Sunday, April 29, 2007

Allah Tritunggal Terpuji Selamanya 1: Iman dan Rasio


IMAN DAN RASIO


“Tidak bertentangan!” Kita harus dengan tegas mengatakannya. Fungsi penalaran seringkali menjadi tumpul dengan dalih bahwa iman kepada Allah bertentangan dengan rasio. Hati bertentangan dengan isi otak. Patut diwaspadai! Apakah ini cuman alasan orang-orang Kristen yang malas untuk memfungsikan pemberian Tuhan yang disebut sebagai akal budi? Apakah ini sekadar pembenaran sebagian orang yang memang ogah untuk belajar doktrin? Kalau kita mau jujur, berapa sih panjangnya waktu yang kita telah khususkan untuk mengenal Allah lebih dalam lagi?

Alkitab tidak berkata bahwa rasio hanya berada di wilayah periferi (pinggiran) keberadaan manusia, yaitu wilayah kedagingan. Sebaliknya, hati pun tidak selalu mendapat sanjungan. Perhatikan Roma 12:1 dalam diagram kalimat di bawah ini:

Oleh kemurahan Allah
Persembahkan tubuhmu—itulah ibadahmu yang logis (Yunani logiken
latreian
)
Janganlah serupa dengan dunia—berubahlah
oleh pembaruan budimu (Yunani tē anakainôsei noos).

Ibadah kepada Allah adalah ibadah yang logis lho! Akal budi tidak ditinggalkan. Sebaliknya Yeremia 17:9 menghardik “hati” umat Allah, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Maka, yang benar dan seharusnya berlaku adalah, hati yang dipersembahkan kepada Allah akan mempertajam rasio. Itu berarti, setiap orang Kristen yang sungguh beriman akan menuntut diri untuk semakin mengenal Allah dengan menyertakan akal budinya.

Saya justru ingin mengajak Anda berlaku rendah hati dalam olah intelektual kita. Dalam kepatuhan kepada Allah kita mengasah pikiran kita. Seseorang yang rendah hati memiliki ciri-ciri mau menuntut diri untuk belajar dan diajar oleh orang lain. Allah tidak pernah lagi mewahyukan sesuatu yang baru, karena Allah sudah berhenti berbicara ketika kanon Alkitab ditutup. Cara Allah berbicara pada zaman kita adalah menandaskan pokok-pokok iman seperti yang diyakini oleh gereja universal melalui penguraian firman Tuhan oleh kuasa Roh Kudus.


Maka, bila kita ingin mengenal Allah, kita harus beranjak dari apa yang Allah sudah wahyukan atau nyatakan. Wilayah inilah yang Allah izinkan untuk kita selidiki. Wilayah inilah yang Allah nyatakan bagi gereja di sepanjang abad dan segala tempat. Dalam pada itu, masih ada misteri dalam diri Allah yang memang tidak Ia nyatakan. Kesetiaan kepada Alkitab demi mengenal Allah tidak mungkin ditawar-tawar.

Kita bahkan perlu yakin, masalah doktriner yang nampaknya pelik di depan kita sebenarnya sudah diselesaikan oleh para pendahulu iman kita, yaitu mereka yang benar-benar berpikir untuk masalah iman. Sungguh benar, tidak ada yang baru di bawah kolong langit! Dengan demikian, tugas kita kini yakni menerima tradisi suci tersebut dan melestarikannya.


Problemnya adalah, sudahkah kita berusaha menggali wahyu Allah bagi gereja-Nya di sepanjang abad? Bagaimana caranya? Rekan-rekan seiman, mari kita menata hati dan olah pikir dengan rendah hati di bawah terang firman Tuhan.

1 comment:

  1. Teks Ibrani, " שמע ישראל יהוה אלהינו יהוה אחד. "

    Dibaca menurut peraturan tata bahasa Ibrani, " Shema Yisrael: YHWH ( Adonai ) Eloheinu, YHWH ( Adonai ) ekhad! "
    ( Ulangan 6 : 4 dan Markus 10 : 27 )
    🕎✡️🐟✝️🕊️📖🇮🇱

    ReplyDelete