Wednesday, February 28, 2007

Kisah Hidup Agustinus dari Hippo


“Seorang Anak yang Banyak Didoakan, Tidak Mungkin Terhilang!”: Kisah Hidup Agustinus dari Hippo (354-430 M.)

Aurelius Agustinus adalah Bapa Gereja termasyhur di sepanjang abad. Ia dilahirkan di Tagaste (sekarang Souk Ahras di Aljazair), Afrika Utara, pada tahun 354. Kala itu, Afrika telah menyumbangkan dua orang bapa gereja yang cukup ternama: Tertulianus dan Siprianus.

Ayahnya bernama Patrisius, seseorang yang terpandang di Tagaste. Monika, ibunda Agustinus, adalah seorang Kristen dan merupakan salah satu dari sekian ibu yang terkenal dalam sejarah.

Sejak usia dini, Agustinus telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Orangtuanya menghendakinya menjadi seorang terkenal, dan mereka rela berkurban banyak hal untuk hal ini. Sampai-sampai, mereka mempersiapkan pendidikan terbaik untuk anak mereka. Tapi Agustinus tidak menunjukkan timbal-balik yang sepadan. Ia tidak terlalu berminat untuk memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Sebagai seorang anak, ia sering mengabaikan pelajarannya agar bisa bermain. Satu akibatnya ialah ia tidak belajar bahasa Yunani.

Tatkala ia telah menjadi dewasa dan lebih bijaksana, ia teramat menyesali hal ini. Ia menguasai bahasa Latin, tapi buta bahasa Yunani. Dan ternyata, ada banyak buku karangan pujangga-pujangga Yunani yang ingin ia baca dalam bahasa aslinya. Di antaranya adalah Perjanjian Baru.

Ketika Agustinus berumur 16 tahun, orangtuanya mengirim dia untuk belajar di satu sekolah ternama di kota Kartago. Kota ini adalah yang terbesar di Afrika Utara, kota termaju sekaligus tempat berkumpulnya para cerdik pandai Afrika. Boleh dibandingkan seperti Athena pada zaman Yunani, atau Paris di Abad Pertengahan, atau Oxford atau Cambridge di Inggris pada masa kini.

Namun demikian, Kartago juga merupakan kota yang sangat biadab, penuh godaan dan pencobaab. Agustinus belajar dengan tekun, tetapi juga membenamkan dirinya dalam pola hidup yang najis. Dari pergaulan bebasnya, ia mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Adeodatus.

Sepanjang waktu tersebut, Monika berdoa agar putranya bertobat. Kadang-kadang Monika pun hampir putus asa. Namun ia terhibur dengan kata-kata sahabatnya, “Seorang anak yang banyak didoakan, tidak akan mungkin terhilang.” Air mata seorang ibu takkan sia-sia. Kira-kira waktu itu pula, Agustinus memutuskan untuk hijrah dari Kartago ke Roma.

Meski hidup dalam kenajisan, Agustinus sedemikian tekun untuk mencari kebenaran. Ia mulai membaca Alkitab tetapi tidak menemukan sesuatu yang menarik dari dalamnya. Ia suka sekali dengan pustaka kuno dari para pujangga non-Kristiani serta para filsuf-filsuf. Pada masa ini, Manikheisme, sistem filosofi yang diajarkan oleh Manes, seorang berkebangsaan Persia, mempunyai banyak sekali pengikut di seantero kekaisaran Roma. Inti ajaran Manikheisme adalah percampuran antara pemikiran kafir dengan pemikiran Kristen. Agama ini percaya akan adanya 2 prinsip atau dewa utama: Terang dan Kegelapan. Keduanya selalu bertentangan. Alam yang kelihatan berasal dari Kegelapan, sedangkan jiwa manusia adalah hasil Terang. Agustinus mengaku memeluk keyakinan Manikheisme ini selama 9 tahun.

Setelah 1 tahun Agustinus berada di Roma, ia menerima jabatan sebagai guru besar ilmu retorika (ilmu pidato) dan ilmu berbicara di depan publik, di kota Milan, Italia. Pada waktu itu, Ambrosius adalah uskup di kota Milan. Agustinus adalah seorang orator (pembicara) ulung, dan juga berminat besar untuk mendalami retorika dari orang lain, karena itu ia cukup sering pergi ke tempat Ambrosius berkhotbah. Pertama-tama, ia tidak tertarik dengan apa yang Ambrosius katakan, tetapi ia toh pergi juga untuk memperhatikan bagaimana gerak tangan Ambrosius, dan ia mengagumi gaya berkhotbah Ambrosius.

Pada masa inilah, Monika, ibunya, turut hijrah ke Milan. Suatu perubahan besar sedikit demi sedikit mulai tampak dalam cara pandang Agustinus. Ia mulai melihat kesalahan-kesalahan ajaran Manikheisme. Ia kini mulai menyimak khotbah-khotbah Ambrosius dengan sikap yang baru.

Seseorang bernama Potitianus yang datang dari Mesir suatu kali menjumpai Agustinus. Ia memberitahu Agustinus tentang ribuan rahib (biarawan) di negeri itu yang hidup dalam kekudusan yang ketat. Namun sayang beribu sayang, kebanyakan rahib itu adalah orang-orang tak terpelajar. Agustinus dibuat malu oleh peristiwa itu. Sementara itu, ia adalah seorang yang berilmu dan berpendidikan tinggi, namun tidak memiliki hasrat untuk hidup seperti para rahib yang kebanyakan berpendidikan minim.

Ia bersegera menuju ke taman kecil di belakang rumahnya. Salinan surat-surat Paulus yang ia bawa tergeletak di atas bangku di sebelahnya. Jiwanya berkecamuk dengan hebatnya. Ia beranjak dari bangku itu dan pindah berebah di atas rumput di bawah pohon ara. Tatkala berbaring, ia mendengar sayup-sayup di rumah sebelah seorang bocah bernyanyi lagu dolanan, “Tolle, lege; tolle, lege,” yang artinya adalah, “Ambil dan bacalah; ambil dan bacalah.”

Ia bangkit, kembali ke bangku, mengambil surat Paulus itu dan membaca, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13.13-14).

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik kehidupan Agustinus. Itulah momentum pertobatannya. Sejak saat itu, ia menjadi seseorang yang diubahkan. Sang guru besar ternama, serta seorang pembicara yang fasih lidah, pada akhirnya menundukkan diri di hadapan Allah. Ia kemudian mendaftar untuk diajar katekisasi oleh Ambrosius, pada bulan Agustus, pada tahun 386 M. Tepat pada hari Paska tahun berikutnya, ia dibaptis oleh sang uskup dari Milan.

Setelah pertobatannya, Agustinus bersama beberapa teman yang sepaham dengannya membaktikan hidup sebagai para pertapa dan mengabdikan diri untuk studi.

Agustinus kembali ke Afrika pada tahun 388 M., dan ia sengaja menghindari kota-kota yang tidak memiliki uskup, karena ia berpikir pasti akan dipaksa untuk menduduki jabatan itu. Tetapi pada akhirnya, di tahun 391, ia mengunjungi Hippo. Ada orang yang mengenalinya di sana, sehingga ia pun dipaksa untuk ditahbiskan sebagai imam. Ketika imam senior kota Hippo meninggal pada tahun 396, Agustinus menggantikannya. Ia tetap menjadi uskup Hippo sampai meninggalnya pada tahun 430 M.

Selama masa pengabdiannya sebagai orang Kristen dan khususnya Uskup Hippo, Agustinus dengan gigih melawan pandangan Manikheisme. Di samping itu, ia pun menentang keras paham Donatisme yang saat itu mulai menjangkiti gereja-gereja di Afrika. Meskipun dalam pengajaran kaum Donatis ini masih terbilang lurus, namun mereka memiliki paham yang melenceng mengenai gereja. Akibat yang ditimbulkan oleh paham Donatisme adalah skisma (perpecahan) dalam Gereja Tuhan. Agustinus adalah orang yang memperjuangkan paham bahwa gereja yang sejati itu utuh atau am (katolik).

Di samping itu, pertentangannya dengan Pelagius, pertapa dari Inggris, membuat Gereja Tuhan di abad-abad berikutnya berutang kepada Agustinus: bahwa manusia dilahirkan dalam status berdosa di dalam Adam, dan oleh anugerah Allah semata-mata ia diselamatkan. Anugerah ini mendahului segala kehendak untuk berbuat baik dari pihak manusia. Ia pun mengajarkan pemilihan anugerah, bahwa di dalam Kristus Allah telah memilih sekelompok orang untuk menjadi umat-Nya dan akan ditebus oleh Kristus. “Anugerah ini tidak mencari orang yang ingin [berbuat baik], tetapi ia membuat orang ingin berbuat baik.”

Inilah yang ditentang oleh Pelagius, sebab ia mengajarkan bahwa manusia itu tidak berdosa ketika dilahirkan. Ia menolak predestinasi atau pemilihan anugerah. Namun demikian, ajaran Pelagius dinyatakan sebagai ajaran sesat dalam Konsili (Persidangan Gereja) di Efesus pada tahun 431 M. Pada tahun 592 M., Sinode Gereja Orange juga menolak ajaran semi-Pelagianisme, yang mengajarkan bahwa hal keselamatan itu bergantung penuh kepada individu: apakah ia mau menerima atau menolak tawaran anugerah Allah.

TERPUJILAH ALLAH!

No comments:

Post a Comment