Wednesday, February 14, 2007

Anda Juga Teolog!

ANDA JUGA TEOLOG!: SAPAAN PASTORAL KEPADA KAUM AWAM



Kaum “awam”—yang tidak mengenyam pendidikan teologi secara khusus dan tidak ditahbiskan—sering merasa bahwa mereka tak perlu menjadi teolog-teolog. Hal itu jelas kurang tepat.

Memang, mereka tidak perlu menjadi teolog profesional; tetapi paling tidak, mereka seharusnya menjadi menjadi teolog-teolog amatir. Kata “amatir,” yang dalam bahasa Inggris dan Perancis amateur, berasal dari kata berda Latin amator yang artinya “orang yang mencintai.” Akar katanya adalah kata kerja amare, “mencintai.” Jadi meski bukan profesional, toh sudah sepatutnya tiap-tiap orang menjadi pecinta-pecinta teologi.

Tiap-tiap orang memiliki panggilan yang khusus dalam hidup ini, artinya tidak ada seorang pun yang dapat merangkap semua panggilan sekaligus. Seseorang takkan mungkin, dalam waktu yang bersamaan, dapat menjadi dokter, tukang kayu, arsitek, pengacara, guru, ibu rumah tangga, dll. Semua ini adalah kemungkinan, bukan keharusan. Seorang awam dapat memilih satu atau lebih dari antara pekerjaan-pekerjaan itu.

Tetapi siapa pun harus menjadi seorang teolog! Ini bukan sebuah opsi atau pilihan tetapi tuntutan.

I. Seorang Teolog Adalah Seseorang yang Mengenal Allah

Mengapa kita katakan bahwa seorang awam harus pula seorang teolog? Baiklah, pertama-tama mari kita menyadari apakah seorang teolog itu—khususnya, teolog amatir. Seorang teolog adalah seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Allah, dan bertujuan untuk mengenal Allah lebih dalam. Seorang teolog awam adalah seseorang yang memiliki pengenalan yang benar akan Allah yang ia pahami dalam istilah-istilah yang non-teknis, non-profesional, non-akademis. Orang yang seperti ini tetap dapat kita kategorikan sebagai seorang teolog sejati.

Apakah kurang jelas bahwa seorang awam harus juga seorang teolog? Apakah ada satu orang pun, baik awam atau bukan, yang tidak butuh mengenal Allah? Tidakkah Kitab Suci katakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh. 17.3)? Maka, bukanlah suatu opsi apakah seorang awam mau menjadi teolog atau tidak, apakah ia akan mendapatkan hidup yang kekal atau tidak; bukan pula masalah pilihan apakah ia akan mengenal Allah atau tidak. Pengenalan akan Allah mutlak perlu bagi hidup yang kekal. Jadi, bila hidup yang kekal itu mutlak perlu bagi tiap-tiap orang, maka teologi pun mutlak perlu bagi setiap orang.

Jika seorang teolog adalah seseorang yang mengenal Allah, maka sebaliknya seorang yang bukan teolog bukan seseorang yang mengenal Allah. Coba perhatikan analoginya. Bukan merupakan penghinaan bila seorang awam dikatakan bahwa ia tidak mengenal pertukangan, atau cara menebang pohon, atau ilmu kedokteran, atau hukum, atau pengajaran, atau cara-cara yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga; tetapi sesungguhnya, adalah suatu penghinaan terbesar bila ia dikatakan tidak memiliki pengenalan akan Allah. Lebih lanjut, lebih dari sekadar penghinaan; terdapat bahaya besar. Kitab Suci menyatakan bahwa hidup di luar Allah adalah kematian. Dan, sama seperti teks yang dikutip menyebutkan bahwa hidup kekal itu adalah mengenal Allah dan Kristus, ayat lain di kitab yang sama menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya kepada Yesus tidak akan melihat kehidupan, dan lebih jauh lagi, murka Allah akan tinggal ke atas mereka, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3.36).

“Baiklah,” si awam akan berkata, “lihatlah ke sini, Anda telah terpeleset ke dalam satu istilah baru. Ayat yang baru saja dikutip kan berbicara tentang iman, bukan pengenalan. Ayat itu bicara bila seseorang tidak ‘percaya’ di dalam Anak. Ayat itu tidak bicara apa pun tentang ‘mengenal’ Yesus.” Memang benar, ayat itu tidak memakai kata “pengetahuan” atau “pengenalan.” Tetapi apakah Anda pernah percaya kepada seseorang atau sesuatu jika Anda tidak mengenalnya sama sekali? Apakah mungkin untuk mempunyai iman di dalam Kristus jika kita tidak mengenal siapa Kristus itu? Dengan demikian, tidakkah menjadi jelas bahwa ayat ini, walau tidak secara langsung mengungkapkan pentingnya pengenalan akan Kristus, tetap menyiratkan seperti itu? Maka, kita katakan bahwa jika seseorang tidak memiliki suatu pengetahuan akan Allah dan Kristus, hal itu bukan saja sesuatu yang memalukan tetapi suatu bahaya bagi jiwanya, bukan hanya dalam hidup masa kini tetapi juga hidup kekal yang dimulai pada waktu kita meninggal secara badani.


II. Setiap Orang Mungkin Menjadi Teolog Tanpa Diselamatkan!

“Tetapi,” si awam berseru, “apakah maksud Anda adalah bahwa jika saya tidak mempunyai pengenalan akan Allah, saya akan binasa; dan jika saya benar-benar memiliki pengenalan akan Allah saya akan hidup kekal? Apakah maksud Anda memberitahu bahwa jika saya ini seorang teolog awam, maka jiwa saya akan nyaman dan tenteram, sedangkan jika saya bukan teolog saya akan dibinasakan selamanya?” Tidak, kami tidak mengatakan hal itu. Coba perhatikan sekali lagi pernyataan yang terdapat di atas. Memang telah kita sepakati bahwa tanpa pengenalan akan Allah maka tidak ada hidup yang kekal, yang ada adalah kematian kekal. Ini benar.

Namun demikian, perlu dipilah antara pengetahuan dan pengenalan. Pengenalan yang dikemukakan oleh Alkitab adalah “pengenalan yang menyelamatkan” (saving knowledge). Tetapi, di sana-sini juga dikemukakan dalam Alkitab bahwa ada pengetahuan yang palsu (false knowledge), yaitu pengetahuan yang membawa kita kepada penghukuman Allah. Yang kita mau tegaskan adalah sebagai berikut: seorang awam dapat memiliki pengetahuan akan Allah dan tetap tidak diselamatkan, tetapi ia tak mungkin diselamatkan tanpa pengenalan yang benar akan Allah.

Ada banyak hal yang dapat ditunjukkan bahwa seorang awam dapat memiliki teologi tanpa memiliki keselamatan. Sebab satu hal, Alkitab di sana-sini menyatakan bahwa orang-orang kerap kali mengaku memiliki pengetahuan tentang Allah tetapi tidak mengenal Allah. Karena itu, secara tegas Kitab Suci menasihati kita tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi juga menjadi pelaku-pelaku firman (Yak. 1.22).

Implikasinya, adalah mungkin bagi seseorang untuk mendengar, atau mempelajari, atau mengetahui, tanpa melakukan. Lebih lanjut, manfaat besar kita dapatkan hanya bila seseorang menjadi pelaku firman; sehingga bila ditarik implikasi kembali, bahwa banyak orang dapat mendengar firman dan mengertinya tanpa sungguh-sungguh menjadi pelaku firman dan karena itu firman tersebut tidak berfaedah apa-apa.

Lagi, Paulus berbicara di Surat Roma mengenai mereka yang memegang kebenaran (truth) dalam keadaan ketidakbenaran (unrighteousness). Hal ini sama saja dengan berkata bahwa beberapa orang mengenal Allah (dan sungguh-sungguh pada konteksnya, ayat ini berbicara tentang mengenal Allah), namun tidak menyembah-Nya ataupun Allah berkenan menyelamatkan mereka. Jadi, kita belajar bahwa meskipun pengetahuan mereka cukup untuk menghakimi mereka, mereka tidak diselamatkan oleh pengetahuan mereka itu.

Dalam perumpamaan tentang penabur dan benih yang direkam dalam Matius 13, Tuhan Yesus mengisahkan tentang respons-respons yang berbeda terhadap pemberitaan Injil. Sementara tanah di pinggir jalan mewakili orang-orang yang secara terang-terangan tidak mengindahkan apa yang diberitakan, atau tidak mau belajar meskipun sudah diajar, tetap saja kedua tipe tanah yang tidak berguna mewakili orang-orang yang mendengar dan mengerti namun pada akhirnya mereka tidak menghasilkan buah.

Tanah yang dangkal, berbatu-batu mengetengahkan seseorang yang menerima firman, tepat seperti yang Yesus katakan. Ia menerimanya dengan sukacita dan bahkan nampaknya menanggapinya dengan bersemangat untuk sementara waktu. Tetapi pada saat ia tertindih dengan kesukaran-kesukaran, ia menolak pengetahuan yang ia telah punyai tersebut. Maka kita melihat dalam kasus ini, seorang pribadi yang mengetahui namun tidak berpegang kepada keselamatan.

Tanah yang berduri mengetengahkan seseorang yang memahami dan nampak memperhatikan dengan seksama dan menerima warta itu, tetapi yang kemudian pengetahuan itu dirusakkan oleh pergulatan antara warta itu dengan nafsu pribadi, yang digambarkan dengan tanah yang penuh duri. Tetapi tidak perlu diragukan, ia tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi pengetahuan yang mendalam dan luas. Bukan hanya pengetahuan yang dangkal. Namun demikian, pengetahuannya itu terkoyak dan ia tidak meraih keselamatan.

Ada banyak contoh mengenai kemungkinan mengenal kebenaran tanpa memperoleh keselamatan. Orang-orang Farisi adalah contoh yang paling jelas. Si awam akan segera menyahut, “Ah, tetapi orang-orang Farisi adalah guru-guru agama dan tidak dapat disebut orang awam, dong!” Ya, benar. Tapi nanti kita akan lebih lanjut menekankan bahwa pokok bahasan kita lebih diteguhkan dengan fakta bahwa orang-orang Farisi, sebagai para teolog profesional, bahkan memiliki pengetahuan yang lebih besar daripada yang dapat dimiliki oleh orang-orang awam—namun demikian, para Farisi itu pun binasa. Ingatlah, kita berusaha mengemukakan bahwa adalah mungkin untuk memperoleh pengetahuan teologis tanpa mendapatkan keselamatan. Jika kita dapat menunjukkan bahwa seseorang yang disebut sebagai kaum profesional (yang mempunyai pengetahuan religius lebih tinggi daripada yang orang-orang awam dapat kuasai) saja bisa binasa, betapa lebih terangnya bahwa pengetahuan apa pun yang dapat dipunyai seorang awam tidak akan menjamin ia mendapatkan keselamatan yang kekal itu.

Yesus setuju dengan kaum Farisi dalam banyak hal karena mereka berusaha untuk menghormati hukum-hukum Musa—dan sering—serta mengajarkan ketetapan-ketetapannya kepada umat. Namun, mereka tetap berada di bawah tuduhan Kristus, “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi,” betapa kerapnya kita diajak untuk sadar bahwa pribadi-pribadi yang sangat berilmu ini tidak mempraktikkan ilmu mereka dan karena itu ditentukan untuk penghukuman. Yesus berkata kepada mereka, “Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” (Mat. 23.33).


III. Setiap Orang Tidak Mungkin Diselamatkan Tanpa Menjadi Teolog!

Jika di atas telah kita kemukakan bahwa orang-orang bisa saja mempunyai pengetahuan tentang Allah tetapi tidak diselamatkan. Sekarang, mari kita pun mencermati kebenaran di sisi lain—bahwa tak ada seorang pun dapat diselamatkan tanpat pengetahuan akan kebenaran atau teologi. Hal ini jelas-jelas dinyatakan oleh Rasul Paulus di Roma 10.17, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Ayat tersebut menegaskan bahwa tak ada satu bentuk kepercayaan kepada Allah atau iman tanpa pertama-tama Sabda Injil diberitakan.

Konteks dari penyataan itu menyiratkan implikasi ini. Paulus menasihati agar jemaat menjadi kaum misioner, yang membawa Injil ke dalam dunia, dengan mengingatkan mereka bahwa jika mereka tidak melakukannya maka orang-orang tak mungkin diselamatkan—sebab iman datang oleh sebab pendengaran. Dalam 1 Korintus kita membaca, adalah memperkenankan hati Tuhan bila seseorang memberitakan Injil yang adalah kebodohan bagi dunia. Lagi kata Paulus, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm. 1.16). Dan, sembari menitahkan para murid untuk mengajarkan apa pun yang telah Ia katakan, Tuhan Yesus Kristus mengutus para murid untuk memuridkan segala bangsa (Mat. 28.19-20). Hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa hanya melalui pemberitaan yang murni akan ketetapan-ketetapan Allah maka dunia dapat dimuridkan bagi Kristus.

Perhatikan kembali bagaimana Tuhan kita berdoa sebelum Ia disalibkan, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Dalam doa pamungkas bagi mereka yang sementara itu belum termasuk kawanan domba-Nya tetapi yang akan masuk juga ke dalamnya, Tuhan Yesus pun berdoa agar mereka dibuat kudus melalui sarana firman Allah. Meski Roh Allah yang dicurahkan segera setelah Kristus naik ke surga memang membuat mereka menjadi ciptaan baru, namun Roh Kudus tidak pernah menguduskan orang percaya tanpa melalui firman Allah. Jadi, apabila benar bahwa firman tanpa Roh adalah hampa dan tak berguna, namun demikian benar pula bahwa Roh tak mungkin menyelamatkan seseorang tanpa firman. Firman Allah disebut sebagai “pedang Roh” (Ef. 6.17). Lagi, di dalam 2 Tesalonika 2.13, kita membaca, “Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai” Di sini, jelas diberitahukan kepada kita bahwa meskipun predestinasi dari sejak kekekalan itu diwujudkan secara penuh dengan sarana kebenaran. Orang-orang tidak akan dibawa kepada hidup kekal baik mereka tahu atau tidak tahu. Mereka tidak diberi keselamatan oleh karena apakah mereka percaya kepada kebenaran atau tidak. Tetapi sebaliknya, Allah memilih mereka untuk diselamatkan melalui “kebenaran yang kamu percayai.” Dapatlah secara singkat kita simpulkan bahwa orang-orang mungkin saja mengetahui kebenaran tetapi tidak diselamatkan, namun demikian, mereka tidak dapat diselamatkan kecuali mereka mengenal kebenaran.

Saudara-saudaraku kaum awam, para awam harus menjadi teolog. Tidak, mereka tak harus menjadi teolog-teolog profesional. Mereka tak harus belajar bahasa Yunani dan Ibrani. Mereka tidak harus cakap mengajarkan teologi kepada orang lain. Tetapi tetap mereka harus menjadi teolog-teolog. Yakni, mereka harus mengenal Allah. Mereka harus memiliki pengetahuan yang benar dan lurus tentang Allah. Mereka tidak dapat mengasihani diri sendiri dengan berkata bahwa mereka tidak mengetahui hal ikhwal dan seluk-beluk ajaran mengenai Allah hanya karena tidak ditahbiskan untuk mengampu jabatan gerejawi. Mereka juga dipanggil untuk pelayanan yang sama pentingnya di dalam gereja.

Tugas untuk menjadi teolog-teolog ada di pundak kita. Perbedaan antara kaum awam dengan golongan pelayan firman yang tertahbis bukan pada aras jenis atau ragam pengenalan, tetapi pada tugas jabatan. Adalah suatu kesalahan di pihak Gereja tempo doeloe akan adanya perbedaan antara para imam dan jemaat biasa. Dengan memegang erat Kitab Suci, Gereja Protestan mengajarkan bahwa Alkitab tidak saja diberikan kepada kaum klerus, tetapi kepada segenap umat Allah. Kami kaum klerus memiliki tanggung jawab yang lebih besar, tetapi bukan perbedaan tanggung jawab secara esensi.

Dalam panggilan Anda di dunia, Anda pun perlu mengenal kebenaran Allah. Sebab pengetahuan tersebut harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari penghakiman. Anda tak harus membaca banyak buku yang rumit, tetapi jangan lupa Buku yang satu itu, Alkitab. Yang terutama adalah, Anda harus mencintai kebenaran, memeluk kebenaran, dan bersedia untuk menundukkan diri kepada kebenaran jika Anda mau memiliki iman yang menyelamatkan. Seorang teolog pernah menulis, tak cukup untuk understand (mengerti), tetapi Anda pun harus stand under (di bawah)—duduk di bawah kaki Kristus. Sebab Kristus adalah Dia yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14.6). Sebab itu, seorang teolog yang sejati adalah seseorang yang mengenal Sang Pribadi. Setiap orang harus menjadi teolog.

TERPUJILAH ALLAH! (150207)



No comments:

Post a Comment