Saturday, April 26, 2008

NASIHAT UNTUK BERTEKUN DALAM PELAYANAN


2 TIMOTIUS 4:1-2

4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

PENDAHULUAN

Rasul Paulus adalah seorang pelayan Tuhan yang serius dalam menjalankan tugas pelayanannya. Keseriusan ini hendak rasul tularkan kepada anak didiknya Timotius. Kepada Timotius, ia membukakan gawatnya keadaan dan perlunya dia melanjutkan pemberitaan Injil dengan gigih dan teguh dalam kondisi apa pun. Bilamana ada tantangan, ia harus setia pada kewajibannya sebagai abdi Allah. Hal ini makin kritis untuk disadari oleh sebab sebentar lagi Timotius akan ditinggalkan sendiri (ay. 6-8).

Kita dapat membagi konteks dekat, yaitu ayat 1-5 ke dalam 3 bagian:

Ayat 1 : Saksi Agung bagi sang pelayan

Ayat 2 : Pesan I kepada pelayan (5 buah)

Ayat 3-4 : Latar Belakang pelayanan

Ayat 5 : Pesan II kepada pelayan (4 buah)

Karena terbatasnya ruang dan waktu, kita hanya akan memperhatikan dua ayat saja, ayat 1-2.

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

Bagian ini diawali dengan sebuah sumpah. Hal ini mirip sekali dengan 1 Tim. 5.21

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh kepadamu:

Sumpah seperti ini tidak sama dengan “sumpah serapah.” Guna sumpah seperti ini adalah untuk menekankan atau menegaskan bagimana pentingnya nasihat yang akan disebutkan di ayat-ayat berikutnya. Selain itu, keduanya mencerminkan bentuk ungkapan liturgy dalam ibadah jemaat. Bila di 1 Tim. 5.21 ada tiga unsur yang disebutkan di sana: Allah, Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan. Sedangkan ayat ini menyebutkan tiga aspek tentang Yesus, yaitu fungsinya sebagai Hakim, kedatangan-Nya yang kedua kali, dan kerajaan-Nya. Pengadilah akan dilakukan oleh Kristus Yesus pada waktu kedatangan-Nya, dan setelah itu Ia akan menegakkan pemerintahan-Nya yang sempurna (pemerintahan Kristus sudah hadir pada waktu Kristus datang pada kali yang pertama!).

Maka kita melihat ketiga unsur, yaitu “pengadilan,” “kedatangan,” dan “menegakkan pemerintahan” dapat dimengerti lebih jelas lagi bahwa Kristus akan datang lagi untuk memerintah sebagai Raja kekal dan untuk menghakimi semua orang yang hidup maupun yang mati. Kepastian akan pemerintahan Kristus yang adil inilah yang menjadikan seorang pelayan harus serius menjalankan tugas pelayanannya.

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

(1) Beritakanlah firman. Timotius dinasihati untuk memberitakan Injil atau seluruh pesan atau ajaran yang ia telah terima dari sang rasul bagi semua pengikut Kristus. Berita itu harus disampaikan apa adanya, dan tidak boleh di-discount (bdk. kesaksian rasul di 1Tim. 2.7).

(2) Siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. “Siap sedia” berarti “terus giat melakukan kegiatan meskipun ada perlawanan dan tantangan di depan si pelayan.” Dengan kata lain, Timotius dinasihati untuk “tetap gigih” memberitakan Injil atau tugas pelayanannya sebagai pemberita, pada kesempatan yang baik maupun pada kesempatan yang tidak baik. Ini berarti, entah kesempatan itu menyenangkan ataupun tidak bagi si pelayan, ia harus melakukan tugas pelayanannya.

(3) Nyatakanlah apa yang salah. Ungkapan ini berarti “memberi tahu orang-orang bahwa mereka salah. Adanya asertivitas terhadap kesalahan yang dilakukan seseorang. Di 1 Tim. 5.20, Timotius dinasihati untuk membuka kesalahan itu di hadapan orang lain. Ada tujuan bagi jemaat secara umum, yaitu agar kesalahan itu tidak menjalar ke seluruh jemaat.

Mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan semua orang agar yang lain itu pun takut.

(4) Tegorlah. Menegur berarti mengungkapkan rasa sangat tidak setuju terhadap tindakan atau kelakuan seseorang di hadapan orang tersebut. Jadi, Timotius dinasihati untuk memberi tahu orang-orang yang berbuat salah mengenai kesalahan mereka masing-masing dan menegur mereka atas dosa-dosa mereka itu.

(5) Nasihatilah. Kata yang sama diterjemahkan dalam 1 Tim. 1.3 sebagai “mendesak” dan di 1 Tim. 2.1 sebagai “menasihatkan.” Sedangkan dalam 1 Tim. 4.13 “membangun.” Kata tersebut harus dipakai sesuai konteksnya. Dalam konteks sekarang ini, kata ini dipahami sebagai “meminta dengan sungguh-sungguh,” atau “menghibur” atau “memberi semangat dengan perkataan maupun perbuatan.” Timotius harus melakukan fungsi mentoring. Dan untuk melakukannya ia harus dengan penuh kesabaran dan pengajaran, artinya bukan saja tidak putus asa di tengah banyaknya tantangan, tetapi juga sikap yang teguh dan usaha terus menerus untuk mencapai satu tujuan yang telah ditetapkan. Pengajaran berarti tindakannya sebagai seseorang yang membimbing orang lain yang bersalah.

TEPUJILAH ALLAH!

No comments:

Post a Comment