Tuesday, May 1, 2007

Stres dan Tubuh 1: Menata Menu Diet


STRES DAN TUBUH 1

Anda pernah mendengar tentang Benteng Masada di Palestina? Masada adalah tempat pertahanan terakhir pemberontakan Yahudi yang memulai revolusi pada tahun 66 M. melawan tentara Romawi. Tentara Romawi memerlukan waktu lima tahun untuk menaklukkan pemberontak yang bersembunyi di belakang tembok Masada, karena benteng itu terletak di puncak bukit yang berlereng terjal setinggi 800 kaki.

Tetapi, bagaimana seseorang bisa selamat selama lima tahun berada di puncak bukit di mana tidak ada sungai, mata air, sumur, dan hampir tidak ada hujan sepanjang tahun? Cara mereka untuk menyelamatkan diri ialah dengan memahat bak-bak berukuran sangat besar pada cadas dan mengembangkan suatu sistem yang rumit untuk mengumpulkan air selama musim hujan. Air yang terkumpul di penampungan menghidupi mereka selama musim kering sepanjang tahun.

Cara kita menghadapi stres adalah dengan menyimpan cadangan enerhi yang dapat membawa kita melewati saat-saat sulit dalam hidup kita. Cadangan energi itu sesungguhnya tersimpan di dalam tubuh kita. Hans Selye menyebutnya “energi adaptasi,” yang digunakan oleh tubuh untuk beradaptasi dengan penyebab-penyebab stres. Ia merasa bahwa setiap orang diberikan energi beradaptasi dalam jumlah yang terbatas, dan kita harus membuat anggaran pemakaiannya secara tepat. Ketika kita beristirahat, kita dapat mengumpulkan cadangan-cadangan energi adaptasi dari berbagai tempat dalam tubuh, tetapi jika diambil terus-menerus, atau jika terjadi kegagalan untuk menyimpan energi ini, akhirnya semuanya akan terpakai. Jika energi terpakai habis, kelelahan menyusup masuk diikuti oleh penyakit pada bagian tubuh yang paling lemah, dan akhirnya diikuti oleh kematian.

Seperti halnya dengan pemberontak-pemberontak Yahudi di Masada yang membutuhkan cadangan air untuk bertahan terhadap pengepungan yang panjang, maka kita juga membutuhkan cadangan energi dalam tubuh kita untuk menghadapi stres hidup. Akan tetapi, banyak orang hidup dengan “bak-bak bocor,” dengan membiarkan energi vital yang tersimpan dalam tubuh mengalir sia-sia ke luar.

Dan ternyata, diet-diet yang buruk dan kebiasaan-kebiasaan makan yang kurang baik ibarat memiliki bak bocor yang secara terus-menerus membuang energi vital yang dibutuhkan oleh seseorang pada saat mengalami stres. Zat-zat kimia tertentu yang disebut sympathomimetic terkandung dalam makanan-makanan tertentu. Zat-zat ini memicu reaksi stres dalam tubuh kita. Salah satu zat sympathomimetic adalah caffein, yang ditemukan dalam kopi, teh, cocoa, coklat, dan minuman soda lainnya. Jumlah caffein dalam satu atau dua cangkir kopi sesungguhnya dapat memacu suatu reaksi stres dalam tubuh.

Makanan yang mengandung banyak gula juga membuat tubuh bekerja lebih keras. Ketika kadar gula dalam darah naik dengan cepat, tubuh terlalu cepat bereaksi dengan insulin dan mengeluarkan gula dari darah dan memasukkan ke dalam sel-sel. Maka, kadar gula dalam darah yang normal, yang dibutuhkan oleh otak, dikurangi, dan orang yang pada mulanya merasakan suatu sentakan energi akan segera mulai merasa letih dan lekas marah. Sarapan pagi dengan makanan berkolesterol tinggi dan kopi ibarat menyongsong stres sepanjang hari dengan jamban yang bocor yang membuang energi hidup secara terus-menerus bahkan sebelum kita mulai bekerja.

Di samping mengurangi kafein dan gula yang diminum, kita mungkin perlu mempertimbangkan hal-hal berikut untuk membantu energi di dalam tubuh kita:

  1. Makan lebih banyak buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian, kacang-kacangan dan biji-bijian; paling baik bahan-bahan yang tumbuh secara alami.

  2. Gantikan makanan olahan-jadi buatan pabrik dan makanan kaleng dengan makanan buatan sendiri atau makanan segar.

  3. Kurangi makan garam.

  4. Makanlah daging yang kurang mengandung lemak seperti ham, sosis, daging sapi dan daging babi.

  5. Batasilah jumlah telur yang dikonsumsi.

  6. Makanlah sarapan setiap hari dan makan secara teratur sepanjang hari.

  7. Makanlah vitamin pelengkap yang dilengkapi dengan B-kompleks yang kuat pada waktu stres.

No comments:

Post a Comment