Thursday, February 5, 2009

Pengantar Masa Raya Paskah 2009

“KRISTUS YANG TERSALIB, KAMI SEMBAH”





Meskipun kita memuji Allah yang sama untuk banyak sekali alasan,

kita memuji dan menyembah-Nya terutama oleh sebab salib.

[Paulus] mengesampingkan semua hal yang lain yang Kristus kerjakan

untuk kepentingan dan penghiburan kita, kemudian yang tinggal hanya salib.

Bukti kasih Allah kepada kita, beliau berkata, bahwa Kristus telah mati untuk kita,

ketika kita masih berdosa [Rm. 5:8]. Kemudian dalam kalimat berikut ini,

beliau memberi kita dasar tertinggi bagi pengharapan:

Jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah

oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan,

pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya [Rm. 5:10].



Bapa Gereja Yohanes Krisostomus (347-407 M)





Ritualisme Melawan Anugerah?



Mengapa ada begitu banyak “ritual” keagamaan di masa Paskah ini? Apakah kita kembali kepada masa Perjanjian Lama? Bukankah kita hidup dalam masa anugerah dan bukan hukum Taurat? Bukankah Gereja Reformasi menghapuskan semua ritualisme Gereja Katolik Roma di Abad Pertengahan? Kalau begitu, mengapa perlu ada banyak pernik seperti puasa, kebaktian khusus, jalan salib, tugur (vigil)? Bukankah cukup Jumat Agung dan Fajar Paskah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kerap muncul di benak banyak warga jemaat.



Sejenak marilah kita jujur kepada hati kita masing-masing. Dalam hidup ini, kita telah terlampau ditenggelamkan oleh urusan-urusan keseharian yang remeh-temeh: pakaian bermerek terkenal, warna mobil yang akan dibeli, besarnya uang tabungan di bank, asuransi bagi anak yang akan sekolah, kinerja di kantor yang menguras tenaga dan pikiran, dan mungkin termasuk kecemasan tentang datangnya PHK. Disadari atau tidak, rutinitas harian kita telah menyita banyak sekali konsentrasi dan waktu.



Adakah waktu untuk Tuhan? Adakah waktu untuk memikirkan firman Tuhan dan mengunyahnya kembali, yang kita dengar dari mimbar di setiap Minggu? Sungguhkah kita menantikan Jumat Agung dan Paskah? Hidup di masa kini bak berkejaran dengan tuntutan. Bukankah kita, dalam saratnya beban hidup keseharian yang makin berat, lebih gampang melupakan Sang Khalik dan Penebus kita, alih-alih benda-benda yang kita punyai serta ambisi-ambisi pribadi? Minggu mungkin telah menjadi rutin karena “kepantasan” sebagai seorang Kristen. Jangan-jangan, kian bertambah pula jumlah orang Kristen yang hidup seolah-olah bahwa wafat dan kebangkitan Kristus tidak pernah terjadi, karena tiada waktu untuk mempersiapkannya.



Masa Raya Paskah, yang diawali dengan Rabu Abu, Minggu-minggu Prapaskah dan berpuncak di Minggu Sengsara, sesungguhnya mengundang kita untuk kembali ke dasar iman, kembali ke sumber kehidupan batin, kembali ke pusat hidup kita yang sejati, kembali berpusatkan Allah. Masa Raya Paskah mengundang kita untuk mematikan dosa dan kebodohan kita terhadap Allah dan sesama kita. Masa ini pun membuka kembali gerbang untuk masuk dan menikmati sukacita Tuhan—sukacita hidup baru sebagai ganti kematian dan kehidupan yang lama.



Jadi, apakah merayakan Paskah selama hampir tujuh Minggu merupakan ritualisme belaka? Hendaklah kita mengingat selalu, semua ibadah dapat menjadi ritualisme yang kosong, termasuk ibadah Mingguan. Memang, seseorang dapat berpura-pura bertobat ketika mengikuti peneraan abu di ibadah Rabu Abu. Hal itu hanya sebagai gerakan biasa tanpa ada penyesalan diri. Kendati demikian, sama salahnya bila kita melalaikan persiapan-persiapan untuk menyongsong peristiwa Paskah yang Agung itu.



Justru di tengah kondisi zaman di mana banyak orang semakin kehilangan ketajaman mata batin, dan kekurangan waktu untuk merenungkan firman dan mengikuti PA di gereja, maka ibadah Gereja harus ditata untuk membentuk ulang peziarahan batiniah atau perjalanan kehidupan rohani warga jemaat melalui peringatan-peringatan Kristen. Paskah adalah waktu di mana seseorang kembali menata pusat kehidupannya di dalam Allah yang berlimpah anugerah. Di sanalah setiap mata warga Kerajaan Surga akan memandang Yesus yang tersalib dan Kristus yang dibangkitkan dari antara orang mati! Di bawah kaki salib Kristus, kita sujud dan menyembah! Crucem sacram tuam adoramus, Domine!



Rabu Abu



Gereja memperingati Rabu Abu dengan berpuasa dan berpantang. Berpuasa memiliki tujuan: (1) mendekatkan diri kepada Allah dengan kemawasan diri dan pertobatan yang sungguh; (2) mengurangi atau berpantang dengan apa yang kita sukai demi persekutuan yang lebih intim dengan Tuhan; (3) menyisihkan sebagian milik kita untuk kita bagikan kepada sesama.



Disebut Rabu Abu karena pada peringatan ini diterakan abu daun palma yang dipakai dalam Minggu Palmarum tahun sebelumnya. Abu dioleskan di atas dahi dalam bentuk tanda salib (atau ditaburkan di kepala umat) disertai nasihat, “Ingatlah, bahwa engkau ini debu dan akan kembali kepada debu” (Kej. 3:19) dan/atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (bdk. Mrk. 1:15). Rabu Abu merupakan pintu kepada masa Prapaskah, yang dicirikan oleh penyesalan dosa atau pertobatan. Warna liturgi pun mencerminkan pertobatan tersebut ialah UNGU.



Prapaskah



Masa ini disebut juga masa pertobatan, diperingati 40 hari lamanya, mulai dari Rabu Abu sampai dengan Kamis Putih. Tema pokok pada masa ini adalah pembaptisan dan pertobatan. Bahwa pada waktu seseorang dibaptis, seseorang mati bagi dosa dan dibangkitkan untuk hidup sebagai milik Allah. Dalam baptis, seseorang dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Umat pun diajak untuk selalu mawas kepada kekurangan diri dan keberdosaan. Meskipun telah dipersatukan dengan Kristus, namun kita masih hidup di dalam keberdosaan.



Dalam masa Prapaskah, tidak dinyanyikan “Alleluia!” tetapi “Hosiana!” yang berarti “Selamatkanlah kami.” Warna UNGU sebagai simbol pertobatan merupakan warna liturgi yang tetap selama Minggu-minggu Prapaskah (5 Minggu).



Minggu Palmarum



Minggu Palmarum merupakan Minggu Prapaskah Keenam, sekaligus pembuka Pekan Suci atau Minggu Sengsara Tuhan. Ibadah di Minggu ini dicirikan oleh jemaat yang turut melambai-lambaikan daun palem sambil berkata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”; hal ini mengingatkan saat Yesus Kristus memasuki Yerusalem, Ia dielu-elukan oleh khalayak ramai dengan lambaian daun palem.



Dalam Minggu ini, ada sukacita tetapi juga ada dukacita. Kristus mengalami dua hal yang nampak bertentangan (paradoks): Ia disanjung sebagai Mesias Raja, namun Ia sesungguhnya tengah memasuki puncak karya-Nya sebagai Mesias Hamba yang menderita. Sorak “Hosana!” itu segera berubah menjadi teriakan “Salibkan Dia!” Peringatan ini mengangkat kesadaran batin umat akan hal sangat cepatnya manusia berubah dari kesetiaan kepada Tuhan, menjadi pengkhianatan kepada Dia. Warna MERAH adalah warna liturgi untuk Minggu ini.



Dalam ibadah Minggu Palmarum, ada kekhususan leksionari. Bacaan sebenarnya hanya Mazmur dan Injil (dapat ditambahkan Surat Kiriman). Tidak ada Pembacaan Perjanjian Lama. Maksudnya, mata rohani umat diajak memandang Sosok Kristus sebagai pengejawantahan Injil yang sejati. Demikian juga, pengakuan dosa diletakkan setelah pewartaan firman, dengan mengingat ratapan Yesus setelah memasuki kota suci Yerusalem (Mat. 23:37-39).



Tiga Hari Pekan Suci



Senin-Rabu di Pekan Suci, merupakan hari permenungan. Setiap umat mengadakan waktu khusus secara pribadi untuk mempersiapkan diri di hadapan Tuhan, dengan panduan renungan yang ada dalam buku liturgi ini. Panduan renungan ini mengantar jemaat kepada puncak peringatan sengsara Kristus dalam Triduum (Trihari Kudus).



Kamis Putih



Kamis dalam Pekan Suci atau Minggu Sengsara ini mengenang Perjamuan Tuhan, Pembasuhan Kaki Para Murid, penetapan titah kasih kepada sesama dan Kisah Getsemani. Inilah malam terakhir sebelum kesengsaraan Kristus yang mahadahsyat.



Dalam pemahaman liturgi, Kamis Putih menitikberatkan kepada “titah kasih” sebagai perintah baru dari Tuhan Yesus (Yoh. 13:34). Karena, dalam bahasa Inggris, Maundy yang menerangkan Thursday berasal dari istilah Latin mandatum novum, “mandat baru” atau “titah (perintah) baru.” Jadi Maundy Thursday dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai “Kamis Titah Baru.”



Semua lilin Prapaskah diganti dua lilin PUTIH, yang sekaligus juga mencirikan warna liturgi hari Kamis ini, untuk mengingatkan kita bahwa Kristus memanggil kita menggenapkan dwititah kasih: Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, seperti yang Kristus teladankan sendiri di dalam pengajaran, tata laku dan tutur kata-Nya.



Trihari Kudus



Istilah Latinnya Triduum Sacrum. Pada Abad Awal (300-600 M.), yang termasuk peringatan Trihari Kudus adalah Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah (sore). Gereja memusatkan perayaan ini kepada peristiwa penyaliban, pemakaman dan kebangkitan Tuhan.



Pada Abad Pertengahan (l.k. 600-1500-an) terjadi pergeseran perayaan. Dimajukan satu hari, maka Kamis Putih sudah termasuk Trihari Kudus, bersama dengan Jumat Agung dan Sabtu Sunyi (Malam Paskah). Alasan yang dipakai yaitu bahwa ketiga peristiwa ini berkenaan dengan kesengsaraan Tuhan.



Jumat Agung



Yesus wafat di atas salib pada Jumat Pekan Suci (Minggu Sengsara) atau Jumat sebelum Paskah. Jumat Agung merupakan awal dari misteri teragung anugerah Allah—di dalam Yesus Kristus Allah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, setia sampai akhir dan mati di kayu salib.



Pada Jumat Agung, ruang ibadah tidak didekorasi. Semua lilin telah padam. Meja perjamuan kudus dilucuti dari semua perlengkapan dan hiasan: kain, salib, lilin, bunga, dll. Ini menjadi lambang dukacita serta kegelapan yang teramat pekat, yang kini telah menggelayuti Sang Putra Tunggal Allah. Teriakan “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” menjadi bukti bahwa Bapa memalingkan muka-Nya kepada Putra-Nya demi menanggung dosa umat-Nya.



Sabtu Sunyi



Disebut juga Sabtu Paskah, adalah hari untuk mengenang Kristus dimakamkan. Di hari ini, umat menantikan kebangkitan-Nya. Umat dianjurkan untuk melakukan puasa sebagai perpanjangan Jumat Agung. Dalam Gereja Katolik, Ortodoks, dan Anglikan, pada Sabtu Sunyi dilaksanakan tugur (vigil). Tugur dimulai dari petang sebelum suatu hari raya (Malam Paskah) dan berakhir pada dini hari. Tugur Sabtu Sunyi bagi Gereja-gereja ini dikenang sebagai induk dari semua tugur. Tugur dilaksanakan dengan menyanyikan mazmur, mendengarkan bacaan, dan memanjatkan doa-doa.



Gereja kita pun mengadakan semacam tugur, bukan pada malam hari tetapi dimulai pada sore hari, yaitu dengan Jalan Salib dan Doa Taizé. Melalui Jalan Salib kita mengenang prosesi sengsara Tuhan kita, dan Doa Taizé mengajak jemaat untuk bermazmur, mendengarkan bacaan, merasakan keheningan serta menaikkan doa-doa. Tidak ada pemberitaan firman.



Paskah



Paskah merupakan puncak dan pusat Tahun Liturgi Gereja. Hari yang dinanti-nantikan setelah masa-masa persiapan yang panjang. Segala pengharapan dan dambaan seluruh umat Kristiani nyata dalam kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Itulah sebabnya, liturgi Paskah merupakan liturgi yang paling semarak dari semua perayaan tahun gereja.



Warna PUTIH dan EMAS mendominasi ruang ibadah dengan hiasan-hiasan yang cerah dan meriah, sebagai masa untuk bersukacita dan merayakan kemenangan dan pembaruan. Sebabnya, Yesus telah dibangkitkan dari kematian dan ditahbiskan sebagai Mesias Raja, dan Dia layak mendapat gelar “Tuhan” (Yunani Kurios). Seluruh umat kini kembali bersorak, “Alleluia!” Yesus hidup! Ya, Dia sungguh hidup!



Jangan lupa, Paskah merupakan awal dari “Lima Puluh Hari Agung” yang menuntun jemaat pada peringatan Pentakosta. Setelah Minggu Paskah, warna liturgi adalah MERAH. Pada masa ini, umat mengenang Kristus yang terus melakukan pelayanan-Nya kepada umat sampai pengangkatan-Nya ke surga. Umat pun dibawa kepada permenungan bahwa karya Kristus meluas kepada penebusan seluruh ciptaan, dan demi mewujudkan kehidupan yang penuh sukacita bagi setiap umat kepunyaan-Nya.





SELAMAT MENAPAKI ZIARAH BATIN!

CRUCEM SACRAM TUAM ADOREMUS, DOMINE!





Kepustakaan:



The Worship Sourcebook. Grand Rapids: CICW/Baker, 2004.



Maryanto, Ernest. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisius, 2004.



Webber, Robert E., ed. The Complete Library of Christian Worship V: The Services of the Christian Year. Nashville: Hendrickson, 1994.



--------. Ancient-Future Time: Forming Spirituality through the Christian Year. Grand Rapids: Baker, 2006.



2 comments: