Friday, June 3, 2011

MENGENAL YANG DIA MAU


Guru: “Apakah tujuan akhir dari hidup manusia?”
Pelajar: “Mengenal Allah yang oleh-Nya manusia diciptakan.”
Guru: “Apa alasanmu untuk mengatakan seperti itu?”
Pelajar: “Sebab Ia telah menciptakan kita dan menempatkan kita di dalam dunia ini
supaya dimuliakan di dalam kita.  Dan sungguh benar dari Dialah asal kita,
maka hidup kita harus dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya.”

Apa Yang Tuhan Mau?
Yesus Kristus bersabda, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Mrk. 12:30)  Artinya, para murid harus mengasihi Tuhan dengan totalitas keberadaan mereka.  Mengasihi Tuhan berarti aktivitas seluruh kehidupan orang beriman.  Hati tidak dapat dipisahkan dari akal budi; jiwa tidak dapat dipisahkan dengan kekuatan.  Semua harus berjalan beriringan.
Maka, tidaklah benar jika ada orang berkata, “Mengasihi Tuhan jangan dengan akal budi!”  Orang ini sepertinya rohani.  Mengasihi Tuhan itu dengan hati, atau roh.  Tetapi ini adalah kebenaran yang separuh saja.  Tuhan memang roh, tetapi menyembah Tuhan itu haruslah dalam roh, tetapi juga dengan kebenaran (Yoh. 4:24).  Tuhan tidak pernah mencerai-beraikan aktivitas manusia.  Aktivitas penalaran dan intelektualitas harus seimbang dengan aktivitas hati dan kerohanian.  Tuhan Yesus pun menitahkan agar para murid mengasihi Allah dengan akal budi!  Apa alasannya?
Pertama, manusia diciptakan segambar dengan Allah.  Allah adalah Tuhan yang kreatif.  Ia mempunyai daya cipta, dan rancangan indah, dan pikiran yang luar biasa.  Setiap kali Allah merancang, Ia mengerjakannya dengan daya intelektualitas yang tinggi.  Buktinya?  Alam semesta ini diciptakan dalam sebuah tatanan yang logis, teratur, dan tidak kacau-balau.  Manusia diciptakan Allah dalam “gambar dan rupa” Allah (Kej. 1:26) yang artinya manusia punya kemampuan intelektual seperti Allah.  Maka, kewajiban manusia adalah memaksimalkan potensi kreativitasnya.  Perhatikan: hati Allah ingin mencipta, dan intelektualitas-Nya membuat ciptaan itu sebagai tatanan yang indah, sehingga Allah pun melihat semuanya itu “sungguh amat baik!” (Kej. 1:31)
Kedua, manusia diciptakan untuk mengenal Allah.  Tujuan Allah ialah manusia hidup dalam persekutuan dengan Dia.  Allah ingin memberikan hidup yang kekal bagi manusia.  Hidup kekal itu diartikan oleh Alkitab sebagai “mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh. 17:3)  Jadi, hidup kekal itu ternyata juga aktivitas akal budi, sebab ada upaya kontinu untuk mengenal Allah Bapa dan Kristus.  Makin lama makin meningkat tahap pengenalan itu.  Maka, akal budi pun harus dipersembahkan kepada Allah untuk menjadi sarana untuk menyembah Allah.
Ketiga, manusia diciptakan untuk bekerja.  Hati, jiwa, akal budi, kekuatan yang Allah ciptakan haruslah dioptimalkan untuk bekerja.  Sejak semula, Allah menitahkan Adam untuk “mengusahakan dan memelihara taman.”  (Kej. 2:15)  Allah adalah pemilik taman itu.  Manusia adalah pekerjanya.  Manusia bertanggung jawab kepada Allah.  Allah menyediakan berkat bagi manusia melalui buah-buahan di dalam taman itu.  Logikanya, kalau manusia patuh mengerjakan tugasnya sebagai penjaga taman, maka taman itu akan berbuah banyak untuk mencukupi kehidupan mereka.  Kalau manusia merusak taman itu, niscaya semuanya pun rusak.  Hidup manusia memiliki makna jika hati, jiwa, akal budi dan kekuatan itu difungsikan untuk menjaga kelestarian taman Allah, yaitu bumi tempat tinggal kita ini.
Keempat, manusia diciptakan untuk menjadi sarana kemuliaan Allah.  Hidup kita adalah dari Dia, maka bagi Dia saja hidup kita.  Kita harus membawa kemuliaan dan pujian bagi Allah.  Sama seperti tekad rasul Paulus supaya hidupnya “boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” (Ef. 1:12).  Ini disebabkan karena “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.  Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”  Manusia yang lama memang sudah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).  Tetapi manusia baru, yang telah dipulihkan kini dapat hidup memuliakan Allah.  Hidup memuliakan Allah bukan hanya di gereja.  Bukan sekadar aktivitas hati dan rohani.  Ini aktivitas segenap aspek hidup kita.

AKAL BUDI UNTUK MENGENAL KEBENARAN
Dalam doa sebelum diserahkan, Kristus membisikkan kalimat, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17).  Kristus berdoa untuk para murid.  Ia memohon supaya mereka tetap kudus.  Mereka kudus dalam lindungan firman.  Mereka dapat mengenal kebenaran.
Pertama, kebenaran yang dilandasi kekudusan.  Hidup dalam kekudusan adalah panggilan Kristiani di tengah dunia yang bengkok.  Allah Bapa memilih kita untuk kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih (Ef. 1:4).  Kristus menghendaki agar para murid memiliki hidup yang menghasilkan buah yang tetap (Yoh. 15:16).
Kedua, kebenaran di atas dasar yang kokoh—firman Tuhan.  Dalam pelayanan-Nya, Kristus tidak segan untuk mengadakan pemisahan antara murid yang sejati dengan murid yang palsu.  Murid yang sejati adalah murid yang tetap tinggal dalam firman Kristus (Yoh. 8:31).  Setelah Kristus tidak ada dengan para murid, maka Roh Kudus sebagai Penolong yang lain itu akan “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”  (Yoh. 14:26). 
Ketiga, kebenaran yang dapat membedakan kepalsuan.  Waspadalah, bahwa si jahat dapat menjelma sebagai malaikat terang.  Ia dapat tampil seperti malaikat terang.  Yesus mengejutkan orang-orang Yahudi yang kagum dengan Dia, tetapi tidak percaya kepada-Nya, “Apa sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku?  Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku” (Yoh. 8:43).  Sebaliknya, setiap orang yang “berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah” (ay. 47).
Kristus ingin memisahkan antara pengagum dengan pengikut, antara pelanggan dan murid yang sejati.  Banyak orang kagum dengan ajaran dan mukjizat Kristus.  Tetapi mereka berhenti hanya pada kekaguman saja.  Mereka menghendaki yang mudah, yang instan, dan enak dari Yesus.  Maka mereka membujuk Yesus untuk menjadi raja Yahudi (Yoh. 6:15).  Yesus menolak.  Sebab kerajaan yang Ia bawa bukanlah seperti yang dipikirkan orang sezaman-Nya.  Akhirnya, karena kecewa, masa satu persatu meninggalkan Yesus.  Hingga tinggallah dua belas murid-Nya.  Sedangkan sekian banyak orang enggan untuk mengikut Yesus.

HATI YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH
Berhati-hatilah!  Ada dua jenis orang Kristen.  Tidak semua orang Kristen sejati dan murni mengikuti Kristus.  Ada orang Kristen yang mengikut Kristus karena (1) keinginan diri sendiri.  Orang yang seperti ini lebih didorong oleh emosi, orang lain (pacar, rekan kerja), kepentingan pribadi, dan bukan mencari Kristus secara tulus.  Mereka hanya ingin mendapatkan yang menyenangkan telinga mereka.  Mereka mencari berita yang indah, ringan, dan janji-janji yang meluapkan emosi.
Tetapi orang Kristen seperti ini tak ubahnya seperti kerupuk.  Jika dibiarkan di udara terbuka, akan melempem; jika ada hujan, mudah hancur.  Tempat yang terbaik adalah di dalam stoples.  Itu pun tidak dapat bertahan lama!  Orang Kristen seperti ini akan mudah pudar semangatnya.  Tempat paling nyaman adalah di dalam ibadah-ibadah gereja.  Tidak mau melayani.  Tidak mau berkomitmen.  Suka mencari ibadah-ibadah yang meriah dan renyah, tetapi tidak ada komitmen di luar ibadah.
Jenis orang Kristen lain adalah orang yang mengikut Kristus karena (2) komitmen yang sejati.  Orang yang seperti ini menyadari bahwa hidupnya adalah karena anugerah.  Tidak ada alasan lain selain ia berutang besar kepada Allah.  Dan, tak mungkin baginya membalas kebaikan Allah yang besar dalam hidupnya.  Orang yang seperti ini menyadari bahwa mengikut Yesus berarti “menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut” Kristus (Mrk. 8:34).
·         “Menyangkal diri” berarti tidak lagi bertanya: Apa yang kudapatkan jika aku mengikut Tuhan?  Apa untungnya jika aku mau mengikut Tuhan?  Ia tidak mengikut Tuhan karena pamrih dan keinginan-keinginan pribadi.  Sebaliknya, si “aku” telah mati!  Keinginan diri telah diserahkan kepada Kristus.
·         “Memikul salib” berarti siap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidup.  Berani menderita bagi nama Kristus.  Sekalipun dicemooh, dihina dan dicela, tidak mundur barang sedikit pun.  Sekalipun kehilangan nyawa, ia rela.  Pengikut Kristus yang sejati akan menjawab panggilan Kristus, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?” (Mrk. 10:38).  Seseorang yang telah menerima vonis salib, maka tidak mungkin ada kata mundur!  Ia harus maju, sampai mati.
·         “Mengikut Aku” berarti mengikuti jejak Kristus.  Kata lainnya: menjadi serupa Kristus.  Kerinduannya adalah agar kehidupan Kristus menjadi kehidupannya; sifat Kristus menjadi sifatnya.  Hati Kristus terarah kepada hadirnya Kerajaan Allah, agar Allah memerintah di atas semesta, mendambakan Allah menjadi Raja di atas bumi.  Inilah yang sejak dini tercermin dalam doa Kristus, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” (Mat. 6:10).

Mengenal, mengasihi dan memuliakan Allah adalah tujuan hidup kita.  Agar terwujud, maka semua aspek karunia Allah dalam diri kita harus difungsikan (hati, jiwa, akal budi juga kekuatan).  Jangan disesatkan dengan orang yang menawarkan Kekristenan yang berat sebelah—menitikberatkan yang satu, melupakan yang lain.  Allah menghendaki kita seperti Kristus.  Kristus merindukan agar kita menyembah Allah.  Hidup kita harus mencerminkan kehidupan Kristus—yaitu hidup yang memuliakan Allah.  Kiranya orang lain dapat melihat hidup kita yang demikian, sehingga kita dapat menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16).

No comments:

Post a Comment