Sunday, February 1, 2009

Duduk di Bawah Kaki St. Ishak dari Niniwe



DUDUK DI BAWAH KAKI ST. ISHAK DARI NINIWE





“Seseorang yang berasal dari dunia, yang bertahan dalam kesengsaraan di dalam kehidupan ini lebih tinggi kedudukannya daripada seorang pertapa yang menderita kesukaran-kesukaran dan tinggal dengan orang-orang duniawi. Yang menakutkan bagi setan-setan dan menjadi yang dicintai Allah serta malaekat-malaekatnya adalah dia yang dengan keteguhan hati yang kokoh mencabut kebencian-kebencian yang ditaburkan oleh si musuh dari dalam hatinya.”



—St. Ishak dari Niniwe (w. 700 M)





St. Ishak dari Niniwe lahir di Bet-Qatraye atau Qatar di Semenanjung Persia. Ia adalah bapa gereja yang berlatar belakang Kristen Arab. Pada tahun 660 M. ia ditahbiskan sebagai Uskup di kota Niniwe, kota kuno yang kini berada di Irak. Namun, jabatan ini hanya dipangkunya selama lima bulan; ia pensiun dini lalu berangkat ke pertapaan Rabban Shabur di daerah Iran. Di sana ia menulis dan mempelajari Alkitab dengan cermat, sampai-sampai dikisahkan bahwa ia mengalami kebutaan. Perayaan bagi karya dan pelayanannya jatuh setiap tanggal 28 Januari.



Ia adalah seorang inspirator bagi tradisi Timur dan Barat, dan tulisan-tulisannya menjadi sumber hikmat dan ilham. Titik berat tulisan Ishak adalah asketisisme sebagai cara untuk berfokus kepada Allah. Ia menyusun suatu rancang bangun disiplin rohani yang disusun berdasarkan trikotomisme tubuh, jiwa dan roh.



Pada tahapan pertama, yaitu tahap “tubuh,” seseorang harus berdisiplin dalam berpuasa, berdoa dan bermazmur, karena hal ini dapat memurnikan hasrat-hasrat duniawi kita serta hambatan-hambatan kehidupan. Kita harus mampu meredam semua hasrat dan nafsu duniawi yang dapat menjauhkan kita dari Allah.



Setelah seseorang dapat menguasai diri, maka ia pun mampu masuk ke tahapan “jiwa” yaitu kemampuan untuk berbalik dari hal-hal kebendaan serta berfokus kepada permenungan akan hikmat Allah. Jiwa manusia akan terbuka secara penuh kepada Allah.



Pada tahapan yang terakhir, yaitu “roh,” seseorang akan mengalami sukacita berdoa secara kontinu dan pemahaman yang mendalam mengenai kehidupan yang tiada berkematian yang dianugerahkan kepada kita oleh karya kematian dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan.



St. Ishak berkata, “Berjalanlah di hadapan Allah dalam kesederhanaan, dan bukan dalam kerumitan pikiran. Kesederhanaan membuahkan iman, tetapi spekulasi-spekulasi rumit dan intrik-intrik membuahkan tipu daya; dan tipu daya membuahkan keterpisahan dengan Allah.”



Ishak adalah pelopor mistikus yang mengatakan bahwa air mata merupakan suatu “anugerah” dalam pelayanan. Hal ini begitu menghibur banyak pelayan Tuhan yang sedang memulai karya pelayanannya, dan yang menghadapi banyak kendala di tempat ia melayani. Salah satu mistikus yang terpengaruh dengan konsep “anugerah” ini adalah St. Ignatius dari Loyola (1491-1556).



Bukankah demikian kenyataan hidup ini? Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan. Kita kerap mengalami kasih Tuhan serta kehadiran-Nya bersama dengan kita sehingga kita pun menitikkan air mata; atau tatkala hati kita tergerak karena melihat seorang anak kecil sedang tertidur dengan pulasnya di daerah kumuh; atau ketika kita melihat diri kita menjadi benar-benar kosong namun sekaligus penuh, oleh karena penerimaan orang-orang di sekitar kita. Semua pengalaman ini dapat membuat kita menitikkan air mata. St. Ishak berkata, “But we are not accustomed to such an experience and finding it hard to endure, our body is suddenly overcome by a weeping mingled with joy. Air mata yang merupakan anugerah itu bagi Ishak adalah suatu “tanda yang nyata mengenai kebenaran yang tertangkap” dalam hati seorang Kristen sejati.



Meski sebagai seorang pertapa, Ishak bukan mau mengajak semua pelayan Tuhan untuk menarik diri dari dunia. Kata-kata St. Ishak yang dikutip di bagian atas membuktikan pernyataan ini. Ia mengingatkan kita untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal duniawi, tetapi untuk bertahan. Sebagai manusia, tak jarang kita hanyut dengan “gengsi” dan mau menjadi nomor satu. Namun orang yang seperti ini akan kehilangan semakin banyak hal. St. Ishak hendak mengajak kita untuk melihat jati diri kita yang sesungguhnya, yaitu menjadi “kekasih-kekasih” Allah.



Ishak selalu mengajak kita untuk melatih diri ke dalam disiplin rohani, sebab menurutnya disiplin rohani merupakan ibu dari kesucian hidup. Dari disiplin rohani itu, tumbuhlah cara pandang yang membawa kita masuk kepada misteri Kristus. Kata St. Ishak, “Seberapa besar yang diusahakan seseorang [Kristen] untuk mendekat kepada Allah dengan segala maksud dan tujuannya, sebesar itu pula Allah mendekat kepada-Nya melalui karunia-karunia -Nya.”



Mungkin realitas zaman kita adalah—Banyak orang yang sedang mengalami ketakutan untuk hidup. Ketakutan untuk menghadapi banyak hal. Kehilangan kendali. Patah dalam pengharapan. St. Ishak memperingatkan, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Kebenaran tanpa memperoleh pengalaman sengsara.” Sebab bagi Ishak, “Jika jiwa tidak mengalami penderitaan demi Kristus, ia tidak akan berbagi pengenalan terhadap Dia.”



Terhadap orang-orang yang diimpit dosa dan malu untuk datang kepada Kristus, Ishak memberikan sebuah ilustrasi yang menarik, “Segenggam pasir, yang dilemparkan ke dalam laut, demikianlah keberdosaan ketika dibandingkan dengan Penyelenggaraan Allah dan rahmat kasih-Nya. Sama seperti sebuah sumber mata air yang melimpah ruah tidak terganggu oleh segenggam debu, demikianlah rahmat kasih Sang Pencipta tidak ditaklukkan oleh dosa-dosa ciptaan-Nya.”



Terpujilah Allah!



No comments:

Post a Comment