Saturday, September 20, 2008

PERDAMAIAN DENGAN SEMUA ORANG (3)



Kasih dalam Tindakan[1]



Bagaimana caranya menjadi pembawa damai? Perhatikanlah Roma 12 ini secara keseluruhan. Bagian pertama (ay. 1-2) berbicara mengenai “persembahan yang sejati,” bagian kedua (ay. 3-8) berbicara mengenai “pelayanan yang merendahkan diri di dalam tubuh Kristus,” dan bagian ketiga berbicara mengenai “kasih dalam tindakan.”



Saudara, tak mungkin kita menjadi pembawa damai, yang mengikuti jejak Kristus, kalau tubuh kita tidak dipersembahkan kepada Allah. Total! Dan tidak ada yang kita tahan-tahan. Sampai kita dapat berkata sama seperti rasul Paulus,



Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidup yang yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Gal. 2:20)



Jika PR ini telah kita kerjakan, maka kita pasti akan menjadi orang-orang yang mengasihi pekerjaan-pekerjaan Tuhan, bersama dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Bukan hanya di gereja, tetapi lingkup yang lebih kecil adalah keluarga kita. Segenap karunia kita pakai untuk saling melayani, saling menopang dan saling membangun. Jika ini kita dapat kerjakan, maka hidup kita akan akan menular lagi ke lingkup yang lebih luas yaitu “kepada semua orang” kita nyatakan kasih dalam tindakan.



Tunggu dulu! Bagaimana dengan kata, “Sedapat-dapatnya . . . kalau . . .” tadi? Bukankah kalimat ini sama artinya dengan, “Jika mungkin bisa dikerjakan . . . kalau tidak, ya tidak apa-apa?” Jadi, “Kan terserah saya—saya mau atau tidak itu hukumnya sunnah, bukan wajib! Saya mau dengki, dendam, tidak mau bicara kepada siapa pun, kan tidak apa-apa, lha wong yang salah dia. Yang penting, pokoknya saya tidak membunuh dia! Saya tidak mencemarkan nama baik dia! Saya tidak menjelek-jelekkan dia! Saya hanya tidak mau bicara kepada dia! Saya beribadah kepada Allah secara pribadi. Saya tidak ada urusan dengan dia.”



Bukan demikian! Perhatikanlah kalimat pertama perikop kita, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah kejahatan dan lakukanlah yang baik” (ay. 9). Inilah kuncinya!



Firman Tuhan menegur kita, “Kasih itu jangan pura-pura!”[2] Kasih haruslah tulus (NIV/TNIV sincere). Kata “jangan pura-pura” (anupokritos) secara harfiah adalah, “jangan bertopeng.” Seperti lagu kesukaan anak-anak muda beberapa waktu lalu, dari album Peterpan, “Tapi buka dulu topengmu! Buka dulu topengmu! Biar kulihat wajahmu! Biar kulihat wajahmu!” Kalau orang berpacaran saja tidak suka bila pacarnya memakai topeng, kehidupan Kristiani pun tidak boleh pura-pura.



Seorang hupokrites, pemain sandiwara dalam pertunjukan drama Yunani/Romawi biasanya memainkan perannya dengan memakai topeng. Maka, kasih seorang Kristen janganlah dihalang-halangi oleh maksud-maksud yang tersembunyi. Kasih Kristiani merupakan pernyataan yang asli (autentik) dari kehendak baik untuk mengasihi orang lain, sebagai akibat dari rasa syukur kita akan anugerah keselamatan yang kita terima dari Allah!



Jadi, sudah cukupkah, jikalau kita tidak membunuh sesama manusia kita?



Belum, karena dengan melarang dengki, dendam dan amarah itu, Allah memerintahkan pula, supaya kita mengasihi sesama manusia kita seperti diri kita sendiri, dan memperlakukannya dengan kesabaran, damai, lemah lembut, murah hati lagi ramah tamah, dan supaya sedapat-dapatnya kita menghindarkan dari dia segala sesuatu yang merugikan dia, serta berlaku baik terhadap musuh kita pun juga (lih. HC 170).



Tidak ada excuse bagi kita! Kegagalan dan kemalasan kita untuk memperjuangkan damai dalam hubungan-hubungan pribadi merupakan hal yang dilarang oleh Tuhan. Tidak ada alasan apa pun untuk hal ini. Kristus berkata,



Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkay teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu (Mat. 5:23-24).



Betapa aneh bila ada orang Kristen yang masih menyimpan dendam, dengki, kepahitan, luka dan perih yang tak mau diobati, masih diam-diaman dengan saudara seiman, tetapi tiap Minggu dengan mudah berdendang di hadapan Allah, “Hari ini kurasa bahagia, berkumpul bersama saudara seiman!” Sementara kita tahu di ujung sana ada “musuh kita,” kita masih berani-beraninya berkata di hadapan Tuhan, “Satukan kami, dengan tali kasih yang sempurna.” Begitu meninggalkan gereja, dendam itu tak kunjung pulih. Kita masih suka bergosip tentang orang lain. Kita masih mengatakan yang buruk tentang dia. Oh sesungguhnya, ibadah tidak akan menjadi berkat bagi kita! Apakah kita menunggu Tuhan membalikkan tangan-Nya, dan menjatuhkan hukuman—ganti berkat itu—ke atas kita, dan Tuhan menghardik kita dengan keras, “Engkau tak lebih daripada Farisi!” Orang munafik! Orang yang bertopeng!



Jadi, kalimat “sedapat-dapatnya . . . kalau . . .” itu bukan merupakan excuse bagi setiap orang Kristen. Mari kita camkan bersama, firman Tuhan ini mengajak untuk saling mengasihi, saling mendahului memberi salam, membantu saudara yang berkekurangan, memberkati orang yang menganiaya, bersimpati atau berbela rasa[3] dengan orang lain, sehati sepikir, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik. Ada aksi yang harus ditunjukkan. Kekristenan bukan hanya omongan yang manis di mulut! Kekristenan harus mengejawantah (menjadi daging) dalam karya yang nyata, dengan upaya-upaya yang kita kerjakan. Orang Kristen harus menjadi pelopor dalam berbuat baik.



Dengan berbuat baik itu, maka orang Kristen akan “menumpukkan bara api di atas kepala” seteru! Apa artinya kutipan dari Amsal 25:21-22 ini? Bisa dimengerti begini. Pertama, “bara” dan “api” di PL menunjukkan penghakiman Allah. Dengan demikian, dengan kita berbuat baik kepada seteru kita, maka beban dan tanggung jawab kita di hadapan Allah sudah kita letakkan, dan kalau dia tidak mau berdamai dengan kita, penghakiman Allah tetap berlaku atasnya.



Tetapi yang kedua, dapat juga dimengerti dari latar belakang kebudayaan Mesir. Ada satu ritual di Mesir, bila seseorang menyatakan penyesalan dan minta maaf dengan tulus, maka diharuskan kepadanya untuk mengusung satu baki berisi bara di atas kepalanya. Ini menjadi tanda penyesalannya akan kesalahan-kesalahannya.




[1]Inilah yang menjadi judul yang ditambahkan oleh para penerjemah TNIV (Todays New International Version), yaitu perikop Rm. 12:9-21, setelah A Living Sacrifice (ay. 1-2), Humble Service in the Body of Christ (ay. 3-8).

[2]Yunani Hē agapē anupokritos.

[3]Dari kata sun + pathos, artinya “turut merasakan” atau “bela rasa.”



No comments:

Post a Comment