Monday, May 4, 2009

Kelahiran Kembali (4)



Percaya atau Dihukum



Gagasan Allah “mengutus” Yesus adalah salah satu konsep yang kerap ditemukan di Injil Yohanes. Ia pun menjelaskan mengapa Allah berkenan mengutus Anak-Nya! Yaitu bukan untuk menghukum dunia tetapi untuk menyelamatkan dunia (3:17). Kata kerja Yunani krinein berarti menghakimi atau menghukum. Dari kata ini kita mendapatkan istilah “kritik” dan “krisis.” Kehadiran Yesus di dalam dunia membuktikan sebuah krisis besar bagi dunia ini dan bagi semua yang tinggal di dalamnya. Waktu-waktu ini menjadi “momentum kritis” penghakiman dan pengambilan keputusan.



Bukanlah Dia yang datang untuk menjadi Hakim atas dunia, untuk menghukumnya, sebab barangsiapa yang tidak percaya kepada-Nya telah terhilang di dalam kegelapan dan perbuatan jahat mereka (3:18-19). Dalam pada itu, bila ia berbalik datang kepada-Nya, ia akan diselamatkan dan mendapatkan hidup yang kekal.



Sering dibayangkan bahwa penghakiman itu terjadi pada kesudahan segala zaman dalam Hari Penghakiman. Tetapi Yohanes membuatnya jelas bahwa pengambilan keputusan saat ini sudah menentukan posisi seseorang dalam “momentum kritis” di sini dan kini! Eskatologi (ajaran mengenai akhir zaman) telah hadir sekarang, pada waktu Yesus datang untuk menyelamatkan kita.



Terang dan Kegelapan



Kedatangan terang dalam kegelapan menciptakan bayang-bayang, dan hal ini adalah krisis di mata Yohanes. Penghakiman itu telah terjadi! Namun orang lebih suka berada di dalam kegelapan! (3:19). Maka kita sekali lagi melihat kontras: antara orang yang memraktikkan apa yang benar, yang datang kepada terang dan mereka yang berbuat kejahatan, yang menyembunyikan tindakan-tindakannya (3:20-21).



Oleh sebab Yesus tidak datang untuk menghakimi tetapi menyelamatkan, maka yang dapat diselamatkan bukanlah mereka yang melakukan yang benar, yang saleh. Mereka yang tidak mengetahui bagaimana berbuat baik, yang terjerembab dalam kegelapan, boleh datang kepada terang itu, sebagaimana Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari dan menjumpai penerimaan dan kasih yang sejati dari Yesus.



Di halaman-halaman berikutnya di kitab Yohanes, kita pun berjumpa dengan orang-orang yang kontras dengan Nikodemus yang datang kepada terang, tetapi seperti Yudas! Yang meninggalkan terang dan masuk ke dalam kegelapan (13:30). Pilihan-pilihan ini selalu berada di hadapan kita: di masa-masa kritis ini, Allah telah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia, supaya kita tidak binasa tetapi memperoleh hidup yang kekal.



Refleksi:

1. Kegelapan dan kesalahpahaman seperti apa yang membuat kita harus dilahirkan kembali?

2. Bagaimana kita dapat diselamatkan?

3. Mana yang datang lebih dahulu, kelahiran kembali ataukah pengakuan percaya kepada Yesus?

4. Beranikah kita hidup di dalam kuasa Roh dalam kehidupan yang baru?



Doa



Tuhan Yesus,

berilah aku kuasa untuk hidup di dalam Roh Kudus supaya aku dapat memahami arti kelahiran

kembali dan kemudian diberdayakan untuk memasuki kehidupan yang baru.

Berilah anugerah untuk memandang melampaui apa yang ada di dunia ini

dan menerima keselamatan oleh karena Engkau telah ditinggikan.

Tuhan Yesus Kristus,

biarlah aku mengenal “momentum kritis”;

biarkan aku untuk keluar dari kegelapanku dan menerima kehidupan kekal dari Engkau.

Amin.



Kelahiran Kembali (3)



Ular Musa dan Anak Manusia



Selanjutnya, adaptasi konsep PL bergerak dari nabi-nabi dan tangga Yakub (percakapan dengan Natanael) menuju kisah di padang belantara. Dalam Bilangan 21:4-9, kita menemukan kisah orang-orang Israel bersungut-sungut melawan Musa dan Allah, dan kemudian dihukum dengan tulah ular tedung yang berbisa mematikan. Sebagai obatnya, Allah berkata kepada Musa untuk membuat ular dari tembaga dan mengangkatnya di sebuah tiang—dan setiap orang yang melihat akan disembuhkan (Bil. 21:9).



Ular tembaga itu sendiri pada akhirnya dijadikan berhala oleh Hizkia (2Raj. 18:4). Namun dalam Kitab Kebijaksanaan, yang dituliskan dalam zaman antara PL dan PB dan kini dapat dijumpai di Kitab Apokrifa, menjelaskannya sebagai “lambang keselamatan” (Keb. 16:6). Inilah yang Yohanes hendak pakai. Ia menggunakan satu kata yang dapat memiliki berbagai lapis makna—kata kerja hypsoun “mengangkat.” Memang, kata ini memiliki makna positif menaikkan atau meninggikan, tetapi ketika Yesus memakainya di sini dan di 8:28 dan 12:32-34 tentang Anak Manusia ditinggikan, kita tahu artinya adalah kematian Kristus. Sekali lagi, kita harus memandang lebih dalam melampaui tingkat mata duniawi menuju ke tingkat rohani/surgawi. Seperti halnya orang-orang Israel yang sekarat harus memandang kepada ular yang ditinggikan Musa, kita pun harus melihat tubuh Yesus yang dipecah-pecahkan itu “ditinggikan” sebagai sarana keselamatan kita. Ia ditinggikan demi pemulihan kita dan sebagai sumber hidup kekal bagi kita (3:14).



Hidup Kekal atau Binasa?



Yohanes menggunakan perpaduan yang kontras dan melihat bahwa realitas dunia surga bertolak belakang dengan yang duniawi. Dalam hal ini, ia dapat dituduh berpikir dualistik, yang melihat segala sesuatu dari dua sudut: positif dan negatif. Sebenaranya, dualisme dalam pemikiran Yunani memandang tinggi yang surgawi di atas yang duniawi, dan melihat dunia materia ini sebagai sesuatu yang harus dihindari. Yohanes pun pernah memakai “dunia” secara negatif, untuk mereka yang menentang Allah, khususnya dalam percakapan di Perjamuan Terakhir, di mana di sini dunia dipandang negatif sekali.



“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini” mengatakan bahwa objek yang dikasihi Allah adalah dunia, meskipun penuh dengan dosa dan cacat cela. Allah mengasihi seisi dunia. Kadang-kadang orang Kristen membaca Yohanes 3:16 ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan gereja ini” dan mengabaikan dunia! Hal ini keliru. Injil meneguhkan kita bahwa Allah bertindak kepada seisi dunia dengan mengutus “Anak-Nya yang tunggal.” Frase ini mengingatkan kita kembali kepada kisah PL lainnya di mana Abraham harus mengambil anaknya yang satu-satunya, Ishak yang ia kasihi itu untuk dipersembahkan kepada Allah (Kej. 22:2, 12). Walaupun Abraham tidak jadi mempersembahkan anaknya, Allah tidak menyayangkan Anak-Nya, Yesus, tetapi memberikan-Nya sehingga dunia tidak binasa.



Hal ini adalah pilihan tertinggi bagi para pembaca Yohanes: binasa dan terpisah dari Allah, atau menerima anugerah kehidupan kekal di dalam Anaknya, Yesus. Tidak ada pilihan lain—dan untuk alasan inilah Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia!



Kelahiran Kembali (2)



Guru Yang Mengajarkan Hal-hal Surgawi



Setelah Yesus membandingkan Roh dengan angin, Nikodemus kemudian meminta penjelasan lebih lanjut (3:9). Sebagai “pengajar Israel” (3:10), ia pasti telah mengetahui nubuat-nubuat kuno mengenai Allah akan memberikan umat-Nya “hati dan roh yang baru” (Yeh. 18:31; 36:26) dan menuliskan perjanjian baru-Nya dalam hati mereka (Yer. 31:33). Menjawab pertanyaan ini, Yesus membuka satu bagian percakapan baru dengan perkataan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya” (3:11). Dibandingkan injil-injil yang lain yang hanya memakai satu kali Amen, Yohanes menekankannya dengan dua kali (Amen, amen) untuk membuat pendengarnya memperhatikan dengan seksama.



Sesuatu yang aneh kita jumpai di ayat 11. Sebab Nikodemus tiba-tiba menghilang dari pandangan kita: pertama-tama kata “engkau” masih merupakan kata ganti tunggal, tetapi tiba-tiba berubah menjadi kata ganti jamak “kami” dan “kamu.” Juga, tidak jelas di mana percakapan Yesus berhenti oleh karena naskah-naskah kuno tidak memberi tanda baca yang jelas. Tanda-tanda baca itu baru dibubuhkan beratus-ratus tahun kemudian. Jika kita membaca sebuah novel, pasti jelas di mana tanda mulai dan berakhir percakapan, tetapi tidak demikian halnya dengan Yohanes.



Sejumlah versi Alkitab mengakhiri kutipan di 3:15, sedangkan yang lainnya sampai 3:21, dengan alasan bahwa ucapan Yesus memakai gaya bahasa yang sama dan kata-kata serupa. Kita dapat membayangkan, seolah-olah percakapan itu beralih dari percakapan kepada pribadi Nikodemus dengan Yesus yang berbicara kepada sang penulis injil dan orang-orang Kristen perdana lalu kepada orang-orang Yahudi dan pada akhirnya kepada seluruh umat manusia, untuk menerima “kesaksian kami” (3:11).



Hal Surgawi dan Duniawi



Kesalahpahaman orang-orang Yahudi mengenai percakapan seputar Bait Allah dan Nikodemus mengenai kelahiran kembali muncul karena mereka masih tinggal dalam tingkat harfiah atau duniawi (3:12). Hal ini terjadi di sepanjang injilnya. Sama halnya di sini, Yesus memulai percakapan dengan hal-hal duniawi seperti kelahiran dan angin, tetapi menggunakannya untuk mengacu kepada hal-hal surgawi yang menandai awal kehidupan dengan Allah dan Roh.



Sesungguhnya, Yohanes kerap membedakan kenyataan dunia surgawi dari kenyataan duniawi tempat tinggal kita. Problemnya ialah kita tidak dapat menaikkan level kita kepada level Allah. Sedangkan Yesus adalah Anak Manusia yang telah turun dari surga ke posisi kita yang hina dina (3:13). Kita melihat hal ini di pasal 1, Prolog Agung yang menjelaskan Yesus sebagai Firman yang bersama dengan Allah di surga (1:1-14) dan juga Yesus mengingatkan dua tingkat ini dalam percakapan-Nya dengan Natanael (1:51). Kita seharusnya tidak perlu menduga-duga bahwa Yohanes memiliki dua atau tiga pandangan akan dunia; tetapi pembedaan antara yang “superior” dengan yang “inferior.” Yang superior adalah dunia ide dan dunia ilahi, sedangkan yang inferior adalah dunia fisik. Adalah benar bahwa dalam hal ini, tulisan-tulisan kuno pada zaman itu pun terpengaruh oleh filsafat Plato. Kita akan sering menjumpai hal demikian di sepanjang injil ini.



Kelahiran Kembali (1)



KELAHIRAN KEMBALI: EKSPOSISI SINGKAT YOHANES 3





Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada banyak orang yang percaya kepada-Nya karena tanda-tanda yang dibuat-Nya. Pada pasal-pasal mendatang, kita tahu akan banyak orang yang datang kepada-Nya karena tanda-tanda yang dibuat-Nya—perempuan Samaria (4:29), perwira yang anaknya disembuhkan (4:47), orang lumpuh (5:9), orang banyak yang diberi makan Yesus (6:14), orang buta (9:25)—semua seharusnya beralih dari mempercayai tanda-tanda, kepada iman kepada Yesus sendiri. Yang pertama adalah Nikodemus, seorang Farisi dan “pemimpin agama Yahudi,” seorang dari Sanhedrin, yaitu Mahkamah Agama Yahudi (3:1). Ia adalah seseorang yang sangat berpengaruh dan kaya raya (ia membeli rempah-rempah di 19:39). Yesus memanggilnya guru Israel. Mungkin seorang pakar teologi! Bisa disamakan dengan Regius Professor of Divinity di Universitas Cambridge!



Ia datang “pada waktu malam” karena mungkin ia takut sebagai seorang pemimpin agama kok bertanya kepada Yesus (3:2). Namun, para rabbi juga meyakini bahwa malam hari merupakan waktu untuk mempelajari Kitab Suci. Apa pun alasannya, entah karena takut atau karena ingin bercakap-cakap dengan sang guru yang baru naik daun ini tanpa diganggu oleh apa pun atau siapa pun juga, penginjil memotret Nikodemus sebagai seseorang yang masih tinggal di dalam kegelapan—tetapi yang datang kepada terang. Dalam waktu kemudian, ia kembali muncul membela Yesus (7:50) dan untuk menguburkan-Nya (19:39).



Kamu Harus Dilahirkan Kembali



Kita tahu bahwa di dalam Injil Yohanes, Yesus suka memberi teka-teki, membuat pendengarnya bertanya-tanya. Yesus ingin mengarahkan mereka kepada makna yang lebih dalam. Hal ini terjadi di dalam percakapan Yesus di sini. Yesus menanggapi kepercayaan Nikodemus terhadap tanda-tanda yang dibuat-Nya (3:2), dengan berkata bahwa ia harus dilahirkan kembali anothen (3:3). Sama seperti “orang-orang Yahudi” menyalahartikan Yesus tentang pembangunan kembali Bait Allah, maka Nikodemus pun menafsirkan hal ini sebagai seseorang yang harus kembali masuk ke rahim bunda (3:4).



Maka, apa arti anothen? Beberapa versi Alkitab menerjemahkan “lahir kembali” dan yang lain “lahir dari atas.” Faktanya, anothen memang dapat berarti keduanya. Yesus datang dari atas, dari Allah (1:1dab.) dan menghendaki agar pengikut-Nya berada bersama-sama dengan Dia (17:24). Namun demikian, baik orang Yahudi maupun Yunani menggunakan ide kelahiran kembali ini untuk mengartikan dimulainya kehidupan yang baru, ketika orang-orang bukan Yahudi masuk ke dalam agama Yahudi, atau ketika seseorang menggabungkan diri dalam kultus ritual ibadah agama-agama Yunani. Ketika Nikodemus salah mengerti perkataan Yesus, hal ini mempersiapkan jalan untuk memahami penjelasan Yesus selanjutnya.



Air dan Roh



Yesus menjawab kesalahpahaman ini dengan menerangkan bahwa kita harus “dilahirkan dari air dan Roh” untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (3:5). Banyak sekali “air” di dalam injil ini: Yohanes membaptis dengan air (1:26); Yesus mengubah air menjadi anggur (2:9), menawarkan air hidup kepada perempuan di pinggir perigi (4:14), menyembuhkan di sisi kolam (5:7), berjalan di atasnya (6:19), menawarkannya kembali kepada orang-orang yang dahaga (7:37), menggunakannya untuk menyembuhkan (9:7) dan untuk membasuh kaki para murid (13:5). Ketika lambung Yesus ditikam, air juga keluar darinya (19:34).



Di dalam air terdapat warta mengenai pembersihan, penyembuhan dan pemuas kebutuhan terdalam. Karena itu tidak mengherankan bahwa sebagian orang menafsirkan air sebagai baptisan sedangkan Roh adalah sidi (pengakuan iman, atau krisma bagi kaum Katolik). Yang lain lagi menafsirkannya sebagai karunia kedua Pentakosta. Menurut hemat saya, bagian ini tidak berbicara mengenai baptis ataupun berkat Pentakosta.



Yesus mengontraskan pemahaman kelahiran rohani ini dengan pemahamannya yang bersifat harfiah. Kita harus beranjak dari kelahiran fisik menuju kelahiran rohani untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena itulah, yang dilahirkan dari daging adalah daging, tetapi yang dilahirkan kembali itu seperti angin yang berembus ke sana dan ke mari yang tidak dapat dikenal dari mana asalnya (3:6-8). Kata Yunani pneuma berarti angin, napas, roh, yang keluar dari “paru-paru” Roh Kudus. Nikodemus harus keluar dari kegelapan, dilahirkan kembali, menghirup “napas baru” dan membiarkan dirinya dibawa dan diarahkan oleh embusan angin dari Allah.