Thursday, June 19, 2008

IKON CHRISTUS PANTOKRATOR


Ikon Christus Pantokrator


Di sebelah kanan meja kerja saya, terdapat sebuah ikon Kristus yang terkenal dengan sebutan Christus Pantokrator. Anda dapat melihatnya pada sisi kiri paragraf ini. Ikon tersebut berdampingan dengan ikon Theotokos Panagia dan Trinitas Perjanjian Lama yang terkenal itu. Untuk kali ini, saya mengajak Anda bermenung tentang ikon Christus Pantokrator versi Rusia (berdasarkan ikon di sisi kiri paragraf ini).

Ikon ini banyak jenisnya. Tetapi ciri khas Christus Pantokrator adalah sebuah kitab terbuka di tangan Yesus sebelah kiri, sementara tangan kanannya terangkat di depan dada dengan posisi memberkati.

Tipe ikonografik Christus Pantokrator (Penguasa Segala Sesuatu) menampilkan Keagungan Sang Pancipta dan Sang Penebus sekaligus. Ialah yang memimpin arah perjalanan seisi kosmos, bukan dalam suatu Dzat yang tak terpahami, tetapi menjelma, atau mengejawantah, atau berinkarnasi menjadi manusia, dalam Pribadi Yesus Kristus.

Wajah Yesus Kristus dalam ikon ini penuh keanggunan, tampak tenang, dan membuat siapa pun betah untuk memandanginya. Dialah Tuhan yang berbela rasa, yang menaruh belas kasihan kepada setiap orang yang dipinggirkan dan tertindas; Ia datang ke dalam dunia untuk mengangkut dosa seisi dunia, di atas pundak-Nya sendiri. Mulut Tuhan Yesus digambarkan mungil serta terkatup rapat, seolah hendak berkata bahwa Kristus tak banyak berkata-kata, sehingga setiap orang jangan sampai berhenti pada pemahaman bahwa Ia adalah Guru hikmat nan bijak bestari, yang memberikan ajaran moral yang demikian agung, setara dengan para Guru agama lain di dunia ini. Kristus datang dan memberi diri-Nya sendiri, dan Ia menyatakan Allah sebagai Allah yang beserta kita; itulah cara komunikasi Kristus.

Kristus berselubungkan jubah biru tua, sebagai lambang surga dan keilahian. Baju yang dikenakan Kristus adalah merah tua, yang melambangkan kemanusiaan, kehinaan dan kerelaan-Nya untuk menjadi manusia, bahkan seorang hamba nan hina dina. Dia Allah sejati, lagi manusia sejati. Dialah yang ilahi dan yang kekal, namun demikian Ia pun mengenakan kemanusiaan yang sesungguhnya. Demikianpun bila kita melihat kemanusiaan Yesus, tak dapat kita berhenti pada sosok kesederhanaan dan bela rasa-Nya, tetapi juga sebuah realitas bahwa Ia tetap yang ilahi. Pada bahu kanan ke bawah, dapat diamati adanya hiasan baju berwarna kuning, yang merupakan pelambang kemuliaan.

Rambut Kristus tampak sangat lebat, dan terurai ke pundak sebelah kanan dan ke belakang, mengingatkan kita bahwa Ia kini berada di sebelah kanan Allah Bapa, yang Mahakuasa. Sejenak, rambut Yesus ini tampak terlalu tebal! Tidak realistik untuk ukuran manusia normal. Dalam ikonologi, hal ini memang disengaja. Para ikonografer dengan seksama memilih cara untuk tidak menggambar dengan persis dan tepat, oleh sebab mereka melihat adanya perbedaan ontologis antara kekekalan dan kesementaraan, meski kedua-duanya bukan tak ada keterkaitan. Oleh karena itu, jika sebuah ikon itu makin tak nampak terlalu "realistik," maka makin dekatlah ia kepada realm di mana Allah sedang bertakhta.

Gerakan tangan kanan Tuhan Yesus adalah pemberian berkat (dalam gaya Gereja Ortodoks). Perhatikan bahwa gerak tangan kanan ini pun menunjukkan ke-Trinitas-an Allah serta dua natur Kristus sebagai Allah sejati dan manusia sejati. Jika kita perhatikan baik-baik, maka ibu jari, jari telunjuk dan jari kelingking dalam posisi tegak, yang melambangkan Trinitas, sedangkan jari tengah dan jari manis saling rapat dan agak ditekuk, melambangkan dua natur Kristus.

Doktrin Trinitas dan ke-dua-natur-an Kristus memang menempati posisi utama dalam teologi Gereja Ortodoks. Kedua doktrin ini bahkan menjadi keyakinan kendali teologi Ortodoks. Semua tradisi dalam Kekristenan yang mengaku mewarisi asas rasuli, pasti mengingat dua persidangan Gereja Am di Nicea-Konstantinopel dan di Kalsedon, sebab dalam dua konsili inilah, problema Trinitas dan Ke-dua-natur-an Kristus mendapatkan jawabannya secara tegas dan gamblang.

Perhatikan kembali tangan kanan Kristus! Gerak tangan itu jelas sekali menunjuk ke kitab yang terbuka di tangan kiri-Nya. Kristus hendak mengomunikasikan sesuatu! Ia tidak berkata-kata, mulut-Nya tertutup, tetapi Ia menawarkan kepada orang-orang saleh, para pengikut-Nya yang setia, akan siapa Dia yang sebenarnya. Beberapa versi ikon Christus Pantokrator melukiskan kitab itu terbuka tepat pada Matius 11:28, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Sejumlah versi lain menunjuk Yohanes 10:9, "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput," atau ayat 11, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

Bukankah ini semua merupakan penghiburan yang sangat besar? Memandangi wajah Kristus, Ia tidak digambarkan sebagai seorang Juruselamat, laksana seorang bapa bagi semua umat. Pemilihan warna yang cermat, yang mengangkat keanggunan tokoh yang dilukiskan, menambah keindahan ikon Christus Pantokrator. Latar belakang warna emas semakin mempertegas sosok yang dilukis, kontras dengan wajah Kristus dan jubah biru tua-Nya; dan dengan demikian makin terang di hadapan pandangan kita, kesejukan memandang wajah Kristus dan keagungan keilahian Kristus.

Selamat mengenal Kristus!

Terpujilah Allah!

BERBAHAGIALAH ORANG YANG SUCI HATI


BERBAHAGIALAH ORANG YANG SUCI HATI


Hati Tertuju kepada Allah dan yang Ilahi

Suci hati, sebagaimana yang Kristus maksudkan, bukan saja berarti hati yang bersih, yang tak pernah kehilangan kemurniannya. Bukan hanya itu, sebab hati yang tak murni pun, bila si empunya hati menyesal, dapat dimurnikan oleh Kristus. Bukan pula artinya sebatas pada: Bebas dari dosa, tetapi lebih-lebih lagi yang dimaksud adalah arah dan tertujunya keinginan itu. Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mencari apa yang ada di atas, bukan yang ada di bawah. Cita-cita jiwa yang suci dan murni akan Allah yang suci dan murni lagi kekal, yakni untuk bersatu dengan Dia.

Dengan bertawakal kepada-Nya dan menjadikan segenap kepunyaan kita milik-Nya, jiwa seperti ini seumpama nyala api yang terus berkobar-kobar dan membumbungkan api dan asapnya ke langit. Topan dan hujan dapat mengganggunya dan mengembusnya kian-kemari, akan tetapi selalu didapatinya pula tujuan dan cara untuk ke atas tersebut. Terikat pada tubuh, pada bumi dan makhluk-makhluk lain, maka jiwa murni itu merasa dirinya terkekang, tertarik ke bawah, sedangkan ia ingin sekali hidup semata-mata dalam suasana yang adi kodrati, berdekatan dengan Allah. Usahanya tak akan terhenti, dan selalu terarah kepada apa yang disukai-Nya. Jiwa yang murni akan selalu berusaha mencari Allah dalam segala hal.

Terus menerus dan dengan suka hati seseorang yang murni akan menyerahkan kesenangannya dan kenikmatan kecil-kecil, sekalipun sifat kodratinya adalah hasrat untuk dihormati, menjadi merdeka dan berkuasa. Namun TUHAN! Kesukaan-Nya! Dan untuk itu, seseorang yang suci hati akan mengurbankan segala-galanya.


Mereka akan Memandang Allah

Bukan kelak setelah kehidupan ini! Melainkan sekarang ini juga. Dengarkanlah, bagaimana orang-orang yang suci hatinya ini berbicara tentang Tuhan. Anda akan mengetahui, betapa adi-kodratinya hidup mereka itu. Dengan tak segan-segan sedikit pun diceritakan bagaimana mereka bergaul dengan Tuhan dan apa yang mereka ketahui tentang Dia. Ini tidak diambil dari buku-buku sains atau iptek, melainkan Tuhan sendiri yang mendidik mereka, dengan Kitab Suci, bagaimana dan apa yang Ia kehendaki dari manusia.

Mereka memandang-Nya, bukan dengan mata jasmani, melainkan dengan mata rohani mereka. Mereka mengalami Allah! Mereka juga mengalami pimpinan Tuhan dalam bisikan rahmat Roh Kudus. Dengan rendah hati dan sangat-sangat sederhana mereka mengalami pekerjaan Roh yang menghasilkan buah rohani yang bercitakan sembilan keutamaan itu. Mereka membiarkan diri mereka dipimpin oleh-Nya dan dalam terang ALlah sendiri mereka melihat dan mengetahui hikmat dan pengetahuan yang sejati. Akal budi mereka menyelami rahasia-rahasia iman. Mereka memahami Injil, seperti yang dimaksud oleh Kristus dan dengan tepat sekali dialaminya. Dan kemudian, mereka dibimbing untuk melaksanakan kebenaran-kebenaran iman itu dalam keadaan hidup yang istimewa.

Mungkin ada orang-orang yang hendak berusaha untuk meneladan jiwa-jiwa seperti di atas. Banyak orang ingin meniru mereka. Akan tetapi, mereka itu tak dapat menjadi teladan jikalau kita sanggup seperti mereka, dengan cara menyerahkan diri sepenuh-Nya kepada Tuhan. Agar seperti mereka yang diizinkan memandang Tuhan, maka kita pun harus seperti mereka, dengan bersiap-siap untuk menyangkal diri sendiri, dunia dan makhluk yang ada apalagi materi, supaya kita semata-mata dapat menjadi milik-Nya, semuanya bergantung kepada diri-Nya dan tertuju hanya kepada-Nya.


Hidup dengan Tuhan dan Untuk Tuhan

Mulai dari pagi hingga malam hari, bahkan larut malam, doa-doa jiwa yang murni selalu tertuju kepada pusat kerinduan yang satu dan terutama: Tuhan! Salamnya pada masa pagi ketika bangun adalah, "Tuhan, ya Tuhanku, kepada-Mulah aku bangkit. Jiwaku, badanku merindukan-Mu." Kemudian lekas-lekas ia pergi ke ruang doa, di mana Kristus menantinya untuk berjumpa secara pribadi. Di hadapan-Nya, ia mengakui dirinya sebagai tanah kering, tandus, tak berair sedikit pun. Bagaikan rusa yang merindukan mata air, demikianlah ia pun ingin menyegarkan dirinya ada tubuh Kristus, dan menyerahkan dirinya kepada Bapa.

Berulang-ulang dan lebih erat lagi bersatu dengan Kristus, ia menghadapi pekerjaannya sepanjang hari, yang rutin. Ia menyerahkan dirinya kepada Bapa. Berulang-ulang dan kian erat dengan Kristus, ia menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Pekerjaan pun dapat diwujudkan dengan mengunjungi orang sakit, orang cacat, anak-anak yatim-piatu, dan mereka yang diserahkan kepadanya.

Jiwa yang murni itu memandang dan mengasihi semua orang dengan mata dan dengan cinta kasih Kristus. Ia mengabdikan dirinya baik dalam kebaktian umum ataupun khusus, dengan penuh kebaikan dan perhatian. Tiada suatu apa pun yang terluput darinya, tiada kesukaran dan yang tak dapat diatasinya. Jika ia bimbang, sejenak ia akan berpusat kepada batin dan Tamu kekasih jiwanya. Ia akan memberi jalan keluar. Dan bila hari telah senja, terbitlah dalam hatinya doa kasih yang sepanjang hari itu, yakni, "Tuhan, ya Tuhanku!" Dan semalam-malaman dengan penuh kedamaian ia beristirahat di dalam Dia.

Percikan Permenungan: "Berbahagialah orang-orang yang suci hatinya, karena mereka akan memandang Allah."

Doa: "Ya Tuhan, Pecinta jiwa-jiwa yang murni, buatlah aku demikian rupa, sehingga Engkau dapat mencintai aku dengan cinta kasih-Mu yang khusus tersebut. Lenyapkanlah dari dalamku segala kelekatan akan kefanaan, dan ajarlah aku hidup dalam suasana adi-kodrati, sedekat-dekatnya dengan Dikau."

Wednesday, June 18, 2008

HAGIOGRAFI TIMUR : APA & MENGAPA (2)


HAGIOGRAFI TIMUR : APA & MENGAPA (2)


Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa seorang hagiografer--dengan pembentukan kurun waktu yang berabad-abad--berupaya untuk melukiskan sesuatu "melampaui" bentuk natural manusia. Ia berusaha untuk tunduk dan melayani Gereja. Ia tidak berusaha untuk mengesankan pemirsa dengan kehebatan sapuan kuasnya. Laksana seorang teolog dan pengkhotbah yang menghindarkan gaya-gaya retorika provokatif dalam pewartaan sabda. Tujuannya adalah untuk menampilkan apa yang disanjung dalam kekayaan iman, dan yang secara "injili" dipelihara dan dikutip dalam sejarah Gereja, secara sederhana, mudah dipahami dan penuh rasa hormat. Ia harus menjaga imajinasinya selama kegiatan kreatifnya itu, sebab hal itu dapat menyebabkan penipuan serta penyesatan. Ia mengajar orang-orang yang buta huruf dengan benar, dan menerangkan kepada para cerdik-pandai, untuk berdoa, hidup yang saleh dan beribadah yang bernalar. Ia berusaha untuk melembutkan, memberi cita rasa, meneduhkan jiwa dari ketegangan syaraf akibat kegiatan seharian, dan membimbingnya dengan tanpa paksa dan sejuk menuju pencarian terhadap Yang Ilahi.

Ia memotret para suci dengan sederhana dan tidak terlalu menarik. Ia menghinda
ri pemilihan warna yang Wah!, dengan anatomi tubuh orang tersebut digambarkan secara persis dan sempurna, dengan permainan kontras terang dan gelap dan latar belakang yang indah. Sebaliknya, dengan humming yang lembut, ia hendak mengilhami para pemirsa untuk menghormati sang kudus yang ia sedang lukis, tanpa membuat gaya artistiknya terlalu menonjol.

Ia berusaha untuk menjembatani dunianya dengan dunia rohani. Ia me
nempatkan dirinya melayang-layang di atas kedua dunia ini, dan mengundang semua orang saleh untuk melakukan transformasi kehidupan, dari pola hidup insan fana, materialistis dan terbatas, menuju yang kekal dan sejati. Oleh sebab itu, bila ia harus melukis dengan realisme mutlak dan detail yang implisit, bisa jadi ciptaannya ini membuahkan hasil yang cantik, indah, realistik dan artistik, sehingga rasa ingin tahu insan pun terpenuhi. Pemirsa dapat menemukan detail-detail anatomi orang yang dilukis, dan pada akhirnya pemirsa memuji kehebatan talenta sang hagiografer.

Hal ini hanya akan berhenti dan terfokus pada akal pikir si pemirsa, yang sedang memandangi gambaran i
nsan yang terbatas dan kehidupan biasa sehari-hari, sehingga tak akan mengilhaminya untuk dapat memandang keagungan Allah. Pikiran seseorang akan tetap terpenjara di dalam imajinasi sang artis yang biasa, sehari-hari dan fana. Lalu, bagaimana seseorang dapat melukiskan Kebenaran-kebenaran Ilahi?

Hagiografi Bizantium, tidak berusaha untuk membuat seseorang hanya menghormati atau berekstase atas apa yang ia lih
at, tetapi berusaha untuk menangkap sesuatu di balik realitas tersebut, yang pada gilirannya akan menjadi suatu gaya hidup rohani, dan seseorang pun menjadi terus terbuka kepada rahmat Allah. Itulah sebabnya, seni Bizantium memecah sosok itu ke dalam segmen-segmen yang kecil-kecil, dan kemudian menyatukannya kembali dalam sebuah harmoni yang indah, dengan pemahaman sama seperti kesatuan orang-orang kudus ke dalam satu tubuh, dengan Kristus sebagai Kepalanya.

Seni Kristiani Timur, me
nghindari ketepatan anatomik, namun figur tersebut tetap dapat dikenali, dan mempunyai makna dalam continuum ruang-waktu liturgi. Dengan ini, kita dibimbing kepada suatu pengharapan abadi, selepas pekerjaan pribadi yang berat; hanya oleh anugerah Allah. Sang pribadi yang terlukis nampak bergerak menuju ke dunia kita di masa kini. Inilah yang juga dimaksudkan dengan adanya tulisan singkat pada ikon, sehingga pemirsa pun tidak terbenam pada kenangan yang mengawang-awang, tetapi kebenaran realitas Ilahi yang dinyatakan secara langsung di hadapannya.

Sumber dan arah terang dengan sengaja dibuat tidak jelas dari mana asalnya dan ke man
a arahnya, melalui sintesis artistik, oleh sebab segala sesuatu diilhamkan oleh Terang yang Takterciptakan, yang sama sekali berbeda dengan terang temporal dunia fana.

Kebanyakan hagiografer Bizantium, mengadaptasikan gaya hidupnya dan cara pandangnya menurut sabda Injil, dan mencari pencerahan Ilahi serta pemurnian diri melalui ibadah dan sakramen gerejawi. Dalam cara inilah, ia diberi waktu untuk bermenung dan menerapkan karyanya sehingga layak untuk menggambarkan keagungan karya Allah.

Dengan demikian, untuk memahami ikon dan hagiografi Bizantium, kita melihat arak-arakan sejarah yang sangat panjang, yang dikelola dan dipelihara dengan setia melalui penyatuan praktik eksperiensial dan artistik, pengilhaman teologis dan pengalaman mistik (baca: rohani).

Meskipun begitu, masih terbuka bari proposal baru ikonografi Kristen. Hanya saja, tradisi eklesiastik yang turun-temurun menjadi faktor utamanya, dan hal inilah yang menakar makna pada sepanjang zaman, apakah suatu lukisan merupakan gambar religius, untuk membantu seorang Kristen berdoa ataukah tidak. (NP)

HAGIOGRAFI TIMUR : APA & MENGAPA (1)


HAGIOGRAFI TIMUR: APA & MENGAPA (2)


Seni Kristen Timur (Bizantium) memiliki dua titik pijak:

Mosaik: suatu karya seni yang sangat dikenal pada zaman Bizantium, seperti halnya perajin-perajin Roma akrab dengan ini. Seni mosaik merupakan kelanjutan dari tradisi klasik serta Helenistik),

Fayum (potret orang-orang yang telah wafat), sudah muncul pada sekitar akhir abad I dan awal abad II Masehi, yang merupakan kelanjutan seni lukis zaman Roma.

Pada tahun 313 M., Konstantinus Agung memaklumkan toleransi dan pada tahun 324 ia memindahkan ibu kota Roma ke Bosporus (yang kemudian dinamakan Konstantinopel, 330 M.; sekarang diberi nama Istanbul, di Turki).

Sejak masa itu, para artis dapat mencurahkan minat mereka dengan tanpa hambatan. Memang, masa-masa setelah itu, banyak kali Kekaisaran Bizantium dipenuhi dengan intrik heroik, kemerosotan; tetapi di tengah-tengah masa demikian--yang diwarnai penjamuran iman, pencarian spiritualitas, pencerahan, pertengkaran, penyesatan dan Konsili-konsili Ekumenis--berkembanglah Seni Hagiografi Bizantium.

Pada tahun-tahun pertama, lukisan-lukisan agamawi terbatas pada sketsa yang berkarakterkan simbolik atau dekoratif, serta penggambaran yang tidak natural. Namun, ketika teologi berkembang dan mulai mempunyai bentuk, serta iman mulai diperjelas dengan dogma, para artis pun semakin berani untuk menggambar secara lebih realistik pribadi-pribadi yang disebut orang suci di atas ikon dari kayu, atau pun gambar-gambar pribadi penting dalam Gereja, di dinding gereja.

Pada tahun 726 M., terjadilah ikonoklasme, gerakan anti ikon. Konflik yang sangat pan
as, yang memisahkan Bizantium dengan tindakan-tindakan konflik yang serba tragis. Pada masa pertengkaran dahsyat seperti ini, maka perlu diperjelas apa arti ikon. Pada Konsili Ekumenis ke-7, ketegasan ini dicapai.

Ikon berarti sarana untuk menyembah, atau beribadah. Ikon adalah objek, bukan untuk dipuja dan disembah, hanya sekadar dihormati. Sementara penghormatan itu sendiri bukan kepada kayu dan gambar itu sendiri, tetapi kepada orang yang terlukis di dalam ikon tersebut.

Misalnya lukisan seorang suci, maka yang digambarkan di dalamnya adalah hypostasis-nya, yaitu pergaulannya dengan Tuhan, apa jadinya ia oleh karena anugerah, dan bukan kodrat naturalnya sebagai seorang manusia yang unik. Penghormatan yang diberikan kepadanya dapat digambarkan dengan lebih menyentuh lagi seperti seorang ibu yang mencium dan memeluk foto (gambar) anaknya yang dikasihinya, sebagai hartanya yang paling berharga, yang kini ada di tempat yang jauh. Sang anak seolah-olah ada di dalam pelukan ibu itu, dalam dekapan tangannya yang lembut, dan kenangan akan anaknya itu merasuk dalam hati sanubari sang ibu, dan kerinduan yang amat besar pun membara di dalam hatinya.

Pada era selanjutnya, berkembang-mekarlah karya yang bernilai tinggi, dan sedikit sekali momentum untuk Gereja tidak menjadi produktif (disebabkan invasi pihak luar dan gangguan-gangguan dari dalam sendiri). Karya yang penting muncul pada era Dinasti Makedonia (867-1056 M.), Dinasti Komnenes (1081-1185), dan Dinasti Angelos (1185-1204).


Setelah pendudukan bangsa Frank (1204-1061), pada masa Dinasti Paleologos, karya seni Bizantium mencapai puncaknya di tangan Emmanuel Panselinos. Kemudian, setelah goncangnya Konstantinopel (1453 M.), Theofanes dari Kreta adalah nama seniman yang ternama. Sejak saat itu, para hagiografer lebih banyak terpengaruhi oleh corak seni Barat, seperti yang terjadi pada diri Domenicus Theotokopoulos (El Greco). Sejak saat itu, sejarah seni mengalami stagnasi, dan baru di kemudian hari, oleh Photios Kontoglou (+1965), menyapu debu yang menutupi tradisi Bizantium dan menghidupkan seni rohani tradisional ini.

Saturday, June 14, 2008

Walter Rauschenbusch’s Prayer for the Kingdom of God


Walter Rauschenbusch’s Prayer for the Kingdom of God


O Christ, thou hast bidden us pray for the coming of thy Father’s kingdom, in which his righteous will shall be done on earth. We have treasured thy words, but we have forgotten their meaning, and thy great hope has grown dim in thy church. We bless thee for the inspired souls of all ages who saw afar the shining city of God, and by faith left the profit of the present to follow their vision. We rejoice that today the hope of these lonely hearts is becoming the clear faith of millions. Help us, O Lord, in the courage of faith to seize what has now come so near, that the glad day of God may dawn at last. As we have mastered nature that we might gain wealth, help us now to master the social relations of mankind that we may gain justice and a world of brothers. For what shall it profit our nation if it gain numbers and riches, and lose the sense of the living God and the joy of human brotherhood?


Make us determined to live by truth and not by lies, to found our common life on eternal foundations of righteousness and love, and no longer to prop the tottering house of wrong by legalized cruelty and force. Help us to make the welfare of all the supreme law of our land, that so our commonwealth may be built strong and secure on the love of all its citizens. Cast down the throne of Mammon who ever grinds the life of men, and set up thy throne, O Christ, for thou didst die that man might live. Show thy erring children at last the way from the City of Destruction to the City of Love, and fulfil the longings of the prophets of humanity. Our master, once more we make thy faith our prayer: “Thy kingdom come! Thy will be done on earth!”


PERCIKAN PERMENUNGAN:


Akankah Kerajaan Allah, pada masa kesempurnaannya tiba, itu kelak berisikan orang-orang yang memegang kencang doktrin ineransi Alkitab dan kemutlakan textus receptus dan King James Version?


Adakah di sana para teolog dan filsuf Kristen yang di sepanjang hidupnya berapologia terhadap agama-agama lain?


Akankah di sana seorang pendeta yang begitu giat menyuarakan dengan lantang ajaran-ajaran raptur dan kerajaan seribu tahun?


Adakah di sana seorang teolog Injili?


Adakah di sana dijumpai seorang lulusan teologi?


Adakah di sana dijumpai seorang pendeta/rohaniwan?


Adakah di sana dijumpai seseorang beragama Kristen?


BERBAHAGIALAH ORANG YANG BERBELASKASIHAN


BERBAHAGIALAH ORANG YANG BERBELASKASIHAN


Titah Kristus akan Hidup Kerahiman

Dalam Sakramen Baptis Kudus, kita diterima sebagai bagian dari tubuh Kristus. Kita hidup terikat satu dengan yang lain untuk bersatu. Semangat kehidupan Kristus haruslah kita resapkan ke dalam kehidupan kita. Kita ingat sabda-Nya, “Haruslah kamu berbelas kasihan, sama seperti Bapamu yang di surga juga berbelas kasihan.” Di dalam batin kita harus ada suatu dorongan untuk menaruh belas kasihan. Terhadap tindakan ketidakadilan yang kita alami, kita harus belajar untuk membalasnya dengan perkataan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Mereka yang menghina kita, sesungguhnya sering kali tidak ada maksud seperti itu; mungkin juga mereka tidak tahu bahwa mereka telah sangat menyakiti kita dengan tindakan mereka.

Meski demikian, tidaklah boleh kita membalas dengan cara menyakiti mereka pula. Jangan sampai kita membalas kejahatan dengan kejahatan. Atau, jangan sekalipun kita melewati kebutuhan orang lain secara dingin dan acuh tak acuh. Hati kita hendaknya lemah lembut, dan menaruh belas kasihan seperti Hati Kristus, “Apa saja yang kamu harapkan orang lain perbuat bagimu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Dan Tuhan Yesus pun pernah berkata, “Apa saja yang kamu perbuat untuk saudara-Ku yang hina dina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Sebaliknya, kalau kita tidak melakukan kepada saudara yang hina dina, kita pun tidak melakukannya bagi Kristus.

Perbuatan amal Kristiani adalah wahana karya tangan kita: Memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi minum orang-orang yang dahaga, memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang, menjamu orang-orang asing, membebaskan orang-orang hukuman, mengunjungi orang-orang sakit, memakamkan orang-orang mati.

Dan bukan perbuatan amal jasmaniah semata, tetapi juga yang rohani: menasihati orang-orang yang melenceng hidupnya, mengajar orang-orang yang berperilaku tidak benar, meneguhkan hati orang-orang yang bimbang hati, menghibur orang-orang yang berdukacita, menderita dengan sabar akan ketidakadilan, memaafkan orang-orang yang menghina kita, mendoakan orang-orang yang hidup dan yang mati.

Betapa banyaknya kesempatan untuk pengembangan semangat welas asih itu. Kita dapat memilih, karya-karya iman mana yang Tuhan taruh sebagai beban di hati kita masing-masing.


“Berbahagialah orang yang berbelaskasihan”

Jikalau kita melakukan karya-karya amal itu dengan setia, maka yakinlah kita, bahwa sekali kelak kita akan mendengar dari mulut Kristus, “Marilah, hai kamu, yang diperkenan oleh Bapa-Ku.” Dan Ia akan menambahkan kata-kata sambutan-Nya yang penuh mesra itu dengan alasan, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika aku seorang asing kamu memberi aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku.” Setiap kerahiman, yang telah kita buktikan kepada sesama kita, akan menjadi suatu sebab dan sumber kebahagiaan yang kekal. Karya-karya tindakan perbuatan baik itulah yang membuktikan bahwa kita telah memiliki surga yang kekal dan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.

Sekali lagi, kerahiman dan welas asih tidak hanya berdampak untuk masa depan, tetapi pun sudah terasa ketika kita ada di atas bumi. Bukankah suatu kebahagiaan dalam hati kita, bila kita berbuat baik, dengan membawa jiwa-jiwa yang tersesat kembali ke jalan yang benar? Kita mewartakan welas asih Allah kepada orang-orang berdosa dan mendorong mereka untuk bertobat dan menerima penebusan dari Kristus, dan ini pun akan membuat hati kita puas.

Dan betapa luasnya jiwa orang yang mengasihi, karena ia boleh mengajar orang-orang yang tidak punya perilaku yang baik, menghibur orang-orang yang berduka cita, menasihati orang-orang yang bimbang hati. Seakan-akan, kebaikan yang kita kerjakan untuk orang lain itu berpulang kembali ke dalam hati kita sendiri.


“Sebab Mereka akan Dihibur”

Sekarang, ya . . . dalam kehidupan ini pun sudah! Bukankah sudah seharusnya dan sewajarnya, kita yang dipanggil untuk menjadi orang-orang Kristen, memberikan kerahiman oleh karena kita telah menerima welas asih dari Sang Bapa di surga? Dicipta sebagai makhluk dengan derajat tertinggi, bukankah kita pun berlimpah dengan kerahiman Allah? Maka, betapa banyaknya cahaya terang ilahi serta welas asih yang telah kita terima! Kita dibimbing oleh para mentor rohani; kita mendisiplin hidup dalam doa serta latihan-latihan rohani. Demikian banyak sarana yang dapat kita pakai untuk mengembangkan hidup yang penuh dengan welas asih. Sungguh benarlah, kasih sayang Bapa yang maharahim itu meliputi dan meresapi kita sepanjang waktu!

Namun demikian, kita pun perlu mengakui, bahwa kita ini lemah. Meskipun banyak sekali anugerah Tuhan, sering kita pun menghina Dia juga. Kita pun tahu, bahwa kita tidak berterima kasih. Ada suatu jalan menuju pengampunan, “Hendaklah kamu berbelaskasihan!” Berwelas asih terhadap orang-orang serumah, anak-anak, orang-orang sakit, orang-orang tua . . . ya benar: berbelas kasih di mana pun kita berada!

Maka, tak usahlah kita takut bila saat kematian itu tiba. Welas asih, yang Anda lakukan, mengalir dari welas asih yang Tuhan sudah rahmatkan di dalam hati Anda. Sebagaimana yang Anda lakukan terhadap orang lain, demikian pun Anda akan diperlakukan oleh orang lain.

Percikan Permenungan: “Berbahagialah mereka yang berbelaskasihan.”

Doa: “Ya Tuhan Yesus, berikanlah aku semangat-Mu itu. Buatlah aku berwelas-asih dalam pikiran, perkataan serta perbuatan, agar sekali kelak aku pun memperoleh kerahiman. Amin.”

LITURGI PENGHARAPAN AGUNG


LITURGI PENGHARAPAN AGUNG

IBU CHRISTINE (SHIA GIOK TIEN)


“MENERIMA BAGIAN YANG TERSIMPAN DI SURGA”


1 Petrus 1:3-5


Pelayan Firman: Pdt. Kristianus Karsu

Liturgos: Pdm. Setyowati


Rumah Persemayaman Dharma dan Krematorium Dersalam

Jumat, 13 Juni 2008


Liturgi Kejayaan Kuasa Allah

(di Rumah Persemayaman Dharma)


1. UNDANGAN BERIBADAH

P : Kita berkumpul di sini untuk melepas Saudari kita yang terkasih, Ibu Christine. Marilah kita tidak berdukacita seperti orang yang tidak berpengharapan, tetapi kita mengingat firman Tuhan,

Maut telah ditelan dalam kemenangan,

Hai maut, di manakah kemenanganmu,

Hai maut, di manakah sengatmu?

Sesungguhnya, sengat maut adalah dosa.

J : Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kkita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

P : Tuhanlah Penguasa Kehidupan dan Kematian. Marilah kita bersyukur kepada-Nya karena almarhumah Ibu Christine telah diundang masuk ke dalam persekutuan kerajaan yang kekal.

J : Inilah pengharapan kita, bahwa kita pun akan dipermuliakan untuk menikmati persekutuan dengan Dia selama-lamanya.

DOKSOLOGI: MULIA BAGI BAPA (GLORIA PATRI)

P : Damai Allah bagi Saudara.

J : Dan bagi Saudara juga!

(Jemaat duduk)


2. PEZIARAHAN HIDUP (ENGKAU MILIKKU ABADI)

(1)

Engkau milikku abadi, segalanya bagiku,

Di sepanjang ziarahku, inginku bersama-Mu

‘Ku dekat pada-Mu, ‘ku dekat pada-Mu,

Di sepanjang ziarahku, inginku bersama-Mu.


(2)

Bukan nikmat duniawi yang menjadi doaku;

‘Ku senang bersusah payah, asal ‘Kau bersamaku,

‘Ku dekat pada-Mu, ‘ku dekat pada-Mu,

‘Ku senang bersusah payah, asal ‘Kau bersamaku.


(3)

Pimpin daku melewati lembah bayang maut sendu;

Maka pintu hidup baka kumasuki serta-Mu.

‘Ku dekat pada-Mu, ‘ku dekat pada-Mu,

Maka pintu hidup baka kumasuki serta-Mu.


3. MAZMUR PUJIAN (MAZMUR 148:1-14)

P : Haleluya! Pujilah Tuhan di surga,

J : pujilah Dia di tempat tinggi!

P : Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya,

J : pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!

P : Pujilah Dia, hai matahari dan bulan,

J : Pujilah Dia, hai segala bintang terang!

P : Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit

J : hai air yang di atas langit!

P : Baiklah semuanya memuji nama Tuhan,

J : sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.

P : Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya,

J : dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.

P : Pujilah Tuhan di bumi!

J : hai ular-ular naga dan segenap samudera raya;

P : hai api dan hujan es, salju dan kabut,

J : angin badai yang melakukan firman-Nya;

P : hai gunung-gunung dan segala bukit

J : pohon buah-buahan dan segala pohon aras:

P : hai binatang-binatang liar dan segala hewan,

J : binatang melata dan burung-burung yang bersayap;

P : hai raja-raja di bumi dan segala bangsa,

J : pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia;

P : hai teruna dan anak-anak dara,

J : hai orang tua dan orang muda!

P : Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan

J : sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.

P : Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya.

J : menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya,

P : bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya.

J : Haleluya!

P : Demikianlah firman Tuhan:

J : Syukur kepada Allah!


4. PENYERTAAN & PENANTIAN TUHAN (KWARTET GKMI: BILA KAU PERGI)

(1)

Bila kau pergi ke tempat yang jauh,

Yesus selalu sertamu

Kau dibimbing-Nya, kau dituntun-Nya,

s’lamat s’luruh langkah hidupmu.

Biar curam g’lap jalan kau tempuh,

Hatimu sedih mengeluh,

Takkan kau penat, takkan kau sesat

Kar’na Yesus menyertaimu.


(2)

Bila kau lelah bila kau lesu,

Yesus selalu sertamu,

Kau dikuatkan, kau dihibur-Nya

S’lamat s’luruh langkah hidupmu.

Biar jauh tempat yang ‘kan kau tuju.

Biar susah mencapainya,

kau ditunggu-Nya, Kau disambut-Nya,

berbahagia kau di sisi-Nya.

(Selanjutnya jemaat diajak bernyanyi bersama, untuk mempersiapkan hati mendengar sabda Tuhan)


5. WEDARAN SABDA


6. JANJI KETEGUHAN IMAN (TERPUJILAH ALLAH!)

(1)

Terpujilah Allah hikmat-Nya besar;

begitu kasih-Nya ‘tuk dunia cemar,

sehingga dib’rilah Putra-Nya kudus,

mengangkat manusia serta menebus.


Pujilah, pujilah! Buatlah dunia

bergemar, bergemar mendengar suara-Nya

Dapatkanlah Allah demi Putra-Nya,

b’ri puji pada-Nya sebab hikmat-Nya.


(2)

Dan darah Anak-Nyalah yang menebus

Mereka yang yakin ‘kan janji kudus;

Dosanya betapa pun juga keji,

Dihapus oleh-Nya, dibasuh bersih.


(3)

Tiada terukur besar hikmat-Nya;

Penuhlah hatiku sebab Anak-Nya.

Dan amatlah k’lak hati kita senang,

Melihat Sang Kristus di surga cer’lang.


7. DOA KOMITMEN

(jemaat berdiri)

Tuhan Yesus, Engkau yang telah menderita sengsara sampai mati di kayu salib, Engkau yang mengalahkan kuasa maut dengan bilur-bilur-Mu, Engkau yang bangkit dengan berjaya dari kubur, Engkau yang naik ke surga, Engkau yang telah duduk di kanan Bapa, terimalah kekasih kami, Ibu Christine dalam persekutuan-Mu di surga.

Anugerahilah kiranya, agar kekasih kami dapat turut serta, bersama para kerubim dan serafim, menaikkan madah baru serta memuji-muji nama-Mu. Di tempat itu, di mana tiada lagi air mata, tiada kematian, tiada dukacita, tiada ratap-tangis, tiada kematian, tiada kesedihan, tiada jeritan, tiada kenyerian-kesakitan; anugerahkanlah sukacita kepada kekasih kami, karena kini ia mengenakan tubuh baru dan kehidupan baru.

Dan di tempat itulah, di mana tiada lagi malam gelap, berikanlah kepada Ibu Christine terang dari sinar wajah-Mu. Atas nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.

J : AMIN.


8. LITANI DOA

P : Engkau telah menerima kekasih kami, dan menerimanya

beristirahat dalam damai besertamu.

J : Ya Tuhan, sekarang kami pun berdoa untuk yang ditinggalkan

di bumi.

P : Berikanlah kami penghiburan dan dan pengharapan.

J : sehingga kami dapat menyongsong ketika harinya pun tiba

bagi kami.

P : Ajar kami untuk menaruh iman dalam diri kami, bahwa kelak waktunya akan tiba bagi kami untuk dipersatukan dengan kekasih kami, bahkan seluruh orang kudus-Mu; dan dipersatukan dengan Engkau, untuk selama-lamanya.

Ajarkan kami untuk sabar menanti, dalam pengharapan dan doa, sesuai yang pernah diajarkan oleh Kristus kepada kami:


J : Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,

di bumi seperti di surga.

Berikanlah pada hari ini makanan kami yang secukupnya,

dan ampunilah kami akan kesalahan kami,

seperti kami juga mengampuni

orang yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,

tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.

Karena engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. AMIN.


HALELUYA 12X

Haleluya, haleluya, haleluya, haleluya!

Haleluya, haleluya, haleluya, haleluya!

Haleluya, haleluya, haleluya, haleluya!

(Ibadah di Dharma usai di sini, selanjutnya sambutan-sambutan; kemudian jenasah diberangkatkan ke krematorium)




Liturgi Memasuki Pintu Gerbang Kemuliaan

(di krematorium)


9. SALAM

P : Tuhan beserta Saudara

J : dan menyertai Saudara juga!

P : Firman Tuhan berkata,

Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Apabila kekasih kita telah memakai rupa dunia ini, yang dibalut dalam daging yang penuh dosa, maka kini ia telah mengenakan rupa surgawi yang kudus dan mulia.

J : Amin! Terpujilah Allah oleh sebab karya-Nya yang besar.


10. HARAPAN UNTUK BERHIMPUN KEMBALI (APA KITA ‘KAN BERHIMPUN)

(1)

Apa kita ‘kan berhimpun

ikut umat yang kudus

di tepi aliran sungai

dari takhta Penebus.


(2)

Nanti pada sungai indah

hilang duka dan resah

oleh Kristus Raja kita,

yang di takhta mulia.


Amin! Kita pun berhimpun bersama orang suci yang di situ,

di tepi aliran sungai hidup dari takhta Penebus.


(3)

Sebelum saatnya tiba

buang segenap beban

di tepi aliran sungai

dari takhta Penebus.


(4)

'Kan berakhir jalan kita

pada sungai mulia;

Kita nyanyi bergembira

lagu damai yang baka.


11. JANJI KEMENANGAN

P : Demikian janji Tuhan:

Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya baju putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.

Jiwa kekasih kita, Ibu Christine, telah kembali kepada Allah yang menciptakannya, maka sebagai hamba Allah dan pelayan firman-Nya, saya menyatakan (sambil menggenggam tanah):

Tanah kembali menjadi tanah

Abu kembali menjadi abu.


(Tanah ditaburkan)


Dan kelak, ketika Tuhan Yesus kembali dalam kemuliaan-Nya, kita percaya bahwa setiap orang yang mati di dalam Kristus Yesus, akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan. Kristus bersabda,

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup, walaupun sudah mati.”

Maka sekarang (mengambil segenggam bunga)

Berbahagialah orang-orang mati, yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.


(Bunga ditaburkan)


Saudariku, Christine, datanglah ke takhta hadirat Allah kini, dengan tanpa takut dan gentar. Bersukacitalah, sebab Tuhan menjanjikan “makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.”


12. JANJI IMAN

(jemaat berdiri)

Bersama dengan seluruh orang kudus, dan sebagaimana yang menjadi pokok keyakinan almarhumah, marilah kita mengikrarkan janji iman kita, seturut dengan Pengakuan Iman Rasuli. Hendaklah masing-masing kita berkata,


Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa

Khalik langit dan bumi.

Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita.

Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari Anak Dara Maria.

Yang menderita sengsara di bawah Pontius Pilatus,

disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke alam maut

Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati,

Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah,

Bapa yang Mahakuasa.

Dan dari sana Ia akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Aku percaya kepada Roh Kudus,

Gereja yang kudus dan Am,

Persekutuan orang kudus,

Pengampunan dosa,

Kebangkitan orang mati,

dan hidup yang kekal. Amin.


13. TUHAN MENGHANTAR (TUHANKULAH GEMBALAKU)

(1)

Tuhankulah Gembalaku

oleh-Nya ‘ku tent’ram.

di padang hijau yang segar

di pinggir air tenang.


(2)

Jiwaku disegarkan-Nya

dan kar'na nama-Nya

ditunjukkan-Nya jalanku

yang lurus dan baka.


(3)

Tak usah takut hatiku

di jurang maut gelap;

Engkau sertaku, tongkat-Mu

menghiburku tetap.


(4)

Engkau beri hidangan-Mu

di muka lawanku;

Engkau urapi diriku,

dan cawanku penuh!


(5)

Kebajikan-Mu Kauberi

seumur hidupku;

kelak ‘ku tinggal s’lamanya

di rumah Allahku.


14. DOA SYAFAAT


15. PENGUTUSAN DAN BERKAT

P : Angkatlah hatimu kepada Allah.

J : Kami mengangkat hati kami kepada Tuhan!

P : Pergilah kini dalam damai. Sebab Kristus Yesus berjanji,

Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.


J : Amin, kami mau pergi dalam damai Tuhan!

(Pdt. mengangkat kedua tangan tanda pemberian berkat)

P : Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu!

J : Sekarang dan selama-lamanya. AMIN.


DOKSOLOGI (KEPADA ALLAH BRI PUJI)