Thursday, May 1, 2008

PEMBERITA KABAR BAIK


PEMBERITA KABAR BAIK

(YESAYA 52:6-7)


New Revised Standard Version (NRSV)


(6) Therefore my people shall know my name; therefore in that day they shall know that it is I who speak; here am I. (7) How beautiful upon the mountains are the feet of the messenger who announces peace, who brings good news, who announces salvation, who says to Zion, "Your God reigns."


New Jerusalem Bible (NJB)


6 Because of this my people will know my name, because of this they will know when the day comes, that it is I saying, Here I am!' (7) How beautiful on the mountains, are the feet of the messenger announcing peace, of the messenger of good news, who proclaims salvation and says to Zion, 'Your God is king!'


Terjemahan Baru (LAITB 1974)


6 Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku!

7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!"


Mengenal Allah—Tujuan Utama!


Kalau ditanya, apakah tujuan utama hidup manusia? Kita jawab, mengenal Allah. Bila hendak diuraikan: memuliakan Allah dan menikmati persekutuan dengan Dia selama-lamanya. Mengenal itu berbeda dengan “tahu tentang.” Jika Anda tahu tentang seseorang, Anda hanya tahu sedikit, dan banyak praduga dan asumsi terhadap dia. Tetapi bila Anda mengenalnya, maka Anda akan semakin tahu siapa dia—segala praduga pun berkurang. Demikian pula dengan Allah, Allah menghendaki umat-Nya mengenal Dia. Mengenal nama Allah, berarti mengenal kuasa, keagungan, keadilan serta kekudusan-kasih-Nya! Allah itu penuh cinta-kasih dalam keadilan. Dan Ia pun adil dalam kasih-Nya.


Pengenalan akan Allah akan membawa kita kepada keyakinan akan kedaulatan kuasa-Nya. Akulah Dia yang berbicara, ya Aku! merupakan sebuah penegasan betapa seriusnya Tuhan! Bila bagian yang kita sedang renungkan ini adalah sebuah janji pemulihan, maka kita dapat yakin bahwa Tuhan akan menang dan berjaya! Allah sebagai Raja!—Raja yang berkuasa atas umat-Nya, serta Raja yang berkuasa atas seluruh semesta ciptaan-Nya! Jika Allah adalah Raja kita, maka adakah lagi yang akan menakutkan kita? Kecelakaan? Inflasi? Kehilangan harta? Kematian kekal? Inilah arti keselamatan yang sejati! Hidup kita dimiliki oleh Allah, sampai kekekalan, kita menjadi harta kesayangan-Nya!


Pujian Bagi Pemberita Kabar Baik


Namun untuk sampai ke tujuan itu, yaitu mengenal Allah yang sejati, ada sarana dan piranti yang Allah pakai, yaitu pembawa kabar baik. Ayat 7 merupakan pujian bagi sang pekabar warta sukacita. Dari bahasa aslinya, kita dapat menerjemahkan “betapa indah [kelihatan] dari gunung-gunung, kaki-kaki sang utusan . . . .” Kita juga melihat “beban jabatan” bagi sang pemberita: mengabarkan berita damai, memberitakan kabar baik, mengabarkan berita selamat, dan berkata kepada Sion siapa Yahweh itu. Namun kita melihat, Allah menyapa dan memuji pemberita kabar baik itu secara pribadi!


Dari teks di atas, marilah kita menarik pelajaran: pertama, tugas sang pemberita itu besar, karena mereka menyerukan agar umat mengenal Yahweh sebagai Raja! Kedua, tugas sang berat, karena mereka harus membawa berita itu sekarang dan terus-menerus; mungkin seumur hidupnya, dan sebuah proses pembelajaran yang panjang. Ketiga, pujian itu ditujukan untuk kaki-kakinya—yaitu bagian yang tertutup, paling kotor, paling bau, paling tidak terawat. Bukan tangan yang dipuji! Bukan pula mulut, atau kecakapan paras wajah dan kefasihan berkata-kata! Apalagi kekuasaan dan kekayaan!


Banyak kali kita jumpai, ada orang Kristen yang ingin melayani Tuhan dengan syarat: gampang dikerjakan, ringan dan tidak butuh pengorbanan, tetapi besar pujian. Bila perlu, seisi surga dan segenap warga gereja bertempik sorak, bertepuk tangan riuh rendah karena kehebatan sang “pelayan.” Sesungguhnya orang yang seperti ini tidak layak disebut pelayan Tuhan! Ia tidak boleh disebut pemberita kabar baik. Jika kita ingin menjadi pemberita kabar baik yang sejati, kita tidak akan gampang mengritik dan mencari-cari kesalahan, mengerjakan tugas dengan senyap tapi sebaik-baiknya, dan tidak mencari-cari pujian dari orang. Bila tugas itu berat, mintalah selalu hikmat dari Allah. Datanglah kepada Dia dalam doa dan kepasrahan diri. Sama seperti pesan rasul Paulus menjelang meninggalnya, kepada anak didik yang dikasihinya, Timotius, “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5).


TEPUJILAH ALLAH!

No comments:

Post a Comment