Saturday, July 25, 2015

Spiritualitas Pemimpin Jemaat Menyikapi Isu LGBTQ (bagian 1)

Dalam tulisan sebelumnya, saya berusaha mengetengahkan spiritualitas umat dalam konteks pernikahan sejenis (SSM).  Saya menyarankan agar jemaat membangun teologi mengenai SSM yang dimulai dengan perjumpaan langsung dengan subjek terkait—kaum LGBTQ.  Dalam membangun teologi ini, jemaat menanyakan: (1) Gambaran tentang Allah yang seperti apa yang dikenal oleh kaum LGBTQ?, dan (2) Bagaimana kaum LGBTQ dikenal oleh Allah.

Seorang teman memberikan komentar yang bernas.  Sikap seperti ini terlalu akademis dan mengambang.  Jemaat seringkali menuntut sikap yang tegas dari pemimpin.  Bagaimana sikap pendeta?  Bagaimana sikap teologis gereja, apakah gereja menerima atau menolak?  Saya ingin merenungkan lebih jauh mengenai spiritualitas pemimpin.  Kepada teman ini, saya ketengahkan tiga karakter gembala umat: teolog konstruktif, pemimpin konstruktif, dan pembebas konstruktif. 

Saya merenungkan kembali ketiga karakter itu.  Permenungan saya terjadi ketika saya duduk semi-bengong di toko buku Powell’s di kota Portland, Oregon, pada tanggal 6 Juli 2015.  Saya sempat sedikit menuliskan gagasan awal di laptop, lalu meneruskan menulis dari atas kereta api dalam perjalanan kembali menuju Seattle, dan menyelesaikannya di stasiun bus International District Chinatown, Seattle.

Terlintaslah nama Angelo Giuseppe Roncalli atau Paus Yohanes XXIII (menjabat 1958-1963) yang dijuluki “Paus yang Baik” yang tak lain adalah penggagas Konsili Vatikan II.  Walaupun membuka persidangan akbar itu di tahun 1962, ia tidak dapat menutupnya dan menandatangani semua dokumen penting konsili tersebut karena terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta (3 Juni 1963) setelah menderita delapan bulan lamanya akibat kanker perut, sebelum konsili ini usai. 

Walau saya akan ketengahkan contoh dari Gereja Katolik Roma (GKR), saya bukanlah warga Gereja tersebut. Saya tetap berdiri di tradisi Gereja Perdamaian (Mennonit) yang juga disebut sebagai “Anak Tiri Gerakan Reformasi.” Dalam sejarah, tradisi iman saya berada di periferi—pernah di-anathema baik oleh GKR maupun oleh Gereja Reformasi selama lebih dari dua ratus tahun.  Namun saya menghargai tradisi Gereja Katolik Roma dan ingin belajar darinya.

Mengapa Roncalli dan Vatikan II?  Karena inilah, barangkali, satu-satunya persidangan raya terbesar GKR dan dalam sejarah manusia yang dilaksanakan pasca chaos sejarah dunia, tetapi juga bisa dipandang chaos bila menilik persiapannya—sebuah sidang raya yang serius yang benar-benar mengandalkan gerakan Roh Kudus.  Bagaimana kepemimpinan Yohanes XXIII di dalam Vatikan II?

*** 

Jika saya menjadi paus, saya dapat menetapkan agenda persidangan sekelas konsili, apalagi setelah konsili Vatikan I (1869-70) memutuskan bahwa paus memiliki kedudukan yang mutlak dan tidak dapat khilaf (infallibilitas).  Tapi ini tidak terjadi dengan Kardinal Roncalli.  Para kardinal dipersilakan menetapkan agenda persidangan.  Paus (hanya) mengirim surat kepada 2600 kardinal, meminta mereka memberi masukan apa masalah paling penting yang mendesak untuk dibahas.  Tak kurang dari 2000 masukan diterima oleh Vatikan, dan oleh sebuah tim penyusun, agenda-agenda ini ditinjau dan dikaji, dan setelah dikelompok-kelompokkan, diperoleh 19 jilid draf yang masing-masing tebalnya minimal 500 halaman.

Ketika waktu persidangan kian mendekat, para kardinal mulai resah apakah konsili ini benar-benar bisa dilakukan.  Kardinal Alfredo Ottaviani, yang mewakili kubu tradisionalis, sudah menyuarakan bahwa konsili ini pasti gagal.  Ketika Kardinal Montini (yang kemudian terpilih menggantikan Yohanes XXIII di tahun 1963) meminta pertemuan secara khusus dengan Yohanes XXIII dan memberikan analisisnya, sang paus menjawab bahwa ia tahu benar apa yang sedang terjadi.

Tidaklah mudah untuk mengendalikan partisipan sedemikian banyaknya dan permasalahan global yang kompleks.  Yohanes XXIII menyadari benar adanya keretakan internal dalam GKR tetapi sang paus tidak mau mengintervensi persidangan.  Ia memberikan kepercayaan penuh kepada koleganya.  Apa yang akan dibahas, topik mana dulu yang akan dibahas, semua diserahkan kepada kolega kardinal.  Sepanjang konsili berlangsung, Yohanes XXIII seperti menarik diri.  Ia tidak hadir dalam sidang-sidang, hanya melihat dari layar televisi dari kediaman kepausan.

Dalam pada itu, bukanlah Yohanes XXIII jika tidak mampu menggagas strategi yang jitu.  Para partisipan tidak duduk berdasarkan wilayah dari mana mereka berasal, tetapi menurut tahun tahbisan.  Dengan begitu, seorang kardinal dari Italia bisa duduk dengan kardinal dari Filipina, yang dari Australia dengan yang dari Afrika, yang dari Timur Tengah dengan yang dari Spanyol.  Apa yang kemudian terjadi?  Sebuah jalinan persahabatan yang baru antarkardinal!  Kardinal yang sebelumnya tidak saling kenal sekarang dikondisikan untuk bisa kenal.  Di sini, para kardinal belajar untuk mengenal permasalahan bukan dari kacamatanya, tetapi belajar melihat dari kacamata orang lain dari belahan dunia yang lain. 

Di persidangan itu hadir pula para teolog-teolog besar GKR seperti Yves Congar, Karl Rahner, Edward Schillebeeckx, dll.  Banyak di antara mereka adalah teolog yang mumpuni dalam teologi namun bukan berstatus kardinal atau uskup.  Yohanes XXIII dengan cerdas merancang bagaimana para teolog ini bisa dilibatkan tanpa dia harus mengintervensi jalannya persidangan.  Maka disediakanlah café-café di lorong-lorong di luar gedung persidangan, yang diberi nama unik: Bar Jonah, Bar Abbas, dll.  Di situlah para kardinal dapat berwawan rembug dan berkonsultasi dengan para teolog itu, oleh sebab tingkat penguasaan bahasa Latin, bahasa resmi konsili, dan teologi di kalangan para kardinal tidak merata.  Dari pertemuan ini tumbuh kebutuhan mendesak untuk mendapatkan pengajaran teologi dari para teolog.  Dengan begitu, Vatikan II dapat disebut sebagai sebuah training teologi panjang para pemimpin Gereja.

Tak jarang juga persidangan berjalan alot.  Salah satu masalah yang besar adalah waktu membahas draf konstitusi mengenai pewahyuan De Revelatione.  Ketegangan antara konservatif dan progresif meruncing.  Yohanes XXIII akhirnya berintervensi.  Dengan otoritasnya, ia meminta draf persiapan Dei Revelatione dibuang.  Sebagai gantinya, ia membuat sebuah kelompok kerja yang diketuai oleh Kardinal Ottaviani yang sangat konservatif dan Kardinal Augustin Bea yang sangat progresif.  Di sinilah kehebatan sang paus; ia mampu mendudukkan dua kubu yang saling bertentangan di satu meja untuk akhirnya membuahkan konstitusi Dei Verbum.

Apa yang Yohanes XXIII inginkan dari konsili ini?  Dua hal, yaitu: 1) untuk memberi pencerahan, pengajaran dan sukacita bagi segenap orang Kristen, dan 2) undangan yang penuh kehangatan untuk mengambil bagian dalam pencarian kesatuan dan anugerah (unity and grace).  Singkatnya, tema konsili ini adalah rekonsiliasi, rekonsiliasi yang ditandai dengan persahabatan. 

Persahabatan baru juga ditandai dengan hadirnya para teolog-teolog dunia dari tradisi Kristen lainnya.  “Observator” dan “tamu undangan” yang jumlahnya dari 50 hingga 150 hadir dalam tiap persidangan, termasuk teolog-teolog besar Protestan seperti Karl Barth, Juergen Moltmann dan George Lindbeck.  Perjumpaan antara para kardinal dengan para teolog Protestan ini merevolusi pandangan yang diputuskan oleh konsili Trente dan Vatikan I bahwa gereja Katolik adalah gereja yang tertutup bagi gereja lain.  Kini faktanya, di sidang pembukaan Vatikan II, para teolog ini malahan diberi tempat duduk yang tidak jauh dari sri paus dan disambut oleh paus sendiri dengan hangat. 

Sekarang, mari mencoba menilik sedikit latar belakang Yohanes XXIII.  Roncalli berasal dari latar belakang Katolik konservatif.  Ia dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana.  Ketika ia membaktikan diri menjadi imam, ia hanya ingin melayani orang-orang miskin, tidak lebih.  Ia telah menggariskan tugas keimamannya sejak terpilih sebagai Uskup Roma (sebutan lain Paus) untuk dekat dengan umat di wilayahnya.  Ia suka memperkenalkan dirinya seperti Yusuf dalam kitab Kejadian: "Aku ini Yusuf, saudaramu" (Giuseppe adalah kata Italia untuk Yusuf).  Ia mengunjungi paroki-paroki di Roma bahkan mengunjungi penjara Regina Coeli dua bulan setelah pelantikannya.  Sesudah melayani misa di penjara itu, ia tidak langsung kembali ke Vatikan tetapi menyempatkan waktu berbicara dengan para narapidana.  Perkataan pertama paus mengejutkan sekaligus menyukacitakan para napi, bahwa sri paus mengenang masa ketika pamannya pernah dipenjara. 

Sewaktu ia menjadi delegasi di Bulgaria, di sekitar waktu itu pula Nazi Jerman berkuasa.  Ia sudah melihat bahwa petaka besar akan dialami oleh orang-orang Yahudi di bawah Nazi.  Untuk mencegah pendeportasian orang-orang Yahudi dari Bulgaria ke Jerman, Kardinal Roncalli mendesak gereja untuk menerbitkan surat baptis bagi mereka.  Tak kurang dari 20.000 orang Yahudi dan mayoritas anak-anak terselamatkan oleh karena tindakannya.

Kiranya Yohanes XXIII dapat memberikan gambaran spiritual seorang pemimipin rohani yang baik, bagaimana pemimpin memberi kepercayaan kepada para koleganya, mengatasi persengketaan yang sengit dengan bijaksana dan cerdas, membuka diri untuk yang lain, dan medekatkan teologi dan praksisnya kepada kaum yang terpinggirkan.  Ia bukan pemimpin yang menjauhkan diri dari umat dan, walaupun memiliki otoritas dan kebenaran, ia tidak memakainya secara sewenang-wenang, tetapi mengundang para koleganya untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan.  Pemimpin yang baik membangun persahabatan.

(bersambung) 

Seattle, 6 Juli 2015

No comments:

Post a Comment