Sunday, April 29, 2007

Stres





STRES

“Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyejukkan jiwaku.”

Mazmur 23.2

Stres mungkin bukan sesuatu yang khusus untuk zaman kita, tetapi yang jelas stres sudah merajalela dan semakin ganas menyerang kita sekarang ini. Zaman kita adalah zaman perubahan sosial yang cepat, sebagai hasil dari lajunya pertumbuhan penduduk, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Zaman kita adalah zaman perombakan institusi, entah itu di bidang perbankan, pendidikan, pemerintahan maupun agama, yang membiarkan kita hidup tanpa struktur yang pasti. Zaman kita adalah zaman penuh dengan masalah-masalah yang tidak dapat diatasi, baik dalam bidang politik internasional maupun penyakit fisik.

Zaman kita adalah zaman kurangnya penghasilan di mana kita harus bekerja lebih keras dan lebih giat hanya agar dapat bertahan hidup.

Sebaliknya, stres akut yang biasanya terjadi dalam hidup kita setiap sepuluh tahun, sekarang terjadi setiap dua tahun. Stres akut semacam itu bukan saja merupakan akibat dari trauma-trauma kehidupan utama, tetapi juga penambahan dari apa yang oleh para peneliti disebut “percekcokan-percekcokan sehari-hari.” Suami istri tidak kooperatif, berjuang melawan kemacetan, asap rokok teman kerja, atau tetangga yang ribut. Semuanya itu ikut menambah stres kita.

Zaman kita juga merupakan zaman kesadaran akan kesehatan, dan kita telah disadarkan akan pengaruh stres terhadap kesehatan fisik kita. Stres yang berlebihan berkaitan dengan gangguan-gangguan yang berikut: penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit gula, sakit kepala, kegemukan, borok, sakit punggung, asma, radang sendi, depresi, kegelisahan, kecanduan alkohol, tidak bisa tidur, diare, susah buang air, radang usus besar, demam berdarah, gagal seks, masalah-masalah menstruasi, dan kanker. Hans Selye juga telah menunjukkan bahwa stres mempercepat usia tua. Sesudah melewati kebugaran kita hampir sama seperti semula, kendatipun tidak sempurna seperti semula. Perbedaan ini menambah kepada kita apa yang kita sebut menjadi tua.

Sama seperti kita tidak dapat menghindari menjadi tua dalam hidup kita, demikian pula kita tidak dapat menghindari stres. Stres adalah bagian dari hidup dalam setiap jenjang usia. Dalam setiap jenjang usia penyakit, kematian dan bahaya bisa saja menyerang kita. Dalam suatu zaman di mana tingkat pertumbuhan penduduk dan perubahan jauh lebih rendah, penulis Mazmur 23 pasti sudah mengenal stres berat sehingga memberikan nilai sedemikian penting terhadap pemulihan jiwa.

Apa yang mungkin menjadi sumber stres bagi penulis Mazmur 23 barangkali bukan merupakan sumber stres bagimu dan bagiku. Dan malahan dalam zaman kita sendiri, kekacauan akibat perubahan menimbulkan stres bagi beberapa orang, tetapi mungkin tidak bagi orang-orang lain. Apa yang dilihat oleh sebagian orang sebagai suatu ancaman, mungkin dilihat sebagai suatu tantangan oleh orang lain. Maka, stres bukan saja mempunyai hubungan dengan dpa yang sedang terjadi di luar diri kita (penyebab stres dari luar), tetapi juga berhubungan dengan apa yang sedang terjadi di dalam diri kita (bagaimana kita memahami stres).

Sejak semula, penting bagi kita untuk memahami stres sebagai sesuatu yang tidak dapat dan tidak boleh dihilangkan dari hidup kita. Tugas kita adalah mengatasi stres dan belajar dari stres.

Stres dalam istilah biologis merupakan suatu keadaan siaga. Tatkala sesuatu dirasa sebagai penyebab stres, otak mengirim perintah-perintah siaga yang mempersiapkan tubuh untuk melawan dan menyelamatkan diri. Jika kita dikejutkan oleh seorang pengacau, kita mungkin memilih untuk mengadakan perlawanan atau melarikan diri. Reaksi tubuh pun akan sama, misalnya, otot-otot menjadi kencang, kepekaan indera bertambah, detak jantung dan kecepatan pernapasan bertambah. Keadaan siaga seperti itu berguna untuk keselamatan kita. Hal itu akan menjadi suatu masalah hanya jika kita berada dalam keadaan siaga untuk jangka waktu yang cukup lama oleh karena penyebab stres yang terus-menerus di sekitar kita, atau oleh karena persepsi khusus kita terhadap peristiwa-peristiwa di sekitar kita yang kita interpretasikan sebagai ancaman.

Dalam pengertian rohaniah, kita mungkin melihat stres sebagai suatu panggilan untuk berjaga-jaga: untuk melihat cara-cara kita menjalankan hidup ini secara lebih jeli; untuk melihat batin kita dengan lebih teliti; untuk melihat kesehatan rohani kita dengan lebih cermat.

Barangkali apabila kita sedang mengalami stres, hal itu mengisyaratkan bahwa kita sedang dipanggil untuk bangun dan sadar, karne kita sudah tersesat terlalu jauh dari “air yang tenang,” atau karena kita telah menolak tuntunan Allah yang akan memulihkan jiwa kita. Mistikus abad XII, Hidelgard dari Bingen, berbicara mengenai keselamatan sebagai “kesejukan” yang membawa kehidupan yang penuh daya kepada jiwa dan tentang Roh Kudus sebagai pembawa “embun belas kasih” ke dalam hati manusia untuk mengatasi kegersangan.

Dalam saat-saat stres ada bahaya bahwa kita akan mengalami “kekeringan” dan kita akan menderita secara fisik, mental dan spiritual. Dengan mengakui bahwa kita tidak akan pernah dapat menghilangkan semua stres dalam hidup kita, maka tugas selanjutnya ialah mempertahankan “kesejukan” itu agar tetap hidup bahkan ketika panas terik menerpa hidup kita.

No comments:

Post a Comment