Saturday, December 6, 2008

Mengenal Nyanyian Gereja (2)



Marilah kita mengamati tempat himne dalam Gereja Perjanjian Baru. Bila kita amati, Gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan.



Prioritas Mazmur



Dalam Alkitab Ibrani, Kitab Kidung Mazmur tidak hanya berisi lagu-lagu religius, tetapi lagu-lagu lain yang mempunyai latar belakang dalam lagu sekular dan populer pada zaman itu, seperti lagu-lagu untuk kerja, gita cinta, dan gita pernikahan. Kebanyakan adalah lagu pujian, ucapan syukur, doa dan pertobatan. Juga dapat ditemukan nyanyian (Yunani ōdē) bersejarah yang berhubungan dengan peristiwa besar di negara Israel, misalnya Mazmur 30 “untuk penahbisan Bait Suci,” dan Mazmur 137, yang memotret penderitaan orang-orang Yahudi di pembuangan. Mazmur sendiri merupakan bagian penting dalam ibadah di Bait Suci; kitab kidung Mazmur menjadi buku kidung liturgis standar ibadah umat Allah.



Ibadah memasukkan mazmur terpilih untuk tiap-tiap hari selama seminggu. Mazmur 24 untuk hari I, Mazmur 48 untuk hari II, Mazmur 82 untuk hari III, Mazmur 94 untuk hari IV, Mazmur 81 untuk hari V, Mazmur 93 untuk hari VI, dan Mazmur 92 untuk hari Sabat. Setelah mempersembahkan kurban, pada ibadah pagi umat mengidungkan Mazmur 105.1–5 dan Mazmur 96 untuk ibadah malam. Mazmur-mazmur Hallel (Mzm. 113–118, 120–136, 146–148) dinyanyikan pada pesta Paskah. Pada masa pascapembuangan, nyanyian Mazmur dipindahkan dari Bait Suci ke sinagoga, yang di kemudian hari mempengaruhi gereja Kristen.



Himne dalam Gereja Perdana



Gereja sebenarnya mewarisi harta karun di dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) yang memuji Allah dengan: (1) menyanyikan lagu-lagu bernada sederhana dan beritme ajeg, (2) nyanyian jemaat dengan pengulangan bercorak antifonal dan responsori (mazmur), (3) melodi-melodi yang diolah untuk satu kata (misalnya Alleluia). Dalam sinagoga Yahudi, gaya membaca dengan lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa dan bermazmur.[1]



Dari survei di atas terlihat dengan jelas peran penting nyanyian jemaat dalam Gereja Perjanjian Baru. Mazmur tetap dipertahankan. Bahkan Hughes Oliphant Old, teolog Reformed sekaligus pakar liturgi Protestan, berkata bahwa Mazmur merupakan pusat puji-pujian Gereja PB. Bentuk ini juga yang melahirkan “mazmur-mazmur Perjanjian Baru,” seperti Magnificat atau Nyanyian Maria (Luk. 1.46–55), Benedictus atau Nyanyian Zakharia (Luk. 1.68–79) serta Nunc Dimittis atau Nyanyian Simeon (Luk. 2.29–32).



Mazmur-mazmur PB ini ditulis dalam genre (jenis sastra) mazmur ucapan syukur (lih. Mzm. 100). Dari sudut pandang teologi perjanjian, ada indikasi yang kuat bahwa mazmur PB merupakan pemenuhan mazmur PL.[2] Umat Ibrani mengucap syukur karena Allah memerintah umat dan alam semesta. Sekarang Mesias Yesus memerintah segala sesuatu, karena itu bukanlah suatu konsep asing bila umat perjanjian baru menaikkan syukur atas pemerintahan Allah. Sementara itu, komposisi-komposisi baru kidung puji-pujian (himne) berkembang pula dengan pesatnya. Ada jenis nyanyian kuno lain lagi dalam PB, yakni lirik-lirik pendek yang didendangkan seperti “Amin” (Amen), “Alleluia” dan “Kudus, kudus, kudus” (Sanctus).



Surat-surat Rasul Paulus



Rasul Paulus menyebut tiga jenis nyanyian umat: mazmur (psalmos) himne (hymnos) dan nyanyian rohani (ōdē). Ia menasihati jemaat dalam Efesus 5.19, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Demikian juga dalam Kolose 3.16, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”



Menyanyikan Mazmur merupakan kebiasaan yang diwarisi dari ibadah di sinagoga, dan kita dapat berasumsi bahwa “mazmur” Kristiani mengikuti gaya berkidung Yahudi. Istilah “himne” sangat mungkin mengacu kepada teks-teks yang digubah dalam bentuk puisi, bisa jadi mengikuti model mazmur, hanya kini ditujukan untuk memuji Kristus. “Nyanyian” merujuk kepada lagu yang lebih spontan, keluar dari hati yang meluap, bergaya kontemporer dan dinyanyikan secara melismatic (dinyanyikan hanya dalam 1 nada) dan kemungkinan cikal bakal nyanyian Alleluia. Ada dugaan bahwa nyanyian ini mirip yang ditemukan dalam kelompok mistik Yahudi, yakni doa yang dinyanyikan secara ekstatis, atau dendangan tanpa kata-kata. Namun hal yang baru saja dikemukakan ini tidak dapat dijadikan norma bagi istilah “nyanyian.”



“Mazmur” (psalmos) diturunkan dari kata psallō yang artinya “memetik atau memainkan (instrumen berdawai),” maka berarti “suatu nyanyian yang dilantunkan dengan alat musik berdawai.” Penemuan Gulungan Laut Mati 1QH dan 11QPsa dan kitab Mazmur Salomo memberikan titik terang kepada kita bahwa tradisi Yahudi pada abad I S.M. telah memraktikkan nyanyian-nyanyian mazmur gaya baru untuk digunakan dalam ibadah di sinagoga, dan hal ini berlanjut hingga periode PB. Gereja Perdana nampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja; Gereja memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi PL dan menggubahnya sebagai komposisi nyanyian Kristen. Lebih kurang berpadanan dengan mazmur, yaitu “kidung pujian” (hymnos) merujuk kepada kidung yang biasanya ditujukan bagi dewata atau para pahlawan dalam dunia Greko-Romawi. Di Kisah 16.25, Paulus dan Silas menyanyikan hymnos dalam penjara. Di Ibrani 2.12, penulis mengutip Mazmur 22.23 di mana pemazmur memuji Allah di tengah-tengah jemaat. Maka dapat disimpulkan bahwa hymnos merupakan “nyanyian untuk memuji-muji Allah.” J. B. Lightfoot pernah mengatakan bahwa mazmur adalah nyanyian yang digubah langsung dari Alkitab, sedangkan himne adalah karangan yang khas dari Gereja Kristen; namun pandangan ini belumlah final. Dari penyelidikannya, James D. G. Dunn akhirnya menyimpulkan bahwa orang-orang Kristen perdana juga memakai himne-himne yang diambil dari luar Alkitab, dan hal ini tidak diperdebatkan hingga abad III M.[3] Kata ketiga, ōdē dipakai sebagai lagu penguburan jenasah dalam suatu tragedi tetapi lebih sering mengacu kepada nyanyian sukacita atau sekadar nyanyian saja. Di PB dipakai pula dalam Wahyu 5.9; 14.3; 15.3. Kata sifat yang menyertainya, “rohani,” merupakan suatu lagu yang dilantunkan oleh ilham langsung dari Roh Kudus (dalam Efesus 5.19, menyanyi berhubungan dengan kepenuhan Roh Kudus). Apakah ini merujuk kepada glossolalia, ricauan ekstatis non-gramatik? Sangat sulit menyimpulkan demikian, sebab kata ini berada dalam konteks pengajaran dan kehidupan berjemaat yang saling menasihati; maka, mungkinkah berkata-kata satu sama lain dalam bahasa-bahasa yang tidak dimengerti? Tetapi yang jelas yakni adanya unsur spontanitas dari dalam hati. Menurut N. T. Wright, ketiga istilah yang dipakai di ayat ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya nyanyian-nyanyian Kristen dan kiranya tidak dipersempit menjadi satu jenis saja atau dibatasi hanya untuk keperluan ibadah mingguan.[4] Pada akhirnya kita mengerti bahwa Gereja Paulin (berdasarkan tradisi Paulus) memandang penting puji-pujian kepada Allah.



Hal di atas semakin dapat kita pahami dengan jelas apabila memperhatikan parafrase Efesus 5.19,



dengan berkata-kata seorang kepada yang dalam mazmur-mazmur, himne dan nyanyian-nyanyian yang diinspirasikan Roh, dengan menyanyikan nyanyian-nyanyian dan memainkan alat musik dengan segenap hatimu kepada Tuhan.[5]



Tiap-tiap klausa memiliki fokus perhatian yang spesifik: Pertama, klausa pertama berdimensi horisontal dengan titik berat pada hubungan antarjemaat, sangat mungkin dalam ibadah formal tetapi bisa dalam kesempatan lain pula. Di Efesus, kata yang lebih umum dipakai, “berkata-kata,” sedangkan di Kolose kata khusus “mengajar dan menegur”; dalam hal ini rasul memaksudkan hal yang sama, yaitu adanya pengajaran, penguatan iman dan penghiburan dengan cara beragam nyanyian yang diilhamkan Roh. Ragam nyanyian itu disebut “rohani” tidak semata-mata berciri spontan atau ekstatis (mengalami ekstase); fokus utamanya adalah Sumber inspirasi nyanyian itu—Roh Kudus. Fakta bahwa seorang jemaat berkata-kata kepada yang lain mengungkapkan bahwa rasul menghendaki adanya komunikasi ibadah yang dapat dimengerti—bukan meditasi, ucapan yang tidak dapat dimengerti atau glossolalia.



Kedua, klausa kedua berdimensi vertikal dengan titik berat pada menyanyi dengan seluruh keberadaan kepada Tuhan. “Hati” merujuk kepada totalitas kehidupan seorang Kristen. Maka, pujian seharusnya dipersembahkan dari dalam hati kepada Tuhan yang satu itu, yakni Yesus Kristus. Fokus nyanyian rohani adalah Yesus sebagai Tuhan, Sang Putra yang telah mewujudnyatakan pengharapan eskatologis.



Ketiga, keduanya bukan dua aktivitas yang berbeda. Berkata-kata dengan mazmur, kidung pujian dan nyanyian mengingatkan jemaat yang lain kepada Allah yang berkarya di dalam Tuhan Yesus Kristus, tetapi sekaligus—pada momentum yang sama—jemaat menaikkan pujian kepada Tuhan Yesus “dengan seluruh keberadaannya.” Jadi, dengan menyanyi dan memainkan musik, maka tiap-tiap jemaat diajar dan diteguhkan imannya dan pujian dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Satu nyanyian memiliki dua fungsi dan tujuan sekaligus!




[1]Robert E. Webber, Worship Old & New: A Biblical, Historical, and Practical Introduction (ed. rev.; Grand Rapids: Zondervan, 1994) 197. Gereja kontemporer, khususnya dari aliran Pentakosta dan Kharismatik, mendefinisikan secara sui generis bahwa mazmur adalah lantunan kata-kata dalam nada-nada minor yang terus diulang-ulang, sebagai bentuk pujian yang keluar dari hati penyembah. Namun bukan pengertian tersebut yang dimaksudkan dalam makalah ini.

[2]Hughes O. Old, Worship: Reformed according to the Scripture (ed. rev.; Louisville: Westminster/John Knox Press, 2002) 37.

[3]James D. G. Dunn, The Epistle to the Colossians and Philemon (NIGTC; Grand Rapids: Eerdmans; Carlisle: Paternoster, 1996) 238.

[4]N. T. Wright, Colossians and Philemon (TNTC; Leicester: InterVarsity; Grand Rapids: Eerdmans, 1986) 145.

[5]Perhatikan, “mazmur” dan “nyanyian” membentuk struktur khiastik (a b b' a'), sehingga “berbicara dalam mazmur dan nyanyian” sejajar dengan “menyanyikan nyanyian dan memainkan musik.”



No comments:

Post a Comment