kata-kata itu juga membawa pujian dan doa kita kepada Allah.


3. Ibadah Kristen haruslah kovenantal (berlandaskan ikatan perjanjian Allah). Dalam ibadah, ikatan perjanjian Allah yang baru serta penuh kasih di dalam Kristus diperbarui, diteguhkan dan dimeteraikan. Hubungan yang menyatakan bahwa Allah mengundang kita ke dalamnya ini bukanlah hubungan kontrak kerja dengan serentetan tuntutan kewajiban tetapi hubungan kovenantal atau hubungan yang dilandasi oleh perjanjian Allah dengan kasih-yang-memberi-diri sebagai karakteristiknya. Hal ini lebih mirip ikatan pernikahan ketimbang suatu kontrak legal. Ibadah haruslah mempertimbangkan perjanjian Allah bagi kita dan mengizinkan kita untuk mengambil komitmen untuk kembali berada di dalam jalinan kovenantal ini. Satu pertanyaan yang harus diajukan dalam ibadah apa pun, yaitu apakah ibadah itu telah memampukan kita untuk berbicara kepada Allah sebagai mitra kovenan yang setia dan penuh komitmen!


4. Ibadah Kristen haruslah Trinitaris. Di dalam ibadah kita berjumpa serta menyapa Allah—Bapa, Putra dan Roh Kudus—satu Allah di dalam tiga pribadi, yang empunya kekudusan, kasih, keindahan dan kekuasaan. Allah itulah yang mengundang kita dengan penuh kasih dan kemudian mendengarkan respons kita. Allah itu pulalah yang menyempurnakan dan mengantarkan pujian serta permohonan kita. Allah itu pula yang menolong kita memahami apa yang kita dengar dan mendesak kita untuk bergegas berespons. Maka, di dalam ibadah kita ditarik ke dalam hubungan mesra bersama Allah (Sang Bapa) melalui Allah (Sang Putra) dan oleh Allah (Sang Roh Kudus). Ibadah adalah arena yang di dalamnya Allah Trinitas aktif dalam menarik kita lebih dekat lagi, memelihara iman kita dan menantang kita untuk hidup dalam kepatuhan dan kesetiaan. Dalam ibadah kita memusatkan perhatian kita kepada Allah yang memberi diri-Nya sendiri. Fokus yang berpusatkan Allah ini juga menghindarkan kita dari pencobaan untuk “menyembah” ibadah itu sendiri.


5. Ibadah Kristen haruslah komunal. Injil Kristus menarik kita ke dalam hidup di dalam komunitas dengan orang lain. Ibadah ialah satu latar yang di dalamnya kita melihat gereja dalam tindakan serta kita berusaha untuk mewujudnyatakan dan memperdalam kesatuan, kekudusan dan kesaksian gereja. Ibadah adalah aktivitas orang pertama jamak. Adalah sangat penting bahwa di dalam ibadah kita menyaksikan meski beragam orang, kita mempersembahkan pujian bersama, berdoa bersama, mendengarkan bersama, dan mengikat janji bersama pula.


6. Ibadah Kristen haruslah ramah dan penuh kekeluargaan. Ibadah Kristen tidak boleh berpusat pada diri sendiri. Dalam ibadah, kita mendoakan dunia dan menawarkan keramahtamahan bagi semua orang yang tinggal dalam ketakutan, keputusasaan dan kesepian. Ibadah publik mengutus kita untuk memiliki pola hidup yang penuh penyembahan: dalam pelayanan dan kesaksian. Ibadah tidak sekadar membuat kita nyaman dengan janji-janji Injil tetapi juga mengusik kita (sungguh!) untuk tetap menyadari arti penting dari ketakutan dan kehancuran di dalam dunia dan kebutuhan mendesak dari dunia kita akan seorang Juruselamat. Ibadah memenuhkan ucapan syukur di hati kita yang kemudian secara natural menuntun kita kepada pelayanan bagi dunia kita yang telah porak-poranda.


7. Ibadah Kristen haruslah “di dalam, tetapi bukan dari, dunia.” Ibadah Kristen selalu mencerminkan budaya setempat. Pola berbahasa, gaya berpakaian, waktu, ritme dan harmoni musik serta gaya simbol-simbol visual sangat berbeda sesuai dengan konteks budaya masing-masing. Pada saat yang sama, ibadah jangan sampai diperbudak oleh kebudayaan. Ibadah harus tetap menyerukan suara kenabian, menantang tiap-tiap dimensi dalam budaya yang ganjil dengan Injil Kristus.


8. Ibadah Kristen haruslah suatu pencurahan diri yang tulus di hadapan Allah. Ibadah tidak boleh pura-pura. Bagai minyak wangi yang mengurapi kaki Yesus, ibadah kita haruslah merupakan pencurahan kasih dan pujian yang melimpah-limpah kepada Allah yang telah menciptakan dan menebus kita. Ibadah menuntut persembahan kita yang terbaik. Ketika kita berlatih musik, mempersiapkan kata-kata untuk bicara, menyisihkan uang dan waktu untuk dipersembahkan, dan memastikan bahwa kita disegarkan, serta siap untuk memberikan hati dan perhatian yang tak terbagi, kita sedang memraktikkan karakter luhur yang layak dipersembahkan kepada Allah kita yang agung dan penuh kasih. (jdw/eb)



TERPUJILAH ALLAH!