Thursday, June 2, 2011

AKU DATANG MEMBAWA PEDANG (Matius 10:34-39)


Pengantar

Perkataan Yesus ini sangat mengejutkan!  Apakah Yesus cinta damai?  Tetapi, mengapa Ia justru membawa pedang?  Bukankah Yesus dalam kehidupannya menolak cara-cara kekerasan, dan bahkan mengajar para murid untuk mendoakan para musuh dan orang-orang yang menganiaya?  Di bagian pertama (ay. 34-36), Yesus berbicara mengenai konflik (“pedang”) sebagai akibat misi yang dibawa-Nya.  Bagian kedua (ay. 37-39), Yesus melanjutkan khotbah seterusnya tentang mengikut Dia. 

Penjelasan Teks

Damai yang sejati vs. Damai yang Palsu (ay. 34)

Bagian ini menyentak para pengikut Yesus.  Mungkin mereka sudah mulai terbius dengan citra Yesus yang lemah lembut—Yesus yang mengajarkan cinta-kasih, yang menyembuhkan banyak orang, yang menunjukkan welas asih dan bela-rasa bagi mereka yang tertindas dan tersingkirkan.  Di sini, nada manis dan terang dalam mengikut Yesus itu segera dibuat sungsang.  Ucapan Yesus di bagian ini sangat sulit untuk dimengerti.

Yesus mengungkapkan misi kedatangan-Nya.  Kalimat ini memang sengaja untuk mengagetkan para murid!  Kedatangan Sang Mesias seperti yang dijanjikan oleh PL memang untuk membawa damai (bdk. Yes. 9:6-7; Zak. 9:10).  Inilah ciri pemerintahan Allah di akhir zaman (Yes. 11:6-9).  Mengupayakan perdamaian memang harus menjadi bagian hidup para pengikut Mesias, sebagaimana Mesias sendiri katakan.  Namun, cara untuk mengadakan damai itu pada dirinya sendiri justru tidak mendatangkan damai.  Mewujudkan damai sering menimbulkan konflik dan perpecahan.  Di sepanjang hidup-Nya, Yesus membawa damai dan mengajarkan damai, tetapi di mana Dia ada, di situ selalu terjadi pertentangan.

Para pengikutnya tidak mungkin dapat mengharapkan sesuatu yang lebih indah daripada yang dialami sang Guru.  Untuk mengupayakan damai itu datang dan hadir di muka bumi, mereka harus mengambil langkah untuk mengikuti jejak kehidupan Sang Guru.  Itu berarti mereka berbagi kiprah hidup-Nya.  Konsekuensinya, mereka pun berani menghadapi pertentangan.  Maka, kata “pedang” di sini tentu bukan berarti harfiah.  Yesus sendiri melarang murid-Nya menggunakan pedang! (Mat. 26:51-52).  Pedang adalah metafora pertentangan dan penderitaan.

Yesus memang datang untuk membawa damai.  Tetapi bukan damai yang semu, damai tanpa perjuangan.  Damai yang diajarkan oleh Yesus adalah keberanian untuk menghadapi pertentangan dan dunia yang jahat di sekitar kehidupan para murid.  Dengan begitu, Yesus sedang menentang aspirasi yang salah di antara para pendengar dan pengagum-Nya, yang mengharapkan bahwa kedatangan Mesias berarti kegerakan revolusioner untuk mengangkat senjata dan berperang. 

Bagi Yesus, ini merupakan cara dunia yang telah dikuasai kuasa-kuasa jahat.  Jika pengikutnya berperang demi mewujudkan dunia yang berkeadilan dan penuh damai, maka apa bedanya dengan Imperium Roma?  Para kaisar mendaku Roma sebagai pax Romana, “Damai Roma”—damai sejahtera diperoleh melalui kemenangan, dan kemenangan itu didapatkan akibat perang.  Mesias Yesus memiliki cara yang berbeda.  Damai sejahtera terwujud dengan jalan derita dan bukan pedang, kasih dan bukan permusuhan, lemah-lembut dan bukan kepongahan.

Keluarga yang Semu vs. Keluarga yang Sejati (ay. 35-36)

 Mengutip Mikha 7:6, Yesus melanjutkan pengajaran mengenai pertentangan yang dibawanya.  Jika di Mikha, pertentangan di situ diakibatkan karena tidak adanya orang benar di Israel, sehingga terjadi perpecahan di dalam keluarga.  Di Matius sebaliknya, justru munculnya orang benar—yaitu orang-orang yang mau mengikut sang Mesias—konsekuensi yang tidak menyenangkan akan diterima oleh mereka yang mengikuti-Nya, dan hal ini malahan datang dari orang-orang yang paling dekat.

Ayah adalah simbol loyalitas tertinggi di dalam keluarga.  Semua anggota keluarga harus memberikan rasa hormat dan kepatuhan.  Ibu adalah orang yang penting dalam rumah tangga, karena ia mendampingi ayah dalam memimpin keluarga.  Pertentangan antarkaum perempuan di dalam rumah merupakan sebuah aib.  Menantu perempuan adalah seorang anggota baru di dalam keluarga karena pernikahan dengan anak laki-laki, dan ia harus mendapatkan bimbingan dan kasih dari ibu mertua.  Yesus menyimpulkan bahwa “musuh” seseorang adalah isi rumahnya!

Sekali lagi, ajaran Yesus ini bukan merupakan keutamaan di dalam dirinya sendiri, juga bukan pengalaman universal yang Yesus mau tanamkan di dalam diri para murid.  Tetapi adalah masalah prioritas!  Loyalitas kepada Yesus dan misinya datang pertama-tama, dan konsekuensinya (dapat) diterima oleh para murid, yaitu pertalian persaudaraan dan keluarga dapat terkoyak.  Mereka tidak usah mencari-cari pertentangan ini; pertentangan ini datang dengan sendirinya.

Yesus menegaskan, mengikut jalan yang benar bisa jadi merupakan urusan yang membuat seseorang kesepian.  Mengikut Kristus adalah keputusan pribadi.  Pertentangan dan pemisahan bisa terjadi tanpa dapat diprediksi.  Namun di pihak lain, di mana keluarga lama terkoyak, ada keluarga baru yang terjalin, yaitu keluarga murid-murid Yesus yang menunjukkan kasih bukan sekadar menggantikan jalinan yang terkoyak tadi, tetapi keluarga yang dijiwai oleh loyalitas kepada-Nya (12:46-50; 19:27-29).

Kasih yang Sementara vs. Kasih yang Kekal (ay. 37-39)

Adalah perkataan yang sulit karena di sini Yesus memakai kata kerja aktif, “mengasihi.”  Apakah Yesus melarang para murid untuk mengasihi keluarganya?  Kata-kata Yesus lebih tajam di sini.  Yesus bukan melarang mengasihi keluarga.  Di sini Yesus membuat asumsi bahwa anggota-anggota keluarga akan saling mengasihi.  Tetapi titik perhatian Yesus adalah janganlah mereka terlampau terikat dengan keluarga, sehingga kepatuhan kepada-Nya menjadi terpinggirkan.  Yesus mengingatkan para murid untuk “mencari dahulu Kerajaan Allah dan segala kebenarannya” (Mat. 6:33).  Siapa yang para murid jadikan prioritas dalam hidup mereka?   Jika prioritas itu salah diambil, Yesus katakan, “ia tidak layak bagi-Ku.”

Yesus kemudian mengarahkan kepada kasih yang lain.  Yaitu “memikul salib” dan mengikut Aku.  Kristus menempatkan komitmen kepada salib di muka.  Seseorang yang memikul salib, tiada lagi pilihan untuk mundur.  Seseorang yang memikul salib, tidak lagi punya pilihan untuk diri sendiri yang sama nilainya dengan komitmen terhadap salib.  Seseorang yang memikul salib tidak tahu apa-apa lagi kecuali mati untuk diri sendiri.  Seseorang yang memikul salib adalah ia yang mengikut di belakang Yesus, yang juga hingga akhir kehidupan-Nya tekun memikul salib.

Maka, di akhir bagian ini, Yesus memberi penekanan dengan janji yang diungkapkan dalam bentuk paradoks.  Mengikut Yesus bukan sekadar urusan hidup saat ini.  Ada kehidupan di balik kematian.  Kehidupan yang sejati, baik pada masa kini dan masa yang akan datang, diberikan kepada mereka yang berani kehilangan hidupnya “karena Aku.”  Yesus telah memperingatkan agar para murid tidak “takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa” (ay. 28). 

Tetapi, apakah syarat untuk mendapatkan hidup yang sejati itu dengan berani mati?  Jika benar demikian, maka Yesus tidak sedang mengajarkan penyangkalan diri.  Sebab, seseorang masih punya pamrih—berani mati bagi Yesus asalkan mendapatkan hidup yang kekal.  Yesus, sebaliknya, mengajar para murid untuk memfokuskan diri pada kepasrahan total dan dedikasi seutuhnya kepada Allah.  Seseorang harus menghancurkan keangkuhan “keakuan,” dan memakai segenap energi; dan kehilangan “keakuan” hingga titik nadirnya berarti menemukan diri yang sejati, hidup yang kekal.

Di sinilah kasih terhadap keluarga dan semua orang harus diletakkan diletakkan.  Kasih setelah memikul salib.  Kasih dalam kemengikutan terhadap Kristus.  Kasih yang dilandasi oleh salib.  Loyalitas terhadap sesama yang dilambari oleh salib inilah yang diminta oleh Yesus.  Jika seseorang mengasihi manusia lebih dari salib, maka cintanya akan jauh lebih besar kepada manusia dan mengabaikan Kristus.  Tetapi jika cintanya dilambari oleh salib, maka cinta dan komitmen mereka terhadap sesama merupakan suatu keputusan dan tekad yang murni.

2 comments:

  1. wow ternyata begitu thx mas nindyo

    ReplyDelete
  2. Bagian ini adalah mengenai kedatangan Yesus yg kedua, dimana Yesus akan datang untuk mengadili org hidup dan mati. Ayat-ayat ini mengingatkan bila Masa Siksaan Besar (The Great Tribulation) datang, kita tidak boleh menyangkal Yesus walaupun dengan ancaman anak atau orang tua kita atau diri kita sendiri dibunuh. Bila kita menyangkal Yesus dibawah ancaman2 itu, artinya kita lebih mengasihi orang tua atau anak kita lebih drpd kita mengasihi Yesus, dan kita juga tidak perlu mempertahankan nyawa kita, karena masa tsb adalah masa terakhir, dan Yesus menjanjikan kita kehidupan kekal.

    ReplyDelete